Seberapa toleran lidah kita?


image

Jika kalian termasuk yg selo nyimak TL kemarin tgl 25-26 Des 2015, pasti tau ttg berita ini.

Saya sendiri, sebenarnya ga nyimak-nyimak banget, sampai salah satu follower mensyen di twitter ๐Ÿ˜‚

Persoalannya sederhana, ada seorang wisatawan domestik (kita sebut saja mbak K) yg memaki-maki Yogyakarta dan kulinernya.

Yuks, kita simak, kenapa begitu?

Kalo dibaca dari statusnya di Pesbuk, mbak K berasal dari Kabupaten Tuban, sebuah Kabupaten kecil dkt Lamongan. Sedang berwisata di Yogyakarta, dan terkena macet di sepanjang jalan.

Yang ke2, mbak K marah karena kuliner di Yogyakarta, dia anggap hanya “gitu-gitu” saja.

Saat membaca nyinyiran dari teman-teman di TL yg marah atas status pesbuk mbak K tsb, saya jadi mikir, memangnya kita ga marah atas macetnya Yogyakarta di kala liburan?

Kalo saya, jujur saja, saya termasuk yg marah. Bayangkan, hampir setiap jalan di Yogyakarta macet. Terutama jalan-jalan menuju tempat wisata.

Bahkan Ringroad Utara (dari per4an Jombor hingga per4an Hyatt) yg biasanya hanya butuh 5 menit, pas malam Natal saya butuh 30 menit, buat melintasinya.

Tentu, sebagai warga lokal saya merasa ga suka atas macetnya kota Yogyakarta. Tapi apa mau dikata, itulah resiko tinggal di Kota Pariwisata.

Fyi, Yogyakarta itu kota tujuan pariwisata wisatawan domestik no.1 di Indonesia. Inget ya, bagi wisatawan domestik. Kalo wisatawan mancanegara tetaplah Bali no.1 ๐Ÿ˜‚ Alasannya mudah, Yogyakarta itu terkenal murah. (meski alasan ini sudah tidak sepenuhnya benar lagi).

Trus kita bisa apa? Dulu sih, kita sukanya marah-marah di TL sama Pak Walikota, kok Jogja jadi semrawut tata kotanya. Mulai dari marah-marah karena maraknya pembangunan Mall, Hotel, Apartemen, sampai tempat wisata (macam Taman Lampion dan JogjaBay) yg bikin macet ruas utama.

Apa bedanya dgn marah2nya mbak K? Mbak K pake menghina kota kita. Sedangkan kita, mengkritisi pemerintah, karena rasa cinta kita terhadap kota ini.

Solusinya gimana? Saya sebagai warga lokal sih menyarankan bagi warga Yogyakarta pas liburan panjang gini buat liburan ke Kota/ Negara lain atau milih ndekem di rumah saja. Iya. Kita kasih kesempatan buat wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara buat piknik ke Kota kita. Kalo kita kan bisa piknik kapan ajah ๐Ÿ˜„

Macet itu bagian dari resiko liburan panjang, juga resiko menjadi Kota Pariwisata. Kalo kita ga nrimo macet, nanti PAD kota kita ga nambah. Ini dilema lho. Mau mengurai kemacetan di satu sisi, dan menambah PAD di sisi lain.

Hal ke2 ya, terkait kuliner. Pertanyaannya, seberapa toleransi lidah kamu terhadap kuliner di kota lain?

Pekerjaan saya, membawa saya dan teman-teman harus mengunjungi banyak kota lain. Saat di kota lain, kadang kami dilema juga mau nyoba kuliner baru. Takutnya ga doyan. Ini bukan bicara pribadi, tapi group. Tidak semua temanmu, seberani dirimu mencoba kuliner baru. Mencoba kuliner baru itu tantangan lho.

Misal ya, saya pernah berkeliling kota-kota di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, dan kalo pulau Jawa, jangan ditanya deh. Saya sih baik-baik saja dgn semua kuliner tsb, tapi apa iya teman-teman saya juga?

Saran pertama, kalo di kota lain, dan takut ga doyan dgn kulinernya, ya makan saja yg standar. Standar dalam arti Kfc, Mcd, Pizza Hut, ayam goreng, starbucks, Nasi padang, bakso, mie ayam dan sejenisnya.

Pokoknya, kuliner yg seenak2nya ya kamu tau rasanya, dan ga seenak2nya ya rasanya gitu2 juga.

Lha apa gunanya piknik ke luar kota kalo makannya gitu2 ajah? Jawabannya mudah. Lha daripada kamu ga doyan?

Saran ke2, jangan berharap terlalu tinggi saat berkunjung ke kota lain. Sapa tau, harapanmu ga terpenuhi trus kamu kecewa.

