[Trip] Pura Lingsar Lombok


Pura Lingsar. Saya berkali-kali menyebut tempat ini dalam beberapa tulisan saya sebelumnya. Pasti kalian penasaran Pura Lingsar itu kayak apa kan? Karena itu, kali ini saya akan mengulasnya untuk kalian 😉

Pura Lingsar terletak sekitar 15 km dari pusat Kota Mataram. Pura ini selain digunakan umat Hindu untuk beribadah, pura ini juga digunakan sebagai tempat sembahyang suku Sasak yang menganut Islam.

Dua penganut juga berarti dua sesajen yang berbeda. Umat Hindu menggunakan daun kelapa sebagai wadah sesajen, sedangkan warga Sasak memakai daun pisang. Bahkan secara rutin diadakan doa bersama dari berbagai pemeluk agama yang ada di Lombok.

Simbol toleransi, juga dilambangkan dengan aturan tak tertulis, bahwa siapa saja yang datang ke tempat suci itu, tak diperkenankan menghaturkan sesaji dari babi dan sapi. Babi haram bagi umat Islam, dan sapi dianggap suci oleh umat Hindu. Ini yang baru namanya toleransi beragama!

Salah satu ciri khas yang dimiliki Pura Lingsar adalah mata air yang sangat besar dan melimpah, dalam bahasa Bali disebut telaga ageng, sedangkan dari bahasa Sasaknya dikatakan sebagai aik mual.

Aik berarti “air” dan mual mengandung arti “melimpah keluar”. Lantaran itu pula Pura Lingsar kerap disebut oleh warga suku Sasak dengan sebutan Pura Aik Mual.

Dalam pura ini, dipercaya mengalir sebuah mata air yang dianggap suci oleh sebagian penduduk karena dipercaya mampu memberikan peruntungan.

Mata air ini juga menimbulkan mitos. Pertama, mitos tentang Ikan keberuntungan.

Di dalam mata air tersebut, hidup ikan julit (ikan yang mirip belut) berumur ratusan tahun. Para guide menyebutnya ikan tuna, bukan karena jenisnya tuna. Konon, dulu seorang turis dari Italia menyebutnya ikan fortuna (ikan keberuntungan), mungkin karena itu dipanggil menjadi “tuna”.

Apabila seseorang mengunjungi kolam ini dan ikan tersebut kebetulan keluar, ini menandakan keberuntungan bagi pengunjung tersebut. Karenanya, para pengunjung biasanya menggunakan berbagai cara untuk “memaksa” agar ikan tersebut bisa keluar, di antaranya memancingnya dengan sebutir telur.

Mitos kedua, melempar koin. Di kolam itu juga, ada ritual melempar uang logam (koin) ke kolam sambil membalikan badan. Sambil melempar uang logam, kita dapat memanjatkan keinginan kita. Karena kebanyakan yang berkunjung adalah anak-anak muda, maka biasanya permintaannya adalah minta jodoh. Huehe!

Mitos ketiga, menghitung batu keramat. Disamping kolam keberuntungan, ada sebuah tempat berisi batu-batu keramat yang dibungkus kain. Oleh guide, kami masing-masing diberi kesempatan menghitung jumlah batu, sebanyak tiga kali. Jika setelah menghitung sebanyak 3 kali, hitungan kami selalu sama, maka dipercaya akan mendapat keberuntungan!

Di Pura Lingsar, salah satu upacara  yang dilakukan bersama oleh umat Hindu dan Suku Sasak yang beragama Islam adalah Pujawali. Setiap purnama ning sasih kanem–menurut hitungan panangggalan Bali atau sekitar bulan Desember, upacara pujawali diselenggarakan.

Pujawali, di berbagai tempat lain pelaksanaannya dilakukan sepenuhnya oleh umat Hindu. Namun khusus di Pura Lingsar, upacara pujawali setempat dirangkai dengan tradisi perang topat. Sebuah tradisi yang pelaksanaannya didominasi masyarakat suku Sasak–penduduk asli Lombok, bersama masyarakat dari suku Bali yang telah turun temurun bermukim di Lombok.

Perang topat atau ketupat berlangsung bersamaan dengan upacara pujawali. Prosesinya pun tak bisa dipisahkan dari pelaksanaan upacara tahunan itu. Karena itu, hajatan besar ini dipuput Ida Pedanda (Pendeta Hindu).

Kalau tak ada pujawali, perang topat tak kan dilaksanakan karena perang topat satu rangkaian dengan pelaksanaan pujawali. Prosesi ini tak bisa dipisah-pisah.

”Peperangan” berlangsung beberapa menit, setelah itu, ketupat yang dijadikan peluru lalu dipungut kembali oleh peserta untuk dibawa pulang dan diletakkan di sawah. Dalam perang topat, wanita yang sedang haid tak boleh mengikuti.

Perang topat bertujuan untuk mendapatkan berkah dan keselamatan, terutama bagi petani anggota Subak—sistem irigasi pertanian–.

Yang menarik dari Pura Lingsar adalah terdapat banyak penjual sate bulayak di sekitar pura. Bulayak adalah sejenis lontong yang dibungkus dengan daun kelapa yang dililit-lilit seperti spiral. Bulayak, semacam lontong versi Lombok. Biasanya dimakan dengan sate. Dengan harga Rp 15.000,- per porsi, kalian bisa mendapatkan 6 bulayak dan 15 tusuk sate dengan rasa yang yummy!

Jika anda berkunjung ke Pura Lingsar, jangan heran kalo yang datang ke sini kebanyakan bule. Di tempat ini jarang sekali terdapat wisatawan dalam negeri. Lonely Planet-lah yang mengulas kisah tentang Pura Lingsar, sehingga kini turis Luar Negeri mengenal Pura Lingsar sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Lombok.

Anda juga berminat datang? 😉

–Selamat Jalan-Jalan–

This slideshow requires JavaScript.

Tulisan Terbaru:

Advertisements

[Notes] Motor, Helm, dan Bule


Kalo anda seperti saya, yang suka mblusukkan ke kota lain dengan low budget, maka sewa motor adalah pilihan utama. Sebenarnya sich tergantung sikon, kalo memang ada teman yang mau diajak join, sewa mobil bisa lebih murah untuk kantong. Tapi kalo sendirian, semisal saya harus menginap seminggu di kota lain dan tidak sedang dalam acara dinas, pilihannya selalu jatuh pada sewa motor.

Kalo holiday-nya di Bali atau di Lombok, mencari penyewaan motor itu mudah. Di Bali, sewa motor umumnya 50ribu per hari untuk motor matix, sedangkan untuk motor manual 35ribu per hari, ini untuk daerah wisata dan pantai lho. Kalo mau lebih mblusukkan ke dalam, sewa motor bisa jauh lebih murah lagi.

Tapi jangan salah, kalo ga tau harga pasaran, sewa motor bisa mahal. Contohnya ajah, juragan saya pas nginep di Denpasar, nyewa matix kena charge 75ribu per hari, padahal saya yang nginep di pantai Kuta dapat 45ribu per hari untuk sebuah Jupiter 😉 Jadi nyewa motor itu kayak beli baju, kudu ngerti harga pasaran.

motor yg saya sewa di Bali
motor yg saya sewa di Bali

Cerita uniknya, mas pemilik motor (yg ternyata orang Kediri) itu percaya banget sama saya, kasih motor, STNK, padahal saya ga ngisi blangko apapun, bahkan ga saya depe. Nyehehe! 😉 Motor Jupiter ber-sticker “Laskar Bali” ini menyelamatkan saya ke banyak tempat. Salah satunya pas sendirian kehujanan di Bedugul 😉

Cerita jadi lain pas saya mblusukkan di Balikpapan. Berhubung di sana hanya ada sewa mobil, saya ga kurang akal, saya pinjem motor direktur hotelnya dan selama beberapa hari saya pake mblusukkan ke daerah-daerah yang jarang dilewati angkutan umum kayak Borneo Orangutan Survival, Bukit Soeharto, pantai-pantai di Kutai Kartanegara bahkan saya pake mblusukkan ke Banjarmasin. Nyahaha! Pas saya balikin motor, dijamin si direktur pasti kaget liat perubahan angka di odometer-nya.

Lain cerita pas saya ke Lombok. Sewa motor di Lombok jauh lebih murah, cuma 35ribu doank per hari, ga pake nawar! Sayangnya karena ga hati-hati pilih motor, ban motor saya kempes malem-malem di Pantai Senggigi dekat Pelabuhan Bangsal.

Bayangin ajah gelap, malem, ga ada lampu jalan, kiri bukit batu, kanan jurang, dan saya ndorong sekitar 1,5km ke arah Mataram karena ga ada rumah di sepanjang jalan. Duwh cenat cenut gegara takut plus capek. Unfortunely, jalannya tuh nanjak, kebayang ga menderitanya saya. Sekalinya ketemu tambal ban, namanya PERES BAN 😉 Nyahaha! Kalo inget jaman itu, bisa ngakak sendiri!

PERES BAN di Senggigi Lombok
PERES BAN di Senggigi Lombok

Meski begitu, saya pernah lho dari Pelabuhan Bangsal naek taksi ke arah Cakranegara lewat Hutan Pusuk yang penuh dengan monyet-monyet. Nggaya banget khan? Sok banyak duit 😉

Bali merupakan tempat yang paling banyak memiliki penyewaan motor. Umumnya yang nyewa motor adalah bule. Mereka menyewa sampai berbulan-bulan, sesuai masa liburan mereka. Menurut saya, bule itu kalo naik motor yak-yak-an gitu, ngasal! Belum lagi kalo ngeliat bule cewek cuma pake BH dan celana super pendek di tengah hari yang terik. Wiiihhh wong saya ajah meski pake celana pendek ya tetep pake jaket, ini kok nggaya! *ngomong pake muka sirik*

Di Bali juga saya ngeliat bule paling banyak ditilang oleh Polisi. Nyehehe! Ini lucu lho, soalnya kalo di Jogja, kayaknya pribumi-lah yang paling banyak di tilang, termasuk saya 😉

Bule dan helm nya
Bule dan helm nya

Lucunya lagi, bule di Bali itu paling “tertib” jaga helm. Kayaknya takuuuttt banget kehilangan helm, padahal kalo dilihat, helm mereka juga bukan jenis helm yang mahal kok. Ngeliat mereka di parkiran tuh, kayaknya ada banyak banget yang “dikunci” biar aman. Kadang, bahkan di tas ransel mereka, helm di ikat trus dibawa kemana2. Nyeehhh apa mereka ga tau ya, kalo helm itu bisa dikunci di jok motor 😉

Nah, cerita terlucu ya pas di Gili Trawangan. Bahkan sepeda pun sampai dirantai ke pohon di parkir-an sama mas-mas  bule saking takutnya ilang. Ya ampyuuun mas bule, emang perlu segitunya yaaa? 😉 Nyahaha!

Ada yang mau share cerita lucu terkait sewa motor 😉 ?

Tulisan Terbaru:

[Culinary] Sate Bulayak Lombok


Kalo Jogja terkenal dengan Sate Klatak-nya, maka di Lombok ada sate yang menurut saya sangat perlu dicoba jika anda berkunjung ke Lombok, yaitu Sate Bulayak!

Sate Bulayak di Pura Lingsar Lombok
Sate Bulayak di Pura Lingsar Lombok

Sate Bulayak bisa ditemukan di Jalan Udayana yang sangat terkenal di Mataram. Tapi saya mau cerita Sate Bulayak yang paling enak di Lombok, yaitu di sekitar Pura Lingsar.

Pura Lingsar
Pura Lingsar

Untuk menuju Pura Lingsar, kita akan melewati persawahan yang hijau terhampar. Di halaman parkir Pura Lingsar, bisa kita temukan banyak sekali penjual Sate Bulayak. Tinggal pilih mau yang mana 😉

Sate Bulayak
Sate Bulayak

Yang disebut Bulayak itu, sebenarnya sejenis lontong yang dibungkus dengan daun kelapa (janur) yang dililit-lilit seperti spiral. Orang Jawa menyebutnya lontong, bedanya lontong yang kita kenal biasanya dibungkus daun pisang. Lontong modern malah cuma dibungkus plastik doank 😉

Nah, Bulayak ini rasanya hampir sama dengan ketupat. Hanya saja kalo ketupat kan berbentuk segi empat, kalo Bulayak lonjong kecil. Karena bentuknya yang kecil panjang., rasanya jauh lebih lembut tapi ga jemek jika dibandingkan dengan makan ketupat.

Sate Bulayak
Sate Bulayak

Bulayak biasanya dimakan dengan sate, makanya namanya Sate Bulayak. Dengan harga 15ribu saya mendapat 6 bulayak dan 15 tusuk sate. Satenya pun bermacam-macam, tinggal mau pilih pake sate daging apa.

Sate Bulayak
Sate Bulayak

Mau tau rasanya? Wiiihhhh yummy! Apalagi makannya dibawah pohon ketapang, di pinggir sawah dengan angin sepoy-sepoy 😉 Pokoknya Lombok is The Best lah!

–Selamat Mencoba–

Tulisan Terbaru: