Ada Dongeng di Candi


Ada Dongeng di Candi

pacarkecilku.com

Kelas sejarah hari ini adalah Kids in Museum. Trip yg dulu digawangi oleh teman-teman Night at Museum @malamuseum untuk mengajak adik-adik usia PAUD-SD menjelajahi museum, sekarang mulai meluas menjadi kelas heritage untuk anak-anak.

Trip kita kali ini mengusung tema “Ada Dongeng di Candi” adalah salah satu cara mengajarkan kepada anak-anak ttg kisah-kisah fabel (kisah ttg hewan) yg tertulis dalam Kitab Jataka.

Kisah ini dipahatkan di relief Candi Borobudur. Sebuah kisah yg terlihat seperti komik bagi anak-anak, tapi memuat pesan moral yg luar biasa. Pembacaan relief menjadi suatu momentum yg menyenangkan bagi anak-anak.

Candi, yg biasa kita datangi hanya sekedar untuk selfie kemudian di upload di media social, menjadi pelajaran yg berbeda buat anak-anak ini.

Candi diajarkan sebagai bangunan suci umat Budha, tempat umat Budha berdoa. Kami mengajarkan toleransi, bahwa menghormati agama dan tempat ibadahnya adalah hal penting dalam keanekaragaman kehidupan sosial kita.

Acara Kids in Museum ini diselenggarakan oleh teman-teman Night at Museum dan Balai Konservasi Borobudur dalam rangka Penetapan 25 tahun Candi Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Candi Borobudur mengalami beberapa kali pemugaran sampai berwujud seperti yg kita lihat hari ini. Sejak ditemukan kembali pertama kali oleh Raffles di tahun 1814. Ada banyak sekali cerita terkait konservasi Candi ini.

Taukah kalian, jika Candi Borobudur dibelah, maka akan terlihat bahwa Candi Borobudur adalah candi yg dibangun diatas bukit. Dibawah candi adalah tanah. Masalah drainase menjadi masalah utama dalam pemugaran candi ini.

Pernah candi ini hampir amblas, karena tanah di dalam candi makin lama makin turun. Waktu itu, air menjadi musuh utama candi. Itu sebabnya Theodoore Van Erp pernah memugar candi ini, dan melapisi bagian dalam dinding dengan beton. Apakah berhasil? Sesaat iya. Makin lama malah makin merusak batuan candi.

Pemugaran candi pun menghabiskan banyak biaya. Tahun 1968 kita meminta bantuan UNESCO untuk membantu biaya pemugaran candi. Membutuhkan biaya 7.750 juta dollar USA di tahun 1972 untuk melakukan pemugaran. Dan baru selesai 1984.

Ga lama kemudian 1985, Boom! Candi Borobudur di bom oleh kelompok radikal.

Candi Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia baru ditahun 1991. Sebuah proses yg sangat panjang.

Meski bbrp kali terkena bahaya abu vulkanik dari gunung berapi, Merapi dan Kelud. Kerusakan utama Candi Borobudur paling besar adalah dari manusia.

Per hari pengunjung Candi Borobudur sekitar 1500-2000 orang. Pada liburan Idul Fitri jumlah pengunjung bisa mencapai 54.000 orang. Bayangkan, beban yg harus ditanggung oleh Candi Borobudur.

Candi ini setiap tahun mengalami penurunan. Tinggi aslinya 42 meter, dan kini 35 meter.

Pradaksina hari ini membantu para peserta memahami arti pentingnya Borobudur, bukan saja sebagai warisan budaya, tapi juga melihat nilainya dari sisi sejarah dan spiritual.

Borobudur-Pawon-Mendut dibangun dalam satu garis lurus imajiner. Dengan filosofi tertentu dalam kepercayaan umat Budha.

Begitu berharganya hingga Raja Thailand, Chulalongkorn, meminta sebagian candi untuk dibawa ke negaranya. Artefak yg diboyong ke Bangkok adalah 5 Arca Budha, 30 batu relief, 2 patung singa, bbrp batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca dwarapala.

Jadi, jika mereka yg di negara lain saja merasa Candi ini begitu berharga. Kenapa bangsa ini tidak?

Kenapa tidak kita mulai merawatnya. Minimal dengan tidak menaiki stupa-stupa diatas candi ketika selfie. Kami tidak melarang selfie. Tapi kami melarang pengunjung merusak stupa dengan menaiki bbrp patung. Atau aksi lompat-lompat seperti yg sekarang sedang heboh di youtube.

Marilah kita mulai mencintai candi-candi di negri ini. Percayalah, Angkor Wat itu jika dibandingkan Candi Borobudur, masih keren Borobudur! 😂

Salam Konservasi: Kunjungi, Lindungi, Lestarikan!

#kelasheritage
#jelajahcandi
#pradaksina – with Erwin at Candi Borobudur (Borobudur Temple)

View on Path

Advertisements

Pradaksina


Pradaksina

#kelasheritage

Pradaksina merupakan sebuah proses ritual mengelilingi bangunan suci, dalam hal ini adalah Candi.

Pradaksina bisa diterjemahkan juga sebagai Jelajah Candi untuk memahami maknanya secara simbolis, filosofis dan spiritual.

Sebuah nilai pemahaman yg tidak cukup kita dapatkan hanya dengan membaca buku pelajaran dan diktat kuliah, tapi harus dengan mengenal secara langsung.

Kelas Heritage yg diadakan Teman-Teman Night at Museum @malamuseum kali ini membantu kita memahami nilai Candi sebagai Bangunan Suci yg bernilai sejarah.

Karena dalam pemahaman, yg diharapkan tidak hanya Cinta yg disebutkan dalam kata-kata, tapi juga cinta dalam tindakan.

Sama seperti dengan yel-yel yg kami teriakkan: “Salam Konservasi! Kunjungi, Lindungi, dan Lestarikan!”

Kelas Heritage ini membantu kami memahami bahwa Cinta adalah sebuah proses yg nyata. Cinta seharusnya bisa dilihat, didengar, dan dirasakan. Cinta adalah proses untuk merawat sesuatu, dalam hal ini Candi.

Suatu hal yg sering kami dengar di bangku sekolah, maupun bangku kuliah, tapi tak kami pahami. Bukan karena kami bodoh, tapi cinta yg ditawarkan terlalu absurd.

Dengan membawa kami secara langsung ke lokasi Candi, melihat dari jauh, merasakan secara dekat, memutari, membaca simbol, membaca relief, mempelajari sejarahnya, memahami kondisi sosial politik saat Candi didirikan, bukan saja mendekatkan, tapi membentuk sesuatu yg absurd menjadi nyata.

Bahwa pemahaman kami untuk mempelajari sejarah dan budaya kita sendiri, adalah salah satu bentuk cinta kami kepada leluhur, kepada ilmu pengetahuan, kepada alam semesta, terutama kepada Tuhan.

Kami berharap #kelasheritage ini tidak hanya berhenti disini. Tapi ada kelas heritage – kelas heritage lain dalam upaya pembangunan mindset kita.

Bahwa sejarah merupakan pelajaran yg menyenangkan. Bahwa sejarah bukan hanya setumpukan buku tebal di perpustakaan. Tapi sekaligus hal-hal menyenangkan yg bisa kita lihat setiap hari. Di sekitar kita.

Jadi, seperti yg kita lakukan hari ini. Mari kita belajar sejarah. Duduk bersama, tua muda, dibawah langit yg sama, entah selonjor atau berdiri, entah diatas rumput, atau duduk-duduk diatas batu. Karena sejarah begitu menyenangkan!

#kelasheritage
#jelajahcandi
#pradaksina
#malamuseum
#museumdihatiku
#salammuseum

Tulisan ini untuk teman-teman yg pernah saya temui dan berdiskusi panjang di Angkor Wat dan Great Wall. Barangkali, saat kita belajar dan berkunjung langsung ke Keajaiban Dunia di belahan dunia lain. Ada baiknya, mari kita belajar hal-hal yg ada di sekitar kita dulu.

Percayalah, Negri kita tak kalah cantik dibandingkan negri lain. Bahkan lebih.

Salam Konservasi! – with Erwin and Samantha

View on Path