Candi Banyunibo


Dari Ratu Boko kemudian Candi Barong dilanjutkan ke Candi Ijo, maka trip berakhir di Candi Banyunibo. Berbeda dari tiga candi sebelumnya yang terletak di atas bukit, Candi Banyunibo dibangun di dataran rendah di Dusun Cepit, Bokoharjo, Prambanan.

Candi ini terdiri atas satu candi induk yang menghadap ke barat dan enam candi perwara berbentuk stupa yang disusun berderet di selatan dan timur candi induk. Ukuran masing-masing fondasi stupa hamper sama, yaitu 4,80m x 4,80m. Di sebelah utara candi induk terdapat tembok batu sepanjang kurang lebih 65 meter yang membujur arah barat timur. Berdasarkan bentuk atap candi induk dan bentuk candi perwara yang berupa stupa, maka latar belakang keagamaan Candi Banyunibo dapat diketahui, yaitu Buddha.

Candi Banyunibo
Candi Banyunibo tampak dari depan

Candi induk berukuran 15,325m x 14,25m dengan tinggi 14,25m. Tubuh candi berukuran lebih kecil dari kakinya, sehingga di sekeliling tubuh terbentuk lorong yang disebut selasar. Di sisi barat candi terdapat penampil dengan tangga ditengahnya, berfungsi sebagai jalan masuk atau pintu menuju bilik candi. Pada dinding penampil sebelah kanan terdapat relief di dinding kiri menggambarkan seorang pria dalam posisi duduk. Kedua relief tersebut menggambarkan Hariti, dewi kesuburan dalam agama Buddha dan suaminya, Vaisravana. Pada dinding luar tubuh candi terdapat arca Boddhisatva. Pada dinding bilik sisi utara, timur, dan selatan terdapat relung-relung yang menonjol dan berbingkai dengan hiasan berbentuk kala-makara. Relung tersebut berfungsi untuk tempat arca.

Candi Banyunibo
Candi Banyunibo tampak dari samping

Candi ini mudah ditemukan karena letak lokasinya yang rendah sehingga tidak terlalu sulit menjangkaunya. Diantara kompleks candi di kawasan selatan Prambanan, Candi Banyunibo paling banyak dikunjungi setelah Keraton Ratu Boko, jika dibandingkan Candi Barong dan Candi Ijo. Sering juga diadakan acara outbond di kawasan candi ini. Kurangnya perawatan dan penjagaan di candi ini membuat tempat di dalam candi ini sebagai tempat pacaran para abegeh. Dan saya selalu aneh dengan anak-anak itu, berpacaran di tempat sewingit itu.

Candi Banyunibo
Candi Banyunibo

Di antara Ratu Boko, Candi Barong, Candi Ijo, dan Candi Banyunibo maka retribusi tertinggi dipegang oleh Ratu Boko. Candi Banyunibo ini, meski tak terawat dan terletak diantara sawah, tapi karena posisinya yang mudah dijangkau, maka Candi Banyunibo termasuk candi yang paling mudah dipungut retribusi. Berbeda dengan Candi Ijo dan Candi Barong yang sampai saat saya mem-posting tulisan ini, seingat saya, belum ada retribusi tempat wisata alias gratisss!

Nah, jika kalian sedang bosan di rumah, tidak punya uang buat shopping di mall dan ingin jalan-jalan tapi hanya seputar Jogja. Ga ada salahnya kok keliling keempat candi ini. Selain murah meriah, bikin tambah pinter sejarah, menurut saya, kalian jadi tambah keren dan gaul! *tumbs*

Selamat berpetualang😉

Tulisan Terbaru:

*(sumber data sejarah: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta)

Candi Ijo


Setelah sebelumnya kita berkeliling dari Ratu Boko dan kemudian Candi Barong, perjalanan kita lanjutkan ke bukit yang lebih tinggi, yaitu bukit Ijo. Di tempat ini, kita akan melanjutkan perjalanan menelusuri kawasan Siwa Plateau. Yuks capcuuuz😉

Candi Ijo
Candi Ijo

Candi Ijo terletak di atas suatu bukit yang oleh masyarakat setempat disebut Gumuk Ijo, bukit tertinggi di wilayah Prambanan. Ketinggian Bukit Ijo 140 m diatas permukaan laut, sedangkan Candi Ijo terletak pada ketinggian 357,402 m-395,481 m diatas permukaan air laut. Apabila kita berdiri di Candi Ijo dan memandang ke arah selatan terlihat lembah berteras yang curam, tetapi sangat indah. Sebagaimana lingkungan kompleks Ratu Boko, lingkungan sekitar Candi Ijo juga kurang subur.

Beberapa kali saya datang ke Candi Ijo, pada umumnya tidak pernah ditarik retribusi. Tempat inipun sepi. Jika anda pergi kesana, jangan kaget jika di dalam candi berisi beberapa pasang abegeh yang sedang berasyik-masyuk pacaran. Pagi atau sore hari adalah waktu teramai, biasanya ada beberapa orang yang mengambil gambar candi pada jam-jam segitu.

Candi Ijo
Candi utama di kompleks Candi Ijo

Candi Ijo merupakan kompleks percandian yang terdiri atas beberapa bangunan dengan halaman berupa teras-teras berundak. Halaman paling suci berada di bagian belakang dan paling atas. Hal tersebut mengingatkan pada salah satu hasil kebudayaan megalitik yang berupa bangunan punden berundak. Periode pendirian kompleks bangunan ini belum dapat diketahui dengan pasti. Akan tetapi, profil candi, motif hiasan kala-makara, langgam arca dan relief candi yang digambarkan secara naturalistis, mempunyai kemiripan dengan candi-candi disekitarnya yang dibangun pada abad VIII-X Masehi, sehingga candi ini diperkirakan didirikan pada periode yang sama.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Situs Candi Ijo, diketahui bahwa disitus ini terdapat 17 struktur bangunan yang terletak pada 11 teras berundak. Halaman candi yang merupakan jalan masuk menuju bangunan utama merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Halaman paling atas (teras ke sebelas) merupakan halaman yang dianggap paling suci (sacral). Pada halaman tersebut ditemukan pagar keliling, delapan buah lingga patok, dan empat bangunan, yaitu candi utama dan tiga candi perwara yang terletak berderet di depan candi utama. Bangunan yang sudah dipugar adalah candi utama dan candi perwara yang berada di tengah. Candi utama mempunyai pintu masuk di sebelah barat. Pada dinding luar candi terdapat relung untuk menempatkan arca Agastya, Ganesha, dan Durga. Arca-arca tersebut saat ini disimpan di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Di dalam Candi terdapat lingga-yoni yang melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa candi ini mempunyai latar belakang keagamaan Hindu aliran Siwa. Pemujaan yang dilakukan di candi ini ditujukan untuk memuja Siwa dalam bentuk lingga, disebut lingga kultus. Pada candi perwara tengah terdapat arca lembu (nandi). Dalam mitologi Hindu, Nandi merupakan kendaraan Dewa Siwa.

Candi Ijo
di depan candi utama di kompleks Candi Ijo

Struktur bangunan lain yang ada di kompleks percandian Ijo, antara lain terdapat pada teras kesembilan, berupa sisa batur bangunan yang menghadap ke timur. Diteras kedelapan terdapat tiga buah candi dan empat buah batur bangunan, serta ditemukan dua buah prasasti batu. Salah satu prasasti ditemukan diatas dinding pintu masuk candi yang diberi kode F. Prasasti batu tersebut setinggi satu meter dengan tulisan berbunyi Guywan, oleh Soekarno dibaca Bhuyutan yang berarti pertapaan. Prasasti tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti batu yang lain berukuran tinggi 14cm, tebal 9cm, memuat 16 buah kalimat yang berupa mantra kutukan yang diulang-ulang berbunyi Om sarwwawinasa, sarwwawinasa. Prasasti-prasasti tersebut tidak menyebut angka tahun, tetapi dari sudut paleografis dapat diperkirakan berasal dari abad VIII-IX M, sehingga Candi Ijo diduga juga dibangun pada periode yang sama. Di teras kelima terdapat satu candi dan dua batur, sedangkan diteras keempat dan teras pertama masing-masing terdapat satu candi. Namun, teras kesepuluh, ketujuh, keenam, ketiga, dan kedua tidak ditemukan bangunan.

Candi Ijo
Senja di Bukit Ijo

Karena posisinya yang berada di atas bukit yang cukup tinggi. Jika langit Jogja cukup cerah, maka dari halaman Candi Ijo kalian pun akan beruntung bertemu senja yang menggoda. Penasaran khan?

to be continued…Candi Banyunibo😉

Tulisan Terbaru:

*(sumber data sejarah: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta)

Candi Barong


Setelah berpetualang di Ratu Boko, saya akan mengajak kalian melanjutkan trip ke bukit yang selanjutnya yaitu menuju Candi Barong, lanjooottts😉

Candi Barong
Candi Barong di sore hari

Candi Barong terletak pada sebuah bukit di dusun Candisari, Sambirejo, Prambanan. Tidak jauh dari Keraton Ratu Boko. Penamaan Barong oleh masyarakat didasarkan atas adanya hiasan kepala raksasa (kala) yang terdapat di atas pintu masuk candi. Hasil penelitian geologis menunjukkan bahwa fondasi Candi Barong merupakan bagian bawah bukit yang sudah dipotong puncaknya. Potongan bagian puncak kemudian dibentuk menjadi balok-balok untuk memperkuat talud, sedangkan bangunan candinya sendiri terbuat dari batu andesit.

Sampai saat ini, periode pembangunan Candi Barong belum diketahui dengan pasti karena tidak ditemukan prasasti yang berkaitan dengan candi tersebut. Berdasarkan bentuk bangunan, pola hias, arca, dan ornament bangunan, candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad IX-X Masehi. Latar belakang keagamaan candi ini adalah Hindu. Hal ini diketahui dari adanya temuan arca yang diidentifikasikan sebagai Dewi Sri, istri Dewa Visnu, yang merupakan dewi kesuburan, adanya hiasan kerang bersayap (sankha) yang merupakan salah satu symbol (laksana) Dewa Visnu, dan bagian puncak ini diperkirakan berfungsi untuk kegiatan pemujaan yang berhubungan dengan permohonan kesuburan. Hal ini mungkin berkaitan dengan kondisi tanah di sekitar candi yang kurang subur, sehingga dengan memuja Dewi Sri diharapkan keadaaan tanah akan menjadi subur.

Candi Barong
Candi Barong dengan kepala Batara Kala

Halaman Candi Barong terbagi atas tiga bagian, makin ke belakang makin tinggi. Teras ketiga, paling atas, merupakan halaman yang paling suci. Pada teras tersebut terdapat dua bangunan candi yang mempunyai bentuk dan ukuran hampir sama. Candi pertama berukuran 8,20 m x 8,20 m dengan tinggi 9,25 m, sedangkan candi kedua berukuran 8,25m x 8,25m dengan tinggi 9,25m. Perbedaan antara keduanya terletak pada ragam hias dan arcanya. Berdasarkan kedua hal tersebut, candi pertama diduga dibangun untuk pemujaan Dewa Visnu, sedangkan candi kedua untuk Dewi Sri. Di halaman teras kedua terdapat struktur bangunan berukuran 12,30m x 7,80m, dan beberapa umpak batu berebentuk segi delapan. Di duga struktur tersebut merupakan fondasi bangunan pendapa dengan atap dari kayu. Sedangkan pada halaman teras pertama tidak ditemukan struktur bangunan.

Candi Barong
Candi Barong yang terdiri dari beberapa teras

Secara keseluruhan kompleks Candi Barong diduga dibangun dalam dua tahap. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi yang ditemukan saat dilakukan pemugaran, antara lain adanya temuan talud pembangunan tahap pertama  yang saat ini masih dapat dilihat di sebelah selatan bangunan candi kedua. Pada tahap pertama, pada kompleks ini hanya dibangun satu candi, yaitu candi pertama. Pada tahap kedua dilakukan perluasan halaman ketiga ke sisi selatan dan pembangunan candi kedua di selatan candi pertama.

Candi Barong
Candi Barong di sore hari

Jika kalian tidak menemukan petunjuk yang pas menuju tempat ini, coba bertanya saja pada warga local, mereka semua akan berbaik hati menunjukkan lokasi Candi ini. Candi Barong memang terletak diatas bukit yang tandus, di balik perkampungan warga, jadi memang tidak terlihat. Pada saat saya mengunjungi tempat ini, hari sudah sore, dan kami mblusukan melalui halaman beberapa rumah warga. Bahkan saya tidak membayar retribusi untuk mengunjungi tempat ini. Seperti pada umumnya candi di Indonesia, Candi Barong inipun kurang mendapat perhatian dari instansi yang terkait. Argumen mereka pada saat itu adalah karena di Yogyakarta terlalu banyak benda cagar budaya, sedangkan pegawai yang ada hanya terbatas.

Jangan kaget, jika disini anda menemukan banyak anjing kampung. Pada umumnya, anjing kampung tersebut digunakan untuk menjaga kebun warga atau ternak. Tentu saja, karena candi ini terletak di tengah perkampungan, anda juga bisa melihat anak-anak kecil bermain sepeda, latihan pencaksilat, naik motor tril sambil track-track-an ataupun kambing merumput disekitar candi. Huahaha. Unik ya?

to be continued…Candi Ijo😉

Tulisan Terbaru:

*(sumber data sejarah: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta)

Candi Boko


Di Yogyakarta, hasil budaya masa klasik jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan hasil budaya masa prasejarah. Hasil budaya yang termasuk dalam masa klasik ini berasal dari abad VIII-abad X Masehi. Hasil budaya masa klasik yang paling menonjol dan mencari masa itu adalah candi dengan kemegahan dan keindahan arsitekturnya.

Menurut data dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, sampai saat ini, di Yogyakarta sudah ditemukan kembali lebih dari 100 candi atau bangunan Hindu-Buddha lainnya, yang sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Prambanan dan Kalasan. Bangunan-bangunan tersebut kebanyakan ditemukan dalam keadaan runtuh dan rusak, bahkan sebagian sudah tinggal menjadi nama desa (toponim), tanpa dapat ditemukan reruntuhannya.

Distribusi keberadaan candi-candi di Yogyakarta tidak merata. Daerah yang memiliki daya dukung lingkungan potensial lebih banyak memiliki candi, bila dibandingkan dengan daerah yang daya dukung lingkungannya kurang potensial. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa di daerah yang potensi lingkungannya kurang pun terdapat bangunan candi, seperti yang terjadi di daerah perbukitan di sebelah selatan Prambanan.

Bangunan-bangunan yang didirikan di daerah perbukitan di sebelah selatan Prambanan oleh NJ Krom, arkeolog Belanda disebut sebagai “Civa Plateau”, atau yang sering kita sebut sebagai “Siwa Plateau”. Sebutan ini sebenarnya kurang tepat mengingat candi-candi dan bangunan lain yang ada tidak hanya berlatarbelakang agama Hindu, tapi juga Buddha. Diantara bangunan dikawasan itu ada beberapa yang unik misalnya Candi Boko, Candi Barong, Candi Banyunibo, dan Candi Ijo.

Nah, acara trip kali ini, saya akan memandu kalian untuk mengenal lebih dekat keempat candi tersebut. Keempat candi “Siwa Plateau” lokasinya tidak berjauhan dan dapat ditempuh dalam satu hari, sayangnya karena informasi sejarah yang terlalu banyak untuk di-share, maka keempat candi tersebut akan saya bagi dalam empat posting yang bersambung dan saling terkait. Yuks, kita mulai trip candi-candi di kawasan Siwa Plateau😉

Candi Boko

Candi Boko dapat disebut sebagai kompleks Ratu Boko karena luas dan banyaknya bangunan di situs tersebut, diantaranya berupa gapura-gapura, candi batu putih, batur pendapa, miniatur candi, tembok keliling, kolam dan stupa. Adanya variasi temuan yang berbeda dengan temuan candi pada umumnya, maka kompleks Ratu Boko diasumsikan sebagai reruntuhan suatu bangunan keraton.

Keraton Candi Boko
Keraton Candi Boko

Kompleks bangunan yang dikenal sebagai Keraton Ratu Boko ini terletak di Bukit Boko, sebelah selatan Prambanan. Dilihat dari lokasinya, kompleks Ratu Boko mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri karena dari kompleks tersebut dapat dinikmati pemandangan yang indah. Sejauh mata memandang akan terlihat Candi Prambanan dengan latar belakang Gunung Merapi dan suasana pedesaan dengan sawah subur yang ada disekelilingnya. Sementara itu, lingkungan sekitar Ratu Boko sendiri kurang subur, sehingga untuk membangun dan menempatinya diperlukan pengetahuan dan tehnik adaptasi secara khusus, menurut Kusen, berkaitan pula dengan adanya bencana letusan Gunung Merapi (Kusen. 1995. “Kompleks Ratu Boko: Latar Belakang Pemilihan Tempat Pembangunan”, Dalam berkala Arkeologi Th.XV Edisi Khusus, Manusia dalam Ruang: Studi Kawasan Terhadap Arkeologi, Hlm.128-132).

Keraton Candi Boko
pemandangan dari Bukit Boko

Ada sejumlah cerita rakyat terkait dengan Keraton Ratu Boko. Salah satu cerita bahwa Keraton Ratu Boko adalah keraton dimana ayah dari Roro Jonggrang berkuasa. Cerita rakyat ini terkait dengan mitos dibangunnya Candi Sewu dalam satu malam, dikawasan Candi Prambanan. Tentu saja, cerita rakyat semacam ini hanya legenda.

Dari Prasasti Siwagrha, dapat diketahui bahwa pembangunan Candi Prambanan pada tahun 778 Saka (856 Masehi) oleh Rakai Pikatan, sebagai tanda kemenangan Rakai Pikatan dalam pertempuran melawan Balaputeradewa yang berlangsung di Bukit Boko. Jadi, ada kemungkinan Bukit Boko adalah tempat yang pernah dipakai Balaputeradewa dalam masa kepemimpinannya yang singkat memerintah Mataram Kuno sebelum kemudian dia dilengserkan oleh kakaknya sendiri, Pramudhiawardhani, dan kemudian melarikan diri ke Sumatra Selatan, dan menjadi raja di Sriwijaya.

Keraton Candi Boko
Keraton Candi Boko

Dari beberapa kompleks wisata candi yang ada di selatan Prambanan, Keraton Ratu Boko inilah yang paling sering dikunjungi setelah Candi Prambanan. Meski begitu, dari tahun ke tahun, tidak ada pembenahan dan perawatan yang semestinya di kawasan Cagar Budaya ini. Jika anda sering datang kesini, dipastikan anda akan banyak bertemu dengan orang-orang yang sedang photo pre-wedding atau orang-orang yang berusaha mengambil gambar senja dari Bukit Boko.

Apalagi lokasi Candi yang dikanan kirinya adalah perumahan perkampungan, membuat anda sebenarnya bisa masuk ke dalam tanpa harus bertemu dengan petugas retribusi. Bukan itu saja, kawasan bukit Boko ini adalah tempat merumputnya kambing-kambing penduduk local.

Keraton Candi Boko
Kawasan Keraton Candi Boko dipenuhi kambing-kambing yang merumput

Riwayat pendirian dan penggunaan bangunan di kompleks Ratu Boko dapat diketahui dari isi sejumlah prasasti yang ditemukan di kompleks ini. Berdasarkan sumber prasasti, daerah ini pada masa lalu bernama Walaing. Prasasti tertua yang ditemukan berangka tahun 792 Masehi, berisi tentang peringatan pendirian Abhayagiriwihara oleh Rakai Panangkaran. Berdasarkan struktur bangunan dan prasasti-prasasti yang ditemukan tersebut, Kusen berpendapat bahwa semula kompleks bangunan di Boko merupakan sebuah wihara untuk pendeta Buddha yang bernama Abhayagiri (Kusen. 1995. “Kompleks Ratu Boko: Latar Belakang Pemilihan Tempat Pembangunan”, Dalam berkala Arkeologi Th.XV Edisi Khusus, Manusia dalam Ruang: Studi Kawasan Terhadap Arkeologi, Hlm.128-132).

Keraton Candi Boko
Keraton Candi Boko

Selanjutnya, pada tahun 856 Masehi kompleks tersebut difungsikan sebagai keraton oleh seorang penguasa beragama Hindu yang bernama Rakai Walaing Pu Khumbayoni. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila unsur agama Hindu dan Buddha tampak pada kompleks bangunan ini.

Unsur Hindu dapat ditunjukkan melalui yoni, tiga miniature candi, arca Ganesha dan Durga, serta lempengan emas dan perak bertuliskan mantera agama Hindu. Sedangkan Unsur Buddha terlihat dari adanya arca Buddha, reruntuhan stupa, dan stupika.

Keraton Candi Boko
Keraton Candi Boko

Pemilihan bukit Boko sebagai lokasi wihara dan keraton tampaknya di satu sisi didasari atas pertimbangan suasananya yang tenang dan mempunyai pembatas alami yang memisahkan kehidupan baik para pendeta maupun penguasa dengan masyarakat yang bermukim di sekitar bukit. Di sisi lain, bukit ini dekat dengan kawasan yang subur dan padat penduduk.

Kompleks bangunan di Bukit Boko dapat disebut sebagai keraton, selain memang disinggung dalam prasasti, juga karena kemiripannya dengan gambaran sebuah keraton. Dalam kitab kesusastraan, antara lain Bharatayudha, Kresnayana, Gatotkacasraya, dan Bhomakawya disebutkan bahwa keraton merupakan kompleks bangunan yang dikelilingi pagar bergapura, di dalamnya terdapat kolam dan sejumlah bangunan lain seperti bangunan pemujaan dan diluar keraton terdapat alun-alun. Adanya sejumlah umpak serta batur-batur dari batu andesit di kompleks ini mengindikasikan bahwa dahulu bangunan-bangunan yang berdiri diatasnya terbuat dari bahan yang mudah rusak seperti kayu, sehingga tidak ditemukan bekasnya.

Keraton Candi Boko
Keraton Candi Boko

Berdasarkan letaknya, bangunan-bangunan pada kompleks Ratu Boko dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok barat, tenggara, dan timur. Bangunan-bangunan pada kompleks tersebut terletak pada teras-teras yang dibuat pada punggung hingga puncak bukit, dengan halaman paling depan terletak di sebelah barat, terdiri atas tiga teras. Masing-masing teras dipisahkan oleh pagar dari batu andesit setinggi 3,50 meter, dan tebing teras diperkuat dengan susunan batu andesit. Batas halaman sebelah selatan juga berupa pagar dari batu andesit. Batas halaman sebelah selatan juga berupa pagar dari batu andesit, namun batas utara merupakan dinding bukit yang dipahat langsung.

Teras pertama dengan teras kedua dihubungkan oleh gapura I, sedangkan gapura II menghubungkan teras kedua dan ketiga. Di bagian luar pagar yang membatasi teras kedua dan teras ketiga terdapat parit selebar 1,50 meter. Dinding dan dasar parit diperkuat dengan susunan batu andesit. Bangunan lain pada kelompok barat meliputi fondasi (batur) dari batu putih yang diberi kode A, sebuah batur (batur B) yang diduga sebagai tempat pembakaraan, serta sebuah kolam kecil.

Keraton Candi Boko
Keraton Candi Boko

Kelompok bangunan di bagian tenggara meliputi struktur lantai, gapura, batur pendopo, batur pringgitan, miniature candi, tembok keliling, dua kompleks kolam, dan reruntuhan stupa. Kedua kompleks kolam dibatasi pagar dan memiliki gapura sebagai jalan masuk. Bangunan kelompok timur meliputi satu buah kolam dan dua buah gua yang disebut Gua Lanang dan Gua Wadon. Hal yang menarik, pada dasarnya kolam dipahatkan lingga yoni, langsung pada batuan induk (bedrock).

Keraton Ratu Boko
Keraton Ratu Boko

Untuk meningkatkan daya tarik wisatanya, di Candi Boko diadakan pementasan sendratari “Sumunaring Abhayagiri”, semacam Sendratari “Ramayana” di Candi Prambanan, ataupun sendratari “Mahakarya” di Candi Borobudur. Belum terlalu popular, tapi setidaknya telah ada usaha untuk meningkatkan daya tariknya. Bukan itu saja, pemerintah daerah beberapa tahun terakhir ini telah mencoba meningkatkan minat wisata ke Keraton Ratu Boko, dengan sesering mungkin mengadakan kegiatan dikawasan ini, seperti acara jalan santai atau sepeda gembira.

Menjelang Perayaan Nyepi, biasanya ada acara “Mendhak Tirta” untuk mengawali acara Tawur Agung (Wisuda Bhumi) di Candi Prambanan. Acara “Mendhak Tirta” adalah mengambil air suci dari tujuh mata air di kawasan Jawa Tengah, salah satunya dari mata air di Bukit Boko. Lalu dengan diiringi gamelan baleganjur, iring-iringan tersebut berjalan kaki sejauh 3 km ke candi Prambanan, air akan didoakan dan diarak keliling Candi Prambanan oleh Wasi dan Pandita. Pada hari-hari besar seperti ini, tentu saja keramaiannya akan menyedot banyak perhatian dari wisatawan, terutama wisatawan asing.

Keraton Candi Boko
suasana sore hari di Keraton Candi Boko

Sayangnya, hingga hari ini saya belum menemukan petugas yang bertugas “menceritakan” Keraton Ratu Boko pada para pengunjung yang ingin belajar sejarah. Tentunya, bagi orang awam seperti kita, susah mencintai sejarah jika hanya melihat tumpukan batu andesit tanpa ada yang menceritakannya. Benar khan temans?

to be continued…Candi Barong😉

Tulisan Terbaru:

*(sumber data sejarah: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta)

[Tour] Waduk Kedungombo


Waduk Kedungombo sebagai lokasi ke-7 kami kunjungi setelah Mrapen. Kedungombo, sebuah cerita tersendiri dari semua tempat yang kami kunjungi hari itu. Bagaimana tidak, proyek waduk terbesar di Pulau Jawa itu lambang penguasa Orba yang saat itu sangat absolut, juga lambang keprihatinan kita atas nasib warga lokal yang menjadi korban bagi proyek-proyek mercusuar pemerintah.

Waduk Kedungombo dimiliki 3 Kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan. Dibangun tahun 1985-1989 diatas lahan sekitar 6.576 ha dengan rencana awal, sebuah waduk untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,5 megawatt yang dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektar sawah disekitarnya. Proyek prestisius ini dibangun dengan bantuan biaya USD 156 juta dari Bank Dunia, USD 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan dari dana APBN.

Waduk Kedungombo
jalan yg rusak menuju Waduk Kedungombo

Tentu saja, seperti biasa, permasalahan selalu timbul saat lahan yang akan dijadikan proyek waduk sebenarnya adalah perkampungan yang telah dihuni secara turun temurun. Ganti rugi tanah yang dinilai terlalu kecil, membuat 600 keluarga masih bertahan, meski waduk telah diairi, akibatnya beberapa warga yang keukeuh bertahan kemudian terpaksa tinggal ditengah-tengah genangan air.

Waduk Kedungombo
kondisi jalan menuju Waduk Kedungombo

Waduk Kedungombo mulai diairi pada 14 Januari 1989, menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan. Sebanyak 5268 keluarga kehilangan tanahnya akibat pembangunan waduk ini. Pada saat itu Romo Mangun bersama Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja’far (pengasuh pondok pesantren Pabelan Magelang) yang pernah menerima “The International Aga Khan Award for Architecture” mendampingi para warga yang masih bertahan di lokasi, dan membangun sekolah darurat untuk sekitar 3500 anak-anak, serta membangun sarana seperti rakit untuk transportasi warga yang sebagian desanya sudah menjadi danau.

Berbagai pergolakan pada saat itu memang berhasil diredam, dan waduk ini tetap diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 18 Mei 1991, akan tetapi isu pelanggaran HAM hingga hari ini belum selesai terkait dengan proyek Waduk Kedungombo.

Waduk Kedungombo
pintu masuk ke Waduk Kedungombo
Waduk Kedungombo
plang kawasan hutan Waduk Kedungombo
Waduk Kedungombo
kondisi di Wana Waduk Kedungombo

Sampai saat ini Waduk Kedungombo dipergunakan untuk keperluan irigasi pertanian di wilayah Kabupaten Grobogan, Blora, Rembang, Kudus dan sekitarnya. Sedangkan untuk masyarakat wilayah Kabupaten Boyolali dan Sragen, Kedungombo dijadikan sebagai lahan mata pencaharian, untuk mencari ikan dengan menggunakan jaring maupun jala.

Biasanya pada hari-hari libur, di waduk Kedungombo ramai untuk liburan keluarga. Suasananya nyaris seperti di Rawa Pening, hanya saja yang ini jauh lebih luas dan lebih bagus. Pengunjung bisa naik perahu mengelilingi waduk, atau makan ikan bakar di warung apung. Sayangnya pada saat kemarin saya datang, saya kok merasa waduk ini tak terurus dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Jadi tak sebanding dengan cerita pengorbanan orang-orang yang kehilangan sejarah hidup mereka di dalam genangan air bernama Kedungombo.

Waduk Kedungombo
rumah makan terapung di Waduk Kedungombo
Waduk Kedungombo
warung makan terapung di Waduk Kedungombo
Waduk Kedungombo
fasilitas di Waduk Kedungombo

Sedihnya, saya ga sempat ambil gambar dari atas bendungan. Harus buru-buru pulang ke Jogja. Hari sudah sore, dan kami mesti istirahat banyak untuk bekerja besok pagi. Selamat Jalan-Jalan!

*ini adalah dokumentasi acara Touring Team Sambang Alam ke Kudus pada tanggal 24-25 September 2011 yang lalu😉

–The End–

Tulisan Terbaru: