menjenguk Museum Gunung Merapi!


Hari sabtu kemarin saya, Chandra dan Rusma sengaja “menjenguk” Museum Gunung Merapi (MGM). Tiap tahun, setelah libur lebaran, saya dan beberapa teman memang selalu mengadakan “syawalan” di sebuah tempat wisata yang belum pernah kami kunjungi, mulanya kami berencana jalan-jalan ke pantai atau air terjun, akan tetapi karena beberapa teman sedang sibuk mudik, maka acara sabtu ini, pilihannya jatuh pada MGM.

Buat saya, sebenarnya ini sudah kali ke-4, saya mengunjungi museum ini. Akan tetapi, tidak masalahlah, toh teman-teman saya belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di MGM. Kenapa MGM? Jawabannya gampang, letaknya ga jauh, suasananya nyaman karena udara bersih dan dingin.

MGM ini masuk wilayah Dusun Banteng, Hargobinangun, Kecamatan Pakem sekitar 8 km dari puncak Merapi. Biasanya pengunjung lebih suka lewat Jalan Kaliurang untuk menuju museum ini, tapi kami lebih suka mblusukan lewat jalan kampung yang lebih sepi, tapi udara jauh lebih bersih. Jadi dari selatan, kami lewat jalan palagan lurus ke utara sampai kali boyong, kemudian belok kiri sekitar 6,5 km, disebelah kanan sudah ketemu nich museum.

Menurut informasi dari warga local, jika ingin mendapatkan foto terbaik, datanglah pagi-pagi, jika langit sedang cerah, maka kita bisa mengambil foto MGM dengan berlatarbelakang Gunung Merapi, sayangnya kami datang pas siang bolong! meski begitu, tidak mengurangi antusias kami untuk berfoto ria.

museum gunung Merapi tampak dari halaman depan

For your information: MGM dibangun selama 4 tahun. Dulu kawasan tersebut hanyalah beberapa “mbulak” yang kemudian di sulap menjadi sebuah areal wisata. Nah, diatas lahan seluas 3,5 Ha ini, MGM dibangun dengan luas bangunan mencapai 4,470 meter persegi. Biaya untuk membangun MGM sendiri cukup menguras APBD, ditambah harus membangun jalan beraspal baru sebagai akses menuju MGM.

Begitu memasuki halaman MGM, (karena pada waktu saya datang adalah tengah hari) terasa sekali panas yang menyengat, meski udara cukup dingin karena MGM terletak dikawasan tinggi. Halaman parkirnya sangat luas, akan tetapi semua dalam ruang terbuka. Saya membayangkan, kalo pas musim hujan, dan tidak ada parkiran yang tertutup, pasti pengunjung malas sekali jauh-jauh datang ke tempat ini.

Beberapa pengunjung berkomentar tentang kurangnya pepohonan di halaman depan MGM, jadi terkesan gersang. tapi sebenarnya tahukah anda, kondisi hari ini sudah lebih bagus lho? Waktu dulu saya berkunjung, malah jauh lebih gersang lagi! Sekarang, meski tidak banyak, tapi sudah ada satu dua tanaman sbg penyejuk mata.

Dulu pertama kali saya ke MGM sekitar akhir tahun 2009. Saat itu, MGM baru saja diresmikan. Beberapa bagiannya juga tampak belum “selesai”. Bahkan pengunjung yang datangpun belum dipungut retribusi. Barulah sekitar awal tahun 2010, pengunjung mulai ditarik retribusi.

Museum Gunung Merapi
orang bijak beli tiket!

So, jangan lupa beli tiket dulu yaks. Harga tiket masuknya cuma Rp 3.000,- doank! Trus kalo mau nonton home theater ditambah Rp 5.000,-. Nah bicara harga tiket nich. Memang sich, jika dilihat dari satu sisi, fungsi museum adalah social dan pendidikan. Tapi rasanya ga ada salahnya kok kalo harga tiketnya dinaikkan dikit, yang penting pelayanan dan (terutama) perawatan museum diperhatikan dan dijamin mutunya. Contohnya saja, museum ullen sentalu harga tiketnya Rp 25.000,- (umum), Rp 15.000,- (pelajar), Rp 45.000,- (turis asing). Meskipun mematok harga yang lumayan tinggi. Tapi, ini adalah museum teramai yang ada di Jogja.

Toh, isinya sama khan? “cuma” memajang foto dan mendokumentasikan beberapa hal. Jika ada yg bilang, bahwa karena ullen sentalu adalah museum milik swasta, jadi ga masalah memasang harga yang tinggi. Tapi bukannya rata-rata pengunjung adalah orang yang mampu ya? Mampu bawa mobil, mampu bawa motor bagus, mampu bawa hape terbaru, mampu bawa kamera DSCLR, jadi ga masalah khan?

Apalagi, terkadang di masyarakat ada stigma bahwa semakin murah semakin “buruk”. Jadi jangan-jangan, kenapa orang Indonesia ga suka ke museum adalah karena tiketnya terlalu murah, jadi ga penting buat didatangi! Lihat saja, bagaimana di XXI, Dufan, Transcorp Studio yang mematok harga tinggi ajah, antriannya udah kayak antri sembako. Jadi rasanya ga masalah dech.

Seringkali saya melihat, rombongan bus studi tour datang ke museum berharap dapat diskon. Ya ampyunn, saya heran sekali, rombongan-rombongan itu mampu untuk menghabiskan banyak uang berbelanja di mall ato malioboro, tapi cuma bayar Rp 3.000,- ajah minta diskon. Gimana kalo biaya diskonnya diganti kebijakan yg lain, missal: tidak minta diskon, tapi minta waktu yg lebih dari pihak pengelola untuk dijelaskan “lebih jelas lagi” tentang beberapa hal di museum, itu khan jauh lebih bermanfaat, daripada jauh-jauh datang, tapi pengetahuannya ga nambah apapun (khan fungsi museum adalah edukasi, mestinya nambah pinter dunks!).

Okey, back to MGM. Setelah melewati pintu masuk utama, hal pertama yang kami temui adalah sebuah maket gunung Merapi.

Di pinggir maket ada tombol narasi yang jika dipencet maka akan terdengar suara narator berbahasa Enggres kemudian berbahasa Indonesia yang bercerita tentang kronologis meletusnya Gunung Merapi, diiringi musik Jawa.

Sebenarnya, ada tiga tombol yang masing-masing bertuliskan tahun 1969, 1994, dan 2006. Jika tombolnya dipencet, maka di maket Gunung Merapi, kita bisa melihat sebaran aliran magma akan berubah sesuai dengan kejadian yang terjadi pada tahun tersebut.

Sayangnya, cuma tombol 1969 saja yang masih bisa dipake, sedangkan tombol 1994 dan 2006 diplester karena rusak. Mungkin karena kebanyakan pengunjung museum adalah anak-anak kecil usia SD (yang nakal-nakal), itu tombol di pencet-pencet sampe coplok. Jadi bapak ibu, jika anda membawa anak-anak ke museum, harap anak-anaknya diperhatikan yaks!

Anehnya juga, maket Gunung Merapi ini tidak ditutupi kaca, jadi terlihat kotor dibandingkan terakhir saya melihatnya di museum ini, dulu.

Meski DIY pernah menggalakkan Tahun Kunjungan Museum (lihat saja plang di per4an besar, pasti berisi ajakan visit to museum) dan menjadi daerah yang memiliki museum terbanyak di Indonesia. Tapi museum selalu menjadi “anak tiri” dalam peningkatan mutu pelayanannya. Gampangnya saja, masuk ke museum di Indonesia susah sekali mencari brosur pariwisata. Padahal museum dimaksudkan untuk edukasi. Nah, dimana letak edukasinya, kalo kita cuma disuruh liat gambar, tanpa tahu apa maksudnya (bengong!).

Untung masih ada mbah gugle! Jadi kata simbah, pembangunan MGM itu sesuatu yang sangat diperhitungkan. Mulai dari bentuk, hingga filosofinya, tak lupa juga “itung-itungan hari dan tanggalnya” semua mengacu pada nilai-nilai filosofis Jawa.

filosofis dari bangunan museum

Trus, arsitektur MGM merupakan representasi dari bentuk candi (pintu utama dan pelataran), tugu Jogja (puncak bangunan), Gunung Merapi (bangunan keseluruhan), serta konsep keraton sebagai citra dunia (denah bangunan yang sentripetal). Bahkan halaman depan MGM, satu persatu anak tangganya mengacu pada pintu gerbang utama kompleks Candi Ratu Boko.

motor salah satu korban Erupsi Merapi 2006

Nah, ada yang baru di museum ini. Dulu museum ini hanya terdiri dari 1 lantai. Sekarang di lantai 2-nya dibuka juga zona yang berisi berbagai foto dokumentasi tentang erupsi gunung Merapi dari tahun ke tahun, beberapa dokumentasi ttg Gempa Jogja 2006, dokumentasi ttg Tsunami Aceh, dan sebuah televisi yang selalu memantau puncak merapi. Dan yang terkeren, sebuah home theater tentang sejarah terbentuknya Gunung Merapi!

Di lantai 2, banyak sekali ruang yang berisi foto-foto dan alat peraga yang jauh lebih menarik dan jauh lebih informatif dari lantai 1. Sayangnya, karena masih baru, beberapa alat peraga ataupun foto tidak dibingkai oleh kaca, sehingga pengunjung pasti menyentuhnya secara langsung. Bayangkan kalo ribuan pengunjung menyentuhnya, pastilah dalam beberapa tahun lagi, semua sarana dan prasarana yang ada di dalam MGM akan cepat kotor dan rusak.

Meski namanya Gunung Merapi, museum ini tidak hanya mengacu pada Gunung Merapi yang ada di Jogja. Ada beberapa lukisan tentang Gunung Bromo dan legenda ttg nama Tengger. Ada juga kisah tentang Nyai Gadung Mlati yang katanya menguasai pasukan lelembut di puncak Merapi.

Nah, yang paling menyenangkan dari MGM adalah karena museum ini sepi, jadi kita bisa berfoto-foto sampai puas (hihi!). Ada lagi nich nilai positif-nya, ga ada orang pacaran di museum ini, tapi ga tau juga dech, kalo udah ramai. soalnya saya pernah berkeliling masuk museum di Jakarta, isinya cuma orang-orang mojok pacaran, terutama di Monas tuh, weleh! Museum jadi ga bermartabat kalo liat mereka.

bergaya di depan Bung Hatta
Bung Karno bersalaman dengan HB IX

Setelah puas berputar-putar di MGM, ada beberapa komentar nich tentang fasilitas di MGM:

Pertama, toilet.

toilet rusak
toilet rusak

setelah erupsi Merapi 2010, beberapa pipa dan pompa air di MGM rusak, jadi itu menyebabkan tidak ada air di toilet! Kata pihak pengelola, udah lapor ke pemerintah daerah tapi belum ditanggapi. Duwh mesake banget, sumber PAD kok ga diperhatikan fasilitasnya!

Kedua, tempat wudhu.

bak penampungan air untuk wudhu
bak penampungan air untuk wudhu

Alhasil, kita harus keluar dan ke halaman belakang, barulah bisa menemukan toilet dan musholla, yang (juga) kata pengelolanya, semua air bersih untuk keperluan toilet dan wudhu, mereka harus membeli. Hidup di kawasan kaya air bersih, tapi teuteup kudu beli air bersih? Ups, miris dan tragis mendengarnya!

Ketiga, musholla.

musholla yang bersih dan mukena wangi disediakan
musholla yang bersih dan mukena wangi disediakan

Keempat, tempat sampah.

kotak sampah lucu dgn kata-kata "Buanglah Aku Disini!"
kotak sampah lucu dgn kata-kata “Buanglah Aku Disini!”

Kelima, akses jalan untuk orang cacat.

tangga diperuntukkan untuk orang caacat
tangga diperuntukkan untuk orang caacat

Keenam, dilarang merokok di dalam museum.

dilarang merokok dan mengambil kamera
dilarang merokok dan mengambil kamera

Salut dengan MGM, akhirnya ada tempat yang dengan jelas melarang orang merokok di fasilitas umum! (ga tau juga pelaksanaannya sich, cuma tempelan ato memang benar-benar dilaksanakan). tentang larangan mengambil gambar? mungkin dilarang mengambil gambar tanpa seijin petugas, gitu kali yak. huaha!

Jadi, buat teman-teman semua, ayo kita jenguk museum!  Jangan biarkan aset edukasi seperti ini jadi terlantar dan sakit. Dan tolong ya, diperhatikan, jangan sampai kunjungan anda yang bermaksud baik malah merusak museum. Bagaimanapun, ini investasi jangka panjang buat anak cucu kita nanti lho.

This slideshow requires JavaScript.

Selamat jalan-jalan!

Tulisan Terbaru:

Advertisements

7 thoughts on “menjenguk Museum Gunung Merapi!

  1. “dilarang merekam dan mengambil gambar film di dalam home theater” tapi diatasnya kok ada “suasana di dalam home theater” sihh…??
    :))

    #eaaaaaaa “tentang larangan mengambil gambar? mungkin dilarang mengambil gambar tanpa seijin petugas, gitu kali yak. huaha!”

    ngelesssss… 🙂

    baidewe, ulasane manteb ik ndhuk…
    kapan-kapan kudu ronoooooo…..
    Mesakke men ya aku rung tau rono ik 😦

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s