Kenapa saya ngomong gini? Soalnya saya udah keliling ke kota-kota lain, trus sering banget nemuin temen kantor bilang, “masakan di kota ini ga enak, masih jauh lbh enak makanan di Jogja”.

Komentar temen saya sama kan dgn komentar Mbak K? Bedanya, temen saya ngomong sama saya, dan ga ditulis di social media.

Toleransi itu ga hanya melulu agama, ras, suku, toleransi terkait makanan itu penting. Toleransi itu kalo buat aku kaitannya sama tingkat pengetahuan kita memahami budaya dan sejarah di negri lain.

Dulu, pertama kali main ke Hongkong dan Macau, sungguh saya sangu cabe segar, saus, dan kecap manis. Alasannya, di Hongkong dan Macau jarang banget kecap manis, jarang banget cabe segar. Adanya cabe kering dan kecap asin, yg awalnya saya doyan, tapi setelah seminggu tinggal disana, saya bosan. Saya kangen masakan Indonesia yg diolah dari bumbu-bumbu segar.

Kedua kalinya piknik ke sana, saya mikir, jauh2 piknik ke Hongkong dan Macau kok maemnya kayak di Indonesia, rugilah. Sekali, dua kali, ketiga kali, akhirnya lama-lama lidah saya berkompromi dengan taste masakan di Hongkong dan Macau.

Begitu juga saat saya bertualang kuliner di Beijing. Lidah saya sudah berkompromi. Tapi komprominya kan butuh waktu dan keberanian ๐Ÿ™‚

Ada 2 negara yg menurut saya kulinernya bisa langsung kompromi dengan lidah kita, yaitu Saigon dan Bangkok. Tapi apa iya semua lidah Indonesia cocok? Ya belum tentulah.

Kembali lagi soal mbak K, tidak bisa dipungkiri bahwa Tuban dan DIY itu kota yg meski di peta sebelahan, tapi taste kulinernya beda banget. Ini kaitannya sama sejarah dan budaya juga.

Kita ga bisa memungkiri kalo ga semua orang Jawa Timur doyan makanan ala Jogja yg manis, misal gudeg. Ini bener lho, saya pertama kali tinggal di Jogja juga ga seberapa suka gudeg.

Jadi, sebenarnya komentar dari Mbak K itu wajar, diluar misuh2in Kota Jogja lho ya. Kesalahan mbak K adalah lidahnya yg tak bisa bertoleransi dgn makanan Jogja, membuat jempolnya juga ga bisa bertoleransi dgn Kota kita.

Kejadian seperti ini sakjane bisa menimpa kota manapun.

Barangkali buat pembelajaran bagi mbak K, bahwa social media itu gunanya buat menambah teman dan mencari informasi ttg budaya di kota lain, tentang kuliner lain, sehingga ga nyasar masuk ke warung makan yg salah. Social media itu bukan hanya untuk misuh-misuhin kota orang.

Ini juga buat pembelajaran kita, bahwa kita ga perlu njelek2in Kota Tuban, ga perlu njelek2in “dasar pns” atau semacamnya. Komentar mbak K ga ada kaitannya dengan kota-nya atau dgn pekerjaannya.

Yg perlu kita tau adalah orang-orang seperti mbak K akan selalu ada di social media. Tergantung bagaimana cara kita menghadapi perbedaan ๐Ÿ™‚

Nih, ada salah satu akun yg malah minta maaf.

image

Nah, Mbak K, lain kali cobalah piknik di seputar kota Anda saja, karena saya yakin semacet2nya Tuban, masih lbh macet Yogyakarta.

Info ajah ya, gara2 ini aku jadi searching kuliner di Tuban lho. Meski sudah bbrp kali ngliwati Tuban, rupanya saya kesana hanya buat beli Wingko Babad dan maen ke WBL.

Seorang seleb twitt (yg namanya lupa) pernah bilang, “kalo kamu tiap hari maem rawon, bukan berarti rendang ga enak”. Coba dulu gaes, pahami bahwa ini hanya soal kulino, soal kebiasaan lidah kamu.

So gaesss, seberapa toleransi lidah kamu?

Advertisements

9 thoughts on “Seberapa toleran lidah kita?

  1. Wah aku br tau ada berita kayak gini, malu2in wong Jatim aja :/

    Sama sih mba, tiap ke luar kota atau negeri selalu bela2in coba kulinernya. Cocok ato gak urusan belakangan, yg penting nyoba dulu ๐Ÿ˜€

  2. kalau nggak mencoba nggak bakalan tahu rasanya ๐Ÿ™‚
    Aku baru setahun menetap di Yogyakarta, tapi bisa merasakan perbedaannya dengan dulu saat hanya tiap tahun mudik ke Yogya. Perbedaan yang terasa sih memang macet, tapi semacet-macetnya Yogya, masih ada kota yang kemacetannya parah, tiada akhir ๐Ÿ˜€

monggo silahkan nyinyir disini ;-)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s