Kue Pukis Thien Thien Lay


Kue Pukis Thien Thien Lay

“Thien Thien Lay” yang artinya “Datang Datang Lagi” merupakan salah satu jajanan malam di Kota Semarang yang ga boleh di lewatkan.

Dua kali kesana di dua malam berturut-turut dan selalu membeli. Saya termasuk follower yang “datang datang lagi” πŸ˜‚

Pukisnya terdiri dari 4 pilihan, yaitu: keju, coklat, kacang, dan kismis. Rasanya lembut dan tidak terlalu manis. Tidak “seberat” pukis di Kotabaru-Jogja, tapi yg satu ini jangan diremehkan rasanya.

Pukisnya tetap lembut dan moist meski dimakan besok pagi nya, bahkan setelah dikeluarkan dari kulkas.

Kali pertama makan pukis thien thien lay, perut saya sudah foodcomma sehingga tidak bisa makan lagi. Alhasil saya makan pukis di subuh dan tetap enak. Besoknya saya beli lagi satu kotak, dibawa pulang buat oleh-oleh teman di Jogja. Ternyata setelah di kulkas semalaman pun, pukisnya tetap enak.

Berlokasi di jalan MH. Thamrin. Buka setelah maghrib sampai sehabisnya. Salah satu oleh-oleh dari Kota Semarang yg Anda perlu coba. Jangan khawatir, harganya pun cukup murah πŸ˜‚

Happy Culinary. – at Kue Bandung & Pukis Thien Thien Lay

View on Path

Gule Kambing Bustaman


Gule Kambing Bustaman

Ke Semarang ga lengkap kalo ga mencoba Gule Kambing Bustaman. Awalnya saya ditawari mencicipi Gule Kambing Bustaman di belakang Gereja Blenduk, tapi “perasaan” saya ingin makan gule datang terlalu sore, tepat saat gule kambing telah habis.

Di lain hari, kami mencoba Gule Kambing Bustaman Pak Darso di depan Pasar Ikan Hias. Di samping gerobak Es Dawet Duren. Ini jenis makanan yg saling melengkapi. Iya. Melengkapi kolesterol πŸ˜‚

Kenapa Bustaman? Bustaman sebenarnya nama kampung di salah satu sudut Kota Semarang. Terkenal karena sejak dulu, di kampung inilah sentra jual beli daging kambing.

Penyebutan Gule Kambing Bustaman pun seperti kita menyebut Sate Madura, Rendang Padang, Coto Makassar, lebih merujuk pada nama daerah.

Apa yg spesial dari Gule Kambing Bustaman? Pasti ya daging kambingnya. Dijagal oleh para Penjagal dari kampung Bustaman.

Bagian favorit saya, yg di gule adalah kepala kambing nya. Dan Anda bisa memilih ingin bagian yg mana? Lidah, telinga, mata? Setelah memilih, bagian tersebut akan dipotong kecil-kecil dengan pisau atau gunting. Setelah itu baru disiram kuah gule. Tak lupa disajikan dengan sepiring nasi putih.

Keistimewaan lainnya, santan diganti dengan bubuk kelapa kering, agar lebih kental. Mereka menyebut bumbunya dengan “galian” terdiri dari kemiri dan bawang merah.

Setiap mengingat kemiri, saya langsung teringat, bahwa buah inilah yg membuat kita dijajah bertahun-tahun.

Tapi, barangkali jika kita tidak dijajah. Kemiri tidak akan sampai ke Tanah Jawa. Dan hari ini kita tidak bisa menikmati gule seenak ini. Gule Pantura dari Kampung Bustaman πŸ˜‚

Happy Culinary. – at Gule kambing Blek “Pak Darso”

View on Path

Es Dawet Duren Pak Munajad


Es Dawet Duren Pak Munajad

Awalnya saya ingin menjajal Es Dawet Duren di Taman Gajahmungkur, tapi 2 kali datang, ya 2 kali juga kehabisan. Akhirnya, kami mengalah mencari Es Dawet Duren di Segitiga Erlangga, eh ternyata habis jugak 😭

Akhirnya, kami meluncur ke Pasar Ikan Hias, di samping Gule Kambing Bustaman “Pak Darso” kami menemukan Es Dawet Duren yg kami cari.

Yeaaay! Bahagianya hatiku πŸ’ͺ

Es Dawet Duren berkomposisi Dawet, Duren, Tape Ketan Hijau, Alpukat, Es Serut, Santan dan Gula Jawa.

Harus diakui bahwa Kota Semarang itu panas sekali, sehingga bisa menemukan es enak diteriknya Semarang adalah kebahagiaan tersendiri buat kami.

Es Dawet Duren versi Pak Munajad lebih light dibandingkan dengan Es Dawet Duren di tempat lain. Pada hari-hari selanjutnya, akhirnya kami mencoba Es Dawet Duren versi yang lain. Tapi yg ini lebih segar karena tak terlalu manis.

Setidaknya, kami sudah cukup bahagia hanya dengan makan Es Dawet Duren. Ternyata bahagia itu memang sederhana huahaha πŸ˜‚

Happy Culinary.

View on Path

Nasi Babat Gongso Pak Taman


Nasi Babat Gongso Pak Taman

Salah satu menu yang recommended buat di coba di Kota Semarang. Nasi Babat Gongso Pak Taman buka dari jam 06.30 pagi hingga jam 16.00 sore. Faktanya, jika Anda datang kesana, bahkan jam makan siang pun sudah kehabisan beberapa menu spesialnya, yaitu Babat Gongso dan Nasgor Babat.

Berlokasi di selatan Stadion Diponegoro (depan kantor BPN), tempat ini ramai dari pagi sampai sore.

Orang Semarang memang terkenal doyan jeroan. Yang saya suka dari tempat ini adalah bukanya setelah matahari terbit. Setidaknya saya ga deg-degan dengan kolesterolnya kalo makan jeroan di siang hari.

Meski andalannya adalah babat, jika anda tak suka, anda bisa memilih jeroan yg lain. Ada iso, jantung, limpa, paru. Pokoknya semua ada. Yg ga ada hanya alat pengukur kolesterol nya saja huehehe πŸ™ˆ

Babat gongso-nya terasa manis pedas. Bumbunya sangat cocok dimakan dengan nasi putih. Meski terlihat sangat berlemak, tapi setelah dicicipi terasa ringan di lidah. Nasi babat gongso disajikan di atas piring yang dialasi daun pisang dan acar mentimun, menambah citarasanya makin menarik.

Makanan kayak gini bikin ketagihan. Ketagihan nasi dan bumbunya. Duh! πŸ™ˆ

Happy Culinary. – at Nasi goreng babat Pak Taman

View on Path