Kopi Jo Fermentasi


Saya yakin, Anda sudah pernah ke Pasar Kangen Jogja. Pasti sudah pernah nyobain Kopi Jo.

Pasar Kangen Jogja di tahun 2016 kali ini adalah pasar kangen ke-9. Betapa cepat waktu berlalu ya?

9 tahun yg lalu, pertama saya kenal Pak Jo, peracik kopi ber-rum ini. Saya ingat, Chandra waktu itu masih mahasiswa hingga kini dia telah bekerja.

Pernah juga kami membeli kopi Jo di jalan Damai, sebuah warung kopi yg pernah beliau buka. Yg tak lama kemudian pun, kukut 😂

Sebenarnya, saya hanya jumpa Kopi Jo di event-event saja. Barangkali karena begitu, saya selalu kangen dengan kopi racikan beliau.

Saya orang yg sangat penasaran dgn kopi apa yg beliau pakai, berapa banyak, mencari dimana. Kemudian tehnya beli dimana? Huahaha 😂 saya orang yg banyak tanya ya

Kopi yg kali ini saya posting adalah Kopi Fermentasi. Fermentasi? Hah. Kok bisa? 😂 penasaran kan?

Kopi ini tidak dijual ke semua orang. Hanya tertentu dan hanya jika Anda bertanya.

Kopi ini hasil fermentasi 3,5 bulan. Rasanya asam semriwing. Mampir dan cobalah.

#PasarKangenJogja – with Chandra and Andika at Taman Budaya Yogyakarta

View on Path

Nikmatnya Wedang Kopi


Semoga kalian tau, sblm jadi kopi yg nikmat. Biji kopi mengalami proses yg panjang.

Nah, ini lho kulit cangkang biji kopi. Ini lagi proses awal dari mengeluarkan biji dari cangkangnya. Paling gampang ya di jemur. Terus di tumbuk biar biji lepas dari cangkang.

Jemurnya dimana? Ya sak selone 😂 Di beberapa desa di Lampung, jemurnya di jalanan aspal. Selain karena aspal penghantar panas yg super, mobil yg lewat juga akan menghancurkan cangkang sehingga biji kopi lepas.

Percayalah, aromanya memenuhi atmosfer. Kayak lewat di negri kopi 😂

Di dalam cangkang tsb, ada biji kopi yg perlu dijemur lagi. Biji kopi inilah yg dikirim kemana-mana ke seluruh penjuru dunia yg membutuhkan kenikmatannya.

Fyi, yg jadi wedang kopi itu dari biji kopi, bukan daging buahnya. Terus daging buahnya dimana?

Huehehe 😂 lain edisi kudu belajar lagi ya. Biar tau capeknya jadi petani kopi.

View on Path

Memilah Biji Kopi


Memilah Biji Kopi

Jaman saya kecil, hidup saya ga jauh-jauh dari memilah kopi dari kulitnya, jemur kopi, giling kopi. Pekerjaan sehari-hari yg saking sehari-harinya sampe sebel melakukannya.

Anehnya, setelah menetap di Jogja, pekerjaan macam ini jadi trend tersendiri 😂

Nah, kalo biasanya saya terima beres, dari biji kopi udah jadi bubuk kopi. Kali ini, saya mendapat request dari bbrp teman untuk membawakan biji kopi. Yang satu minta dikirim ke Pekanbaru, yg satu di Pontianak, yg satu lagi Semarang.

Saya membeli biji kopi ini setelah sholat subuh. Kopinya masih dari petani pertama, jadi masih belum di sortir. Setelah ini baru akan di pilah. Dipilahnya juga ga satu-satu, takutnya nanti saya lumutan kalo memilah satu-satu.

Memilahnya menggunakan cara lokal, di ayak pake tampah.

Jadi inget, kemarin ada selebtuit yg bahkan ga bisa bedain, mana tampah mana saringan?

Terus sempet ditanya, “tampah itu buat ngayak beras kan, ya?”

Duh, kamu sungguh orang kota sekali, kak. Saya kasih tau ya, tampah itu multifungsi. Tampah bisa buat ngayak beras, kopi, kacang tanah. Bisa buat tempat sayur mentah sebelum dipetik, sblm dirajang. Bahkan tampah bisa dipakai buat ngangkut banyak makanan, jajanan.

Kamu tau ga, di sini beberapa bakul pecel itu jualan pake tampah, bakul pempek yg keliling itu juga pake tampah lho. Diletakkan diatas kepala.

Ibu-ibu PKK disini, suka bikin nasi tumpeng diatas tampah.

Betapa sebenarnya, tampah adalah penemuan orang Indonesia paling spektakuler.

Saya ajah jemur kopi pake tampah 😂

Semalam liat bahasan warkop di Belitung. Belitung tidak menghasilkan kopi. Kopi yg beredar disana rata-rata Kopi Lampung yg di kemas ulang.

