[Trip] menangkap senja di Senggigi


Senggigi Beach
Senggigi Beach

Apa yang paling terkenal dari Lombok? Semua orang pasti akan menjawab: Senggigi!

Siapakah yang tidak kenal Senggigi Beach, dibandingkan pantai lain yang ada di Lombok, pantai ini adalah pantai yang paling popular. Saya tidak tahu mulai dari mana hingga mana kah yang disebut pantai Senggigi. Saya dan teman-teman pernah menyusuri pantai dari Ampenan hingga Pelabuhan Bangsal, sepanjang jalan yang ber-kilo-kilo meter itu hanya ada pantai dan pantai.

Pada umumnya Senggigi didominasi oleh Hotel, mulai dari yang murah hingga yang harganya jutaan per malam dan diper-khusus-an buat turis luar negri.

Kalo mau dapat view yang bagus, ya kudu nginep di hotel yang ada di pantai dengan punya view bagus, misalnya kayak Sheraton. Tapi kalo pilihannya kayak saya dan teman-teman yang memilih menginap tidak di pinggir pantai, tapi malah di Cakranegara demi menekan budget yang mahal, ya kudu rela mblusukkan hingga ke arah Pelabuhan Bangsal demi mendapat sunset yang bagus.

Di sekitar pelabuhan Bangsal kondisi pantainya masih alami karena belum tersentuh komersialisasi pariwisata, rumah warga sekitar pun masih seadanya dengan kondisi MCK yang memprihatinkan. Beberapa warga yang memelihara sapi di pinggir pantai mengingatkan saya kondisi pantai di Gunungkidul.

Mengejar sunset di Senggigi, memiliki kesamaan dengan mengejar sunset di Gunungkidul, yaitu kalo pulang kemalaman, nasib kita akan sama, kudu menembus jalan yang penuh mbulak dan sama sekali tidak ada lampu penerangan jalan. Bedanya di Senggigi jalannya jauh lebih arif, ga penuh tanjakan jahanam kayak di Gunungkidul. Meski begitu, saya tetap jatuh cinta pada pantai-pantai di ke2 tempat tersebut😉

Selamat Jalan Jalan!

Tulisan Terbaru:

dari Pagesangan sampai Senggigi


Hari Kelima, Jumat, 20 Mei 2011

Mencari Pura Pagesangan

Pagi-pagi setelah sarapan, kami menuju desa Pagesangan. Sebenarnya kemarin kami sudah mengelilingi hampir semua pura yang ada di Lombok Barat. Tapi pura yang kali ini berbeda. Yang saya cari kali ini adalah Pura Pagesangan, sebuah pura bersejarah yang menyimpan naskah Negarakertagama. Negarakertagama merupakan naskah Jawa klasik yang ditulis pada tahun 1365 dan menjadi sumber sejarah tentang Kerajaan Majapahit. Pagesangan sendiri adalah sebuah nama desa yang terletak 5 km di sebelah tenggara Ampenan.

Setelah berkeliling desa Pagesangan dan bertanya pada warga local. Ternyata rata-rata warga local tidak ada yang tahu pura yang mana yang saya maksud. Yang lebih lucu lagi, bahkan mereka juga tidak tahu apa itu Negarakertagama. Hah!

Akhirnya, saya memberanikan diri memasuki sebuah pura yang cukup besar. Disana tertulis Pura Dalem Arsana Pagesangan Mataram. Dari seorang Bapak yang saya temui (yang bertugas merawat pura), baru saya ketahui bahwa pura tersebut digunakan untuk mengkremasi keluarga kerajaan.

pura pagesangan
pura pagesangan

Tepat disamping Pura Pagesangan terdapat Pemakaman Muslim Sekarbela. Jadi, bukan hanya tempat ibadah yang berdampingan. Bahkan pemakamannya pun berdampingan antara dua agama yang berbeda.

Dalam pencarian mencari desa Pagesangan, saya menemui banyak kampus di sekitar daerah ini. Salah satunya adalah Universitas Mataram. Kampus Negeri di NTB.

Sekarbela

Sekarbela adalah sebuah desa yang terkenal sebagai sentra kerajinan mutiara Lombok. Konon, mutiara air tawar yang dijual di Lombok, tidak dibudidayakan dilombok. Budidaya mutiara yang di lombok hanya mutiara air laut atau dikenal dengan sebutan “South Sea Pearl”. Mutiara air laut Lombok konon yang terbaik didunia.

Memasuki Sekarbela mengingatkan saya pada Kotagede. Jika di Kotagede penuh dengan industry perak. Maka di Sekarbela penuh dengan industry mutiara. Sepanjang jalan berisi toko-toko yang menjual mutiara. Memberi banyak pilihan bagi pengunjung yang senang berbelanja mutiara.

Taman Budaya

di Jalan Majapahit, terdapat Taman Budaya. Namun sayang, karena tidak ada event apapun, tempat ini tampak sepi.

Loang Baloq

Makam Loang Baloq bukanlah nama seseorang. Loang Baloq merupakan bahasa Sasak yang berarti pohon beringin yang berlubang. Pohon beringin itu sendiri diyakini sudah berumur ratusan tahun, terlihat dari akar dan batang yang sangat tua. Teman kuliah saya yang asli Lombok menyebut Loang Baloq dengan Lubang Nenek.

Menurut juru kunci makam, Loang Baloq  juga dapat diartikan sebagai Lubang Buaya karena dulunya tempat makam tersebut adalah sungai besar yang banyak di diami bebaloq (buaya).

Di kompleks makam Loang Baloq ada tiga makam yang dikeramatkan. Makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak sudah dikeramik putih, berbentuk empat persegi panjang dengan lubang di tengah. Di lubang tengah itulah para peziarah biasa menaburkan bunga. Sedangkan makam Anak Yatim berada di luar, disamping makam Maulana Syech Abdurrazak. Sementara makam Datuk Laut, tidak berada langsung di bawah pohon beringin, tapi disamping makam Anak Yatim. Makam yang sudah dikeramik hitam itu berada di dalam bangunan permanen berukuran sekitar 3X4 meter.

Data Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Mataram, berdasarkan sejarah, pada tahun 1866, seorang ulama besar bernama Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berasal dari jazirah Arab datang ke Palembang.

Dari Palembang, ulama besar itu melanjutkan perjalanan dan mendarat di pesisir Pantai Ampenan, Kota Mataram.  Ketika berada di daerah itu Maulana Syech Gaus Abdurrazak menyampaikan petuah-petuah yang bersumber pada ajaran Islam. Ajaran tersebut sangat dipercaya oleh masyarakat, tidak hanya di Mataram tapi juga di Pulau Lombok.

Makam-makan tersebut menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi para peziarah dari Pulau Lombok maupun dari daerah lain. Selain itu, ada pula peziarah yang melangsungkan upacara potong rambut anak yang masih balita (ngurisan).

Ngurisan dimaksudkan untuk menghilangkan rambut “panas” sang bayi. Diharapkan setelah itu akan tumbuh rambut yang lebih lebat dan bayi menjadi tidak rentan sakit.

Hal menarik yang dari Loang Baloq adalah cerita mengenai pohon jodoh. Menurut warga local, jika kita datang bersama pasangan, lalu mengikat kain atau tali plastik pada akar beringin yang menggantung serupa “janggut”, dipercaya bahwa pasangan tersebut akan bisa berjodoh. Huehe!

loang baloq
loang baloq

Kota Tua Ampenan

Menuju Kota Tua Ampenan, sepanjang perjalanan kami melihat kompleks pemakaman China yang tertata apik. Makam-makamnya berukuran besar berwarna kelabu bebatuan terletak di kiri jalan, di tepi pantai. Menarik, karena pada umumnya pemakaman China selalu diatas bukit. Tapi disini, terletak di pinggir pantai.

Ampenan merupakan sebuah kecamatan di kota Mataram. Daerah ini dahulunya merupakan pusat kota di Pulau Lombok. Di sebelah barat berbatasan dengan Selat Lombok (laut yang menghubungkan Pulau Lombok dengan Pulau Bali).

salah satu sudut di kota tua ampenan
salah satu sudut di kota tua ampenan

Di kecamatan ini terdapat peninggalan kota tua karena dahulunya merupakan pelabuhan utama daerah Lombok. Terdapat banyak kampung yang merupakan perwujudan dari berbagai suku bangsa di Indonesia diantaranya Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Arab, Kampung Bali, dan lain-lain.

Dari sebuah jurnal majalah Tempo tahun 1973 disebutkan, ‘Pelabuhan yang memenuhi syarat buat kegiatan bongkar muat di Lombok cuma dua : Ampenan & lembar, terletak di pantai barat Pulau Lombok. Pelabuhan Ampenan & Lembar di pulau Lombok, selama Januari – Oktober tahun lalu mencatat 459 kapal yang singgah di sana plus 527 perahu. Di masa Belanda, sekitar tahun 1948 – 1950, berdiri sebuah dermaga di pelabuhan Ampenan. Cuma patok-patok  besinya yang tersisa kini. Sebuah mesin pengerek atau katrol dipasang di ujung, untuk menaikturunkan blongko-semacam kayu gelondong kayu besar dilubangi hingga menyerupai tongkang. Benda ini ditarik perahu motor ke kapal yang lego jangkar, untuk dimuati berbagai barang & dinaikkkan ke dermaga dengan dikatrol tadi. Sayang, semua aktivitas pelabuhan Ampenan surut seiring waktu.

Jalan utama Yos Sudarso menggambarkan fenomena koeksistensi antaretnis ini: di satu sisi berdiri ruko-ruko kuno milik warga Tionghoa, sementara di seberangnya terdapat barisan toko milik komunitas Arab yang menjajakan barang-barang khas Timur Tengah.

Vihara Bodhi Dharma
Vihara Bodhi Dharma

Wihara Bodhi Dharma yang berdiri sejak 1804 menjadi saksi bisu lain dari proses pembauran antarsuku di Ampenan. Rumah suci berbahan kayu milik umat Buddha ini berdiri persis di hadapan Kampung Melayu yang didominasi penganut Islam. Sementara itu kawasan pesisir didiami komunitas Bugis yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan.

Meski tampak harmonis, warga di sini tak selamanya hidup rukun dalam perbedaan. Sejumlah media mencatat, Lombok, termasuk Ampenan, pernah mengalami kerusuhan berbau rasial di awal 2000.

Jika anda berkunjung ke Kota Tua Ampenan, jangan lupa mampir ke Mie Jakarta. Meski namanya hanya “mie”, tapi tempat makan ini menjual berbagai makanan dengan menu chinese. Rasanya top markotop dech!

Pura Segara

Dari Kota Tua Ampenan menuju Senggigi terdapat pura yang cukup menarik yaitu Pura Segara. Tidak banyak informasi yang saya dapat. Selain memang tidak ada pemandu wisata, juga karena banyaknya anjing kampung yang mengerumuni saya pada saat memasuki pura ini, membuat saya panik. Huehe!

pura segara
pura segara

Batu Layar

Warga kota Mataram dan Lombok Barat, selain di Loang Baloq, biasanya merayakan Lebaran Topat di salah satu makam keramat di pinggir pantai Senggigi, yaitu di Pantai Batu Layar.

Makam Batu Layar
Makam Batu Layar

Biasanya masyarakat setempat mengawali perayaan Lebaran Topat dengan upacara Nyangkar, acara ziarah ke Makam Batu Layar.

