Waduk Kedungombo sebagai lokasi ke-7 kami kunjungi setelah Mrapen. Kedungombo, sebuah cerita tersendiri dari semua tempat yang kami kunjungi hari itu. Bagaimana tidak, proyek waduk terbesar di Pulau Jawa itu lambang penguasa Orba yang saat itu sangat absolut, juga lambang keprihatinan kita atas nasib warga lokal yang menjadi korban bagi proyek-proyek mercusuar pemerintah.
Waduk Kedungombo dimiliki 3 Kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan. Dibangun tahun 1985-1989 diatas lahan sekitar 6.576 ha dengan rencana awal, sebuah waduk untuk pembangkit tenaga listrik berkekuatan 22,5 megawatt yang dapat menampung air untuk kebutuhan 70 hektar sawah disekitarnya. Proyek prestisius ini dibangun dengan bantuan biaya USD 156 juta dari Bank Dunia, USD 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan dari dana APBN.

Tentu saja, seperti biasa, permasalahan selalu timbul saat lahan yang akan dijadikan proyek waduk sebenarnya adalah perkampungan yang telah dihuni secara turun temurun. Ganti rugi tanah yang dinilai terlalu kecil, membuat 600 keluarga masih bertahan, meski waduk telah diairi, akibatnya beberapa warga yang keukeuh bertahan kemudian terpaksa tinggal ditengah-tengah genangan air.

Waduk Kedungombo mulai diairi pada 14 Januari 1989, menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan. Sebanyak 5268 keluarga kehilangan tanahnya akibat pembangunan waduk ini. Pada saat itu Romo Mangun bersama Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja’far (pengasuh pondok pesantren Pabelan Magelang) yang pernah menerima “The International Aga Khan Award for Architecture” mendampingi para warga yang masih bertahan di lokasi, dan membangun sekolah darurat untuk sekitar 3500 anak-anak, serta membangun sarana seperti rakit untuk transportasi warga yang sebagian desanya sudah menjadi danau.
Berbagai pergolakan pada saat itu memang berhasil diredam, dan waduk ini tetap diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 18 Mei 1991, akan tetapi isu pelanggaran HAM hingga hari ini belum selesai terkait dengan proyek Waduk Kedungombo.



Sampai saat ini Waduk Kedungombo dipergunakan untuk keperluan irigasi pertanian di wilayah Kabupaten Grobogan, Blora, Rembang, Kudus dan sekitarnya. Sedangkan untuk masyarakat wilayah Kabupaten Boyolali dan Sragen, Kedungombo dijadikan sebagai lahan mata pencaharian, untuk mencari ikan dengan menggunakan jaring maupun jala.
Biasanya pada hari-hari libur, di waduk Kedungombo ramai untuk liburan keluarga. Suasananya nyaris seperti di Rawa Pening, hanya saja yang ini jauh lebih luas dan lebih bagus. Pengunjung bisa naik perahu mengelilingi waduk, atau makan ikan bakar di warung apung. Sayangnya pada saat kemarin saya datang, saya kok merasa waduk ini tak terurus dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Jadi tak sebanding dengan cerita pengorbanan orang-orang yang kehilangan sejarah hidup mereka di dalam genangan air bernama Kedungombo.



Sedihnya, saya ga sempat ambil gambar dari atas bendungan. Harus buru-buru pulang ke Jogja. Hari sudah sore, dan kami mesti istirahat banyak untuk bekerja besok pagi. Selamat Jalan-Jalan!
*ini adalah dokumentasi acara Touring Team Sambang Alam ke Kudus pada tanggal 24-25 September 2011 yang lalu 😉
–The End–
Tulisan Terbaru:
- Saya Belajar Menulis (Lagi)
- Menghirup Wangi Kopi Maison Daruma Roastery
- Tidak Hanya Sukses, Balkonjazz Festival 2019 Membuka Mata Dunia Keberadaan Balkondes
- Rainforest World Music Festival 2019 Hadir Lagi!
- 360 Dome Theatre, Destinasi Wisata Instagramable sekaligus Edukasi di Jogja
- Hipnotis Madihin dan Baju Berkulit Kayu di Festival Wisata Budaya Pasar Terapung 2018
- Menyusuri Romantisme Venesia dari Timur
- The Kingdom of Balkanopolis di panggung Rainforest World Music Festival 2018
- Gelombang Dahsyat At Adau di Rainforest World Music Festival Kuching 2018
- Semerbak Wangi Rainforest World Music Festival Kuching Sarawak
- Merayakan Musik di Rainforest World Music Festival Kuching Sarawak
anda akan lebih miris melihat Waduk kedung ombo dari sisi yang berbeda(dari atas) sisi sebrang dari bendungan. sampe skarang akses jalan tidak diurus pemerintah..