Pantai Ngobaran [Dulu dan Sekarang]


Pantai Ngobaran

Beberapa teman saya yang baru pertama kali datang ke Jogja seringkali bertanya, tempat wisata apa yang perlu dikunjungi tapi tidak terlalu jauh. Berhubung saya itu penyuka pantai, biasanya saya akan merekomendasikan beberapa nama pantai yang ada di Gunungkidul, dan ujung-ujungnya selalu sama, Pantai Ngobaran.

Pantai Ngobaran tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan rute: jalan Imogiri – Purwosari – Panggang – Saptosari – Pasar Trowono (Paliyan) – dan kemudian sampailah di pantai Ngobaran. Lagipula pemandangan di sepanjang daerah Siluk cukup membius mata, ditambah jalanan yang sepi dan udara yang tak sepolusif daerah Patuk, buat saya ini nilai tambah (dulu alasan terpenting, adalah Ngobaran tak sejauh dan seramai Baron).

Saya ingat sekali, dulu jamannya saya masih kuliah (ehem!), Pantai Ngobaran belumlah se-ngetop sekarang. Pantai Ngerenehan, yang terletak bersebelahan dengan Ngobaran, dan menjadi TPI (Tempat Pelelangan Ikan) jauh lebih dikenal warga, tapi itupun masih kalah terkenal dengan Pantai Baron dan pantai-pantai yang ada disekitarnya semacam Drini, Sundak, Sepanjang, Kukup, Krakal, dan sebagainya.

Jika anda pernah ke Pantai Ngobaran, anda pasti bisa menemukan plang ”Ngobaran” di pasar Trowono. Tapi tahukah anda, plang itu sendiri dibuat setelah tahun 2003. Itupun karena Pantai Ngobaran tiap tahun digunakan untuk acara labuhan laut pada perayaan Melasti, yang biasanya diadakan seminggu sebelum Nyepi. Dulu, rasanya susah sekali menemukan pantai ini, tanpa terlebih dahulu bertanya pada warga sekitar, dan biasanya selalu dimulai dengan nyasar ke Pantai Ngerenehan.

Pantai Ngobaran
Pantai Ngobaran

Tapi nampaknya, setahun terakhir ini Pantai Ngobaran cukup populer jadi tujuan wisata bagi warga di sekitar Jogja. Bukti paling gampang adalah banyaknya blog-blog yang bercerita tentang vacation ke Pantai Ngobaran, ditambah banyaknya picprofil di pesbuk yang bersetting pantai ini, rasanya menambah semarak keramaian pantai ini. Bahkan banyak situs-situs yang bertema wisata pantai di gunung kidul (baik situs milik pemda ataupun perorangan) mulai memuat cerita dan sejarah yang ada di Pantai Ngobaran (dengan segala kontroversi-nya). Kepopuleran pantai ini, sedikit demi sedikit menyadarkan warga sekitar untuk membuat plang arah yang jauh lebih jelas menuju Pantai Ngobaran. Jadi, saya jamin jika setelah membaca tulisan ini anda berniat untuk mengunjungi Pantai Ngobaran untuk yang pertama kalinya, anda tidak akan nyasar!

Pantai Ngobaran terlepas dari namanya yang dianggap oleh warga sekitar sebagai nama yang cukup mistis karena berasal dari nama ”kobaran”, dulunya adalah pantai yang tidak jauh berbeda dengan pantai yang lain. Pantai indah berwarna biru dengan debur laut selatan. Menjelang sore, biasanya pantai ramai dengan warga sekitar yang mencari kerang laut untuk lauk pauk. Cerita dimulai ketika sekitar tahun 2002-an, ada salah seorang warga lokal yang menemukan ”sesuatu”, yang kemudian langsung di serahkan ke nDalem Kraton Ngayogyakarto. Merespon ”penemuan” tersebut, maka tahun 2003 dibangunlah tempat peribadatan semacam pura dengan patung-patung dewa berwarna putih. Pura ini kemudian diresmikan sekitar tahun 2004.

Orang yang beribadah di tempat ini adalah penganut kepercayaan Kejawan. Kejawan bukan Kejawen. Nama “Kejawan” menurut cerita berasal dari nama salah satu putra Brawijaya V, yaitu Bondhan Kejawan. Pembangun tempat peribadatan ini mengaku sebagai keturunan Brawijaya V dan pura ini dibangun untuk memperingati kehadiran Brawijaya V, salah satu keturunan raja Majapahit, di Ngobaran.