Saya sendiri, sebenarnya lebih suka Kopi Semendo. Semendo adalah nama suku yg tinggal di kawasan perbatasan Lampung – Sumatera Selatan. Rasa Kopinya khas.

Dulu, jaman SD, saya kalo liburan sekolah menghabiskan waktu tinggal di Muara Dua. Daerah orang Semendo. Kopi dan Duren tiap pagi buat sarapan.

Lupa gimana bahasa lokalnya, tapi ga lupa piye rasanya 😂 ahihihik

Selamat Liburan, Selamat Ngopi. – with Nh Maysuri, Taufik, and Dodon

View on Path

[Culinary] Ning Ratri Jogja


Sebelum Februari berakhir, saya ingin menulis sesuatu yang melankolis 😉

Ning RatriPernah denger Ning Ratri? Jika anda sekitar tahun 2007-2009 hidup di Jogja, khususnya sekitar area jakal km 5,5 anda pasti sering mendengar nama ini.

Ning Ratri yang terletak di sebrang jalan Omega Motor, merupakan warung kopi 24 jam dengan harga mahasiswa.

Ning Ratri

Dulu di Jogja masih jarang sekali warung kopi. Tapi bukan berarti tidak ada. Jogja sangat terkenal dengan kopi joss di daerah Tugu atau acara ngopi di angkringan.

Sekitar tahun 2000-an, Blandongan tampil berbeda. Menciptakan suasana ngopi tersendiri. Semenjak itu warung kopi bermuculan, terutama di daerah belakang  amplaz, semua sawah dan mbulak tiba-tiba saja disulap menjadi kampung warkop 😉

Ning Ratri

Ning Ratri

Blandongan, sebagai ikon warung kopi, menciptakan warna tersendiri dalam kehidupan malam para mahasiswa di Jogja, bukan itu saja, Blandongan menciptakan komunitas tersendiri, menyelamatkan anak bangsa dari kekurangan kopi! Jadi siapa yang ga pernah ngopi di Blandongan? ayooo tunjuk tangan 😉

Seiring dengan suksesnya Blandongan, banyak warung kopi lain yang lahir dengan mengusung konsep yang hampir sama. Salah satunya Ning Ratri!

Ning Ratri

Ning Ratri

Saya sendiri kenal Ning Ratri, karena selain letaknya dekat rumah, Ning Ratri menjual menu dengan harga mahasiswa 😉

Di tempat ngopi ini, saya punya banyak kenangan bersama teman-teman, mulai dari sekedar ngobrol ngalor ngidul ga jelas hingga pembicaraan mengenai penelitian kami, pulung gantung!

Ruangan Ning Ratri yang tak terlalu luas, kadang terlalu full untuk menampung kami. Ruangan yang full asap rokok, jujur saja, membuat kami malas berlama-lama, tapi harga yang murah dan kopi yang enak buat lidah, tentu saja membuat kami kembali lagi 😉

Orang-orang seperti saya dan teman-teman yang bernasib sama (baca: mahasiswa kere) banyak menjejali Ning Ratri untuk sekedar sharing pengalaman tentang galaunya kami menjadi mahasiswa tingkat akhir.

Ning Ratri

Sayangnya, sekitar awal tahun 2010, saya sudah tidak lagi melihat Ning Ratri. Warung kopi ini tutup dan diganti sebuah salon refleksi yang sepi. Sampai saat ini, kami masih penasaran Ning Ratri pindah kemana. Mungkin saja para pemiliknya sudah lulus kuliah dan membuka warung kopi di daerah asal mereka. Kami tidak tahu banyak, cuma asal menebak.

Entah kenapa, sampai sekarang setiap kami melewati “bekas lokasi” Ning Ratri, kami selalu bertanya-tanya, kemanakah Ning Ratri sekarang.

Barangkali dari kalian ada yang tahu? 😉

Tulisan Terbaru:

[Culinary] nyeruput koffie ala Kopi Tiam Oey di Jogja


Sekitar awal Agustus yang lalu, saya dan ke-5 teman memang sengaja janjian untuk nonton Transformer 3D di XXI. Berhubung film-nya dimulai setelah maghrib, maka otomatis kami keluar dari bioskop dengan perut kelaparan.

Setelah berdiskusi sebentar, kami memutuskan untuk mencoba Kopi Tiam Oey (biasa cuma disebut KTO) yang baru saja buka awal Agustus di jalan Wolter Monginsidi (sebelah Takigawa Resto).

Lijst makanan & minoeman

Saya sendiri sangat sering lewat jalan Wolter Monginsidi ini. Daerah ini sering disebut juga dengan kawasan Cemoro Jajar, nama daerah yang menurut saya sangat keren, karena saya selalu membayangkan bahwa dahulu kala di sini pasti banyak sekali pohon cemara yang berjajar sepanjang jalan.

Daerah Cemara Jajar memang termasuk daerah tua. Itu bisa dilihat dengan banyaknya bangunan bergaya rumah Belanda disini. Nah, karena pada umumnya bangunan KTO di kota lain mengusung konsep Tempo Doeloe, mungkin itu yang jadi salah satu alasan kenapa KTO Jogja memilih kawasan Cemoro Jajar sebagai kawasan yang cocok untuk membuka cabang ke-9 dengan mempergunakan bangunan heritage rumah Belanda sebagai coffee shop-nya.

for your information, rumah Belanda yang dipakai sebagai coffee shop ini dibangun tahun 1923. Jadul banget khan!

suasana salah satu ruang di KTO Jogja
suasana di KTO Jogja

Pertama kali masuk ke coffee shop yang mengusung tagline “Koffie Mantep Harganja Djoejoer” ini, saya seperti masuk ke kehidupan di era oma opa kita. Wow, atmosphere-nya banget banget banget terasa jadul! Di tambah lagi lagu keroncong yang mendayu-dayu, duwh saya jadi membayangkan kisah-kisah dalam buku-nya Pram!

Istilah “Kopitiam” sendiri dalam dialek Hokkien berbarti “warung kopi” yang sebenarnya dilafalkan “ka” “fe” “tien”. Nama “Kopitiam Oey” (dibaca “kopitiam wi”) adalah plesetan dari nama “Kopitiam Winarno”.

lodong-lodong bergaya vintage

Nah, waktu itu kami ber-6 mendapatkan sebuah meja bundar yang terbuat dari marmer untuk 4 orang, dan ditambah sebuah meja bundar marmer untuk 2 orang yang lain, dengan tempat duduk kayu bergaya antik.

Kami diberi buku menu dengan cover berkain dengan motif khas Cina, begitu membaca Lijs, kami dipaksa membaca tulisan dalam Bahasa Indonesia ejaan lama seperti: Ijs Cappuccino, Ijs Kopi Soesoe Indotjina, Ijs Kopi Sisiliana, Kopi Toebroek Djawa, Ijs Teh Limaoe, Ijs Teh Daon Mint, Teh Taloea Boekittingi, Teh Tjeloep, Teh Wangi Tjap Potji, Teh Toebroek Tjap Blotank Chai atawa Teh Boemboe India, Djoes Apel atau Djoes Djeroek.

Ada juga menu spesial khas Jogja seperti: Brongkos Beringharjo, Gudeg Manggar Bantul dan Bakmi Jawa.

Berhubung saya datang ke KTO pas bulan puasa, dan saya sempat “curcol” pada mas waitress-nya kalo kami sama sekali belum makan apapun, alhasil kami mendapatkan  Ijs Tjingtjao Djahe Tjikini sebagai takjil gratiss! uhuy.

Ijs Tjingtjao Djahe Tjikini

Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, seperti Ijs Kopie Soesoe Indotjina, Ijs Teh Limaoe, Ijs Teh Daon Mint, Nasi Goreng Kambing, dan beberapa makanan lain (yang saya lupa namanya), seorang waitres menggunakan  ipad langsung mengorder pesanan kami.

ijs kopie indotjina

Berhubung namanya adalah Kopi Tiam, maka hal pertama yang saya coba adalah koffie-nya. Waktu itu pilihan saya jatuh pada Ijs Kopi Soesoe Indotjina. Sempat disarankan oleh mas waitress-nya agar tidak meminum Ijs Kopi Soesoe Indotjina untuk berbuka, karena rasa koffie-nya yang kuat terkadang beberapa pembeli tidak tahan pada tingkat keasaman koffie-nya.

Ijs Kopi Soesoe Indotjina sendiri sangatlah unik karena dibuat dengan menggunakan teknik dripping, air koffie akan menetes dari saringan khusus ala Vietnam.  Esnya sengaja dipisah dari koffie susu agar tidak menghilangkan cita rasa aslinya.

nasi goreng kambing

Sayangnya, meskipun makanan di KTO taste-nya enak, akan tetapi terlalu sedikit porsinya untuk perut kami. Jadi akhirnya kami menambah beberapa menu makanan lagi seperti Nasi Tim Ajam dan Roti Prata.

Roti Prata

Sekali lagi, saya lebih suka menyebut Kopi Tiam Oey sebagai coffee shop, dibandingkan resto. Karena memang tujuan utama datang ke tempat itu adalah untuk ngopi, bukan makan makanan berat. Jikapun KTO menyediakan makanan berat, itu hanya sekedar pelengkap “rendevous” suasana-nya ajah!

Yang saya tahu, KTO buka setiap hari mulai dari jam 07.00 sampai jam 00.00 WIB. So, bagi teman-teman yang ingin suasana baru dalam melaksanakan ritual ngopi, Kopi Tiam Oey bisa dijadikan salah satu alternatif di Jogja.

Selamat Mencoba!

Tulisan Terbaru: