[Trip] Situs Goa Sentono di Berbah Sleman


Turun dari Candi Abang, di kaki bukitnya kami menemukan sebuah situs yang tak berpetunjuk jelas. Tidak jelas karena tidak ada plang namanya. Hanya ada sebuah papan putih dari BP3 YK yang menyatakan bahwa tempat tersebut dilindungi sebagai benda cagar budaya.

Setelah bertanya-tanya berdasarkan foto dalam kamera, barulah saya mendapat info bahwa situs tersebut bernama Goa Sentono. Dulu ada plang-nya, tapi rusak seiring waktu.

Situs Goa Sentono
Situs Goa Sentono

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang situs Goa Sentono. Tampak awal adalah batuan karst yang membentuk seperti dinding. Pada dinding inilah kemudian di buat tiga ceruk. Yang nampak nyata adalah lambang Lingga pada salah satu ceruk. Ini membuat saya berpikir bahwa ketiga ceruk ini digunakan untuk memuja Dewa Syiwa.

Ada beberapa relief yang meski di garap kasar, saya tahu bahwa itu sepasang dewa-dewi, mengingat ada lambang Yoni, maka saya pun berpikir kalo relief tersebut adalah relief Syiwa-Parvati.

Tidak ada petunjuk yang jelas di jaman apakah situs  Goa Sentono ini dibangun. Apakah sejaman dengan pembangunan Candi Abang di atas bukit. Entahlah. Tidak ada petunjuk yang jelas tentang kedua lokasi ini, baik mengenai Candi Abang maupun tentang Goa Sentono. Tidak jelas juga apakah keduanya memiliki kaitan dalam pembangunannya.

Jika sebelumnya saya masih bertanya-tanya tentang Candi Abang yang terbuat dari susunan batu bata merah, yang membuat saya berpikir bahwa Candi Abang lebih mirip dengan candi-candi di Jawa Timur. Maka situs Goa Sentono makin membuat saya penasaran. Bukan karena relief atau lambang yoni pada ceruk-nya, tapi pahatannya yang nampak kasar.

Di Bali, saya pernah melihat dinding batu pada bukit yang di pahat, yaitu di Candi Gunung Kawi di Tampaksiring Gianyar. Tapi pahatannya sangat halus. Berbeda dengan pahatan yang ada di situs Goa Sentono yang sempat membuat saya berpikir “siapakah pemahatnya?”.

Di jaman dahulu kala, candi di bedakan tingkatannya menjadi Candi Kerajaan, Candi Watak, dan Candi Pribadi. Candi Kerajaan adalah candi dengan tingkatan termegah. Semakin megah, semakin rumit. Kerumitan ini bukan hanya pada bentuk dan strukturnya, tapi termasuk relief-nya.

Semakin rumit cerita yang ditawarkan sebuah relief pada candi dan semakin halus pengerjaannya, maka akan terlihat bahwa dinasti yang membangun candi atau tempat peribadatan tersebut berkasta tinggi. Semakin tinggi kastanya maka semakin tinggi pula peradabannya. Semakin tinggi peradabannya akan semakin terlihat pada tingginya nilai seni pada “kualitas” candi atau relief yang dihasilkan.

Jika kita mempelajari candi-candi yang ada di Yogyakarta, pada umumnya candi-candi tersebut dibangun di masa kejayaan Mataram Kuno. Candi-candi tersebut adalah candi megah yang memiliki relief dengan tingkat kerumitan tinggi. Relief yang ada di daerah Selatan, lebih rumit dibandingkan relief pada candi-candi di daerah Utara.

Nah, jika begitu pada kenyataannya, pertanyaan yang muncul adalah kenapa relief yang ada di Goa Sentono terasa sangat “kasar”? karena jika pahatan relief tersebut berasal dari jaman Mataram Kuno, tidakkah seharusnya relief tersebut akan dipahat dengan lebih halus? Mungkinkah dinasti yang memerintahkan pembangunan situs Goa Sentono berasal dari kasta yang lebih rendah? Jika iya, maka Candi Gebang yang merupakan candi Watak harusnya memiliki relief dengan kualitas yang sama dengan relief yang ada di Goa Sentono. Pada kenyataannya tidak!

Atau barangkali menilik Candi Abang yang lebih mirip dengan candi yang ada di Jawa Timur, mungkin saja si pemahat relief di Goa Sentono hidup di masa kekuasaan Majapahit dan entah kenapa “melarikan diri” di seputaran Candi Abang. Ahahaha. Mempelajari relief membuat fantasi kita berkeliling mulai dari relief yang ada pada candi di Jawa bagian Selatan lalu membandingkannya dengan relief pada candi di Jawa bagian utara kemudian membandingkannya dengan relief di Jawa bagian Timur dan kembali lagi pada relief di Jawa bagian selatan.

Lihatlah, bahwa pikiran kita bisa melampui apa yang dilakukan oleh raga kita. Melampaui ruang dan waktu. Belajar tentang relief dan candi sangat menarik, membuat kita semua merasa menjadi petualang seperti dalam pilem-pilem pencarian harta karun atau kisah detektif dalam novel Agatha Christie. Hihihi. Benarkan teman-teman? 😉

This slideshow requires JavaScript.

Happy Travelling!

Tulisan Terbaru:

Advertisements

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s