Beef Steak VOC


Beef Steak di @VocCafe

Beef Steak ala VOC Cafe merupakan beef tenderloin yang disajikan dengan classic lyonnaise potatoes dan creamy spinach & corn.

Porsinya besar dan menjanjikan buat Anda yang kelaparan. Salah satu menu yang tidak direcommendasikan jika Anda sedang diet ๐Ÿ˜‚

Jika Anda datang saat malam minggu, suguhan Beef Steak ini merupakan pilihan yang tepat sambil menikmati accoustic music.

VOC Cafe berlokasi di Jalan DI Panjaitan No.52 Yogyakarta, tak jauh dari Plengkung Gading.

Happy Culinary!

View on Path

Sandwich VOC


Kamu butuh teman ngopi?

Kalo iya, kamu harus cobain yang satu ini: Sandwich ala @VocCafe

Sandwich ala VOC Cafe perpaduan dari Smoke Beef, Egg, Bread, dan Mozarela Cheese.

Satu porsi terdiri dari 4 potongan besar. Pas buat kamu yang hobby kumpul bareng teman, ngobrol dan nyemil sesuatu yang ringan tapi bikin kenyang.

Buat kamu anak sekolahan yang butuh tempat buat ngerjain tugas sekolah, wifi yang kenceng, makanan yang recommended dan tak lupa buat bersosialisasi. Kamu bisa dapetin semua di @VocCafe.

Berlokasi di jalan DI Panjaitan no.52 Yogyakarta. Tepat di samping The Kresna Hotel. Sebuah bangunan heritage yang ga hanya menyimpan banyak sejarah, tapi juga makanan yang enak.

Happy Culinary!

View on Path

Selamat Tahun Baru, Bapakku. Happy Traveling!


image

Di hari pertama di tahun 2016 ini, saya ingin menulis sesuatu. Jika biasanya saya menulis buat diri sendiri agar blog tetap update, kali ini saya ingin menulis buat Bapak saya.

Tahun 2015 ini bisa dibilang adalah tahun yang berat buat saya. Saya mengawali tahun dgn pekerjaan baru, karena per 1 Januari saya dimutasi ke pekerjaan baru.

Namanya juga proses penyesuaian ke pekerjaan baru, tentu saja saya harus lbh giat belajar. Setidaknya, saya merasa begitu. Ada banyak hal yg harus saya pelajari. Tentunya, menyita waktu.

Tapi saya ga komplain dgn sibuknya penyesuaian ditempat baru. Saya tau, bahwa ini resiko pekerjaan.

Yang tidak saya sadari bahwa penyesuaian di tempat baru ini membuat saya menghabiskan banyak waktu buat bekerja. Pekerjaan yg kata orang, sangat enak, karena membuat saya bisa traveling ke banyak kota, sekaligus melelahkan dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Harap dicatat, diluar kantor dan pekerjaan utama, saya punya banyak sidejob. Jika pekerjaan utama membuat saya mengunjungi banyak kota besar, sidejob saya pun hampir sejenis, mengunjungi banyak kota lain dgn kuliner unik. Belum lagi, kadang saya melakukan traveling untuk urusan pribadi atau sekedar jalan-jalan bersama teman.

Biasanya, saat sedang di luar kota/ luar pulau/ luar negeri, saya menelpon bapak. Mengabarkan kisah tentang kota-kota yang saya kunjungi.

Saya jarang membeli cinderamata buat diri sendiri, satu-satunya orang yg sering saya belikan oleh-oleh adalah Bapak saya.

Bapak saya, 5 tahun terakhir ini memang sering sakit. Berulang kali saya mendapat kabar kalau Bapak dirawat di Rumah Sakit. Tapi di hari lain, Bapak begitu sehat dan segar bugar.

Pernah seorang teman bertanya, “hadiah ulang tahun apakah yg sering saya berikan ke Bapak?”.

Jawaban saya simple, “tiket pesawat PP ke kota mana saja yg Bapak saya inginkan”.

Teman saya sempat berkomentar, “Kalau hadiahnya adalah sebuah tiket perjalanan. Apakah kamu ga pernah khawatir dgn bapakmu? Bagaimana jika terjadi sesuatu selama perjalanan. Siapa yg menolong Bapakmu?”.

Saat pertanyaan ini terlontar, saya baru sadar bahwa hadiah saya buat Bapak selalu tentang traveling piyambakan.

Waktu itu jawaban saya begini, “Bapak saya itu mirip dgn saya. Sudah terbiasa dgn traveling. Seumur hidup, saya mengenal Bapak sebagai seorang yg lbh sering diluar kota, daripada di rumah”.

Itu benar. Bapak saya, diluar pekerjaan utamanya, beliau aktif di banyak kegiatan. Mulai dari PMI, Pramuka, ORARI, Ketua Komunitas Bonsai, hingga Mancing. Saya ingat sekali, waktu saya masih usia sekolah, Bapak saya bisa berhari-hari mancing di laut atau berhari-hari mblusukkan di hutan Palembang-Bengkulu mencari Bonsai.

Bapak juga pernah 2x naik haji. Pertama, sebagai pendamping kesehatan. Kedua, sebagai pendamping group.

Bapak saya, punya banyak pengalaman traveling piyambakan. Yang kalo dirunut satu per satu, barangkali jauh lbh banyak dari pengalaman saya, jadi kenapa kudu khawatir, pikir saya waktu itu.

Ada kisah lucu diantara Bapak, saya dan adik. Ada masa, dimana adik saya sering curhat, kalo Bapak sikapnya menyebalkan sekali. Hobby marah-marah di rumah. Penyebabnya jelas, skripsinya adik saya ga rampung-rampung.

Adik saya curhat, dia serba salah dihadapan Bapak. Kalo pas di rumah, diomeli terus. Kalo pergi, malah tambah dimarahin. Huahaha ๐Ÿ˜‚ Jadi wajar kalo rumah suasananya ga asyik.

Waktu itu, saya punya ide. Biar Bapak ga marah-marah terus, kita piknik-an Bapak saja.

Jadilah saya hunting tiket. Saya putuskan membelikan Bapak tiket pesawat ke Palangkaraya PP, tapi via Surabaya.

Sahabat baik Bapak tinggal di Palangkaraya. Tapi saya juga bermaksud memberi Bapak kesempatan buat mengunjungi adik-adiknya yg semuanya tinggal di Pulau Jawa.

Gara-gara tiket pesawat Surabaya-Palangkaraya PP ini, Bapak pulang ke Lampung via Surabaya lagi.

Otomatis, Bapak mengunjungi adik-adiknya lagi. Jadi, Bapak memulai traveling dari Lampung-Jakarta-Jogja-Jombang-Surabaya-Palangkaraya.

Kemudian pulangnya, merunut lokasi yang sama lagi. Mulai dari Palangkaraya-Surabaya-Jombang-Solo dan kemudian ke Jogja bertemu saya.

Selama perjalanan itu, otomatis oleh-oleh dari Palangkaraya yg Bapak bawa habis diberikan buat adik-adiknya. Ini malah jadi cerita lucu, karena akhirnya Bapak pulang ke Lampung, tanpa membawa oleh-oleh dari Palangkaraya buat orang rumah ๐Ÿ˜‚

Waktu itu bulan puasa. Bapak menghabiskan bbrp hari tinggal di Jogja. Saya menikmati hari-hari dimana saya berbuka dan sahur bersama Bapak. Kami ga banyak piknik keliling Jogja, tentu karena disiang hari saya mesti bekerja. Dan di malam hari, saya sibuk main. Iya. Saya anak yg nakal, bahkan saat Bapak di Jogja, saya masih sempat-sempatnya menghabiskan malam, ngopi bersama teman-teman padahal Bapak saya tinggal di kamar. Semoga Bapak memaafkan saya.

Waktu itu, saya tanya pada Bapak. Sudah menjelang Lebaran Idul Fitri, kenapa Bapak tidak tinggal lebih lama di Jombang, di tanah kelahiran Bapak? Kenapa tidak pulang ke Lampung setelah Lebaran saja?

