dari Pagesangan sampai Senggigi


Hari Kelima, Jumat, 20 Mei 2011

Mencari Pura Pagesangan

Pagi-pagi setelah sarapan, kami menuju desa Pagesangan. Sebenarnya kemarin kami sudah mengelilingi hampir semua pura yang ada di Lombok Barat. Tapi pura yang kali ini berbeda. Yang saya cari kali ini adalah Pura Pagesangan, sebuah pura bersejarah yang menyimpan naskah Negarakertagama. Negarakertagama merupakan naskah Jawa klasik yang ditulis pada tahun 1365 dan menjadi sumber sejarah tentang Kerajaan Majapahit. Pagesangan sendiri adalah sebuah nama desa yang terletak 5 km di sebelah tenggara Ampenan.

Setelah berkeliling desa Pagesangan dan bertanya pada warga local. Ternyata rata-rata warga local tidak ada yang tahu pura yang mana yang saya maksud. Yang lebih lucu lagi, bahkan mereka juga tidak tahu apa itu Negarakertagama. Hah!

Akhirnya, saya memberanikan diri memasuki sebuah pura yang cukup besar. Disana tertulis Pura Dalem Arsana Pagesangan Mataram. Dari seorang Bapak yang saya temui (yang bertugas merawat pura), baru saya ketahui bahwa pura tersebut digunakan untuk mengkremasi keluarga kerajaan.

pura pagesangan
pura pagesangan

Tepat disamping Pura Pagesangan terdapat Pemakaman Muslim Sekarbela. Jadi, bukan hanya tempat ibadah yang berdampingan. Bahkan pemakamannya pun berdampingan antara dua agama yang berbeda.

Dalam pencarian mencari desa Pagesangan, saya menemui banyak kampus di sekitar daerah ini. Salah satunya adalah Universitas Mataram. Kampus Negeri di NTB.

Sekarbela

Sekarbela adalah sebuah desa yang terkenal sebagai sentra kerajinan mutiara Lombok. Konon, mutiara air tawar yang dijual di Lombok, tidak dibudidayakan dilombok. Budidaya mutiara yang di lombok hanya mutiara air laut atau dikenal dengan sebutan “South Sea Pearl”. Mutiara air laut Lombok konon yang terbaik didunia.

Memasuki Sekarbela mengingatkan saya pada Kotagede. Jika di Kotagede penuh dengan industry perak. Maka di Sekarbela penuh dengan industry mutiara. Sepanjang jalan berisi toko-toko yang menjual mutiara. Memberi banyak pilihan bagi pengunjung yang senang berbelanja mutiara.

Taman Budaya

di Jalan Majapahit, terdapat Taman Budaya. Namun sayang, karena tidak ada event apapun, tempat ini tampak sepi.

Loang Baloq

Makam Loang Baloq bukanlah nama seseorang. Loang Baloq merupakan bahasa Sasak yang berarti pohon beringin yang berlubang. Pohon beringin itu sendiri diyakini sudah berumur ratusan tahun, terlihat dari akar dan batang yang sangat tua. Teman kuliah saya yang asli Lombok menyebut Loang Baloq dengan Lubang Nenek.

Menurut juru kunci makam, Loang Baloq  juga dapat diartikan sebagai Lubang Buaya karena dulunya tempat makam tersebut adalah sungai besar yang banyak di diami bebaloq (buaya).

Di kompleks makam Loang Baloq ada tiga makam yang dikeramatkan. Makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak sudah dikeramik putih, berbentuk empat persegi panjang dengan lubang di tengah. Di lubang tengah itulah para peziarah biasa menaburkan bunga. Sedangkan makam Anak Yatim berada di luar, disamping makam Maulana Syech Abdurrazak. Sementara makam Datuk Laut, tidak berada langsung di bawah pohon beringin, tapi disamping makam Anak Yatim. Makam yang sudah dikeramik hitam itu berada di dalam bangunan permanen berukuran sekitar 3X4 meter.

Data Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Mataram, berdasarkan sejarah, pada tahun 1866, seorang ulama besar bernama Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berasal dari jazirah Arab datang ke Palembang.

Dari Palembang, ulama besar itu melanjutkan perjalanan dan mendarat di pesisir Pantai Ampenan, Kota Mataram.  Ketika berada di daerah itu Maulana Syech Gaus Abdurrazak menyampaikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam. Ajaran tersebut sangat dipercaya oleh masyarakat, tidak hanya di Mataram tapi juga di Pulau Lombok.

Makam-makan tersebut menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi para peziarah dari Pulau Lombok maupun dari daerah lain. Selain itu, ada pula peziarah yang melangsungkan upacara potong rambut anak yang masih balita (ngurisan).

Ngurisan dimaksudkan untuk menghilangkan rambut “panas” sang bayi. Diharapkan setelah itu akan tumbuh rambut yang lebih lebat dan bayi menjadi tidak rentan sakit.

Hal menarik yang dari Loang Baloq adalah cerita mengenai pohon jodoh. Menurut warga local, jika kita datang bersama pasangan, lalu mengikat kain atau tali plastik pada akar beringin yang menggantung serupa “janggut”, dipercaya bahwa pasangan tersebut akan bisa berjodoh. Huehe!

loang baloq
loang baloq

Kota Tua Ampenan

Menuju Kota Tua Ampenan, sepanjang perjalanan kami melihat kompleks pemakaman China yang tertata apik. Makam-makamnya berukuran besar berwarna kelabu bebatuan terletak di kiri jalan, di tepi pantai. Menarik, karena pada umumnya pemakaman China selalu diatas bukit. Tapi disini, terletak di pinggir pantai.

Ampenan merupakan sebuah kecamatan di kota Mataram. Daerah ini dahulunya merupakan pusat kota di Pulau Lombok. Di sebelah barat berbatasan dengan Selat Lombok (laut yang menghubungkan Pulau Lombok dengan Pulau Bali).

salah satu sudut di kota tua ampenan
salah satu sudut di kota tua ampenan

Di kecamatan ini terdapat peninggalan kota tua karena dahulunya merupakan pelabuhan utama daerah Lombok. Terdapat banyak kampung yang merupakan perwujudan dari berbagai suku bangsa di Indonesia diantaranya Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Arab, Kampung Bali, dan lain-lain.

Dari sebuah jurnal majalah Tempo tahun 1973 disebutkan, ‘Pelabuhan yang memenuhi syarat buat kegiatan bongkar muat di Lombok cuma dua : Ampenan & lembar, terletak di pantai barat Pulau Lombok. Pelabuhan Ampenan & Lembar di pulau Lombok, selama Januari – Oktober tahun lalu mencatat 459 kapal yang singgah di sana plus 527 perahu. Di masa Belanda, sekitar tahun 1948 – 1950, berdiri sebuah dermaga di pelabuhan Ampenan. Cuma patok-patok  besinya yang tersisa kini. Sebuah mesin pengerek atau katrol dipasang di ujung, untuk menaikturunkan blongko-semacam kayu gelondong kayu besar dilubangi hingga menyerupai tongkang. Benda ini ditarik perahu motor ke kapal yang lego jangkar, untuk dimuati berbagai barang & dinaikkkan ke dermaga dengan dikatrol tadi. Sayang, semua aktivitas pelabuhan Ampenan surut seiring waktu.

Jalan utama Yos Sudarso menggambarkan fenomena koeksistensi antaretnis ini: di satu sisi berdiri ruko-ruko kuno milik warga Tionghoa, sementara di seberangnya terdapat barisan toko milik komunitas Arab yang menjajakan barang-barang khas Timur Tengah.

Vihara Bodhi Dharma
Vihara Bodhi Dharma

Wihara Bodhi Dharma yang berdiri sejak 1804 menjadi saksi bisu lain dari proses pembauran antarsuku di Ampenan. Rumah suci berbahan kayu milik umat Buddha ini berdiri persis di hadapan Kampung Melayu yang didominasi penganut Islam. Sementara itu kawasan pesisir didiami komunitas Bugis yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan.

Meski tampak harmonis, warga di sini tak selamanya hidup rukun dalam perbedaan. Sejumlah media mencatat, Lombok, termasuk Ampenan, pernah mengalami kerusuhan berbau rasial di awal 2000.

Jika anda berkunjung ke Kota Tua Ampenan, jangan lupa mampir ke Mie Jakarta. Meski namanya hanya “mie”, tapi tempat makan ini menjual berbagai makanan dengan menu chinese. Rasanya top markotop dech!

Pura Segara

Dari Kota Tua Ampenan menuju Senggigi terdapat pura yang cukup menarik yaitu Pura Segara. Tidak banyak informasi yang saya dapat. Selain memang tidak ada pemandu wisata, juga karena banyaknya anjing kampung yang mengerumuni saya pada saat memasuki pura ini, membuat saya panik. Huehe!

pura segara
pura segara

Batu Layar

Warga kota Mataram dan Lombok Barat, selain di Loang Baloq, biasanya merayakan Lebaran Topat di salah satu makam keramat di pinggir pantai Senggigi, yaitu di Pantai Batu Layar.

Makam Batu Layar
Makam Batu Layar

Biasanya masyarakat setempat mengawali perayaan Lebaran Topat dengan upacara Nyangkar, acara ziarah ke Makam Batu Layar.

Makam ini merupakan makam Syeh Syayid Muhammad al Bagdadi yang berasal dari Bagdad, datang ke Pulau Lombok untuk menyebarkan agama Islam. Setelah agama Islam sempurna Syeh Syayid ingin kembali ke negeri asalnya di Bagdad.

Kemudian penyebar agama Islam ini diantar ke pinggir pantai Batu Layar oleh para muridnya. Setelah tiba di pinggir pantai, Syeh Syayid berdiri di atas batu yang menyerupai sebuah perahu.

Namun sekitar setengah jam kemudian datang hujan lebat yang disertai angin dan petir. Pada saat itulah Syeh Syayid menghilang dan yang tertinggal hanya surban dan kopiahnya. Jadi, yang dimakamkan bukan jasad Syeh Sayid melainkan kopiah dan sorban yang ditinggalkannya.

Pura Batu Bolong

Pura Batu Bolong berdiri di dekat Pantai Batu Layar di kawasan Senggigi, sekitar 20 kilometer dari Mataram. Pura ini sekilas mengingatkan kita pada Tanah Lot di Bali—bangunan ibadah yang terletak di bibir pantai dengan posisi menjorok ke laut.

Pura Batu Bolong
Pura Batu Bolong

Di tempat inilah Dang Hyang Dwijendra dikisahkan pernah singgah. Dia adalah pendeta asal Jawa Timur yang memiliki peran penting dalam perkembangan agama Hindu di Bali dan Lombok.

Untuk memasuki pura, pengunjung diwajibkan memakai pita kuning yang dilingkarkan di pinggang. Pita disewakan di dekat pintu masuk. Tarif sewanya sukarela alias terserah kita.

Ada dua pura yang menghiasi karang warna hitam ini. Berjalan menuruni anak tangga, kita akan menemukan pura pertama yang bersemayam di bawah naungan pepohonan rindang. Pura kedua berdiri di atas karang yang menjulang setinggi kurang lebih empat meter dan memiliki lubang di tubuhnya. Lubang inilah yang menjadi inspirasi lahirnya nama Pura Batu Bolong.

Pasar Seni

Di pantai Senggigi terdapat sebuah Pasar Seni yang touristis banget! Kenapa begitu, karena selain lokasinya yang dipinggir pantai. Juga karena lebih banyak bule yang berbelanja daripada warga local.

Wisata Alam Karandangan

Beberapa hektar tanah di daerah Karandangan sedang dalam proyek yang akan dijadikan wisata alam Karandangan, untuk menambah destinasi wisata di salah satu pantai Senggigi.

Bukit Malimbu

Bukit Malimbu merupakan salah satu titik lokasi yang lumayan ngetop di pinggir pantai Senggigi. View-nya indah. Laut yang biru dan dapat melihat gili dari atas. Lokasi ini sangat ramai jika sore hari. Banyak sekali muda-mudi yang duduk di bukit ini, sekedar menikmati jagung bakar atau kacang rebus. Bukit Malimbu semakin terkenal karena digunakan syuting beberapa acara TV.

Bukit Malimbu
Bukit Malimbu

Pantai Senggigi

Siapakah yang tidak kenal senggigi. Pada umumnya orang jauh lebih mengenal senggigi dari semua pantai yang ada di Lombok. Padahal Lombok memiliki pantai yang jauh lebih indah dari senggigi. Tapi memang harus diakui, senggigi adalah pantai yang paling mudah ditemukan, apalagi jika anda sangat menyukai sunset.

sunset di Pantai Senggigi
sunset di Pantai Senggigi

Ada kisah lucu pada saat kami mengejar sunset di Senggigi. Entah kenapa, tiba-tiba ban motor yang saya naiki kempes. Padahal hari sudah gelap. Jarak antar rumah yang jauh, dan ketiadaan lampu jalan membuat “perjalanan” mendorong motor yang hampir 1,5 km menjadi sebuah perjalanan yang sangat panjangggg sekali!

Kondisi tanah yang berbukit dan (tentu saja) sepi semakin mendramatisir suasana. Untunglah setelah perjalanan berat tersebut, kami bertemu dengan tambal ban yang ditulis “PERES BAN”. huaha!

Mataram Mall dan Taman Sangkareang

Sepulang kami dari pantai Senggigi, tujuan kami adalah Mataram Mall. Badan sudah lelah dan kami ingin segera cuci muka dengan air tawar yang bersih. Makanya kami merasa, lebih baik mampir di Mataram Mall lalu membeli oleh-oleh, daripada harus kembali ke penginapan dulu baru mencari oleh-oleh.

Di sebelah Mataram Mall, ada sebuah taman yang lumayan ramai. Setelah saya tanyakan ke warga lokal ternyata itu adalah Taman Sangkareang. Kebetulan pada saat saya lewat, nampaknya seperti ada acara musik. Sehingga ramai dengan muda mudi.

Jalan Udayana

Jalan Udayana terkenal sebagai Malioboro-nya Lombok. Sebuah jalan yang memang sangat ramai berisi anak muda yang nongkrong hingga tengah malam. Sebenarnya, malam sebelumnya kami sudah mendatangi areal jalan udayana, akan tetapi sepi (mungkin karena pada saat kami datang sebelumnya adalah malam jumat, malam sunnah. huehe!). Nah, di malam sabtu, jalan Udayana sangat ramai. di sepanjang jalan banyak sekali penjual makanan dan kopi dengan harga terjangkau. mulai jagung bakar hingga sate bulayak dapat dengan mudah ditemukan.

Warung Kejaksaan

terletak di belakang Kantor Kejaksaan Provinsi NTB. Salah satu tempat makan favorit warga lokal dengan menu lokal, seperti: nasi goreng, mawut, bakso, rujak serut, es krim rujak, aneka jus. Bahkan teman saya sempat berkomentar, “jauh-jauh ke lombok, kok cuma makan pecel lele!”. Huaha!

Phoenix

Phoenix merupakan salah satu toko pusat oleh-oleh makanan khas Lombok yang sangat terkenal di Lombok. Selain terkenal karena lengkap, juga karena murah.

Hari Keenam, Sabtu, 21 Mei 2011

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan siap di Bandara Selaparang. Kami naik penerbangan pertama menuju Surabaya. Beruntung, cuaca sangat cerah. Dari pesawat saya dapat melihat matahari terbit dari arah Rinjani.

Dari semua lokasi yang masuk dalam itinerary saya, hanya beberapa tempat saja yang belum saya kunjungi karena waktu yang kurang, misal: Museum NTB, Makam Jenderal Van Ham (padahal kedua lokasi ini berulangkali kami lewati), Pantai Medana dan Pura Medana, Pantai Sire, Hutan Wisata dan Air Terjun Sesaot, Kota Kediri (terkenal dengan kerupuk kulit), kota Praya (seorang teman tinggal di kota ini), Pura Peng Song, dan Cilinaya Shopping  Center.

Makanan yang belum sempat saya icip: Sate Rembiga (sudah melewatinya, akan tetapi karena sangat ramai, kami tidak jadi mampir), Nasi Puyung (di ruko sebelah timur lapangan rembiga), Sate Pusut, Sate Tanjung (di sekitar Pura Medana), Nasi balap, Nasi campur khas Mataram di Ampenan, Warung Nasi Terare/ Nasi Rarang, Bebalung, Soto sasak Lombok di jalan Langko, Ikan kuah sepat, dan Tuak Lombok.

Untungnya, kami sudah beberapa kali mencoba Kopi Lombok. Hanya saja, kami belum sempat mencoba kopi kelapa atau kopi Lombok yang direbus pakai air kelapa.

Moga-moga, lain waktu saya bisa mengunjungi lokasi tersebut dan mencoba makanan khas-nya. Yang pasti, suatu saat nanti, saya ingin sekali mengunjungi Lombok Timur. I hope!

-THE END-

Tulisan Terbaru:

Advertisements

2 thoughts on “dari Pagesangan sampai Senggigi

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s