Makam ini merupakan makam Syeh Syayid Muhammad al Bagdadi yang berasal dari Bagdad, datang ke Pulau Lombok untuk menyebarkan agama Islam. Setelah agama Islam sempurna Syeh Syayid ingin kembali ke negeri asalnya di Bagdad.

Kemudian penyebar agama Islam ini diantar ke pinggir pantai Batu Layar oleh para muridnya. Setelah tiba di pinggir pantai, Syeh Syayid berdiri di atas batu yang menyerupai sebuah perahu.

Namun sekitar setengah jam kemudian datang hujan lebat yang disertai angin dan petir. Pada saat itulah Syeh Syayid menghilang dan yang tertinggal hanya surban dan kopiahnya. Jadi, yang dimakamkan bukan jasad Syeh Sayid melainkan kopiah dan sorban yang ditinggalkannya.

Pura Batu Bolong

Pura Batu Bolong berdiri di dekat Pantai Batu Layar di kawasan Senggigi, sekitar 20 kilometer dari Mataram. Pura ini sekilas mengingatkan kita pada Tanah Lot di Bali—bangunan ibadah yang terletak di bibir pantai dengan posisi menjorok ke laut.

Pura Batu Bolong
Pura Batu Bolong

Di tempat inilah Dang Hyang Dwijendra dikisahkan pernah singgah. Dia adalah pendeta asal Jawa Timur yang memiliki peran penting dalam perkembangan agama Hindu di Bali dan Lombok.

Untuk memasuki pura, pengunjung diwajibkan memakai pita kuning yang dilingkarkan di pinggang. Pita disewakan di dekat pintu masuk. Tarif sewanya sukarela alias terserah kita.

Ada dua pura yang menghiasi karang warna hitam ini. Berjalan menuruni anak tangga, kita akan menemukan pura pertama yang bersemayam di bawah naungan pepohonan rindang. Pura kedua berdiri di atas karang yang menjulang setinggi kurang lebih empat meter dan memiliki lubang di tubuhnya. Lubang inilah yang menjadi inspirasi lahirnya nama Pura Batu Bolong.

Pasar Seni

Di pantai Senggigi terdapat sebuah Pasar Seni yang touristis banget! Kenapa begitu, karena selain lokasinya yang dipinggir pantai. Juga karena lebih banyak bule yang berbelanja daripada warga local.

Wisata Alam Karandangan

Beberapa hektar tanah di daerah Karandangan sedang dalam proyek yang akan dijadikan wisata alam Karandangan, untuk menambah destinasi wisata di salah satu pantai Senggigi.

Bukit Malimbu

Bukit Malimbu merupakan salah satu titik lokasi yang lumayan ngetop di pinggir pantai Senggigi. View-nya indah. Laut yang biru dan dapat melihat gili dari atas. Lokasi ini sangat ramai jika sore hari. Banyak sekali muda-mudi yang duduk di bukit ini, sekedar menikmati jagung bakar atau kacang rebus. Bukit Malimbu semakin terkenal karena digunakan syuting beberapa acara TV.

Bukit Malimbu
Bukit Malimbu

Pantai Senggigi

Siapakah yang tidak kenal senggigi. Pada umumnya orang jauh lebih mengenal senggigi dari semua pantai yang ada di Lombok. Padahal Lombok memiliki pantai yang jauh lebih indah dari senggigi. Tapi memang harus diakui, senggigi adalah pantai yang paling mudah ditemukan, apalagi jika anda sangat menyukai sunset.

sunset di Pantai Senggigi
sunset di Pantai Senggigi

Ada kisah lucu pada saat kami mengejar sunset di Senggigi. Entah kenapa, tiba-tiba ban motor yang saya naiki kempes. Padahal hari sudah gelap. Jarak antar rumah yang jauh, dan ketiadaan lampu jalan membuat “perjalanan” mendorong motor yang hampir 1,5 km menjadi sebuah perjalanan yang sangat panjangggg sekali!

Kondisi tanah yang berbukit dan (tentu saja) sepi semakin mendramatisir suasana. Untunglah setelah perjalanan berat tersebut, kami bertemu dengan tambal ban yang ditulis “PERES BAN”. huaha!

Mataram Mall dan Taman Sangkareang

Sepulang kami dari pantai Senggigi, tujuan kami adalah Mataram Mall. Badan sudah lelah dan kami ingin segera cuci muka dengan air tawar yang bersih. Makanya kami merasa, lebih baik mampir di Mataram Mall lalu membeli oleh-oleh, daripada harus kembali ke penginapan dulu baru mencari oleh-oleh.

Di sebelah Mataram Mall, ada sebuah taman yang lumayan ramai. Setelah saya tanyakan ke warga lokal ternyata itu adalah Taman Sangkareang. Kebetulan pada saat saya lewat, nampaknya seperti ada acara musik. Sehingga ramai dengan muda mudi.

Jalan Udayana

Jalan Udayana terkenal sebagai Malioboro-nya Lombok. Sebuah jalan yang memang sangat ramai berisi anak muda yang nongkrong hingga tengah malam. Sebenarnya, malam sebelumnya kami sudah mendatangi areal jalan udayana, akan tetapi sepi (mungkin karena pada saat kami datang sebelumnya adalah malam jumat, malam sunnah. huehe!). Nah, di malam sabtu, jalan Udayana sangat ramai. di sepanjang jalan banyak sekali penjual makanan dan kopi dengan harga terjangkau. mulai jagung bakar hingga sate bulayak dapat dengan mudah ditemukan.

