Hipnotis Madihin dan Baju Berkulit Kayu di Festival Wisata Budaya Pasar Terapung 2018


Musik Madihin
Musik Madihin

Irama musik Madihin menyambut langkah kaki saat kami memasuki Soto Bang Amat di jalan Banua Anyar Banjarmasin Timur. Aroma adas, jintan, jahe, kunyit dan merica memenuhi udara siang yang terik di Banjarmasin membuat perut kami semakin keroncongan.

Lokasi warung soto Bang Amat tepat di sebelah dermaga klotok menuju pasar terapung Lok Baintan. Salah satu pasar terapung tertua di Banjarmasin. Nampak keramaian di warung soto Bang Amat berpadu lengkap dengan irama musik tradisional nan rancak.

“Apa nama musik ini?”, tanyaku penasaran pada Mahesa, seorang kenalan di Banjarmasin. “Madihin, kak”, jawabnya. Siang itu, sambil menyantap soto banjar dan seporsi sate ayam, Mahesa bercerita banyak tentang Madihin dan John Tralala.

John Tralala, merupakan seniman kebanggaan warga Kalimantan Selatan. Beliau bukan hanya mengenalkan musik tradisional kepada Indonesia, tapi hingga ke negeri tetangga. Sebagai seorang pemadihinan (pemain Madihin), John Tralala mampu bermain gendang, bernyanyi hingga melakukan lawakan secara spontan syair-syair Madihin bertema sosial. Irama Madihin begitu disukai hingga istana, John Tralala menjadi salah satu seniman yang diberi hadiah ongkos naik haji ONH Plus oleh Presiden Suharto.

Sayangnya John Tralala telah meninggal 26 Juni 2018 yang lalu. “Banjarmasin kehilangan salah satu putra terbaiknya”, ungkap Mahesa. “Untungnya musik Madihin sudah beregenerasi”.

Setelah menghabiskan soto banjar dan es nyiur, saya dan teman-teman tak kuasa menolak ajakan menari diiringi suara gendang dan kecapi. Irama Madihin memang irama hipnotis, gumam saya dalam hati.

Soto Banjar Bang Amat
Soto Banjar Bang Amat

Tapi bukan itu saja yang berhasil menghipnotis saya selama di Banjarmasin. Di Festival Wisata Budaya Pasar Terapung 2018, tatapan mataku berhenti di ujung stand Kampoeng Banjar di area waterfront Siring tepian Sungai Martapura.

“Ini baju berbahan kulit kayu”, ujar seorang pria yang berjaga di stand Kabupaten Tabolang.

Sore itu, saya sedang menikmati Banjarmasin lewat Festival Wisata Budaya Pasar Terapung 2018. Ada 13 stand, terdiri dari 11 stand Kabupaten dan 2 stand Kota.

“Baju berbahan kayu ini merupakan budaya Dayak Deah Tabalong”, lanjutnya. “Dayak Deah adalah suku Dayak yang tinggal di hulu sungai”.

Pak Wencen, Pengrajin Baju Berbahan Kulit Kayu
Pak Wencen, Pengrajin Baju Berbahan Kulit Kayu

Percakapan itu mengawali perkenalan saya dengan Pak Wencen (66 tahun). Beliau merupakan salah satu pengrajin baju kulit kayu dari Desa Pangelak, Upau, Tabalong. “Butuh waktu sekitar 2 – 3 jam untuk memipihkan kulit kayu menjadi lembaran kain”, jelas Pak Wencen. “Lama pengerjaan tentu saja tergantung kebutuhan luas kain. Setelah dipipihkan dengan cara dipukul-pukul, kami keringkan”.

“Butuh berapa lama untuk mengeringkannya, pak?”, tanya saya antusias.

“Tergantung cuaca. Kalau cuaca sepanas ini, hanya butuh 2 jam”, jawab pak Wencen sambil memandang langit Banjarmasin yang siang itu begitu terik.

Pak Wencen bercerita tentang kayu Tarap Hundang. Kulit kayunya yang biasanya digunakan sebagai bahan utama pembuatan baju berbahan kulit kayu. “Kayu seperti ini banyak ditemukan di kebun atau hutan di daerah kami, di Tabalong,” kisahnya.

Baju Berbahan Kulit Kayu
Baju Berbahan Kulit Kayu

Saya memperhatikan detail pada baju kulit kayu tersebut. Bordiran di pinggirnya menarik mata, juga untaian manik-manik kayu. “Dulu, sebelum ada benang, pinggir baju disulam dengan apa?”, aku memburunya dengan pertanyaan yang lain.

“Pakai serat nanas”, jawab Pak Wencen.

Baju dengan bahan kulit kayu ini merupakan tradisi dari suku Dayak Deah. Sayangnya, sekarang sudah jarang generasi muda yang mau  belajar tehnik pembuatannya, keluh pak Wencen. Aku ingat aroma kayu Daluang yang ditunjukkan oleh Pak Wencen. Sengaja di bawanya untuk ditunjukkan pada setiap pengunjung Festival Wisata Budaya Pasar Terapung 2018.

“Festival seperti ini jarang banget terjadi. Ini adalah kesempatan kami untuk mengenalkan tentang tradisi kami ke orang banyak”, kesedihan tiba-tiba menguar memenuhi udara di tepian Sungai Martapura. Wanginya berbaur dengan kisah-kisah lain dari Pak Wencen tentang tradisi, budaya, Dayak Deah dan kegalauan Pak Wencen pada regenerasi tehnik memipih kulit kayu yang kian punah.

Berfoto bersama peserta Festival Pasar Terapung yang memakai kostum Dayak Deah
Berfoto bersama peserta Festival Pasar Terapung yang memakai kostum Dayak Deah

“Suatu hari, jika Alam Semesta mendukung, datanglah ke desaku,”, katanya sebelum senja redup. “Akan kutunjukkan betapa kita akan kehilangan banyak hal jika tradisi ini hilang”

Aku memandang Pak Wencen, menatap mata tuanya yang mulai lelah sambil mengamini doa-doanya. Semoga, pak. Semoga, kelak aku sampai di kampungmu.

Advertisements