Semerbak Wangi Rainforest World Music Festival Kuching Sarawak


Kuching Airport Internasional
Kuching Airport Internasional

Kantuk masih bergelanyut di mata, saat langkah memasuki halaman depan Adi Sutjipto Internasional Airport. Gerak kupercepat, setengah berlari. Langit Jogja masih gelap, saat saya memasuki badan pesawat terbang.

“Biasanya jam segini, aku masih tertidur pulas”, kataku sambil memandang ke arah garis cakrawala yang perlahan tapi pasti, mulai bergaris merah. Perjalanan satu jam dari Jogja ke Cengkareng menjadi langkah awal dari perjalanan panjang Cengkareng – Kuala Lumpur – Kuching. Kota di negeri tetangga, yang untuk datang ke sana, saya harus melewati beberapa penerbangan.

Ini kali ke-3 saya pergi ke Kuching, tahun-tahun sebelumnya saya telah mengikuti Rainforest World Music Festival dan selalu jatuh cinta tiap datang ke tempat ini. Saya datang sendiri dari Jogja, membayangkan sebuah pantai pasir terasing, dimana pucuk-pucuk cemara menyentuh langit biru dan kibasan angin menyebarkan wangi biji-biji cemara laut yang pecah.

Menjelang senja sampailah juga saya di Kuching Internasional Airport. Berjalan menuju pintu keluar airport, yang langit-langitnya dihiasi ornamen khas Dayak. Sambil menunggu kedatangan taksi online, saya mulai memperhatikan rombongan yang berdiri di stand penyambutan bagi tamu-tamu Rainforest World Music Festival 2018, tak jauh dari pintu keluar.

Damai Beach Resort, tempat kami menginap, hanya 40 menit dari Kuching Internasional Airport. “Sebentar lagi sampai”, bisikku lega pada diri sendiri.

Taksi membawaku melewati pusat kota Kuching. Kota yang indah, bangunan heritage yang terawat, dan sungai yang membelah kota. Jalan-jalan dan rumah-rumah tertata rapi, dengan bukit-bukit di sekelilingnya. Aroma garam bercampur lumpur basah yang pahit memenuhi atmosfer. Menyeruak di antara langit sore yang berwarna orange. “Aroma khas nipah”, bisikku. “Awalnya manis, kemudian lesap oleh pahit”. Mobil membawaku terus melaju ke utara.

Kuching bagian utara merupakan kawasan rawa-rawa, sederet pohon mangrove dan nipah berjajar rapi seperti memagari tepian jalan aspal. Aroma ini, aroma yang membawa kenangan berhamburan di udara.

Saya jatuh cinta pertama kali pada Damai Beach 3 tahun lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di pantai ini. Di tempat yang saya merasa asing, tapi juga nyaman.

Di Damai Beach, kau tidak lagi harus bersitegang di jalan dan di kantor. Tidak ada yang mengganggumu dengan dering telepon, instruksi-instruksi, dan berbagai permintaan yang bisa bermunculan setiap saat. Di kota kecil ini, yang sinyal HP-pun hanya ada di ruang-ruang tertentu, saya merasa sedang bertemu dengan diriku sendiri. Utuh. Penginapan yang kami tempati menghadap ke laut dengan pantai yang tidak begitu indah, tapi terasa hidup.

Dan ketika sore tiba, saat saya pulang dari menandai, mencatat, dan memotret tempat-tempat yang dibutuhkan, saya selalu merasa nyaman memandang jauh ke lautan. Matahari yang lambat dan pasti menjatuhkan sinar tuanya ke laut, lanskap yang memanggil para nelayan untuk bersiap. Kerlip-kerlip lampu di kejauhan mulai menyala, bayang-bayang tubuh baik sendiri maupun bergerombol sedang mempersiapkan sebuah keberangkatan. Burung-burung yang meninggalkan bayang-bayangnya mengabur, lalu lenyap hilang ketika malam turun dengan sempurna.

Aroma Rainforest World Music Festival adalah aroma daun yang menghijau, aroma asin pantai, aroma bunga, aroma biji cemara yang pecah, bercampur aroma khas meranti yang tumbuh tinggi di kaki Gunung Santubong. Ini adalah aroma khas hutan hujan dengan tanah hitam gembur. Aroma yang penuh daya hidup.

Aroma inilah yang telah memanggilku datang. Semerbak wangi Rainforest World Music Festival.