[Tour] Kawah Ratu


Setelah acara mblusukkan ke Bromo Oktober 2010, untuk sekian lama acara touring team Sambang Alam mengalami ke-fakum-an. Nah, baru sekitar April 2011, kami mengadakan lagi perjalanan jauh. Kali ini, pilihan jatuh pada Jawa Barat, yaitu Tangkuban Perahu.

Tangkuban Perahu
Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu terkenal karena cerita rakyat Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Hampir semua orang dari luar Jawa Barat datang karena terpesona cerita rakyat ini, akan tetapi jika sudah pernah ke tempat ini, maka lebih tertarik dengan pesona alamnya daripada cerita rakyat-nya.

Kami berangkat pagi-pagi dari Jogja, seperti biasanya berkumpul di markas besar. Perjalanan ke Jawa Barat hampir sama jauhnya dengan perjalanan ke Bromo. Persamaannya, kami sama-sama kehujanan selama perjalanan.

Kami sampai di Lembang tengah malam. Lembang terletak sekitar 30 km di utara Kota Bandung. Karena berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu 2 derajat celcius, Lembang di malam hari cukup membuat kami menggigil, apalagi kami kehujanan sepanjang perjalanan.

Untungnya kami mendapat penginapan yang tak jauh dari Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu, jadi pagi-pagi sekali, setelah sarapan dan mumpung langit cerah, kami langsung berangkat mblusukkan ke Gunung Tangkuban Perahu.

Tangkuban Perahu
Tangkuban Perahu

Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu berada di ketinggian 2.084 m diatas permukaan laut. Tangkuban Perahu merupakan salah satu tujuan wisata yang paling populer di Jawa Barat. Jalan menuju Tangkuban Perahu, di kanan kiri-nya penuhi hutan pinus, aroma pinus yang khas membuat suasana jadi benar-benar menyenangkan 😉

Pada musim liburan, tempat ini sangat ramai sehingga jika anda ingin ber-narsis photo di sini, anda mesti bersaing dengan anak sekolah yang sedang study tour ke tempat ini.

Daya tarik di tempat ini adalah kawah dan sumber air panas alam. Tangkuban Perahu sendiri sebenarnya adalah gunung berapi. Bentuk gunungnya yang memanjang seperti perahu terbalik lah yang mengilhami namanya. Ini terkait dengan legenda perahu yang dibuat oleh Sangkuriang demi memenuhi keinginan Dayang Summbi.

Dayang Sumbi, kekasih sekaligus ibu kandung dari Sangkuriang, mensyaratkan Sangkuriang untuk membuat perahu dalam semalam. Perahu setengah jadi ini kemudian ditendang oleh Sangkuriang yang marah karena Dayang Sumbi membunyikan lesung sehingga para lelembut suruhan Sangkuriang melarikan diri setelah mendengar ayam jantan yang berkokok. Perahu yang ditendang inilah yang kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Cerita rakyat ini mempesona, karena ternyata dalam budaya lampau kita telah mengenal incest 😉

Kawah Ratu
Kawah Ratu

Beruntungnya, karena kami datang pagi, cuaca cerah di Tangkuban Perahu mendukung kami untuk mendapatkan banyak view yang menarik, misalnya lekukan tanah pada dinding kawah yang terlihat jelas, dan ke-kontras-annya dengan warna hijau dari pepohonan di sekitar gunung.

Ga cuma itu, dalam kondisi langit cerah seperti ini, kita juga dapat menikmati keindahan dasar kawah yang mengagumkan, ini mengingatkan kami pada kawah Bromo dan pasir Merapi. Keindahan alam inilah yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan sekitar untuk datang ke Lembang.

Tangkuban Perahu
situasi di sekitar Kawah Ratu
situasi di sekitar Kawah Ratu
situasi di sekitar Kawah Ratu
pasir di Kawah Ratu
pasir di Kawah Ratu
situasi di sekitar Kawah Ratu
situasi di sekitar Kawah Ratu
situasi di sekitar Kawah Ratu
situasi di sekitar Kawah Ratu

Saya sendiri sudah beberapa kali datang ke Tangkuban Perahu. Hanya saja, dulu saya hanya tau keindahan Kawah Ratu, tapi setelah kemaren datang dan masuk ke bagian informasi di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu, saya baru tau kalo selain Kawah Ratu ternyata di Tangkuban Perahu itu juga ada Kawah Upas, Kawah Domas, Kawah Baru, Kawah Jurig, Kawah Badak, Kawah Jurian, Kawah Siluman dan Kawah Pangguyungan Badak.

Akan tetapi, tidak semua kawah bisa dikunjungi. Terkadang beberapa kawah ditutup bagi pengunjung setelah hujan atau ditutup memang karena kawah mengeluarkan bau asap belerang yang terkadang bau asapnya mengandung racun.

Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu

Kawah Ratu merupakan kawah terbesar dan paling terkenal dari kompleks Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu. Kawah Ratu menjadi tempat yang paling sering dikunjungi dan dijadikan tempat shooting pilem.

Di tempat ini banyak toko-toko sederhana yang menjual berbagai macam souvenir khas pegunungan kayak syal, topi kupluk, tas, topi bulu, berbagai pajangan dari kayu dan berbagai macam aksesories lainnya. Ada juga beberapa penjual mie rebus dan bandrek. Bahkan jika mau, kita bisa menyewa kuda untuk berkeliling mengitari Kawah Ratu.

Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
Kawah Ratu
suasana di sekitar Kawah Ratu
penjual souvenir di sekitar Kawah Ratu
penjual souvenir di sekitar Kawah Ratu

Tidak terlalu banyak perubahan di sekitar Kawah Ratu dari yang terakhir saya kunjungi. Hanya saja sekarang telah ada penataan para penjual souvenir di sekitar Kawah Ratu, sehingga terlihat lebih rapi.

Pada saat kami datang, pada umumnya kami bertemu dengan para pengunjung yang berasal dari luar Lembang. Tangkuban Perahu juga umum dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata bagi para team touring dari beberapa daerah. Ini dikarenakan kondisi jalan menuju Tangkuban Perahu sudah lumayan baik meski banyak tanjakan jahanam.

Di sebelah Kawah Ratu terdapat Kawah Upas, untuk sampai ke sana kami harus berjalan melalui jalanan berpasir. Karena waktu itu saya membayangkannya harus berjalan begitu jauh, saya pun jadi malas untuk menuju Kawah Upas. Tapi jadi ngerasa rugi banget, udah jauh-jauh kesana kok ga sekalian mblusukkan ke Kawah Upas.

Menurut salah satu teman yang keukeuh mblusukkan ke sana, Kawah Upas lebih dangkal dan datar dibandingkan Kawah Ratu. Kondisi alamnya yang masih alami jadi daya tarik tersendiri bagi pecinta alam dan pengunjung bule. Hanya saja kondisi jalan berpasir membuat medan menuju Kawah Upas cukup berbahaya jika hari sedang hujan, ini juga alasan kenapa pengunjung malas datang melihat kawah ini.

Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kawah Domas.

to be continued

Tulisan Terbaru:

Advertisements

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s