Featured

Cinta Posesif


Nuri Amazon

“Mas, apa kau akan tetap mencintaiku meski aku tak lagi jadi manuk yang paling cantik?”, tanya Betina pada pejantannya. Jogja di sore hari hanya ada hujan dan batu-batu basah. Matanya menerawang jauh, menembus jeruji besi yang menjadi penghalang antara dunianya dengan manusia.

“Apakah cinta perlu dikatakan, dik?” jawab Jantan dengan suara lembut.

“Kau tahu kan, aku memilihmu bukan karena kau manuk paling cantik di tempat ini”, katanya sambil menatap mata si Betina, “Aku mencintaimu, barangkali karena itu satu-satunya hal berguna yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu”.

Betina itu merebahkan kepalanya di bahu Jantan. Merapatkan telinga pada jantung kekasihnya. Menajamkan pendengaran pada degup jantung Jantan, manuk yang paling dicintainya.

Betina sadar, ditengah kesempurnaan cinta mereka, pujaan hatinya selalu kesepian.

Iya. Kekasihnya selalu kesepian. Apalagi di sore yang hujan. Batu-batu basah dan tanah yang becek.

“Apalah arti menjadi manuk yang paling keren di sangkar ini, jika kita tak mampu terbang jauh”, ujar kekasihnya suatu hari.

Betina berusaha memahami kesedihan pujaan hati. Tidak seperti Betina yang sejak lahir sudah di dalam sangkar. Kekasihnya, Jantan, dibawa dari kota lain. Kota yang sangat jauh. Melewati banyak sungai dan laut. Kekasihnya lahir di alam bebas.

Betina tidak paham apa itu bebas. Sebuah kosa kata yang tidak ada dikamusnya. Buat Betina, bebas terdengar mengerikan.

Meski begitu, Betina cukup puas, sangkar itu menjadi alasan Jantan tetap berada di sisinya. “Kau disisiku saja, tidak perlu kemana-mana”, bisik Betina dalam hati.

“Mungkin, kau tak pernah jatuh cinta kepadaku, mas. Tapi mencintaiku saja, itu sudah lebih dari kata cukup untukku. Sungguh”.

Sore itu, hujan turun deras di Jogja. Betina memandang batu-batu basah diluar sangkar mereka. Memeluk kekasihnya begitu rapat.

Mereka hanya sepasang manuk. Tidak ada pisang goreng, tidak ada segelas kopi untuk mereka. Meskipun harganya mahal. Ya cuma manuk. Tidak berhak bermimpi.

Tidak berhak. Mimpi hanya milik manusia. Dan kami hanya kaum papa, hanya seekor manuk. Dipotret, lalu dilupakan.

 

 

Kopi Jo Fermentasi


Saya yakin, Anda sudah pernah ke Pasar Kangen Jogja. Pasti sudah pernah nyobain Kopi Jo.

Pasar Kangen Jogja di tahun 2016 kali ini adalah pasar kangen ke-9. Betapa cepat waktu berlalu ya?

9 tahun yg lalu, pertama saya kenal Pak Jo, peracik kopi ber-rum ini. Saya ingat, Chandra waktu itu masih mahasiswa hingga kini dia telah bekerja.

Pernah juga kami membeli kopi Jo di jalan Damai, sebuah warung kopi yg pernah beliau buka. Yg tak lama kemudian pun, kukut 😂

Sebenarnya, saya hanya jumpa Kopi Jo di event-event saja. Barangkali karena begitu, saya selalu kangen dengan kopi racikan beliau.

Saya orang yg sangat penasaran dgn kopi apa yg beliau pakai, berapa banyak, mencari dimana. Kemudian tehnya beli dimana? Huahaha 😂 saya orang yg banyak tanya ya

Kopi yg kali ini saya posting adalah Kopi Fermentasi. Fermentasi? Hah. Kok bisa? 😂 penasaran kan?

Kopi ini tidak dijual ke semua orang. Hanya tertentu dan hanya jika Anda bertanya.

Kopi ini hasil fermentasi 3,5 bulan. Rasanya asam semriwing. Mampir dan cobalah.

#PasarKangenJogja – with Chandra and Andika at Taman Budaya Yogyakarta

View on Path

Engkak Lampung


Ini namanya Engkak Lampung. Dikirim dari daerah Sukadana ke Rumah.

Sukadana itu kampung di dekat Way Kambas, Sekolah Gajah. Di sana banyak kampung-kampung penduduk asli Lampung.

Kebetulan ada salah satu adik Mbah Putri dari Ibu yg tinggal disana. Kalo Lebaran gini suka dikirim engkak dan lemang. Sungguh, 2 item makanan yg nikmat sebagai teman ngopi.

Pagi-pagi sambil bengong nyeruput kopi sambil makan engkak adalah sebuah kemewahan tersendiri.

Kalo dah gini, suka berharap seandainya hidup ga perlu kerja, cukup bengong + ngopi dan tengak tenguk menghabiskan waktu. Huahaha 🙈

View on Path