Jawaban Bapak sederhana. Bapak kangen rumah ๐Ÿ˜‚. Kata Bapak, “memang paling enak tinggal di rumah”. Saya pun tertawa lepas.

Saya cukup senang, akhirnya Bapak sadar bahwa se-sulit-sulitnya keadaan di rumah, tapi sejujurnya ga ada yg lebih indah dari rumah. Biar Bapak ga marah-marah lagi dirumah. Biar Bapak sadar, bahwa kami sakjane sayang banget sama Bapak. Jadi, tolong dihargai.

Setelah kejadian itu, hampir tiap tahun, saya membiayai traveling Bapak. Bbrp kali, saat saya dengar kabar Bapak sakit. Saya telpon dan bilang, “Ayo sembuh, Pak. Nanti kita traveling bareng lagi, kayak dulu”.

Saya menjanjikan pada Bapak, traveling bersama ke banyak tempat, misalnya ke Pulau Madura. Tapi rencana traveling bersama ini belum terlaksana. Saat saya punya waktu, Bapak sedang sakit. Saat Bapak sehat, saya sibuk kerja. Akhirnya, Bapak lbh banyak traveling sendirian.

Hingga hari itu datang. Akhir Agustus 2015. Saya ditelpon oleh adik saya, mengabarkan Bapak sedang sakit keras dan sakratul maut. Jam 11 malam, saya ditelpon agar bicara dengan Bapak.

Waktu itu, jantung saya berdebar-debar, tangan saya gemetar memegang telepon, dan suara saya pun tidak keluar.

“Mama takut ini adalah kesempatan terakhirmu bicara dengan Bapak. Maka bicaralah,” kata ibuku ditelepon.

Maka saya bicara ditelpon dengan suara di loudspeaker, “Bapak harus sembuh. Bapak harus kuat. Ada banyak janji yg belum saya penuhi buat Bapak. Ada banyak janji Bapak buat saya yg belum terlaksana. Ingat kan, Bapak janji buat mendampingi saya menikah? Bapak harus sembuh. Saya ingin menikah ditemani Bapak”.

Lalu, tangis saya pun pecah.

Malam itu, saya langsung mencari tiket tercepat yg bisa saya dapat buat pulang ke Lampung. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk. Airmata saya ga berhenti mengalir sepanjang perjalanan.

Saya bilang pada diri saya, “Kuatlah. Tabahlah”. Tapi airmata saya, seperti diproduksi massal, tidak habis-habis sepanjang perjalanan Jogja-Jakarta-Lampung.

Hari itu Jumat. Bapak saya direncanakan dikubur sebelum sholat Jumat. Saya pun menangis.

Saya bilang pada teman Bapak yg mengurus jenasah Bapak di rumah, “Bisakah mengubur Bapak setelah saya sampai rumah? Saya ingin bertemu Bapak. Saya harus bertemu Bapak. Saya ingin memeluk Bapak dan bilang betapa saya sangat menyayangi Bapak”.

Keluarga di rumah menjawab, “Kalo dikubur setelah sholat jumat, takutnya semua tamu sudah pulang. Bapakmu harus segera dikuburkan”.

Saya ga peduli. Pokoknya, saya harus bertemu Bapak!

Saya rasa, itu jawaban yg paling egois yg pernah saya ucapkan di hadapan keluarga dan teman-teman Bapak saya.

Alhamdulillah. Semesta sedang berbaikhati, meski saya egois dan menyebalkan. Saya pulang tepat waktu. Perjalanan yg demikian panjang dan macet. Akhirnya, saya sampai rumah, tepat sebelum sholat jumatan.

Hari yg saya takutkan datang. Hari dimana saya pulang merantau dan melihat ada tarup dirumah. Bukan pernikahan, tapi kematian.

Saya ga peduli dengan banyaknya tamu di halaman rumah. Saya pulang cuma buat Bapak.

Saya langsung memeluk Bapak dan menangis sejadi-jadinya. Jenasah Bapak terlihat begitu bersih dan tampan.

Kalo digambarkan bagaimana perasaan saya waktu itu, rasanya hati saya adalah tanah, dan Bapak adalah pohon besar yg menaungi saya. Saat Bapak meninggal, rasanya pohon besar tsb seperti dicerabut dari hati saya. Kemudian hati saya terkoyak.

Sampai sekarang pun, saya masih ga percaya kalo Bapak sudah meninggal.

Dalam perasaan saya, Bapak sedang traveling ke kota lain atau memancing di laut hingga berhari-hari.

Setelah Bapak meninggal, saya mengalami bulan-bulan sibuk. Hampir tiap waktu, saya selalu berada di luar kota, entah itu di hari kerja ataupun di weekend.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menangis saat traveling. Entah itu saat duduk di atas pesawat atau saat saya mengunjungi toko oleh-oleh.

“Biasanya saya beli kaos, ikat kepala, kain sarung dari tiap kota sebagai oleh-oleh buat Bapak”, kata saya dalam hati. Kemudian mata berkaca-kaca.

Biasanya saya telpon Bapak saat diluarkota. Bercerita bagaimana hari itu di kota tsb. Menceritakan udaranya, kulinernya dan orang-orang lokal yg saya temui. Terutama di kota-kota yang Bapak punya kenangan tertentu, saya biasanya telepon Bapak. Dan saat ini tidak bisa.

Saya biasanya bilang begini, “coba bapak tebak, saat ini saya dikota mana?”. Lalu kami akan ngobrol sambil saya tertawa terbahak-bahak.

image

Hari ini 1 Januari 2016, tepat 128 hari meninggalnya Bapak. Saya hanya ingin bilang, “Selamat Tahun Baru, Bapak. Happy Traveling”

Selamat jalan-jalan, Bapak. Saya janji, saya akan mengunjungi kota-kota yang dulu saya janjikan akan kita kunjungi.

Percayalah, saya akan mengingat Bapak, persis seperti saat kita traveling bersama. Buat saya, Bapak tetap sehat, muda dan bahagia.

Sampai jumpa Bapak. Kelak, kita akan berkumpul lagi sahabat baikku, Bapakku tersayang. Akan saya ceritakan semua kisah hebat traveling saya buat bapak.

Terimakasih banyak buat hal-hal ajaib yg telah Bapak lakukan buat saya.

I Love U, Pak.
Happy Traveling! ๐Ÿ˜„

Seberapa toleran lidah kita?


image

Jika kalian termasuk yg selo nyimak TL kemarin tgl 25-26 Des 2015, pasti tau ttg berita ini.

Saya sendiri, sebenarnya ga nyimak-nyimak banget, sampai salah satu follower mensyen di twitter ๐Ÿ˜‚

Persoalannya sederhana, ada seorang wisatawan domestik (kita sebut saja mbak K) yg memaki-maki Yogyakarta dan kulinernya.

Yuks, kita simak, kenapa begitu?

Kalo dibaca dari statusnya di Pesbuk, mbak K berasal dari Kabupaten Tuban, sebuah Kabupaten kecil dkt Lamongan. Sedang berwisata di Yogyakarta, dan terkena macet di sepanjang jalan.

Yang ke2, mbak K marah karena kuliner di Yogyakarta, dia anggap hanya “gitu-gitu” saja.

Saat membaca nyinyiran dari teman-teman di TL yg marah atas status pesbuk mbak K tsb, saya jadi mikir, memangnya kita ga marah atas macetnya Yogyakarta di kala liburan?

Kalo saya, jujur saja, saya termasuk yg marah. Bayangkan, hampir setiap jalan di Yogyakarta macet. Terutama jalan-jalan menuju tempat wisata.

Bahkan Ringroad Utara (dari per4an Jombor hingga per4an Hyatt) yg biasanya hanya butuh 5 menit, pas malam Natal saya butuh 30 menit, buat melintasinya.

Tentu, sebagai warga lokal saya merasa ga suka atas macetnya kota Yogyakarta. Tapi apa mau dikata, itulah resiko tinggal di Kota Pariwisata.

Fyi, Yogyakarta itu kota tujuan pariwisata wisatawan domestik no.1 di Indonesia. Inget ya, bagi wisatawan domestik. Kalo wisatawan mancanegara tetaplah Bali no.1 ๐Ÿ˜‚ Alasannya mudah, Yogyakarta itu terkenal murah. (meski alasan ini sudah tidak sepenuhnya benar lagi).

Trus kita bisa apa? Dulu sih, kita sukanya marah-marah di TL sama Pak Walikota, kok Jogja jadi semrawut tata kotanya. Mulai dari marah-marah karena maraknya pembangunan Mall, Hotel, Apartemen, sampai tempat wisata (macam Taman Lampion dan JogjaBay) yg bikin macet ruas utama.

Apa bedanya dgn marah2nya mbak K? Mbak K pake menghina kota kita. Sedangkan kita, mengkritisi pemerintah, karena rasa cinta kita terhadap kota ini.

Solusinya gimana? Saya sebagai warga lokal sih menyarankan bagi warga Yogyakarta pas liburan panjang gini buat liburan ke Kota/ Negara lain atau milih ndekem di rumah saja. Iya. Kita kasih kesempatan buat wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara buat piknik ke Kota kita. Kalo kita kan bisa piknik kapan ajah ๐Ÿ˜„

Macet itu bagian dari resiko liburan panjang, juga resiko menjadi Kota Pariwisata. Kalo kita ga nrimo macet, nanti PAD kota kita ga nambah. Ini dilema lho. Mau mengurai kemacetan di satu sisi, dan menambah PAD di sisi lain.

Hal ke2 ya, terkait kuliner. Pertanyaannya, seberapa toleransi lidah kamu terhadap kuliner di kota lain?

Pekerjaan saya, membawa saya dan teman-teman harus mengunjungi banyak kota lain. Saat di kota lain, kadang kami dilema juga mau nyoba kuliner baru. Takutnya ga doyan. Ini bukan bicara pribadi, tapi group. Tidak semua temanmu, seberani dirimu mencoba kuliner baru. Mencoba kuliner baru itu tantangan lho.

Misal ya, saya pernah berkeliling kota-kota di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, dan kalo pulau Jawa, jangan ditanya deh. Saya sih baik-baik saja dgn semua kuliner tsb, tapi apa iya teman-teman saya juga?

Saran pertama, kalo di kota lain, dan takut ga doyan dgn kulinernya, ya makan saja yg standar. Standar dalam arti Kfc, Mcd, Pizza Hut, ayam goreng, starbucks, Nasi padang, bakso, mie ayam dan sejenisnya.

Pokoknya, kuliner yg seenak2nya ya kamu tau rasanya, dan ga seenak2nya ya rasanya gitu2 juga.

Lha apa gunanya piknik ke luar kota kalo makannya gitu2 ajah? Jawabannya mudah. Lha daripada kamu ga doyan?

Saran ke2, jangan berharap terlalu tinggi saat berkunjung ke kota lain. Sapa tau, harapanmu ga terpenuhi trus kamu kecewa.

Kenapa saya ngomong gini? Soalnya saya udah keliling ke kota-kota lain, trus sering banget nemuin temen kantor bilang, “masakan di kota ini ga enak, masih jauh lbh enak makanan di Jogja”.

Komentar temen saya sama kan dgn komentar Mbak K? Bedanya, temen saya ngomong sama saya, dan ga ditulis di social media.

Toleransi itu ga hanya melulu agama, ras, suku, toleransi terkait makanan itu penting. Toleransi itu kalo buat aku kaitannya sama tingkat pengetahuan kita memahami budaya dan sejarah di negri lain.

Dulu, pertama kali main ke Hongkong dan Macau, sungguh saya sangu cabe segar, saus, dan kecap manis. Alasannya, di Hongkong dan Macau jarang banget kecap manis, jarang banget cabe segar. Adanya cabe kering dan kecap asin, yg awalnya saya doyan, tapi setelah seminggu tinggal disana, saya bosan. Saya kangen masakan Indonesia yg diolah dari bumbu-bumbu segar.

Kedua kalinya piknik ke sana, saya mikir, jauh2 piknik ke Hongkong dan Macau kok maemnya kayak di Indonesia, rugilah. Sekali, dua kali, ketiga kali, akhirnya lama-lama lidah saya berkompromi dengan taste masakan di Hongkong dan Macau.

Begitu juga saat saya bertualang kuliner di Beijing. Lidah saya sudah berkompromi. Tapi komprominya kan butuh waktu dan keberanian๐Ÿ™‚

Ada 2 negara yg menurut saya kulinernya bisa langsung kompromi dengan lidah kita, yaitu Saigon dan Bangkok. Tapi apa iya semua lidah Indonesia cocok? Ya belum tentulah.

Kembali lagi soal mbak K, tidak bisa dipungkiri bahwa Tuban dan DIY itu kota yg meski di peta sebelahan, tapi taste kulinernya beda banget. Ini kaitannya sama sejarah dan budaya juga.

Kita ga bisa memungkiri kalo ga semua orang Jawa Timur doyan makanan ala Jogja yg manis, misal gudeg. Ini bener lho, saya pertama kali tinggal di Jogja juga ga seberapa suka gudeg.

Jadi, sebenarnya komentar dari Mbak K itu wajar, diluar misuh2in Kota Jogja lho ya. Kesalahan mbak K adalah lidahnya yg tak bisa bertoleransi dgn makanan Jogja, membuat jempolnya juga ga bisa bertoleransi dgn Kota kita.

Kejadian seperti ini sakjane bisa menimpa kota manapun.

Barangkali buat pembelajaran bagi mbak K, bahwa social media itu gunanya buat menambah teman dan mencari informasi ttg budaya di kota lain, tentang kuliner lain, sehingga ga nyasar masuk ke warung makan yg salah. Social media itu bukan hanya untuk misuh-misuhin kota orang.

Ini juga buat pembelajaran kita, bahwa kita ga perlu njelek2in Kota Tuban, ga perlu njelek2in “dasar pns” atau semacamnya. Komentar mbak K ga ada kaitannya dengan kota-nya atau dgn pekerjaannya.

Yg perlu kita tau adalah orang-orang seperti mbak K akan selalu ada di social media. Tergantung bagaimana cara kita menghadapi perbedaan๐Ÿ™‚

Nih, ada salah satu akun yg malah minta maaf.

image

Nah, Mbak K, lain kali cobalah piknik di seputar kota Anda saja, karena saya yakin semacet2nya Tuban, masih lbh macet Yogyakarta.

Info ajah ya, gara2 ini aku jadi searching kuliner di Tuban lho. Meski sudah bbrp kali ngliwati Tuban, rupanya saya kesana hanya buat beli Wingko Babad dan maen ke WBL.

Seorang seleb twitt (yg namanya lupa) pernah bilang, “kalo kamu tiap hari maem rawon, bukan berarti rendang ga enak”. Coba dulu gaes, pahami bahwa ini hanya soal kulino, soal kebiasaan lidah kamu.

So gaesss, seberapa toleransi lidah kamu?

Star Wars, The Raid dan Pisuhan


Gara-gara kemarin nonton Star Wars di Bioskop, saya jadi pingin share sedikit cerita. Cerita yg saya mau share ga ada kaitannya dgn Star Wars, saya ga ahli kasih review pilem, ya maap ๐Ÿ˜„

Saya mau share cerita yg lain, tentang The Raid.

Bbrp tahun yg lalu, saat The Raid pertama kali tayang di Bioskop, rasanya Indonesia tiba-tiba demam Iko Uwais.

Saya jarang sekali nonton pilem Indonesia di Bioskop. Alasannya simple, bagi yg langganan tivi kabel, pasti taulah, rugi kalo nonton pilem Indonesia di Bioskop, 3-6 bulan kemudian bakal diputer di tivi kok ๐Ÿ˜‚

Waktu itu, saya ga terlalu ngeh siapa itu Iko Uwais. Ga pernah tau apa film-filmnya. Yg saya tau, Iko Uwais jadi rebutan antara 2 artis perempuan. Ahihihik ๐Ÿ™ˆ

Hingga suatu ketika, saya pergi ke Hongkong. Kebetulan pas saya disana, The Raid tayang perdana di Bioskop Hongkong. Nama Bioskop yg memutar film The Raid adalah Sky Olympian City. Lokasinya di Kowloon Barat. Di salah satu mall yg cukup terkenal disana.
image

Saya ingat, kami mendapatkan bbrp tiket gratis buat nonton.

Saya sebenarnya aras-arasan buat nonton The Raid. “Jauh-jauh ke Hongkong kok mung nonton pilem Indonesia, hapalah gunanya”, pikir saya waktu itu๐Ÿ˜ณ

Sampai kemudian, saya datang ke bioskop dan melihat orang-orang yg mengantri buat nonton. Wow, emejing ternyata banyak juga yg minat buat nonton The Raid. Fyi, yg antri bukan WNI ataupun TKW lho. Kebanyakan bule dan warga HK ๐Ÿ˜„
image

Bioskop yg kami pilih, kebetulan menyajikan text Inggris, bukan Mandarin. Mengenyampingkan adegan sadisnya, ternyata film The Raid cukup seru lho.

Seru karena banyak adegan tak terprediksi yg cukup mengagetkan. Saya ingat, sepanjang pemutaran film, banyak sekali penonton yg misuh-misuh ๐Ÿ˜‚

Ada yg misuh pake English, ada juga yg misuh pake Kanton.

Dan saya baru sadar, bahwa film The Raid memproduksi “keanekaragaman” kosakata pisuhan negri kita ๐Ÿ™ˆ

Keanekaragaman kosakata yg mungkin tidak dimiliki oleh negara lain. Ada banyak sekali pisuhan yg sayangnya di film hanya di translate-kan itu-itu saja.

Saya nonton sambil tertawa senang. Senang karena ternyata si penerjemah film, tidak bisa me-translate semua pisuhan kita dengan baik dan benar. Ahahaha ๐Ÿ˜ yesss!

Saat film selesai, banyak sekali penonton yg berdiri dan tepuk tangan. Tepuk tangan seru dan sambil misuh-misuh. Kami pun tertawa lepas.

Itu adalah hari dimana saya nonton di bioskop, sepanjang pemutaran film penonton misuh (dgn banyak bahasa), dan diakhiri dengan misuh-misuh, tapi semua senang, tepuk tangan, sambil geleng-geleng kepala dgn wajah yg tak percaya.

Saya sendiri tidak tahu apakah seminggu kemudian pemutaran film The Raid di Hongkong, sukses atau tidak. Tapi yg pasti, saya jadi tau siapa itu Mad Dog dan Iko Uwais.

Akhir cerita, saat kemarin menonton kembali penampilan Iko Uwais dan Mad Dog di Star Wars yg hanya tampil sepintas lalu, tampil dalam hitungan detik.
image

Saya masih ga percaya, bahwa itulah Mad Dog dan Iko Uwais yg dulu film The Raid-nya sempat mengguncang bioskop di Hongkong.

Bandingkan dengan gegap gempitanya berita ttg Iko Uwais dan Mad Dog yg tampil di Star Wars. Rasanya peran mereka terlalu sebentar. Sudah sebentar, mati lagi. Duh.

Tapi, baiklah. Seperti kata teman saya, “meski hanya hitungan detik dan dialog yg ga jelas. Itu adalah Star Wars. Film yg mengguncang peradaban kita, mengguncang sejarah”.

Jadi, sukses selalu Uda Iko Uwais dan Om Mad Dog, semoga film yg selanjutnya dapat peran yg lbh baik lagi. Semangattt!

View on Path