Bubur Yoyong


Sarapan Bubur

Awalnya, tadi pagi saya hendak sarapan bubur sambal tumpang di sekitar kantor. Berhubung habis, saya pun melipir ke sekitar per4an Pingit.

Tepat disamping utara RM. Sintawang saya menemukan @buburyoyong.

Pilihan saya jatuh pada bubur dgn telur setengah matang dan potongan cakwe. Mengingatkan saya pada bubur di Laota-Bali dan sarapan bubur nasi di Hongkong.

Secara garis besar memiliki garis merah kekerabatan, meski sudah disesuaikan dengan “taste lokal”.

So far, recommended dicoba jika sedang piknik ke Yogya.

Happy Culinary! – at Bubur Yoyong

View on Path

Jamu Jun


Jamu Jun

Ini dia Jamu Jun, salah satu kuliner legendaris di Kota Semarang. Meski namanya Jamu, tapi ini bukanlah jamu seperti yg biasa kita jumpai. Jamu Jun lebih mirip bubur encer yg rasanya sedap.

Barangkali karena mengandung banyak rempah yg dipercaya menyehatkan, maka disebut Jamu.

Menurut banyak cerita, Jamu Jun bukanlah asli kuliner Semarang. Bbrp menyebutkan Pati, Demak, Jepara lah asal dari Jamu Jun, dengan nama yg berbeda. Di Demak namanya Jamu Coro (Adon-Adon Coro).

Jamu Jun dibuat dari tepung beras, tepung ketan, jahe, serai, kapulaga, pekak, kayu manis, merica, dan tambahan bubuk yg katanya terdiri dari 18 macam rempah (batanget).

Untuk menjaga rasa dan wangi rempah agar tidak berkurang selama berjualan, jamu atau bubur nya ini ditempatkan di dalam gentong kecil dari tanah liat. Gentong kecil inilah yg dinamakan Jun. Inilah awal mula penyebutan Jamu Jun.

Jamu Jun disajikan dalam mangkuk dengan keadaan hangat. Cara penyajiannya, jamu jun ditambah bubuk merica, selo (bubuk putih herbak), dan krasikan. Taburan mericanya membuat rasa Jamu Jun unik dan khas.

Jamu jun memang tepat jika disebut buburnya orang Pantura. Mengingat komposisi rempah yg begitu banyak. Di masa lalu, hanya daerah pelabuhan yg memiliki stock rempah yg begitu banyak hingga bisa mempengaruhi budaya kulinernya.

Konon, pedagang Jepara yg pertama kali berjualan Jamu Jun di Kota Semarang. Meski begitu, saat ini hanya di Kota Semarang yg masih bisa di temui Jamu Jun. Di kota Pantura lainnya (Pati, Jepara, Demak) sudah tidak ada lagi penjualnya.

Saat menikmati Jamu Jun, saya sering bercanda, jangan-jangan sakjane Portugis dan Belanda itu jauh-jauh menjelajahi setengah Bumi hanya untuk semangkuk Jamu Jun 😂

Jamu ini pula yg menyebabkan kita dijajah selama ratusan tahun. Eh salah, Maluku yg dijajah, bukan Jawa. Saat itu, kota-kota pelabuhan kita hanya pelintasan saja.

Saat ini pedagang tradisional Jamu Jun dengan gentong tanah liatnya sudah jarang ditemui. Tapi jika ingin mencoba monggo datang ke Pasar Gang Baru di daerah Semawis. Biasanya mereka berjualan di antara bakul jajanan pasar.

Happy Culinary! – at Pasar Gg Baru, Semarang

View on Path