Enam Hari Liburan Murah Ke Lombok


Hari Pertama, Senin, 16 Mei 2011

Seharusnya kami tiba tidak terlalu malam di Selaparang. Tapi sebelumnya di Djuanda, pesawat yang kami tumpangi mengalami keterlambatan. Tentu saja, kami menggerutu sebal. Bagaimana tidak? Kami sudah buru-buru sampai di Djuanda (dalam keadaan perut lapar), baru saja masuk ruang tunggu, tiba-tiba pesawat kami yang mestinya berangkat jam 18.50 diumumkan delay sampai jam 21.30. Waahhh kejam nian!

Alhasil, sambil menunggu. Kami melakukan segala cara untuk membunuh waktu. Mulai dari menyelonjorkan kaki (yang memang pegal-pegal), membaca peta dan buku Travelicious Lombok (yang baru saja di beli), tidur-tiduran, men-charge HP, melihat-lihat gambar di kamera, sampai update status-pun sudah dilakukan. Ketika kepastian terbang makin tak jelas. Maka kami berinisiatif untuk menghabiskan waktu mengelilingi beberapa tempat di Djuanda. Masuk toko per toko sekedar melihat-lihat cinderamata, mengamati bermacam oleh-oleh makanan, membeli buku di Periplus, secangkir kopi starbucks, dan akhirnya membeli makanan “berat” di sebuah resto kecil.

Nah, disini bagian menyebalkannya. Pada saat kami sudah memesan makanan, terdengar pengumuman bahwa penumpang pesawat kami mendapatkan “ganti rugi” delay dengan sekotak snack. Ah nanti saja, pikirku. Saya butuh makanan berat. Baru saja pesanan kami datang dan baru tiga sendok nasi masuk ke mulutku. Tiba-tiba datang lagi pengumuman yang menyuruh kami naik ke pesawat. Ya ampun, bener-bener dech nih pesawat! Bikin mangkel banget. Tadi kan bilangnya jam 21.30, padahal ini kan masih 20.15. Belum lagi Hot Cappucinno saya masih benar-benar panas untuk di-sruput. Dengan sangat terpaksa, saya menghabiskan minuman demi perut tetap hangat dan tidak kosong. Beuh bikin tambah ndower ajah nich minuman!

Dan berlarilah kami menuju pesawat.

(Tidak perlu saya ceritakan bagaimana kejadian di pesawat. Anggap saja semua baik-baik saja. Karena kalau saya cerita, nanti dianggap merusak citra baik tuh company).

Sekitar jam 22.30 waktu Indonesia bagian Selaparang, kami sampai di Lombok. Kami langsung berjalan ke pos taksi bandara, minta diantarkan ke daerah Cakra. Kami diminta membayar Rp 29.000,-. Murah juga. Tidak terlalu mahal untuk kami berempat. Sesampainya di Cakra, sebenarnya saya juga belum tahu mau menginap dimana. Jadi ya gambling saja. Saya menyebutkan sejumlah nama penginapan yang saya baca di internet. Eh beberapa tempat kok tampak serem ya? Teman saya sampe tanya, “Dapet referensi darimana sich, kok serem banget tuh tempat”. Saya pun nyengir. Huehe!

Setelah muter-muter tanya ke beberapa penginapan di sekitar Cakra, dan rata-rata full. Akhirnya saya pasrah juga, dan bilang ke bapak sopirnya, “Terserah bapak dech, yang penting dapet penginapan untuk malam ini”.

Kemudian kami diantarkan ke Karthika Hotel. Tempatnya lumayan bagus. Milik orang Bali. Kondisinya seperti beberapa penginapan di Bali. (Cakranegara terkenal dengan sebutan kampung Bali, karena disini memang lebih mirip permukiman orang-orang Bali lengkap dengan pura-nya).

Karthika Hotel
plang arah menuju Karthika Hotel

Setelah ngobrol ngalor ngidul, sekitar jam 01.30 waktu setempat kami pun tidur karena kelelahan.

Hari Kedua, Selasa, 17 Mei 2011

Dalam kondisi jetlag saya bangun pagi-pagi sekali. bagaimana tidak, jam masih menunjukkan 04.30, dan saya mesti sudah mandi pagi. Padahal jika dirumah, itu masih jam 03.30. Lombok memang beda 1 jam lebih awal dibandingkan Jogja.

Setelah sarapan nasi kuning di depan penginapan. Sekitar jam 06.30, jemputan kami datang. Sopirnya bernama Lalu Amir Hamzah, setelah tawar menawar dengan alot semalam, dia berjanji mau mengantar kami pagi-pagi sekali dari Cakra ke Bangsal. Saya memintanya untuk mengantar kami ke Bangsal melalui Senggigi. Kenapa begitu? Pertama, kami menginap jauh dari Senggigi, jadi tidak bisa menikmati udara Senggigi di pagi hari. Kedua, si sopir menawarkan lewat Hutan Pusuk yang jalurnya lebih dekat. Saya menolaknya, karena kalo lewat Pusuk kami bisa melaluinya kapan saja dengan angkot. Huehe!

Jangan dipikir ini perjalanan yang cepat. Tidak. Ini perjalanan yang lama. Bukan karena jaraknya yang jauh. Tapi karena setiap menemui tempat yang kami anggap keren. Kami minta berhenti dan ber-photo-photo.

Sekitar jam 9.00, kami sampai di Bangsal. Diantarkan persis tepat di depan loket. Setelah membeli tiket public boat ke gili trawangan sebesar Rp 10.000,- dan membayar biaya retribusi Rp 1000,- per orang. Si mbak penjaga loket bilang kami harus menunggu jumlah penumpang mencapai quota, yaitu 20 orang, baru public boat akan berangkat. Selama menunggu itu, kami dikerubuti oleh anak-anak usia SD-SMP yang menjual sambil “memaksa” untuk membeli cinderamata. Saya membeli sebuah topi dari jerami.

Tidak lama kemudian, ada yang berteriak. “Naik ke kapal, dah mau berangkatttt…!!”. Ups, kami buru-buru naik!

Di kapal, kami bertemu dengan banyak sekali mahluk. Mulai dari yang berkulit se-coklat saya, berkulit kuning, berkulit bintik-bintik merah, dan lain sebagainya. Rata-rata bule-bule menggendong tas backpack yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuh saya. Dan kalau yang wisatawan local nampaknya hanya berwisata sehari saja ke gili, tidak berniat menginap seperti kami. Sisanya adalah penduduk local gili yang membawa banyak barang dagangan berupa bahan makanan mentah.

kondisi public boat menuju gili trawangan yang kami naiki
kondisi public boat menuju gili trawangan yang kami naiki

(to be continued…)

Tulisan Terbaru:

Advertisements

2 thoughts on “Enam Hari Liburan Murah Ke Lombok

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s