[Culinary] Sate Bulayak Lombok


Kalo Jogja terkenal dengan Sate Klatak-nya, maka di Lombok ada sate yang menurut saya sangat perlu dicoba jika anda berkunjung ke Lombok, yaitu Sate Bulayak!

Sate Bulayak di Pura Lingsar Lombok
Sate Bulayak di Pura Lingsar Lombok

Sate Bulayak bisa ditemukan di Jalan Udayana yang sangat terkenal di Mataram. Tapi saya mau cerita Sate Bulayak yang paling enak di Lombok, yaitu di sekitar Pura Lingsar.

Pura Lingsar
Pura Lingsar

Untuk menuju Pura Lingsar, kita akan melewati persawahan yang hijau terhampar. Di halaman parkir Pura Lingsar, bisa kita temukan banyak sekali penjual Sate Bulayak. Tinggal pilih mau yang mana😉

Sate Bulayak
Sate Bulayak

Yang disebut Bulayak itu, sebenarnya sejenis lontong yang dibungkus dengan daun kelapa (janur) yang dililit-lilit seperti spiral. Orang Jawa menyebutnya lontong, bedanya lontong yang kita kenal biasanya dibungkus daun pisang. Lontong modern malah cuma dibungkus plastik doank😉

Nah, Bulayak ini rasanya hampir sama dengan ketupat. Hanya saja kalo ketupat kan berbentuk segi empat, kalo Bulayak lonjong kecil. Karena bentuknya yang kecil panjang., rasanya jauh lebih lembut tapi ga jemek jika dibandingkan dengan makan ketupat.

Sate Bulayak
Sate Bulayak

Bulayak biasanya dimakan dengan sate, makanya namanya Sate Bulayak. Dengan harga 15ribu saya mendapat 6 bulayak dan 15 tusuk sate. Satenya pun bermacam-macam, tinggal mau pilih pake sate daging apa.

Sate Bulayak
Sate Bulayak

Mau tau rasanya? Wiiihhhh yummy! Apalagi makannya dibawah pohon ketapang, di pinggir sawah dengan angin sepoy-sepoy😉 Pokoknya Lombok is The Best lah!

–Selamat Mencoba–

Tulisan Terbaru:

[Culinary] Pecel Lele Lela


Buat saya pribadi sich, Bali itu surga makanan😉 mau nyari makanan jenis apapun pasti ada. Sebaliknya, bagi teman-teman saya, Bali itu kekurangannya mung satu, yaitu susah nyari makanan halal. Meskipun dalam kenyataannya tidak begitu.

Biasanya teman-teman kalo nyari menu halal pasti perginya ke Mall, khususnya tempat makan ber-franchise ayam luar negeri yang konon kabarnya dijamin halal. Saya sendiri, karena ga terlalu suka makanan junk food, jadi ga seberapa tertarik makan di tempat-tempat kayak itu.

Nah, berhubung saya menginap di Kuta, salah satu tempat makan yang memenuhi “standar” teman-teman yaitu Pecel Lele Lela.

Pecel Lele LELA
Pecel Lele LELA

Pecel Lele Lela ini letaknya ga jauh dari hotel saya, tepatnya di jalan Blambangan no.61 Kuta Bali. Petunjuknya gampang, cari saja Swalayan Supernova. Pecel Lele Lela terletak di belakang Supernova. Saya sendiri cukup jalan kaki untuk makan disini😉

Sebenarnya Pecel Lele Lela ini bukan hal baru buat saya. Pertama melihatnya malah di acara #KickAndi. Pecel Lele LELA merupakan singkatan dari Pecel Lele LEbih LAku. Di Jogja sendiri, sebenernya juga ada. Tapi sayangnya, karena saya ga seberapa doyan lele, ya ga pernah nyoba😉

Pecel Lele LELA
Pecel Lele LELA

Kemarin, pas saya datang, saya pesan Lele Fillet Lada Hitam dan Yoghurt Lela. Yoghurtnya itu lhooo, maknyuuuzzz😉

Yoghurt LELA
Yoghurt LELA

Saya sendiri meski tidak terlalu tertarik pada menu lele. Tapi cukup senang pas makan disini. Warna ngejreng rumah makan ini membuat suasana segar dan menyenangkan, ditambah lagi teriakan “Selamat Pagi, Selamat Datang di Pecel Lele Lela!” saat kita datang, membuat saya selalu terkaget-kaget pas masuk rumah makan ini.

Uniknya lagi, setiap pengunjung yang bernama Lela (tanpa sambungan apapun) bisa “Makan Gratis Seumur Hidup” di Pecel Lele Lela.

