Mee Kolok


Mee Kolok

Ini adalah makanan yg gampang ditemui (selain Laksa Sarawak) di daerah Sarawak, Malaysia.

Rasa mienya seperti yammie, kering dan tanpa kuah. Budaya kuliner di Sarawak, meski mereka negara tetangga kita, tidak terlalu menggunakan banyak rasa pedas dalam makanannya.

Penjual menyediakan sambal kecap bagi pembeli yg ingin menambah rasa. Sambil wanti-wanti, “pedas lho” πŸ˜‚

Diatas mee kolok ada tambahan tauge (kecambah) dari kacang hijau dan daging sapi. Konon, versi aslinya menggunakan daging babi.

Cukup recommended buat dicoba jika Anda ke Sarawak, Malaysia.

Happy Culinary!

View on Path

Bubur Yoyong


Sarapan Bubur

Awalnya, tadi pagi saya hendak sarapan bubur sambal tumpang di sekitar kantor. Berhubung habis, saya pun melipir ke sekitar per4an Pingit.

Tepat disamping utara RM. Sintawang saya menemukan @buburyoyong.

Pilihan saya jatuh pada bubur dgn telur setengah matang dan potongan cakwe. Mengingatkan saya pada bubur di Laota-Bali dan sarapan bubur nasi di Hongkong.

Secara garis besar memiliki garis merah kekerabatan, meski sudah disesuaikan dengan “taste lokal”.

So far, recommended dicoba jika sedang piknik ke Yogya.

Happy Culinary! – at Bubur Yoyong

View on Path

Kopi Jo Fermentasi


Saya yakin, Anda sudah pernah ke Pasar Kangen Jogja. Pasti sudah pernah nyobain Kopi Jo.

Pasar Kangen Jogja di tahun 2016 kali ini adalah pasar kangen ke-9. Betapa cepat waktu berlalu ya?

9 tahun yg lalu, pertama saya kenal Pak Jo, peracik kopi ber-rum ini. Saya ingat, Chandra waktu itu masih mahasiswa hingga kini dia telah bekerja.

Pernah juga kami membeli kopi Jo di jalan Damai, sebuah warung kopi yg pernah beliau buka. Yg tak lama kemudian pun, kukut πŸ˜‚

Sebenarnya, saya hanya jumpa Kopi Jo di event-event saja. Barangkali karena begitu, saya selalu kangen dengan kopi racikan beliau.

Saya orang yg sangat penasaran dgn kopi apa yg beliau pakai, berapa banyak, mencari dimana. Kemudian tehnya beli dimana? Huahaha πŸ˜‚ saya orang yg banyak tanya ya

Kopi yg kali ini saya posting adalah Kopi Fermentasi. Fermentasi? Hah. Kok bisa? πŸ˜‚ penasaran kan?

Kopi ini tidak dijual ke semua orang. Hanya tertentu dan hanya jika Anda bertanya.

Kopi ini hasil fermentasi 3,5 bulan. Rasanya asam semriwing. Mampir dan cobalah.

#PasarKangenJogja – with Chandra and Andika at Taman Budaya Yogyakarta

View on Path

Engkak Lampung


Ini namanya Engkak Lampung. Dikirim dari daerah Sukadana ke Rumah.

Sukadana itu kampung di dekat Way Kambas, Sekolah Gajah. Di sana banyak kampung-kampung penduduk asli Lampung.

Kebetulan ada salah satu adik Mbah Putri dari Ibu yg tinggal disana. Kalo Lebaran gini suka dikirim engkak dan lemang. Sungguh, 2 item makanan yg nikmat sebagai teman ngopi.

Pagi-pagi sambil bengong nyeruput kopi sambil makan engkak adalah sebuah kemewahan tersendiri.

Kalo dah gini, suka berharap seandainya hidup ga perlu kerja, cukup bengong + ngopi dan tengak tenguk menghabiskan waktu. Huahaha πŸ™ˆ

View on Path

Memilah Biji Kopi


Memilah Biji Kopi

Jaman saya kecil, hidup saya ga jauh-jauh dari memilah kopi dari kulitnya, jemur kopi, giling kopi. Pekerjaan sehari-hari yg saking sehari-harinya sampe sebel melakukannya.

Anehnya, setelah menetap di Jogja, pekerjaan macam ini jadi trend tersendiri πŸ˜‚

Nah, kalo biasanya saya terima beres, dari biji kopi udah jadi bubuk kopi. Kali ini, saya mendapat request dari bbrp teman untuk membawakan biji kopi. Yang satu minta dikirim ke Pekanbaru, yg satu di Pontianak, yg satu lagi Semarang.

Saya membeli biji kopi ini setelah sholat subuh. Kopinya masih dari petani pertama, jadi masih belum di sortir. Setelah ini baru akan di pilah. Dipilahnya juga ga satu-satu, takutnya nanti saya lumutan kalo memilah satu-satu.

Memilahnya menggunakan cara lokal, di ayak pake tampah.

Jadi inget, kemarin ada selebtuit yg bahkan ga bisa bedain, mana tampah mana saringan?

Terus sempet ditanya, “tampah itu buat ngayak beras kan, ya?”

Duh, kamu sungguh orang kota sekali, kak. Saya kasih tau ya, tampah itu multifungsi. Tampah bisa buat ngayak beras, kopi, kacang tanah. Bisa buat tempat sayur mentah sebelum dipetik, sblm dirajang. Bahkan tampah bisa dipakai buat ngangkut banyak makanan, jajanan.

Kamu tau ga, di sini beberapa bakul pecel itu jualan pake tampah, bakul pempek yg keliling itu juga pake tampah lho. Diletakkan diatas kepala.

Ibu-ibu PKK disini, suka bikin nasi tumpeng diatas tampah.

Betapa sebenarnya, tampah adalah penemuan orang Indonesia paling spektakuler.

Saya ajah jemur kopi pake tampah πŸ˜‚

Semalam liat bahasan warkop di Belitung. Belitung tidak menghasilkan kopi. Kopi yg beredar disana rata-rata Kopi Lampung yg di kemas ulang.

Saya sendiri, sebenarnya lebih suka Kopi Semendo. Semendo adalah nama suku yg tinggal di kawasan perbatasan Lampung – Sumatera Selatan. Rasa Kopinya khas.

Dulu, jaman SD, saya kalo liburan sekolah menghabiskan waktu tinggal di Muara Dua. Daerah orang Semendo. Kopi dan Duren tiap pagi buat sarapan.

Lupa gimana bahasa lokalnya, tapi ga lupa piye rasanya πŸ˜‚ ahihihik

Selamat Liburan, Selamat Ngopi. – with Nh Maysuri, Taufik, and Dodon

View on Path