Perjamuan di Bawah Ketapang 


Perjamuan di bawah Ketapang

perjamuan kali ini,
dimulai dengan ritual yang tak biasa
kau dan aku, berhadapan, duduk dibawah sebatang Ketapang
yang daun-daunnya perlahan mulai memerah;
serupa warna senja

kau memesan sebungkus keheningan
tapi dendam membakar dengan nyalanya yang jalang
baginya kita adalah anak-anak jaman, yang mabuk
terjerat getah rutinitas
dan memaksa meneguk segelas rasa bosan

perjamuan kali ini,
tak ada kepulan kopi kesukaanku
tak ada cane yang selalu kita bagi berdua
bahkan tak ada gerimis yang biasa kumaki

(hanya tujuh bola lampion mati, che. tepat berjajar di atas kepalaku; yang selalu tahu bagaimana menyimpan rindu)

nampaknya memang benar adanya,
bahwa kita harus belajar pasrah
seperti daun-daun ketapang yang berguguran
sebelum akhirnya kita benar-benar menyerah
memilih luruh, hancur dilumat gairah bumi

perjamuan kali ini, hanya ada sebuah ingatan
tentang legamnya waktu yang tak pernah kembali
tentang hidup yang serba tergesa-gesa
dan tentang kita yang belajar menafsir ulang diri;
dalam bilangan angka.

*puisi ini ditulis Juni 2010, hadiah ulangtahun buat teman baikku; Che.

View on Path

26 Juli


26 Juli

rintik hujan yg kupahat semalam
pagi ini telah mekar menjadi bunga-bunga krisan
wanginya jadi penunjuk jalan
ketika subuh datang, sepanjang azan

aku akan pulang diwaktu yg tak kau duga
menghangatkan ingatan kita yang mulai remang-remang
membakar sisa-sisa sakitmu yang menumpuk dibawah jendela
lalu, menyembunyikan anyir lukamu dalam pekat petang

aku akan pulang kerumahmu. pulang ke ranjangmu.
meredam rindu dalam kelambu. menyulut waktu menjadi debu.
menampung airmatamu ditelapaktanganku.

pada gelung rambutmu yang tak lagi legam
kusematkan melati yang lebih wangi dari mimpi
dan sebelum maghrib memanggil pulang malam
buru-buru kuperangkap senja pada merah saga kedua pipimu

genggam tanganku, Ibu.
jangan sampai aku tersesat pulang.
kembali ke hangat rahimmu.

(Jakarta. 26 Juli. Kado ulangtahun buat ibuku)

View on Path

Akhir Pekan


“… Ah, akhir pekan yg membosankan. Ingin sekali saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas. Pergi ke pantai terpencil yg tak seorangpun bisa menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin mengajakmu duduk-duduk di bangku panjang yg menghadap ke laut. Akan saya bacakan sajak-sajak seorang penyair yg tanpa sengaja menyampaikan cintamu kepada saya.”

~ Joko Pinurbo, “Mas” ~

View on Path

si Kembang Purau


aku mencintai-Mu, bagai si kembang purau
yang bermekaran di halaman depan rumah ibuku.

yang berwarna kuning dalam pelukan kabut pekat
yang berganti jingga kala mentari membakar hangat.

saat sore tiba, akulah si kembang purau,
yang disulut agni semerah raga senja dalam ranumnya gairahku.

sebelum akhirnya angin menggugurkan satu per satu bunga-bunga cintaku
maka akulah si kembang purau, yang layu
meluruh dan rasuk dalam akar-akar pohon-Mu.

dan bila pada masaku, aku tetap ingin terlahir kembali
menjadi kembang-kembang purau baru,
yang akan terus menerus mencintai-Mu,
dengan cara yang (mungkin) tak Kau mengerti.

Jogja,  Februari 2011