Plus, pengunjung yang sedang berulang tahun juga bisa “Makan Gratis” di Pecel Lele Lela, hanya dengan menunjukan KTP atau Tanda Pengenal lainnya😉 Sedihnya saya ga punya teman bernama Lela. Jadi, nunggu ultah biar bisa makan gratisss disini *wih kapannn ituhhhh?*

–Selamat Mencoba–

Tulisan Terbaru:

[Trip] Ground Zero Memorial Legian


Malam sebelum balik ke Jogja, ada sebuah tempat yang wajib dikunjungi malam-malam, Ground Zero Memorial di daerah Legian!

Tempat ini ga jauh dari pantai Kuta, artinya ga jauh dari hotel tempat saya menginap. So, mblusukkan di legian, wajib hukumnya😉

Ditemani mas-mas warga lokal, saya dibonceng mblusukkan menuju Ground Zero melalui jalan-jalan tikus yang jarang diketahui wisatawan dalam negeri, ya kecuali warga lokal yang emang rumahnya daerah sana😉 soalnya jalannya nyelip-nyelip lewat kawasan penginapan yang mengingatkanku akan kampung bule di Gili Trawangan.

Ground Zero Memorial Legian
Ground Zero Memorial Legian

Bangunan Ground Zero Memorial Legian merupakan hasil desain dari Ir Wayan Gomudha yang baru diresmikan tanggal 12 Oktober 2004 untuk mengenang korban bom bali.

Ground Zero Memorial terdiri dari berbagai unsur seperti altar, prasasti, tiang bendera, kayonan, tugu, tri kona nemu gelang, dan kolam. Masing-masing unsur memiliki makna tersendiri.

Altar berarti tempat sesaji dalam memberi penghormatan, prasasti memuat seluruh nama korban, tiang bendera menjadi penanda asal negara seluruh korban, kayonan (ukiran seperti gunungan dalam pewayangan) artinya kehendak yang seharusnya dikendalikan, tri kona nemu gelang (tembok berbentuk setengah lingkaran seperti gelang sebanyak tiga posisi) artinya simbol kehidupan, sedangkan kolam yang berada di tengah itu berbentuk bulat dengan sembilan air mancur sebagai simbol kumbanda (roh).

Jalanan di persimpangann Ground Zero Memorial
Jalanan di persimpangann Ground Zero Memorial

Selain Ground Zero Memorial, Legian menarik minat didatangi untuk “di-intip” kehidupan malamnya. Berbagai macam toko yang menjual barang-barang ber-merk memenuhi jalanan ini.

Saya pun diajak teman menyusuri jalanan Legian yang ditiap kafe memasang musik ajeb-ajeb dengan musik yang berbeda tapi dengan volume suara yang mampu menghentak jantung.

Wah, tiba-tiba saja saya inget malam-malam di Gili Trawangan. Kafe-kafe full music penuh dengan cewek-cewek seksi berjoget. Bedanya di Gili Trawangan kita bisa menyusuri masing-masing kafe sambil menikmati pantai. Di Bali, saya menyusuri Legian sambil liat toko-toko ber-merk yang bikin ngiler😉

–Selamat Jalan-Jalan–

Tulisan Terbaru:

[Notes] Mitos Ikan Keberuntungan


Apa yang khas kalo kita datang ke sebuah tempat suci yang banyak kolamnya? Pastinya mitos Ikan Keberuntungan!

Nah, pas saya ke Bali, saya dapat cerita dari salah satu juragan yang habis jalan-jalan ke Pura Tirta Empul di Tampak Siring. Juragan saya happy banget, karena pas dia datang, dia bisa ngeliat ikan yang konon menurut guide, merupakan ikan keberuntungan.

Pura Tirta Empul Tampak Siring
Pura Tirta Empul Tampak Siring

Kejadian ini membuat saya berpikir, ternyata di Indonesia, ada banyak sekali mitos tentang ikan keberuntungan. Pura Tirta Empul di Tampak Siring salah satunya. Di tempat ini terdapat banyak kolam yang didalamnya hidup beberapa ikan. Tapi ada salah satu kolam, jika kita bisa melihat ikannya, maka dianggap membawa keberuntungan. Kalo dilogika, ya iyalah. Lha wong ikannya jarang nongol. Sekalinya nongol dan kita pas liat. Jelas beruntung. Beruntung bisa liat ikannya maksudnya!😉

Pura Tirta Empul Tampak Siring
Pura Tirta Empul Tampak Siring

Mitos lainnya, ikan keberuntungan di Pura Lingsar. Di dalam Pura Lingsar, di salah satu kolamnya, terdapat ikan julit (ikan yang mirip belut) yang berumur ratusan tahun. Para guide menyebutnya ikan tuna, bukan karena jenisnya tuna. Tapi konon, dulu seorang turis dari Italia menyebutnya ikan fortuna (ikan keberuntungan), mungkin karena itu dipanggil menjadi “tuna”.

Apabila seseorang mengunjungi kolam ini dan ikan tersebut kebetulan keluar, ini menandakan keberuntungan bagi pengunjung tersebut. Karenanya, para pengunjung biasanya menggunakan berbagai cara agar ikan tersebut bisa keluar, salah satunya meminta tolong juru kunci kolam untuk memanggil ikan keberuntungan keluar dengan umpan sebutir telur.

Lain cerita di tanah Jawa, di Jogja tepatnya di makam para raja Mataram yaitu di Imogiri. Di salah satu kolamnya terdapat ikan seperti ikan lele yang berumur ratusan tahun. Ikan ini dikeramatkan. Alkisah –jare simbah– Panembahan Senopati suatu hari makan dengan menu ikan, saking saktinya ikan yang telah beliau makan dan hanya bersisa tulangnya tersebut, dimasukkannnya ke dalam kolam. Dan dengan mengucapkan beberapa doa pada Yang Maha Kuasa, tulang ikan tersebut bergerak dan hidup kembali menjadi ikan biasa, bahkan konon meski ikan tersebut telah pulih hidup kemballi, akan tetapi kita tetap bisa melihat tulang-tulangnya secara langsung.

Meski cuma mitos, akan tetapi dongeng ini diceritakan turun temurun. Di Imogiri sendiri, terdapat kolam yang berisi ikan berbentuk ikan lele yang sangat besar dan berwarna bening. Saya juga ga mengerti, apakah ikan tersebut yang dimaksud dalam dongeng. Tapi, terakhir saya datang ke sana, tempat itu menjadi salah satu tempat yang di ziarahi warga dan dijadikan salah satu tempat untuk ngalap berkah😉

Lain cerita di Lamongan, disana malah ada larangan makan ikan lele. Larangan ini terkait legenda Sumpah Ronggohadi, bahwa beliau dan semua keturunannya tidak akan pernah makan lele seumur hidup sebagai bentuk terimakasih karena pernah diselamatkan oleh lele dalam sebuah pengejaran oleh warga.

Selain yang saya ceritakan di atas, ada banyak cerita tentang mitos ikan di wilayah Nusantara. Cerita-cerita seperti ini sangat umum terjadi sebagai sebuah asimilasi dari budaya Hindu-Budha yang dibawa oleh orang India dan China kemudian berbaur bersama budaya kita.

Menurut Buddhisme, ikan melambangkan kebahagiaan, kesuburan dan kekayaan (berlimpah-ruah).

Di negeri China, ikan mas melambangkan kesatuan dan kesetiaan hubungan perkawinan, bahkan sepasang ikan sering dijadikan hadiah pernikahan.

Meski saya tidak percaya pada mitos tentang ikan, saya selalu menyukai cerita semacam ini. Buat saya, menghormati ikan (mahluk hidup) sebagai bagian dari menghormati alam. Penghormatan ini bagian dari melestarikan alam. Karena percayalah, disebuah mata air yang hidup banyak ikan. Jika kita membunuh semua ikan, bahkan hingga benih-benih ikan dalam mata air tersebut mati, maka lama kelamaan mata air-nya pun akan mati. Mahluk hidup dan air menciptakan keseimbangan tersendiri bagi alam. Sesuatu yang terkadang tak pernah dimengerti oleh perut manusia yang selalu lapar dan serakah😉

Tulisan Terbaru:

[Notes] Larangan membuang koin di Pura Tirta Empul


Pas jalan-jalan ke Pura Tirta Empul di Tampak Siring ada sesuatu yang menarik perhatian saya, yaitu adanya larangan membuang uang logam ke dalam kolam ikan.

Larangan melempar koin ke dalam kolam
Larangan melempar koin ke dalam kolam

Buat saya ini menarik, karena keberadaan larangan ini sangat kontras dengan apa yang saya lihat pas liburan ke Lombok.

Seperti kita tahu, Lombok memiliki atmosfer yang hampir sama dengan Bali, dari pura yang indah, sampai pantai yang memukau. Dalam beberapa hal, bahkan saya berpendapat jika berlibur ke Lombok jauh lebih baik jika dibandingkan ke Bali.

Dalam ingatan saya, ada salah satu pura yang sangat terkenal di Lombok, yaitu Pura Lingsar. Pura Lingsar memang terletak tidak jauh dari Mataram, pusat pemerintahan Lombok. Hanya saja, juga tidak bisa dibilang dekat. Meski bisa ditempuh dengan angkot, tapi saya lebih suka mblusukkan naek motor ke daerah sana😉

Tentu saja, wisatawan yang datang ke Pura Lingsar kebanyakan datang dari Luar Negeri daripada wisatawan dalam negeri. Kecuali, warga lokal yang memang datang untuk berdoa di dalam pura.

Lonely Planet-lah yang mem-populerkan Pura Lingsar menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika datang ke Lombok.

Di salah satu kolam suci di Pura Lingsar yang dipagar, guide yang memandu kami menceritakan sebuah ritual yang sangat terkenal di kalangan wisatawan luar negeri, yaitu ritual melempar uang logam (koin) ke kolam sambil membalikan badan.

Sambil melempar uang logam tersebut, kita sebutkan nama pasangan kita. Jika jatuh tepat ke dalam air, tanpa ada bunyi terbentur ke tembok kolam, maka dianggap permohonan kita terkabul. Sebaliknya, jika koin yang kita lempar membentur tembok di salah satu sisi kolam, maka itu pertanda kita ga berjodoh dengan nama pasangan yang kita sebut. Meski nampaknya mudah, sayangnya saya ga berhasil dalam lemparan pertama😉 Nyehehe! *korban mitos*

Pura Lingsar Lombok
Pura Lingsar Lombok

Lalu sejak kapan ritual seperti ini muncul? sayangnya, guide kami ga bisa menjelaskan. Tapi menurut saya, dari sejarah yang diceritakan dari awal oleh guide, bisa diperkirakan, ritual macam ini muncul dengan banyaknya tamu Italia yang berkunjung ke Pura Lingsar.

Apalagi, terkait dengan cerita “ikan keberuntungan” bernama Tuna. Ikan ini tidak berasal dari jenis Ikan Tuna, akan tetapi nama “Tuna” berasal dari “Fortuna” yang berarti Keberuntungan. Nama ini diberikan oleh wisatawan Italia yang konon pertama kali berkunjung ke Pura Lingsar.

Jika di pikir-pikir, asimilasi ritual melempar koin dari turis Italia yang umumnya datang ke pura ini, kemungkinannya selalu ada. Di Italia sendiri, ritual melempar koin sangat terkenal bahkan bagian dari ikon pariwisata mereka.

Seperti yang ditulis dalam brosur-brosur wisata Roma, banyak pasangan kekasih ataupun pasangan honeymoon yang sengaja datang ke Roma khusus untuk mengunjungi air mancur Trevi. Melempar koin di air mancur ini biasa disebut sebagai Fontana di Trevi.

Ada mitos tiga koin di air mancur Trevi. Pertama, lempar koin anda bila ingin kembali ke Roma. Caranya? koin harus dilempar dari tangan kanan hingga koin melewati bahu kiri dan masuk ke kolam. Setelah sukses koin pertama, silakan tambahkan satu koin lagi untuk kehidupan percintaan, dan koin ketiga yang dipercaya melanggengkan pernikahan. Nyahaha!😉

Kembali ke topik awal, lantas kenapa Pura Tirta Empul Tampak Siring memilih untuk menyingkirkan “mitos melempar koin”, menurut saya pribadi sih ya karena yang disucikan di Pura Tirta Empul kan airnya. Kalo airnya terkontaminasi dengan zat yang terkandung dari koin, ini akan mempengaruhi kesucian air, dalam arti khasiat murni air bersihnya akan hilang. Jelas-jelas umat Hindu percaya mata air Pura Tirta Empul itu berkhasiat untuk menghilangkan penyakit dan segala hal yang buruk, masa’ mau dikotori dengan zat yang terkandung dalam koin yang malah bikin penyakit? Serem juga kan minum air yang udah kotor gitu?

Kolam penuh koin di Pura Lingsar Lombok
Kolam penuh koin di Pura Lingsar Lombok

Nah, meski melempar koin cuma mitos dan bagian dari menarik wisatawan, tapi pariwisata kita wajib belajar dari Italia. Di Italia –asal muasal segala ritual melempar koin– kita semua bisa melihat bahwa zat yang terkandung dalam logam (koin), setelah bertahun-tahun ternyata mampu merusak ketahanan batu dari patung atau kolam. Jika di beberapa pura Indonesia, bisa ditambahkan juga dapat merusak citra “suci” dari pura yang bersangkutan.

Jadi memang ada baiknya larangan yang ada di Pura Tirta Empul Tampak Siring ini diikuti oleh pura-pura suci lainnya, terutama oleh kita, wisatawan yang datang berkunjung. Karena bagaimanapun juga, wisata pura seperti ini merupakan salah satu warisan budaya yang kudu tetep kita pelihara ke-orisinil-annya untuk anak cucu kita nantinya😉

Penasaran dengan mitos ini? Kalo iya, maka anda wajib datang sendiri ke tempat ini membuktikan kata-kata saya😉

Tulisan Terbaru: