Hari Lebaran


Hari Lebaran

Saya masih ingat sekali lebaran tahun kemarin, Bapak sempat bercanda: “Bapak ingin meninggal tepat di hari Lebaran. Bapak suka lebaran, semua orang berkumpul. Bahagia rasanya”.

Bapak mengucapkannya tepat disaat semua anak dan cucunya berkumpul di ruang keluarga.

Saya tau sekali jika perkataan Bapak adalah sindiran buat saya. Saya adalah satu-satunya anak Bapak yg merantau jauh, selama bertahun-tahun dan hanya pulang jika lebaran tiba.

“Bapak kalo ngomong sukanya yang aneh-aneh lho,” jawab saya.

Bapak hanya tertawa.

“Jangan meninggal di hari lebaran,” kata saya, “kita ga mau-lah mengenang hari lebaran sebagai hari dimana bapak meninggal. Bisa sedih tiap lebaran datang”.

Saya masih mengingat dgn baik percakapan tsb. Percakapan setahun lalu di malam lebaran, tepat seperti malam ini, seolah-olah itu adalah percakapan kemarin sore.

Waktu itu kami menganggap perkataan Bapak sebagai angin lalu, bercanda jayus. Karena memang Bapak suka bercanda (tentang hal-hal tidak lucu) dgn kami, anak-anaknya.

Lebaran tahun kemarin, Bapak masih sehat. Sungguh. Bapak yg biasanya sakit-sakitan tak mau makan, sungguh ajaib bisa merampungkan sebulan puasa Romadhon dengan sempurna, full sebulan.

Kami pun menganggap semua baik-baik saja.

Beberapa hari kemudian, setelah saya kembali ke Jogja, Bapak kembali jatuh sakit. Keluar masuk Rumah Sakit.

Berita terlalu cepat datang. Bahkan saya tak sempat pulang. Tengah malam, saya ditelpon mengabarkan jika Bapak sudah meninggal. Padahal beberapa jam sebelumnya, saya masih bisa bicara dengan Bapak di telpon.

Waktu itu akhir Agustus, Bapak berpulang ke rumahNya. Dan seperti janjinya, Bapak tidak meninggal di hari Lebaran. Bapak memilih “pulang” di hari lain, hari yg terletak diantara Idul Fitri dan Idul Adha.

Hari dimana saya, tidak perlu mengenang Lebaran sebagai hari tersedih sepanjang hidup saya.

Selamat Lebaran, Bapak. Minal Aidin Wal Faidzin. Semoga di surga sana, ada banyak malaikat yg menemani Bapak. Memasakkan makanan kesukaan Bapak.

Di malam-malam Lebaran seperti ini, saya kangen Bapak. Biasanya Bapak terbangun tengah malam untuk menemani saya menonton tivi hingga larut sambil mengobrol.

Saya kangen menemani Bapak makan tengah malam. Menghangatkan rendang untuk Bapak dan membuat teh hangat.

Selamat Lebaran, Bapak. Baik-baiklah disana. Saya rindu.

View on Path

Getah Jarak


Getah Jarak

Udah pernah liat pohon Jarak? Udah pernah liat buah Jarak?

Inget ya, buah Jarak. Bukan “Jarak di antara kita”. 😰

Ini Jarak yg bijinya bisa digunakan sebagai bahan bakar dan mengandung zat Ricin yg katanya mematikan.

Jarak adalah tanaman liar yg punya banyak manfaat, mulai dari obat sariawan, sakit gigi, luka, rematik hingga memperbesar payudara dan alat kelamin πŸ™ˆ wow bingits ya!

Tapi saya bukan bakul obat, jadi ga perlu promosi manfaat buah Jarak.

Di desa, jaman air sabun belum trend ditiup anak-anak di pasar malam jadi balon-balon kecil yg memenuhi udara. Kami biasa mainan getah Jarak.

Jadi getah Jarak kami tampung di daunnya, menggunakan batang paling ujung di bentuk bulat kecil. Getahnya kami tiup dan jadilah balon-balon udara kecil.

Getah jarak punya efek khusus yg mirip air sabun, yang kalo ditiup akan jadi balon-balon udara.

Ini mainan gratis kami yg biasa dilakukan sepulang sekolah lewat kebon. Yg nampaknya ga dikenal orang kota.

Apakah di pulau lain juga mengenal dolanan ndeso ini? Atau malah jangan-jangan kalian ga tau yg mana buah Jarak? πŸ˜‚

Daripada anak kalian dimasukkan ke sekolah alam yg mahal, mungkin disuruh tinggal di desa saya tiap liburan dah cukup buat mengenal alam.

Happy Holiday!

View on Path

Memetik Jambu di Kampung


Hasil jerih payah hari ini:
Jambu 6kg πŸ˜‚

Enaknya tinggal di desa adalah maen ke rumah siapa saja sambil metik buah.

Hari ini ceritanya maen ke rumah teman Bapak. Bapak dulu pengurus ORARI, PMI, dan Komunitas Bonsai se-Kabupaten di kampung. Jadi, punya banyak teman dimana-mana.

Kalo liburan gini dan pas saya mudik pasti ditelp: “Jambu di rumah pas musim berbuah lho, biasanya pipit mau?”

Langsung saya meluncur. Khusus buat manjat pohon jambu. Dapat 6kg dari 2 rumah yg beda. Kemaren sih dapet 3kg jambu, tapi udah habis di lutis semalam.

Waktu kecil, waktu rumah belum sebesar sekarang, bapak punya 4 varietas jambu yg berbeda. Maklum, bapak hobby mblusukkan ke hutan sampe Jambi – Bengkulu sono buat nyari tanaman yg di-Bonsai. Jadi punya bibit jambu dari tempat-tempat jauh.

Seiring waktu, banyak tetangga yg cangkok pohon jambu dari rumah. Eh sekarang, pohon jambu dirumah udah dibabat semua.

Alhamdulillahnya, setiap orang yg dulu cangkok di rumah, kalo pohon jambunya berbuah ga lupa ngirim ke rumah. Minimal telpon lah, nyuruh saya main. Jadi, saya bisa pake alasan buat panjat pohon orang πŸ’ͺ

Ga tau juga nih, kenapa sekeluarga hobby banget sama lutisan – rujakan buah. Ga bisa liat pohon tetangga buah. Bawaannya pingin mintak ajah.

Kadang kalo perjalanan darat ke Lampung Tengah atau Lampung Timur, ya gitu, sambil lewat kampung orang liat pohon jambu, trus komen: “jambunya buah sampe jatuh-jatuh kok ga ada yg ambil?”.

Ini kalo di kampung semacam bahasa kode, kalo artinya “lagi panen jambu ya, mintak donk” πŸ˜‚ Biasanya sih langsung dijawab: “Ambil ajah mbak. Kita udah bosen. Jambunya cuma dimakan codot”.

Hap hap! Langsung deh, ambil kresek petik sebanyak – sebisanya – semampunya.

Tentang buah ini, cerita paling unik tentu di rumah saya. Masa-masa saya SMA – Kuliah, halaman rumah di buat anjang-anjang yg tanaman rambatnya adalah anggur Australia yg hitam manis.

Kalo lagi berbuah, dijamin deh. Tiap yg lewat pasti mintak. Bahkan pernah ada yg naik motor dan masuk ke got se-motornya gara-gara terpesona pada buah anggur yg gemelantungan di halaman rumah.

Sayang, pohon anggurnya dah mati, seiring Bapak yg sakit dan kemudian meninggal dunia. Kami anak-anaknya terlalu malas merawat. Begitulah.

Eh kok syedih? Gpp. Toh, pada akhirnya, banyak orang yg ambil bibit dari anggur Bapak. Sapa tau, besok atau tahun depan, ada yg baca tulisan ini dan telpon sambil bilang: “pit, anggur di kebun ku buah. Kamu mau panen?”

Ahahahay πŸ˜‚

Selamat Panen, teman-teman. Ku tunggu telponnya yaaa

View on Path

Selamat Pagi, Jalanan Sepi


Selamat pagi, jalanan sepi.

Jam segini masih sepi, bukan karena ini jalanan kampung, tapi menjelang lebaran, orang sedang sibuk bikin kue di rumah.

Ini adalah jalan menuju ke pasar. Pada hari biasa (di luar bulan Romadhan) jalanan ini rame sejak subuh.

Berkali-kali diperbaiki, jalanan depan rumah selalu rusak, truk dan mobil-mobil besar penyebabnya.

Bangunan tinggi di depan adalah asrama Kesusteran, samping nya adalah Gereja Katolik. Loncengnya akan berdentang di jam 6 pagi, jam 12 siang, dan jam 6 sore. Waktu saya kecil, siklus hidup saya berdasarkan lonceng gereja.

Lonceng Gereja jadi alarm gratis buat kami yg tinggal di sekitar gereja. Jika lonceng gereja berdentang di pagi hari dan saya masih di tempat tidur, artinya saya bakal terlambat masuk sekolah. Saat lonceng berdentang di jam 6 sore, itulah saat saya masuk kandang. Waktu bermain sudah habis.

Saat-saat tertentu, misal detik-detik proklamasi, lonceng gereja kembali berdentang. Di hari lain, saat salah satu suster atau romo meninggal, lonceng juga kembali berdentang.

Hampir sebagian besar dari warga kampung disini, menghabiskan masa kecil dengan bermain di taman Gereja, kompleks kesusteran, kompleks kepasturan, panti asuhan. Sekolah yg satu kompleks mulai dari SD-SMP-SMA.

Di depan rumah adalah RSUD Pringsewu. Rujukan hampir semua orang di kawasan selatan Lampung. Sebagian besar tanah yg digunakan jadi Rumah Sakit sebenarnya adalah tanah milik Kesusteran. Demikian juga tanah yg digunakan untuk rumah dinas para dokter.

Dulu, ada lapangan besar milik Kesusteran di depan Rumah Sakit. Di lapangan tsblah, kami warga kampung pertama kali melihat helikopter. Mulai dari helikopter milik Gereja hingga milik para pejabat. Saya ingat, dulu Romo-Romo dari luar negeri (terbanyak dari Belanda) diturunkan dari helikopter bersama barang-barang dari para dermawan luar negeri.

Pun pejabat militer, datang dari Jakarta dgn helikopter di lapangan tsb. Hari ini lapangan tsb sudah tidak ada, berganti Gereja baru yg jauh lbh besar dari gereja lama di depan rumah.

Aih, betapa lamanya saya pergi dari rumah. – at Pasar Pringsewu

View on Path