Salak Pondoh Sleman


Apa yg Anda pikirkan jika saya menyebutkan Salak Pondoh?

Pasti jawabannya: Buah khas dari Sleman.

Foto diatas adalah oseng-oseng Salak Pondoh dari desa Pulesari, kecamatan Turi. Setiap pengunjung yg pernah ikut acara outbound disana, pasti pernah mencicipi ini. Rasanya sungguh khas, rasa manis alami dari buah berpadu dengan pedasnya cabe. Penggunaan salak pondoh yg muda, menimbulkan suara kriuk kriuk saat dikunyah.

Saat ini, Salak Pondoh dibuat menjadi banyak sekali inovasi kuliner, mulai dari dodol salak, kopi salak, nogosari salak, puding salak, sate salak, dan entah apalagi.

Tapi bagaimanakah keberadaan Salak Pondoh di pasaran?

Saya akan bercerita sedikit kisah ttg perjalanan saya. Sekitar 7 tahun yg lalu, pertama kali saya berkunjung ke Balikpapan. Saat saya mblusukkan mencari penangkaran Beruang Madu, saya menemukan sepanjang jalan, berhektar-hektar kebun Salak Pondoh.

Saat itu musim panen. Di depan kebun, berjejer banyak penjual salak pondoh. Persis kondisi jika kita melintasi jalan raya tempel-turi saat panen raya.

Rasa penasaran membuat saya berhenti dan bertanya, “bu, kok jualan salak pondoh juga?”

Si ibu sambil tersenyum menjawab, “iya mbak. Dari yg dipinggir jalan ini, sampai berhektar-hektar ke belakang, kami memang menanam salak pondoh”.

Rupanya ibu tsb adalah generasi kedua. Orang tua mereka adalah transmigran dari Sleman. Dulu, saat program transmigrasi, mereka “disanguni” bibit salak pondoh.

Salak Pondoh hasil tanam disana rasanya lebih manis dan kriuk-kriuk. Barangkali karena curah hujan yg sedikit dan tanah gambut, rasa manisnya berbeda. Jadi, jika Anda ke Kalimantan dan dipasar melihat banyak salak pondoh, itu bukan salak pondoh Sleman. Itu Salak Pondoh yg memang hasil tanam petani di sana.

Beberapa bulan berikutnya, pernah saya ke Trenggalek. Kala itu, ekspedisi saya menjelajahi pantai-pantai di Trenggalek. Di daerah Watulimo, sepanjang jalan menuju pantai Prigi, berhektar-hektar kebun salak pondoh.

Dengan bangganya, si bapak pejabat yg mengantar saya berkata, “salak-salak ini kami kirim ke luar kota, mbak. Pasar Jawa Timur, kami yg menyuplai. Bahkan pasar Jawa Tengah dan DIY sendiri pun, kebanyakan salaknya dari kami”.

Pertanyaan saya, ada berapa banyak kota yg membudidayakan Salak Pondoh? Di Sleman sendiri, tepatnya di Turi, ada pusat budidaya bibit salak. Disana, banyak terdapat varietas salak hasil penyilangan.

Berbeda dengan Bali yg sangat protektif terhadap bibit salaknya, Pemda Sleman sebaliknya. Di Bali, kita bisa membeli salak dimana-mana. Tapi untuk bibit, mereka melakukan pembatasan. Yang boleh membeli bibit pun, harus tercatat.

Di Sleman sebaliknya, ada masa dimana, bibit salak dibagi-bagikan gratis. Itu sebabnya, Anda bisa menjumpai kebun salak pondoh di banyak kota lain.

Efeknya baru terasa 5-15 tahun kemudian, saat pasar salak pondoh malah dikuasai oleh kota lain. Harga pasar pun tak terkontrol.

Di Bali, petani salak lebih sejahtera, ini kontras sekali dengan petani salak Sleman. Harga tanah yg semakin tinggi di Sleman, membuat banyak petani salak membabat kebun salak dan menggantinya dengan bertanam beton. Lagipula, bertanam salak cukup rumit pada saat mengawinkan si bunga betina dan bunga jantan.

Buat saya yg tak doyan asamnya Salak Bali. Harga sekilonya itu saya anggap mahal. Ini berbeda dengan salak pondoh Sleman yg rasanya manis, tapi jika panen raya malah harganya jatuh. Kadang kasian juga melihat harga salak pondoh saat panen. Banyak petani salak yg kadang bilang begini, “ambil saja salaknya, mbak. Petik sendiri. Lebih baik saya kasih gratis, daripada miris liat harga jualnya”.

Meski terlambat, harusnya Pemda Sleman mulai melakukan perbaikan. Fokus pada peningkatan kesejahteraan petani salak dan mulai membatasi penjualan bibit salak pondoh.

Jika petani Sleman menganggap menjual bibit lebih menguntungkan daripada menjual buah. Pemda harusnya mencari solusi yg lain.

Faktanya, saat ini Salak Pondoh tak bisa lagi menyejahterakan petani Sleman. Lama kelamaan kebun salak akan habis. Saat masa itu datang, bukan hanya burung punglor merah yg menjadi langka, tapi salak pondoh pun akan langka di Sleman.

Jika warga Sleman tidak tanggap sejak hari ini, Sleman akan kehilangan identitasnya.

Selamat Ulang Tahun Sleman. Selamat menjadi 1 Abad. Lebih Bijaklah!

View on Path

Advertisements

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s