Meskipun saya pernah tinggal di daerah Saptosari untuk beberapa minggu, tapi sampai sekarangpun saya belum pernah melihat orang-orang dengan kepercayaan Kejawan ini beribadat di sana. Pak dukuh yang menceritakan tentang hal ini pun, hanya tahu ada beberapa warga lokal yang dibayar untuk mengurusi pura, jadi orang-orang Kejawan tidak tiap hari datang ke pura, hanya hari-hari tertentu saja.

disore hari,disaat air laut surut,warga lokal mencari kerang untuk lauk pauk
disore hari,disaat air laut surut,warga lokal mencari kerang untuk lauk pauk di Pantai Ngobaran

Saya ingat sekali, dulu pertama kali datang ke Ngobaran, saya hampir jatuh dari motor karena hujan membuat tanah merah (tanah tipikal disana) menjadi lebih licin ditambah jalan yang memang dasarnya jelek mblekuk. Tapi sekarang berbeda, hampir semua jalan yang dulu mblekuk, sekarang dikavling blok. Mungkin ini ada kaitannya dengan penarikan retribusi di pantai ini. Perbaikan sarana dan prasarana, begitu istilahnya. Jadi, kesan pertama saya tentang pantai ini saat kemarin datang adalah, eeehhh sekarang ada retribusi-nya!

Kesan kedua, tentang tempat parkiran. Seingat saya dulu, hanya satu tempat yang menyediakan parkiran motor. Karena dulu (inget, dulu banget yak!) hampir tidak pernah ada mobil yang parkir di situ. Tapi sekarang, rasanya kok hampir tiap halaman rumah jadi tempat parkiran, hampir tiap rumah disulap jadi warung makan, dan hampir tiap rumah menyediakan WC umum!

Kesan ketiga, adalah tentang pura. (menurut saya, ini yang terpenting). Dulu, pertama kali saya datang ke pura ini, ada sesuatu yang sangat saya sukai, yaitu pohon kamboja. Tahukah kalian, dulu jalan setapak menuju pura dipagari oleh pohon kamboja, dan beberapa tempat di dalam pura pun ditanami oleh pohon kamboja. Saya ingat sekali, bahkan saya sempat memunguti beberapa bunga yang telah luruh. Dulu saya membayangkan, lima atau sepuluh tahun dari pertamakali saya menginjakkan kaki di pura itu, saya akan merasa seperti berada di Tanah Lot Bali atau Pura Batu Bolong Lombok. Sebuah pura, dengan kamboja yang berbunga, dan debur ombak yang memecah kesunyian. Tidakkah itu sangat sempurna? Sayangnya, pohon kamboja yang dulu ada sekarang telah berganti menjadi tanah ber-kavling blok.

Kesan keempaat, tentang sebuah kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Titik dimana ranting kering ini tumbuh konon merupakan tempat Brawijaya V membakar diri. Entah cerita itu benar ato tidak, tentang Brawijaya yang membakar diri. Tapi saya yakin, tugas kita adalah menghormati semua kepercayaan itu (kecuali, toleransi memang benar-benar mitos di negri ini). Terakhir saya kesana, tempat itu dipenuhi dengan anak muda yang ber-ha-ha-hi-hi berfoto dengan menginjak-injak tempat yang tak selayaknya diinjak.

Kesan kelima, tentang patung Garuda Wisnu. Saya ingat, dulu pertama kali saya kesana, di jalan masuknya, ditutup dengan papan bertulis ”dilarang masuk”, ada beberapa dupa yang dibakar dan bunga-bunga sesaji. Tapi terakhir saya kesana, semua orang bahkan menginjak tempat ini dan berfoto-foto. Duwh!

Lalu, dari semua hal yang saya lihat, apakah yang paling nyata perbedaanya. Tentu saja, hal yang paling mencolok adalah bertambahnya beberapa rumah ”baru” disana. Bahkan beberapa rumah menyediakan penginapan untuk beberapa komunitas yang ingin merasakan sunset ataupun sunrise di Pantai Ngobaran, lengkap dengan MCK-nya!

Pantai Ngobaran disaat surut
Pantai Ngobaran disaat surut

Saya tidak tahu, apakah keramaian selalu diasumsikan dengan kemajuan. Tapi memang saya akui, Pantai Ngobaran sekarang jauh lebih ramai dibandingkan dengan dulu, saat saya pertama kali datang. Tapi apakah ini bisa dimasukkan kategori ”maju”, saya tidak tahu. Ketakutan terbesar saya adalah saat sebuah tempat wisata alam menjadi jauh lebih maju adalah tempat tersebut menjadi jauh kotor, dan tidak lagi menjadi alami (seperti banyak pantai yang lain di sekitar sana) dan mungkin yang harus kita sadari adalah masyarakatnya jauh lebih komersil. Karena, meski suka ataupun tidak, kita juga tetap harus mengakui, bahwa bangsa kita termasuk bangsa yang gagap pariwisata.

Tapi, lepas dari itu semua. Saya akui, bahwa saya cukup bangga saat melihat beberapa teman dari kota-kota yang jauh atau bahkan dari negri yang jauh, sangat menyukai Pantai Ngobaran. Mungkin lain waktu, kita bisa meng-explore lebih banyak pantai-pantai yang belum terkenal.

Pantai Ngobaran
pantai ngobaran di sore hari

Mengingat Ngobaran, saya ingat ajakan seorang warga yang biasa memasang perangkap lobster di sebelah barat Pantai Nguyahan. Mungkin lain waktu, jika saya punya banyak waktu, saya ingin mengunjungi pantai bernama aneh itu, Pantai Torohudan (kalo ga salah denger nich namanya).

Selamat Jalan-Jalan, teman!

Tulisan Terbaru: