[Review] Kembang Gunung Purei


Kembang Gunung Purei
Kembang Gunung Purei

Judul: Kembang Gunung Purei
Penulis: Lan Fang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2005
Hlm: 227
ISBN: 979-22-1295-7

Cerita diawali dengan kisah Nanang Syam, seorang pria kota yang gila kerja. Kecerdasan dan kemudaannya membuat karirnya melambung begitu cepat dari seorang karyawan kemudian dipercayai menjadi area manager untuk wilayah penebangan Hutan Bumban.

Pekerjaan ini pula yang kemudian menjadi penghambat pernikahannya dengan Ida, gadis kota yang sudah beberapa tahun menjadi tunangannya. Ida adalah gadis yang memiliki segalanya. Cantik, muda, kaya, cerdas, pandai bergaul, dan sangat menikmati hidup. Tentu saja, dengan semua hal yang dia miliki, Ida menolak ajakan Nanang untuk tinggal di dalam rumah bedeng di sawmill camp di tengah hutan di Jelapat.

Sebagai head project sebenarnya Nanang mendapatkan fasilitas rumah dinas di tengah kota di Banjarmasin, akan tetapi Nanang lebih memilih tinggal di sawmill camp. Nanang memang tipikal lelaki berdedikasi tinggi yang selalu berusaha untuk terjun langsung ke area penebangan Hutan Bumban untuk mencari kayu kualitas terbaik.

Perpisahan Nanang dengan Ida menimbulkan depresi tersendiri dihati Nanang. Depresi ini menenggelamkan Nanang menjadi pria yang workaholic. Hingga suatu ketika, sebuah kecelakaan terjadi. Tangan kanan Nanang terpotong salah satu mesin penebang pohon. Kecelakaan ini juga mengakibatkan hubungan Nanang dengan Ida makin jauh, bahkan juga hubungan Nanang dengan keluarganya sendiri. Nanang jarang sekali pulang ke rumahnya dan lebih suka menghabiskan hari-harinya di pedalaman Hutan Bumban daripada ke kota. Hubungan mereka berakhir ketika Ida mengembalikan cincin pertunangan mereka.

Didalam kegilaan kerja di Hutan Bumban inilah kemudian Nanang mengenal Bua, kembang Gunung Purei. Gadis berdarah Dayak Ngaju ini dengan Ineen-nya (ibunya) tiap hari berjualan kopi diatas gethek di log pond. Bua adalah gadis tercantik didusunnya di Gunung Purei. Kecantikannya membuat banyak pria datang melamarnya. Termasuk salah seorang putra Demang, Pue datang melamarnya. Tapi Bua menolaknya. Penolakan Bua menimbulkan kemarahan dan kutukan dari Demang. Ditambah kematian Ummaq (ayah) Bua yang dipercayai keluarga Bua adalah hasil ilmu hitam Demang menimbulkan konflik yang jauh lebih tinggi. Demang mengutuk bahwa Bua akan menjadi perawan tua seumur hidup. Jue sendiri mengutuk bahwa laki-laki yang akan menikah dengan Bua akan mati secara tragis.

Witing tresno jalaran seko kulino. Perjumpaan setiap hari ini melahirkan cinta, dan Nanang pun pada akhirnya melamar Bua. Akan tetapi kecelakaan yang dialami oleh Ida, mantan kekasih Nanang, membuat Nanang harus kembali ke kota dan membantu pemulihan psikis-nya. Disatu sisi, Nanang masih menyimpan rasa terhadap Ida. Tetapi disisi lain, Nanang juga amat mengasihi Bua, yang telah mengandung anaknya.

Konflik dengan cerita-cerita khas dayak seperti cerita buluh perindu pun tak lupa ditambahkan dinovel ini oleh si penulis. Beberapa konflik sangat umum terjadi disekitar kita. Bagaimana terkadang, kita, sebagai orang luar dari suku Dayak memiliki persepsi tertentu antara suku Dayak dengan kepercayaan mereka dan ilmu-ilmu gaib tertentu. Prasangka yang kemudian berubah menjadi stigma negatif diceritakan dengan runut oleh penulis agar kita paham bahwa perbedaan harusnya dipahami dengan cara yang jauh lebih arif lagi.

Buku ini ditutup dengan sebuah pilihan yang harus dibuat oleh Nanang, apakah dia akan memilih bersama Ida, gadis yang amat dicintainya, atau memilih bersama Bua, gadis Dayak Ngaju yang dikasihinya dan bersama-sama menanggung kutukan dari Demang dan Jue?

-Selamat Membaca-

Note: Buku ini saya temukan semalam, didalam almari buku. Baru ngeh kalo ternyata ditulis oleh Lan Fang. Salah seorang penulis Indonesia yang baru saja meninggal kemarin, 25 Desember 2011 karena kanker hati. Lan Fang terkenal dengan bukunya berjudul Perempuan Kembang Jepun. Sempat berkonflik dengan Hanung Bramantyo yang memfilmkan bukunya berjudul tanda tanya menjadi film ?.

Kembang Gunung Purei menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Novel Femina 2003. Buku ini sendiri ditulis selama lima tahun. Diperuntukkan bagi almarhum neneknya, bagian tengah hingga akhir dari buku ini ditulis pada malam-malam Lan Fang menunggui neneknya di RS menjelang kematian neneknya.

Lan Fang dikenal sebagai seorang penulis yang rendah hati dan berdedikasi. Rela menjadi pembicara dibanyak tempat, bahkan tanpa dibayar. Lan Fang aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif. Secara rutin, ia menularkan kemampuan menulis fiksi kepada pelajar di berbagai sekolah di Surabaya.

Meski saya membeli buku ini di Jogja, bahkan disebuah obral buku. Buku ini sudah mengikuti saya berkeliling Balikpapan dan Samarinda =).

Tulisan Terbaru:

Advertisements

4 thoughts on “[Review] Kembang Gunung Purei

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s