[Trip] Klenteng Dhanagun Bogor


Klenteng Dhanagun Bogor
Klenteng Dhanagun Bogor

Ada yang menarik pas jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Tidak jauh dari pintu masuk ke Kebun Raya, di sebrang jalan, ada Klenteng yang menurut saya, ga boleh dilewatkan begitu saja. Nama resminya Vihara Mahacetya Dhanagun Bogor. Tapi sebagai orang Indonesia, lidah saya lebih suka mengucapkan kata Klenteng daripada Vihara.

Klenteng Dhanagun terletak di sebelah Bogor Plaza. Sepintas lalu, jika anda hanya seorang wisatawan seperti saya, Klenteng ini tak tampak karena tertutup riuhnya Pasar Bogor, penjual makanan kaki lima, dan sampah pasar di sana sini. Pintu gerbang dengan warna merah menyala-lah yang membuat kaki kami berhenti sejenak untuk memperhatikan lebih seksama.

Sayapun iseng masuk ke dalam Klenteng. Waktu itu, kami bertemu dengan beberapa orang yang sedang serius bercakap-cakap. Tak berapa lama, dari dalam Klenteng, keluar rombongan orang-orang yang baru selesai berdoa. Dengan sopan, kami pun bertanya, apakah kami boleh ikut masuk untuk sekedar mengambil dokumentasi. Untungnya orang-orang di dalam Klenteng sangat ramah, dengan tersenyum kami dipersilahkan masuk. Alangkah baiknya 😉

Saya sendiri, besar di lingkungan sekolah Katolik, yang mayoritas siswanya adalah keturunan Cina. Etnis Cina, memang harus diakui, mereka ada di setiap tempat yang “dekat” dengan perdagangan, salah satunya pasar. Tentunya, jika di daerah kita terdapat banyak komunitas China, kita jadi familier dengan Klenteng dan tempat kremasi di sekitar rumah.

Uniknya, ternyata pas saya jalan-jalan ke Singapore, Hongkong, Macau, dan China, warga etnis China disana ga mengenal kata Klenteng. Rupanya kata Klenteng hanya dikenal di Indonesia. Klenteng berasal dari bunyi genta-genta kecil yang biasanya gemerincing terkena angin, sehingga menimbulkan bunyi yang terdengar seperti klentang-klenteng-klenting. Mungkin dari bunyi-bunyi khas inilah, asal mula nama Klenteng. Sebuah kata yang mudah diucapkan oleh lidah masyarakat Indonesia. Nama yang sangat khas Indonesia.

Tentu saja, Klenteng di Indonesia tidak bisa disamakan dengan Klenteng di negara-negara lain. Dari pengalaman beberapa kali keluar masuk klenteng di luar negeri, Klenteng diluar negeri biasanya jauh lebih megah dan terawat. Hal ini wajar saja, kebebasan beragama bagi etnis China di Indonesia, baru diakui secara politis semenjak Gus Dur menjadi Presiden RI. Masa-masa pemerintahan Soeharto adalah masa-masa etnis China hidup dalam tekanan, baik secara politik, budaya dan agama.

Menurut info yang saya baca di website Dinas Pariwisata dan Budaya milik Pemprov Jawa Barat, ada dua perkiraan kapan Klenteng Dhanagun dibangun. Pertama, diperkirakan dibangun sekitar tahun 1672 M. Perhitungan dibuat berdasarkan penanggalan sistem kalender menurut perhitungan Tien Gan Di Cze, yaitu pada Tahun Tikus Air.

Perkiraan kedua, Klenteng Dhanagun dibangun sekitar tahun 1740 M, perhitungan ini berdasarkan peristiwa sejarah pada saat di Batavia terjadi pemberontakan oleh orang-orang China. Pemberontakan yang berakhir dengan pembantaian etnis China tersebut menyebabkan orang-orang China yang semula tinggal di Batavia mengungsi ke daerah yang lebih aman, salah satunya ke Bogor.

Dokumentasi tertua tentang Klenteng Dhanagun dibuat oleh orang Perancis sekitar tahun 1860. Dulu Klenteng Dhanagun ini bernama Klenteng Hok Tek Bio. Nama Hok Tek Bio berasal dari kata Hok yang berarti rejeki dan Tek berarti kebajikan. Jadi Hok Tek Bio berarti rumah ibadah rejeki dan kebaikan.

Pada umumnya, klenteng bagi masyarakat China dibangun untuk menghormati 2 hal, yaitu Thian (Tuhan) dan leluhur. Klenteng untuk Thian dinamakan Shiau dan Klenteng untuk leluhur dinamakan Bio. Bisa diperkirakan jika Klenteng Hok Tek Bio semula memang ditujukan untuk menghormati leluhur atau arwah nenek moyang.

Saat ini, Klenteng Dhanagun meskipun dikategorikan sebagai Vihara Budha, akan tetapi dilihat dari patung yang berada di altar pemujaan, klenteng ini juga digunakan untuk berdoa bukan hanya umat Budha tapi juga berlaku untuk umat Konfusianisme dan Taoisme. Kalo mau merunut sejarah, hal ini mungkin saja terjadi karena pada masa lalu (masa kepemimpinan Soeharto), Konghucu belum diakui sebagai agama, makanya masih bercampur dengan Klenteng Budha. Toh yang datang berdoa sama-sama etnis Cina, yang tentunya lebih toleran terhadap agama asli masyarakat Cina tersebut.

This slideshow requires JavaScript.

Inilah yang khas dari Klenteng di Indonesia. Perpaduan dari arsitektur Cina dan Indonesia, lengkap dengan tabib dan toko obat Cina di samping Klenteng. Buat saya, perjalanan sejarah yang dimiliki oleh masing-masing Klenteng-lah yang memberikan nilai lebih yang membuat perbedaan antara satu tempat dengan tempat yang lain. Wisata spiritual yang mengagumkan ya?

Selamat Berpetualang 😉

Tulisan Terbaru:

Advertisements

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s