Warung Kejaksaan

terletak di belakang Kantor Kejaksaan Provinsi NTB. Salah satu tempat makan favorit warga lokal dengan menu lokal, seperti: nasi goreng, mawut, bakso, rujak serut, es krim rujak, aneka jus. Bahkan teman saya sempat berkomentar, “jauh-jauh ke lombok, kok cuma makan pecel lele!”. Huaha!

Phoenix

Phoenix merupakan salah satu toko pusat oleh-oleh makanan khas Lombok yang sangat terkenal di Lombok. Selain terkenal karena lengkap, juga karena murah.

Hari Keenam, Sabtu, 21 Mei 2011

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan siap di Bandara Selaparang. Kami naik penerbangan pertama menuju Surabaya. Beruntung, cuaca sangat cerah. Dari pesawat saya dapat melihat matahari terbit dari arah Rinjani.

Dari semua lokasi yang masuk dalam itinerary saya, hanya beberapa tempat saja yang belum saya kunjungi karena waktu yang kurang, misal: Museum NTB, Makam Jenderal Van Ham (padahal kedua lokasi ini berulangkali kami lewati), Pantai Medana dan Pura Medana, Pantai Sire, Hutan Wisata dan Air Terjun Sesaot, Kota Kediri (terkenal dengan kerupuk kulit), kota Praya (seorang teman tinggal di kota ini), Pura Peng Song, dan Cilinaya Shopping  Center.

Makanan yang belum sempat saya icip: Sate Rembiga (sudah melewatinya, akan tetapi karena sangat ramai, kami tidak jadi mampir), Nasi Puyung (di ruko sebelah timur lapangan rembiga), Sate Pusut, Sate Tanjung (di sekitar Pura Medana), Nasi balap, Nasi campur khas Mataram di Ampenan, Warung Nasi Terare/ Nasi Rarang, Bebalung, Soto sasak Lombok di jalan Langko, Ikan kuah sepat, dan Tuak Lombok.

Untungnya, kami sudah beberapa kali mencoba Kopi Lombok. Hanya saja, kami belum sempat mencoba kopi kelapa atau kopi Lombok yang direbus pakai air kelapa.

Moga-moga, lain waktu saya bisa mengunjungi lokasi tersebut dan mencoba makanan khas-nya. Yang pasti, suatu saat nanti, saya ingin sekali mengunjungi Lombok Timur. I hope!

-THE END-

Tulisan Terbaru:

Wisata Pura


Hari Keempat, Kamis, 19 Mei 2011

Setelah sarapan pagi dengan nasi kuning. Kami pergi ke daerah Pasar Burung Cakra. Di daerah tersebut, terdapat beberapa tempat yang menyewakan sepeda motor. Pada umumnya, motor matic di hargai Rp 50.000,- sehari semalam, sedangkan motor manual Rp 35.000,- sehari semalam.

Perhatikan benar motor yang anda sewa. Mulai dari kelengkapan surat, helm, ban, rem, dan lain sebagainya. Anda tidak mau kan mendorong motor di tengah hutan atau di pinggir pantai yang sepi di tengah malam.

Begitu mendapatkan motor, kami langsung menuju pom bensin terdekat. Ternyata di seberang jalan pom bensin terdapat dua pura yang kami cari, yaitu Pura Meru dan Pura Mayura. Wah, tidak perlu jauh-jauh rupanya.

Pura Meru

pura meru
pura meru

Pura Meru merupakan pura yang terbesar di Lombok. Dari jalan, terlihat gapura tinggi bernuansa merah bata dan tiga puncak pura yang menjulang tinggi. Pada saat kami memasuki pelataran pura, sudah ada seorang guide yang siap menemani berkeliling pura. Kami diharuskan memakai kain panjang bermotif berwarna kuning sebagai bagian untuk menghormati tempat suci.

Kompleks Pura Meru terdiri dari Pura Brahma, Siwa dan Wisnu. Tiga pura utama beratap susun 9 dan susun 11, diantara semuanya Pura Siwa-lah yang paling menjulang tinggi. Setiap pura utama mewakili gunung yang tertinggi dan disucikan dari tiga pulau. Pura Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Pura Siwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Pura Wisnu mewakili Semeru di Jawa.

Saat perayaan piodalan setiap pura akan dihias menggunakan kain yang warnanya memiliki makna religius. Pura Brahma menggunakan warna merah yang berarti api, simbol dari umat hindu yang meninggal dunia lalu dikremasi menggunakan api dari Dewa Brahma. Pura Siwa menggunakan kain warna putih yang berarti air yang mensucikan, abu hasil kremasi akan dilarung ke laut. Pura Siwa juga memiliki atap yang paling tinggi, ini mewakili wilayah Lombok bahkan dunia yang sebagian besarnya merupakan laut. Pura Wisnu hitam yang berarti malam dan kegelapan. Kegelapan bisa berarti kematian, kehidupan setelah mati atau malah sebaliknya kehidupan baru.

Yang menarik adalah mesjid yang terletak di sebelah pura, dan di seberang jalan (di dekat Pura Mayura) terdapat sebuah gereja tua. Indonesia mini, gumam saya.

Dari info guide kami, pura ini merupakan peninggalan Majapahit. Ciri khasnya adalah batu merah yang mewarnai hampir keseluruhan kompleks bangunan pura ini. Jika info ini benar adanya, tentu saja kita salut, karena masih bertahan dan dirawat dengan baik. Notabene, jika kita melihat trowulan (yang konon adalah lokasi kerajaan Majapahit) hanya tinggal sisa-sisa situs.

Pura Mayura

pura mayura dan bale kambang
pura mayura dan bale kambang

Pura Mayura atau yang lebih terkenal sebagai Taman Air Mayura terletak di sebrang jalan Pura Meru. Pura Mayura mengingatkan saya pada Taman Sari di Jogja, ini menegaskan bahwa air merupakan bagian unsur yang penting dalam kehidupan religius di setiap agama.

Bangunan Pura Mayura yang kental dengan corak Bali, Jawa dan Lombok dibangun pada masa ketika Kerajaan Bali masih berkuasa di Pulau Lombok, tepatnya pada tahun 1744 M. oleh Raja A.A. Made Karangasem. Bangunan ini pada awalnya bernama Taman Istana Kelepug. Nama tersebut diambil dari suara yang muncul (kelepug-kelepug) karena derasnya air yang keluar dari mata air di tengah kolam dalam taman tersebut.

Taman ini mengalami proses renovasi sekitar tahun 1866, sejak itu nama Istana Kelepug berganti menjadi Istana Mayura. Kata “Mayura” sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti burung merak. Konon, pada masa Raja A.A. Ngurah Karangasem, banyak ular berkeliaran di taman Istana sehingga mengganggu aktivitas kerajaan, sejak itu di sekitar taman ini dipelihara burung merak yang suka memangsa ular sehingga Istana menjadi aman.

Di tengah kolam berdiri sebuah bangunan yang disebut “Bale Kambang”. Ada yang menyebutnya gili karena keberadaannya di tengah-tengah kolam yang menyerupai pulau kecil di tengah samudera. Pada zaman Rad Kerta, pengadilan terhadap orang yang berperkara biasanya disidangkan di Bale Kambang.

Di dalam komplek ini banyak sekali dijumpai pohon manggis berderet rapi yang menambah kesejukan hawa udara di taman. Jika sedang musim, biasanya pengunjung diperbolehkan untuk memetik beberapa buah manggis.

Menurut guide yang memandu kami, roh utama taman ini adalah sebuah pura yang terletak di hulu kolam. Sebuah bangunan suci yang masih dipergunakan oleh keluarga kerajaan bersembahyang tiap hari. Namun karena luasnya taman, deretan pohon manggis, kolam yang lebar serta letak pura yang di ujung, menjadikan pura ini selalu terlewatkan dari perhatian para pengunjung. Pura tersebut masih menggunakan namanya yang lama “Kelepug” untuk mengingatkan akan nama asli lokasi ini.

pura suci di hulu kolam di Pura Mayura
pura suci di hulu kolam di Pura Mayura

Pura Lingsar

Candi Gebang Pura Lingsar
Candi Gebang Pura Lingsar

Dalam buku Lonely Planet, Pura Lingsar merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika anda datang ke Lombok. Pura yang sekitar 15 km dari pusat Kota Mataram ini, selain digunakan umat Hindu untuk beribadah, pura ini juga digunakan sebagai tempat sembahyang suku Sasak yang menganut Islam.

Pura Lingsar adalah salah satu tempat di Lombok sebagai bukti bahwa penganut Hindu dan Wektu Telu (kepercayaan Sasak) hidup akur bak saudara. Dua penganut juga berarti dua sesajen yang berbeda. Umat Hindu menggunakan daun kelapa sebagai wadah sesajen, sedangkan warga Sasak memakai daun pisang. Bahkan secara rutin diadakan doa bersama dari berbagai pemeluk agama yang ada di Lombok.

Simbol toleransi, juga dilambangkan dengan aturan tak tertulis, bahwa siapa saja yang datang ke tempat suci itu, tak diperkenankan menghaturkan sesaji dari babi dan sapi. Babi haram bagi umat Isalam, dan sapi dianggap suci oleh umat Hindu.

Salah satu ciri khas yang dimiliki Pura Lingsar adalah adanya mata air yang sangat besar dan melimpah, dalam bahasa Bali disebut telaga ageng, sedangkan dari bahasa Sasaknya dikatakan sebagai aik mual. Aik berarti “air” dan mual mengandung arti “melimpah keluar”. Lantaran itu pula Pura Lingsar kerap disebut oleh warga suku Sasak dengan sebutan Pura Aik Mual.

Dalam pura ini mengalir sebuah mata air yang dianggap suci oleh sebagian penduduk karena dipercaya mampu memberikan peruntungan. Di dalam mata air tersebut, ada ikan julit (ikan yang mirip belut) yang berumur ratusan tahun. Para guide menyebutnya ikan tuna, bukan karena jenisnya tuna. Tapi konon, dulu seorang turis dari Italia menyebutnya ikan fortuna (ikan keberuntungan), mungkin karena itu dipanggil menjadi “tuna”.

Apabila seseorang mengunjungi kolam ini dan ikan tersebut kebetulan keluar, ini menandakan keberuntungan bagi pengunjung tersebut. Karenanya, para pengunjung biasanya menggunakan berbagai cara agar ikan tersebut bisa keluar, di antaranya memancingnya dengan sebutir telur.

Di kolam itu juga, ada ritual melempar uang logam (koin) ke kolam sambil membalikan badan. Sambil melempar uang logam, kita dapat memanjatkan keinginan kita. Karena kebanyakan yang berkunjung adalah anak-anak muda, maka biasanya permintaannya adalah minta jodoh. Huehe!

kolam air tempat melempar koin permintaan
kolam air tempat melempar koin permintaan

Cerita menarik lainnya, disamping kolam keberuntungan, ada sebuah tempat berisi batu-batu keramat yang dibungkus kain. Oleh guide, kami masing-masing diberi kesempatan menghitung jumlah batu, sebanyak tiga kali. Jika setelah menghitung sebanyak 3 kali, hitungan kami selalu sama, maka dipercaya akan mendapat keberuntungan!

Salah satu upacara di Pura Lingsar yang dilakukan bersama oleh umat Hindu dan Suku Sasak yang beraga Islam adalah Pujawali. Setiap purnama ning sasih kanem–menurut hitungan panangggalan Bali atau sekitar bulan Desember, upacara pujawali diselenggarakan.

Pujawali, di berbagai tempat lain pelaksanaannya dilakukan sepenuhnya oleh umat Hindu. Namun khusus di Pura Lingsar, upacara pujawali setempat dirangkai dengan tradisi perang topat. Sebuah tradisi yang pelaksanaannya didominasi masyarakat suku Sasak–penduduk asli Lombok, bersama masyarakat dari suku Bali yang telah turun temurun bermukim di Lombok.

Perang topat atau ketupat berlangsung bersamaan dengan upacara pujawali. Prosesinya pun tak bisa dipisahkan dari pelaksanaan upacara tahunan itu. Karena itu, hajatan besar ini dipuput Ida Pedanda (Pendeta Hindu). Kalau tak ada pujawali, perang topat tak kan dilaksanakan karena perang topat satu rangkaian dengan pelaksanaan pujawali. Prosesi ini tak bisa dipisah-pisah

”Peperangan” berlangsung beberapa menit, setelah itu, ketupat yang dijadikan peluru lalu dipungut kembali oleh peserta untuk dibawa pulang dan diletakkan di sawah. Dalam perang topat, wanita yang sedang haid tak boleh mengikuti. Perang topat bertujuan untuk mendapatkan berkah dan keselamatan, terutama bagi petani anggota Subak—sistem irigasi pertanian.

Salah satu yang menarik dari Pura Lingsar adalah banyaknya penjual sate bulayak di sekitar pura. Bulayak adalah sejenis lontong yang dibungkus dengan daun kelapa yang dililit-lilit seperti spiral. Bulayak, semacam lontong versi Lombok. Biasanya dimakan dengan sate. Dengan harga Rp 15.000,- saya mendapat 6 bulayak dan 15 tusuk sate. Rasanya, yummy!

sate bulayak
sate bulayak

Pura Suranadi

Dari Pura Lingsar, kami menuju ke atas, ke arah lembah Gunung Rinjani. Disana ada tempat menarik yaitu Hutan Wisata Sesaot dan Suranadi. Karena waktu itu sudah jam 15.00 maka diputuskan cukup berkunjung ke Pura Suranadi saja.

pura suranadi
pura suranadi

Suranadi berasal dari kata “sura” yang berarti dewa, dan “nadi” memiliki arti sungai. Konon, Suranadi juga mengandung arti “kahyangan” dalam kamus bahasa Jawa Kuno. Terletak di samping Hutan Wisata Suranadi, yang terdapat banyak sekali monyet-monyet jinak.

Areal Pura Suranadi yang luas dan asri memiliki 5 (lima) buah mata air yang dikenal dengan nama Panca Tirtha atau Pancaksara.

Konon keberadaan Pura Suranadi terkait dengan perjalanan Danghyang Dwijendra — dikenal pula dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rauh — menuju Sasak (Lombok) untuk kedua kalinya. Di Lombok, beliau dijuluki juga sebagai Pangeran Sangupati. Guna menjaga agar umat Hindu yang ditinggalkan bisa melakukan tertib upacara menurut ajaran agama yang telah ditentukan, lantas beliau dengan “puja mantera”-nya memunculkan pancatirtha (lima macam tirta) di Suranadi.

Versi lain yang menyebutkan, Pura Suranadi dibangun atas gagasan raja Pagesangan bernama AA Nyoman Karang pada 1720 Masehi. Seorang pendeta dari Bali — cucu Danghyang Dwijendra — bernama Pedanda Sakti Abah, dipanggil oleh raja Pagesangan guna melaksanakan panca yadnya, yakni lima macam pengorbanan suci menurut ajaran agama Hindu. Guna kelangsungan kegiatan ritual secara berkelanjutan itulah, dipilih Suranadi sebagai tempatnya.

Kami sendiri tidak berlama-lama di Pura ini. Saat kami datang, bertepatan dengan waktunya sembahyang sore bagi umat Hindu. Dari warga lokal, kami mendapat informasi bahwa terdapat gado-gado Suranadi yang terkenal sangat enak. Sayangnya kami tidak sempat mencoba karena buru-buru melanjutkan perjalanan ke Taman Narmada.

Taman Narmada

Taman Wisata Narmada terletak di Desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram. Taman yang luasnya sekitar 2 ha ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka (Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Didalamnya terdapat mata air yang konon airnya berasal dari Gunung Rinjani dan dipercaya bisa menjadikan seseorang tetap awet muda sehingga disebut Air Awet Muda. Nama Pura ini diambil dari sebuah sungai suci di India yang memuja Shiwa yaitu Pura Kalasa.

tempat mengambil air awet muda
tempat mengambil air awet muda

Taman ini juga memiliki kolam renang publik. Banyak juga pengunjung yang membawa jerigen berisi air narmada sebagai oleh-oleh. “Air Narmada” menjadi merk dagang air minum paling terkenal di Lombok. Nah, setelah menikmati air narmada yang segar. Di pintu keluar, terdapat penjual-penjual souvenir khas Lombok semacam songket kain lombok, gelang mutiara, dan lain-lain.

Desa Sayang-Sayang

Desa Sayang-Sayang terdapat di utara Cakra. Ini adalah sebuah kampung wisata di Lombok yang menjual kerajinan khas Lombok. Bagi yang memang senang mengoleksi berbagai macam kerajinan khas, di kampung ini dapat membeli dengan harga yang lebih miring daripada yang dijual di toko.

Pasar seni

Pasar Seni yang paling terkenal adalah yang terletak di pinggir pantai Senggigi. Padahal selain disana, di dekat desa Sayang-Sayang, juga terdapat Pasar Seni yang koleksinya lengkap dan dijual dengan harga bersaing. Selain itu, lokasinya tidak jauh dari Cakra dan buka sampai malam hari.

Di semua lokasi yang saya kunjungi hari itu belum dikelola oleh pemerintah kota, tetapi oleh masyarakat secara swadaya. Memang tidak ada retribusi yang dipungut (kecuali Taman Narmada), akan tetapi  hampir di tiap lokasi, kami menghabiskan uang dalam jumlah yang jauh lebih banyak untuk sewa kain, guide, sumbangan, ataupun membeli sesaji. Ketiadaan brosur mengenai Pura juga membuat pengunjung mau tidak mau harus menggunakan jasa guide. Dan anehnya, hampir di tiap pura yang kami kunjungi, semua mengklaim sebagai pura yang tertua!

(to be continued…)

Tulisan Terbaru:

Cakra dan Ayam Taliwang


Hari Ketiga, Rabu, 18 Mei 2011

Waktu itu sebenarnya kami kekurangan jam tidur setelah semalam panik gara-gara ada salah satu toko yang kebakaran. Meski begitu sekitar jam 10.30 kami sudah siap bergabung dengan trip glass bottom boat. Pesertanya sekitar 60 orang (dan nampaknya cuma saya dan ketiga teman saya yang bukan bule -benar-benar menjadi turis di negeri sendiri-). Peserta dibagi dalam 3 kelompok, 3 boat.

plang glass bottom boat
plang glass bottom boat

Selama mengikuti rute, kami mengunjungi beberapa lokasi blue coral, bahkan di beberapa tempat kami dapat menyaksikan secara langsung kura-kura dengan santainya berenang di bawah kami. Terumbu karang dan serombongan ikan berwarna warni di laut yang begitu jernih memang begitu mengagumkan. Peserta di beri kesempatan untuk snorkeling sekitar 20 menit di tiap titik. Kabarnya, di perairan gili juga terdapat shark point. Sayangnya kami tidak dapat mengikuti keseluruhan trip. Karena tujuan akhir kami memang berhenti di Gili Air.

Gili Air dan Sang Kapten
Gili Air dan Sang Kapten

Sekitar jam 13.00 trip glass bottom boat sampai di Gili Air. Kami istirahat sekitar 2 jam di gili ini. Makan siang dan istirahat, sambil menunggu kondisi seorang teman yang mabuk laut lebih stabil karena kami mesti bersiap-siap lagi menyebrang langsung ke Pelabuhan Bangsal.

Setelah membeli tiket public boat seharga Rp 9.000,- per orang, kami harus menunggu quota tercukupi baru public boat-nya mau menyebrangkan kami. Quota-nya 20 orang, padahal yang membeli tiket baru kami berempat ditambah seorang bapak di belakang saya. Duh!

Waktu itu hari sudah sore. Mendung dan ombak lumayan besar. Akhirnya, public boat-nya penuh juga. Kami berebutan buru-buru naik untuk mendapatkan tempat duduk. Dan memang, tidak berapa lama hujan turun. Muatan penuh orang dan barang. Kapal yang bergoyang cukup keras membuat teman saya mabuk laut (lagi).

Saya sarankan, jika tidak terbiasa naik kapal kecil. Lebih baik memilih penyebrangan paling pagi. Pagi hari ombak tidak terlalu besar dan pada umumnya cuaca cerah dibandingkan penyebrangan sore hari.

Dari Pelabuhan Bangsal kami menuju Cakra melewati Hutan Pusuk yang terkenal dengan monyet-monyet yang jinak di sepanjang jalan. Sayangnya, hari itu hujan turun dengan deras. Jadi kami tidak bisa turun memberi makan monyet-monyet. Apalagi mengabadikan view ketiga gili yang terlihat dengan jelas dari atas Hutan Pusuk, jika langit sedang cerah.

Pusuk yang berarti puncak ini merupakan bagian kawasan Hutan Rinjani. Kebanyakan turis singgah sejenak di Pusuk sebelum menuju objek wisata lainnya di Lombok Utara. Umumnya, mereka turun dan memberi makan monyet-monyet yang nongkrong di pinggir jalan. Ada yang memberi kacang rebus, jagung rebus, pisang, bahkan roti.

Sesampai di Cakra, kami langsung menuju ke penginapan Wisma Nusantara II. Meskipun tidak high session, tapi termasuk sulit mendapat kamar di sini, itu karena sedang ada “Balapan Motor” di Mataram, sehingga semua kamar habis di-booking. Dengan sedikit memaksa, saya beralasan bahwa teman saya sedang sakit dan butuh kamar detik itu juga. Alhasil, kami langsung mendapat dua kamar bersih. Setelah itupun kami langsung beristirahat.

Wisma Nusantara II beralamat di Jalan Beo No.10-12 Cakranegara. Dari Mataram Mall bagian depan bisa berjalan kaki 250-an meter ke arah timur menyusuri Jalan Pejanggik, lalu belok kiri dan berjalan 50 meter dari perempatan seberang Ruby Supermarket. Fasilitas: Double bed non-AC seharga Rp 50.000,-, ceiling fan, welcome drink, meja, dan lemari. Kamar ber-AC seharga Rp 85.000,-. tempat tidur dan kamar mandinya amat bersih. tidak ada air panas. di teras depan kamar juga tersedia dua buah kursi dan sebuah meja bambu untuk bersantai.

Setelah maghrib, perut kami menuntut untuk segera di isi. Cakra adalah sebuah kawasan sebagai pusat perdagangan teramai di Lombok. Banyak terdapat rumah makan dan hotel melati di sini. Pada malam hari, kawasan ini ramai oleh warung tenda. Jadi tinggal di daerah Cakra sangat menyenangkan. Selain itu, ini kawasan yang sangat strategis. penginapan kami dekat dengan Pasar lokal, Pasar Burung, Rumah Sakit, Bank, Mataram Mall, dan toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Lombok. Sehingga apapun tersedia.

Malam itu kami mencoba menu ayam taliwang di Rumah Makan Taliwang Jalan A.A. Gde Ngurah 26 Cakranegara, dekat Gapura Pasar Cakra. Alasannya sih simple, Pak Bondan “Wisata Kuliner” pernah meliput rumah makan ini. (dan kata teman kuliah saya yang penduduk lokal, Rumah Makan ini yang tertua di Cakra). Jadi, sah ajah saya memaksa teman-teman makan di sini. Huehehe!

ayam taliwang, beberok, dan es kelapa muda
ayam taliwang, beberok, dan es kelapa muda

Dinamakan ayam taliwang karena warung yang pertama kali jualan menu ini terdapat di Kampung Taliwang, Cakranegara. Sebagian besar penduduk kampong ini berasal dari Kecamatan Taliwang, Sumbawa Barat. Ciri khas Ayam Taliwang adalah jenis ayam dan bumbunya. Jenis ayam adalah ayam kampong yang masih muda. Bumbunya dinamakan pelalah yang tidak terlalu pedas. Namun, bumbu sambal yang lebih pedas selalu disertakan dalam paket makanan.

(to be continued…)

Tulisan Terbaru:

Seikerei


by: Tiara Eri Safita

Pernah denger kata “Seikerei”?

Kalo belum pernah denger, nyoook kita kilas balik jaman SMA😉 Pas kita kelas 2 SMA, pernah belajar sejarah khan? ayo coba yang ga pernah belajar sejarah tunjuk tangaaan!

Nah, kalo kita kembali lagi buka buku, kelas 2 SMA kita belajar tentang masa pendudukan Jepang. Restorasi Meiji menjadikan agama Shinto sebagai agama negara di Jepang. Dalam agama ini, mereka percaya bahwa Kaisar mereka adalah keturunan raja matahari bernama Amaterasu yang tinggal di puncak Gunung Fujiyama. Itu sebabnya di Jepang, gunung Fujiyama sangat dihormati.

PD II adalah masa dimana Jepang hadir sebagai negara imperialisme baru dengan menguasai negara-negara yang ada di Asia, salah satunya Indonesia. Jepang pertama kali mendarat di Tarakan, Kalimantan. Dari sinilah kemudian Jepang menguasai wilayah nusantara.

Pada saat Jepang telah menguasai Nusantara (yang sekarang bernama Indonesia) ada banyak hal yang kemudian Jepang paksakan untuk kita terima, salah satunya kepercayaan. Orang Jepang percaya menghormati matahari selama 15 menit di pagi hari adalah salah satu cara menghormati Kaisar mereka, yang notabene dipercaya keturunan Dewa Matahari.

Memang di masa pendudukan Jepang, kita –rakyat jelata– yg dulu pas jaman pendudukan Hindia Belanda ga boleh sekolah, akhirnya diperbolehkan mengenyam pendidikan. Tapi itu semua dengan banyak syarat.

Beberapa syaratnya kita harus menjadikan bahasa Jepang sebagai bahasa pengantar kegiatan belajar mengajar, mengibarkan bendera Jepang disebelah Sang Saka Merah Putih, menyanyikan kimigayo setelah Indonesia Raya, dan yang paling banyak ditentang pemuka agama Islam adalah setelah upacara pagi, kita harus menghormat kepada Matahari.

Ritual menghormati matahari inilah yang dinamakan Seikerei. Tentu saja, ritual menjura pada matahari ditentang oleh banyak Kyai, karena dianggap bertentangan dengan Islam. Ada banyak pemberontakkan yang muncul, akan tetapi yang paling populer dan sering disebutkan dalam buku sejarah adalah pemberontakkan KH Zainal Mustafa dari Sukamanah, Singaparna Jawa Barat yang tidak mau menjura pada matahari.

Jepang pun menggempur pesantren kecil ini. Di akhir cerita, selain pesantren yang rata dengan tanah. Sang Kyai pun disiksa dan dihukum mati. Jenasahnya dimakamkan di Ancol.

Kenapa saya menuliskan ini? entah kenapa gambar ini membuat daya imajinasi saya berpikir liar dan berakhir pada satu kata “seikerei”.

Menjura pada matahari melayangkan pikiran saya pada sebuah film India berjudul “Mohabbatein”, di salah satu adegan Amitabh Bachan seperti melakukan tai chi (senam pernafasan) di temani Shah Rukh Khan, ada beberapa pose yang membuat saya berpikir di akhir adegan mereka menjura pada matahari.

Saya tidak tau apakah di dalam Hindu juga mengenal ritual ini. Hindu memang memuja Dewa Matahari, hanya saja tangan terbuka dalam menerima sinar matahari yang dipraktekkan oleh Amitabh Bachan dan Shah Rukh Khan dalam film itu adalah penggambaran dari penerimaan kita akan kasih Tuhan untuk semangat melanjutkan hidup, menampung sebuah energi positif dari sinar matahari kemudian di implementasikan menjadi sebuah sikap optimisme dalam hidup.

Tapi bagaimanapun sudut pandang kita –baik dari sudut pandang muslim, maupun non Islam– saat ini menunggu matahari terbit di pantai adalah sebuah fenomena tersendiri. Di Jogja sendiri, di beberapa pantai tiap pagi ramai pengunjung yang melakukan olahraga pernafasan yang sama dengan yang dilakukan oleh Amitabh Bachan dan Shah Rukh Khan. Ga tau juga sich apakah mereka sealiran ato ga. Huehe. Hanya saja, udara segar pantai dan hangatnya sinar matahari-lah yang saya rasa men-sugesti mereka untuk sembuh😉 Wallahualam.

*gambar sunrise di ambil di Gili Trawangan

Tulisan Terbaru: