Oleh-Oleh


Oleh-Oleh

Saya punya teman yang suka sekali titip oleh-oleh. Kadang, saya ga keberatan, dgn catatan saya mmg selo. Tapi harap dicatat, membeli oleh-oleh bukan tujuan utama saya keluar kota. Selalu saya jawab, “sak-selo-ku ya”.

Menariknya, saya belajar sesuatu saat membeli titipan oleh-oleh. Contohnya, tas bordir di dalam foto.

Pernah suatu kali, saya pergi ke Bangkok. Tak lupa teman mengirimkan banyak gambar tas manik dan bordir untuk dicarikan di pasar-pasar Bangkok. Saya pun mencarinya dan mulai membandingkan harga.

Berteman warga Indonesia yg telah bekerja lama di Bangkok, saya minta ditawarkan harga tas bordir dgn standar harga paling normal di Bangkok. Saya pun membeli dengan harga murah yg bisa kami dapatkan.

Tidak lama kemudian, saya pergi ke kota yg lain, Hongkong. Saya pun menjumpai tas bordir yg hampir serupa, dengan harga yg lbh murah di Stanley Market.

Beberapa bulan kemudian, saya dan teman (yg suka nitip tas bordir) berkesempatan piknik bareng ke Beijing. Di Wangfujing Street, kami menawar bbrp tas bordir. Mereka menyebutnya Tas Mongolia. Kami pun membeli dgn harga murah setelah menyuruh teman yg telah lama tinggal di Beijing agar menawar dgn harga yg semurah mungkin.

Iyes. Kami macam emak-emak yg bangga telah membeli barang dengan murah. Sebuah kebanggaan tersendiri.

Yang membuat lucu adalah tas tsb ternyata juga kami temui di mall-mall di Jogja. Agak sedikit bangga karena teman telah membeli dgn harga yg lbh murah di kota lain.

Kami pun membandingkan harga tas saat berkunjung ke Malaysia dan Singapore. Sungguh, kami selo sekali. Dan barang yg kami beli ternyata lebih murah.

Sampai kemudian kami pergi ke Batam dan menemui bbrp pengrajin yg kami tau menyetok barang-barang kerajinan oleh-oleh yg biasa di jual di Singapore, Malaysia, dan Bangkok. Kaget juga lihat harganya.

Harga termurah untuk tas yg sama malah kami jumpai di Saigon. Sambil ngomel-ngomel campur ngakak, saya dan teman tak percaya bahwa tas tsb dijual amat murah di Saigon.

Di Phnom Penh, kami juga bertemu kain-kain sutera kualitas bagus dgn harga murah. Tapi Saigon tetap membuat kami berdecak kagum.

“Pengaruh harga SDM yg murah membuat Viet mampu menjual barang bagus dgn harga yg lebih murah,” kata saya sok intelek pada teman.

Jika berkunjung ke Thamrin, Mangga Dua, Tanah Abang, barangkali Anda juga akan menjumpai tas bordir yg sama dgn harga yg murah. Hanya saja, harus dibeli dalam jumlah banyak.

Di Saigon, tas tsb dijual seperti harga grosir atau harga kodi tapi Anda cukup membelinya satu saja, tak perlu banyak.

Penjual di Tanah Abang atau Mangga Dua akan berkata bahwa barang tsb di import langsung dari Bangkok, makanya harganya “segitu”.

Saya tidak akan menyangkal cerita dari si Bakul Tanah Abang, meski saya tahu sendiri, ada banyak Negara yg menjual lebih murah. Dan Bangkok pun bukan asal dari tas tsb.

Setelah survei di banyak tempat, saya memiliki kesimpulan:
1. Kebanyakan oleh-oleh yg pernah kita beli, jangan-jangan asalnya dari Indonesia sendiri.

Gantungan kunci, magnet kulkas, kaos, topi, tas, dll yg dijual di Malaysia, Singapore, dan Thailand itu beberapa saya temukan di Batam. Jangan-jangan dibuat di sebuah kota, lalu dibawa ke Batam, lalu di bawa ke negara lain.

Kemudian kita beli dgn harga yg lbh mahal di negara lain dan bawa pulang kembali ke Indonesia, lalu kita bagikan sebagai oleh-oleh.

  1. Kamboja dan Vietnam adalah 2 negara yg harus ditakuti oleh Indonesia.

UMR Vietnam dan Kamboja yg lebih rendah dari kita, membuat barang-barang produksi mereka lbh murah dgn kualitas yg, kadang, lebih bagus.

MEA membuat kompetisi makin terbuka. Jika sebagian warga kita menjadi PRT di luar negeri, jangan salah, bbrp kota besar di Pulau Jawa memiliki PRT asal Vietnam, yg UMR nya tidak sampai 1 juta.

Jika ada Bakul Tanah Abang yg bercerita barang mereka berasal dari Bangkok, ya bisa saja. Tapi Bangkok juga mengambil dari Vietnam yg murah. Artinya, barang-barang Vietnam tetap merajai di pasar kita.

Isu ahli ekonomi yg mengatakan bahwa bbrp tahun lagi, banyak pabrik yg bakal pindah dari Indonesia ke Vietnam juga menakutkan. Vietnam menyediakan SDM yg murah. Artinya, di negeri kita makin banyak pengangguran.

  1. Saran saya, ga usah beli oleh-oleh. Kecuali barang tsb ga ada di Indonesia. Meski ini, jarang terjadi juga. Sebenarnya banyak barang dari luar negeri yg bisa kita jumpai di Indonesia. Bedanya, hanya di prestise.

Begitulah, hasil survei saya bbrp hari tinggal di Batavia. Menghasilkan postingan ini.

Ga usah terlalu serius, ini saya nulis karena sedang selo.

Apapun itu, saran saya, beli saja. Beli mumpung punya duit. Karena berapa pun harganya, kalo sedang punya duit, berapa pun jadi murah. Sebaliknya, semurah apapun Anda menawar, kalo ga punya duit tetap akan terasa mahal 😂

Selamat Hari Minggu!

View on Path

Advertisements

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s