Kuliah S2 di UGM Lagi: Dari Mimpi Luar Negeri Sampai Jilat Ludah Sendiri


Saya sudah berjanji tidak akan kuliah di UGM lagi.

Ternyata saya bohong.


Saya lulus S1 Ilmu Hukum dari UGM dengan predikat cum laude.

Iya. Maaf. Saya perlu mengatakannya dulu supaya sarkasme sisanya bisa berjalan dengan baik.

Setelah cum laude itu, saya langsung dapat beasiswa S2 Hukum – masih di UGM, masih di kota yang sama, masih di kampus yang gaung masuk lewat pintu yang sudah sangat saya hafal lokasinya.

Selesai. Dapat dua gelar dari satu kampus. Efisien sekali.

Kemudian saya masuk dunia kerja, jadi PNS, dan merasa bahwa urusan saya dengan UGM sudah tuntas. Bab ditutup. Halaman dibalik. Kita lanjutkan cerita di babak baru.

Begitu pikir saya waktu itu.

Begitu pikir saya yang masih muda dan belum tahu bahwa semesta punya rasa humor yang cukup jahat.


Bertahun-tahun kemudian, setiap ada pengumuman beasiswa di kantor, entah dari Bappenas, LPDP, berbagai nama bergengsi dengan berbagai logo, saya membacanya dengan ekspresi orang yang sangat serius mempertimbangkan sesuatu.

Padahal yang sedang saya lakukan adalah bermimpi sambil tetap duduk di kursi kantor.

Syarat yang saya tetapkan untuk diri sendiri, yang tidak saya ucapkan kepada siapapun tapi saya pegang sangat erat:

Kalau kuliah lagi, harus luar negeri.

Harus ada musim yang berbeda. Harus ada bahasa asing di papan pengumuman kampus. Harus, pokoknya, bukan UGM.

Sangat masuk akal. Sangat ambisius. Sangat… tidak pernah terjadi.


Otak Jam 3 Pagi
Otak Jam 3 Pagi

Lama-kelamaan, standar itu mulai saya negosiasi ulang dengan diri sendiri.

Oke, luar negeri tidak memungkinkan. UI saja. Jakarta. Itu cukup jauh dari UGM.

UI juga tidak terjadi.

Unair? Surabaya lumayan jauh.

Unair juga tidak terjadi.

Unbraw? Malang juga kota yang bagus.

Tidak. Terjadi. Juga.

Setiap kali saya hampir mendaftar, ada sesuatu yang lebih mendesak. Pekerjaan. Tagihan Bank. Kewajiban saya kepada ibu. Dan yang paling klasik: besok saja, bulan depan saja, tahun depan saja.

Suatu hari nanti, kata saya. Selama bertahun-tahun.

Suatu hari nanti.


Saya menua.

(Dan tetap miskin, tapi itu bukan bagian dari cerita ini – meski sangat relevan.)


Di satu titik, di antara semua rapat dan semua dokumen dan semua hari kerja yang terasa mirip satu sama lain, sebuah pertanyaan muncul dengan cara yang sangat tidak dramatis:

Kapan, sih?

Bukan kapan kuliah di luar negeri. Pertanyaan itu sudah saya kubur cukup dalam.

Tapi kapan saya berhenti berkata suatu hari nanti dan mulai berkata oke, sekarang.

Jawaban yang keluar dari proses berpikir panjang itu – yang berlangsung bukan dalam hitungan hari tapi dalam hitungan tahun – adalah sesuatu yang, kalau saya ceritakan ke diri saya sendiri dua puluh tahun lalu, pasti akan membuat saya tertawa tidak percaya:

UGM lagi.


Mosok UGM lagi?

Kalimat itu muter di kepala saya ratusan kali. Mungkin ribuan. Ini bukan hiperbola; ini laporan yang cukup akurat.

Mosok UGM lagi? Sudah dua gelar dari sana. Mosok UGM lagi? Katanya mau luar negeri. Mosok UGM lagi? Emangnya tidak ada universitas lain di republik ini?

Tapi formulir pendaftaran sudah terisi. Berkas sudah dikirim. Tangan lebih cepat dari akal.

Beberapa waktu kemudian: diterima.

Di program yang bahkan berbeda dari dua gelar sebelumnya. Bukan Hukum lagi. MAP – Magister Ilmu Administrasi Publik. Sesuatu yang lebih dekat dengan pekerjaan yang sudah saya jalani puluhan tahun, tapi selama ini saya jalankan dengan modal insting dan pengalaman, tanpa cukup banyak bertanya mengapa.


Jadi begini ringkasannya:

Saya cum laude S1 Hukum UGM. Dapat beasiswa S2 Hukum UGM. Kerja bertahun-tahun. Bermimpi kuliah di luar negeri. Menurunkan standar secara bertahap dengan sangat konsisten. Akhirnya mendaftar S2 MAP UGM.

Tiga kali ke kampus yang sama.

Sesuatu yang bertahun-tahun saya tolak dengan yakin, akhirnya saya jilat sendiri dengan sangat tuntas.


Februari 2026. Saya masuk kelas untuk pertama kalinya sebagai mahasiswa S2 MAP.

Di sekeliling saya: teman sekelas yang baru saja menyelesaikan S1. Energinya membuat saya lelah hanya dengan menatap mereka. Beberapa dari mereka – dan ini bukan drama – lahir di tahun saya lulus SMA. Beberapa lainnya, lahir di tahun saya sudah memakai toga wisuda UGM.

Tidak ada yang tahu bahwa perempuan dengan tas kerja di pojok ruangan itu pernah lulus cum laude dari kampus yang sama. Pernah punya mimpi luar negeri yang kedengarannya sangat masuk akal pada zamannya.

Dan tidak ada yang perlu tahu.


“Buat apa kuliah S2 lagi?” – pertanyaan yang selalu datang, dengan berbagai intonasi.

Kadang tulus. Kadang heran. Kadang dengan wajah yang saya baca sebagai: kamu baik-baik saja, kan?

Saya baik-baik saja.

Saya hanya sedang membuktikan bahwa semua versi suatu hari nanti yang saya tunda selama bertahun-tahun akhirnya berwujud dalam bentuk yang paling tidak saya bayangkan: kursi kuliah di universitas yang sama, di kota yang sama, dengan kepala yang jauh lebih penuh dan ekspektasi yang sudah dimodifikasi berkali-kali sampai tidak terlalu menyakitkan ketika harus direvisi lagi.


Mosok UGM lagi?

Iya. UGM lagi. Ketiga kalinya.

Beberapa hal memang harus kita kutuki dulu cukup lama sebelum akhirnya kita jalani. Dan tidak apa-apa. Itu bukan inkonsistensi. Itu hanya cara kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita yang memilih – bukan keadaan yang memaksa.

Meski pada akhirnya: batas antara keduanya tidak pernah setipis yang kita bayangkan.


Jogja, 3 Mei 2026. Mahasiswa S2 MAP UGM. Tiga kali ke kampus yang sama. Masih belum sepenuhnya ikhlas. Tapi hadir. Itu dulu.

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.