Yogya dan Hari Lahir Pancasila


Kenapa Yogyakarta heboh sekali soal Hari Lahir Pancasila?

Tahukah kalian, sesungguhnya 1 Juni 1945 adalah bagian kecil dari deretan panjang sidang yang diselenggarakan oleh BPUPKI.

Sidang pertama BPUPKI diselenggarakan 28 Mei – 1 Juni 1945 membahas Dasar Negara. Sidang Kedua BPUPKI 10 – 17 Juli 1945 membahas Bentuk Negara, Wilayah Negara, Kewarganegaraan, Rencana Undang-Undang Dasar, Ekonomi dan Keuangan, Pembelaan, Pendidikan dan Pengajaran.

Yogyakarta mengirimkan orang-orang terbaiknya kala itu: Radjiman Wedyodiningrat, Ki Hajar Dewantara, Ki Bagoes Hadikoesoema, Abdoel Kahar Moezakir, BPH. Poeroebojo, BPH. Bintoro dan Ny. RSS Soenarjo Mangoenpoespito.

Radjiman menjadi Ketua Sidang BPUPKI. Bahkan, istilah 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila ditulis beliau dalam kata pengantar Risalah BPUPKI.

Saat kemerdekaan diproklamirkan, Yogyakarta adalah daerah pertama yang menggabungkan diri.

Dukungan kita tidak hanya sampai disana. Saat pemimpin Republik Indonesia Soekarno – Hatta terancam di Jakarta, Sri HB IX dan Paku Alam VIII mengutus kurir ke Jakarta.

Mempersilakan kepada Soekarno – Hatta memindahkan ibukota RI ke Yogyakarta dengan jaminan penuh mereka berdua.

Peristiwa paling fenomenal dalam sejarah KAI kita. KLB RI dikeluarkan, sebuah kereta malam, yang dinaiki Soekarno – Hatta & keluarga.

Dinaiki dengan mengendap-endap dari stasiun di belakang rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur 56 menuju ke Yogyakarta.

Tindakan gila saat itu karena akibatnya adalah Yogyakarta di serang Belanda. Agresi Militer.

Tapi Yogyakarta adalah bagian Negara Republik Indonesia, tugas kita memang menjaga negeri ini. Apapun taruhannya.

Bukan itu saja, Keraton Yogyakarta menyerahkan seluruh kas keraton untuk membiayai pemerintahan awal Republik Indonesia. 6 Juta Gulden, semua uang yang dimiliki Keraton Yogyakarta kala itu.

Soekarno memerintah negri ini dari Gedung Agung. Awalnya Gedung Agung kosong. Keraton Yogyakarta dan Puri Pakualaman memindah perabotan Keraton dan Puri untuk mengisi Gedung Agung.

Yogyakarta pernah menjaga Republik ini tetap utuh dan akan tetap seperti itu untuk seterusnya.

Tugas ini adalah warisan dari leluhur kita. Menjaga NKRI, menjaga Pancasila, menjaga ke-Bhinneka-an.

Kita Indonesia. Kita Pancasila.

Pancasila Agawe Guyub


Buat saya pribadi, sangat menarik menyimak Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada tiap 1 Juni. Bagaimana tidak?

1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila sejak masa Kusno (nama kecil Sukarno) berkuasa, tapi Orde Baru menghilangkannya dari Kalender Nasional.

Menggantinya dengan apa? Dengan Hari Kesaktian Pancasila.

Tapi sebenarnya sejak kapan 1 Juni jadi Hari Lahir Pancasila?

Dalam Risalah BPUPKI yang pertama terbit tahun 1959, di kata pengantarnya, Radjiman Wedyodiningrat – Ketua BPUPKI – menuliskan 1 Juni 1945 adalah Hari Lahir Pancasila, hari dimana Kusno berpidato pertama kali mengenalkan kata “Panca Sila”.

Kenapa Sila, bukan Dharma?

Dharma berarti kewajiban, kita membicarakan dasar. Sila artinya asas atau dasar dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.

Lima sila yang jika diperas jadi tiga sila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ke-Tuhan-an. Tiga sila yang jika diperas, jadi satu sila, yaitu: gotong royong. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Sidang I BPUPKI 28 Mei – 1 Juni 1945, kita membicarakan Dasar Negara. Mimpi yang sangat luar biasa ya?

Pinjam istilah Wong Jawa: “Pidato Sukarno ndakik-ndakik”. Terlalu tinggi. Merdeka saja belum, kok mikir Dasar Negara.

Tapi begitulah, Negara kita dibangun diatas mimpi. Mimpi hidup merdeka.

Banyak hal yang bisa dipelajari disana. Misal, ada 2 perempuan yang duduk di BPUPKI. Iya. Hanya ada 2 perempuan, satu perempuan dari Yogyakarta dan satu lagi dari Semarang.

Perempuan dari Semarang itu bernama Mr. Maria Ulfah Santoso. Beliau adalah perempuan pertama yang bergelar Meester in de Rechten di Negri kita. Lulusan Sarjana Hukum dari Leiden.

Perempuan satu lagi, berasal dari Yogyakarta bernama lengkap Siti Soekaptinah Soenarjo Mangoenpoespito. Istri dan sekaligus tokoh pergerakan: anggota Jong Java, Pemuda Indonesia, Ketua Pengurus Besar Jong Islamieten Bond Dames Afdeling, Penulis Kongres Perempuan Indonesia IV, Ketua Poetera bagian wanita di Jakarta, Ketua Pengurus Pusat Huzinkai, Anggota PB Perwari, Ketua Kowani Pusat, Ketua PB Masjumi Muslimat.

Bayangkan, di jaman seperti itu, betapa liberalnya negeri kita.

Di saat di Arab, perempuan tidak boleh keluar rumah sendirian, tidak boleh menyetir mobil. Di Negri kita, perempuan malah duduk sebagai Pembentuk Negara – The Founding Fathers – membicarakan Dasar Negara, Wilayah Negara, dan siapa saja yang bisa disebut Warga Negara.

Sungguh terlalu para leluhur kita!

Dari 60 anggota BPUPKI, 4 diantaranya adalah etnis Tionghoa, yaitu Oei Tjong Hauw, Oei Tiang Tjoei, Liem Koen Hian, dan Mr. Tan Eng Hoa.

Dua lelaki Tionghoa yang disebut diawal adalah perwakilan dari Jawa Tengah. Putra Raja Gula dari Semarang – Oei Tiong Ham – ikut memikirkan dasar Negara kita.

Ada Frits Dahler, sahabat Douwess Dekker, pria ini Indo. Darahnya Belanda, tapi jiwanya Indonesia.

Ada Ki Bagoes Hadikoesoema dari Yogyakarta, ketua PP Muhammadiyah ke-5.

Ada KH. Abdoel Wachid Hasjim dari Jombang, ayah dari Gusdur, Ketua Madjelis Islam A’laa Indonesia.

Ada Abdoel Kahar Moezakir, yang berbarengan dengan sidang PPKI, beliau juga menjabat menjadi Rektor ke-1 UII 8 Juli 1945 – 1960.

Lalu, yang tidak boleh terlewatkan, tepat di hari ini: 1 Juni 1945. Seorang lelaki muda bernama Ahmad Rasyid Baswedan – pria Surabaya keturunan Arab – berpidato di atas podium: “Kebangsaan tidak berdasarkan keturunan, tapi menurut tempat dimana dia berada. Saya seorang Islam, maka saya nasionalis Indonesia”.

Saya Indonesia, Saya Pancasila.

Tabik!

 

Pasar Kangen Jogja


Pada akhirnya, setiap pertemuan selalu berujung perpisahan. Berawal dari teman kost, teman kuliah, teman ngopi, teman kulineran, teman piknik hingga teman-nya teman.

Perjalanan hidup membawa kita menempuh takdir yg berbeda.

Barangkali, kita salah satu yg beruntung, beda kota tapi tetap bisa jumpa. Tidakkah itu sebuah kemewahan yg tidak dimiliki orang lain?

Beberapa orang diluar sana, tinggal satu kota tapi tak pernah jumpa. Kita sebaliknya.

Jadi, marilah berdoa agar rejeki mengalir seperti sungai. Entah rejeki buat siapa, salah satu dari kita. Doakan saja, selalu ada rejeki untuk bertemu.

Entah aku yg ke kotamu, kamu yg ke kotaku atau bahkan pada satu titik, kita berjanji bertemu di sebuah kota, di belahan negara yang lain.

Sampai jumpa lagi teman-teman. Kuharap dunia tak terlalu besar untuk membuat jarak diantara kita. Sehat-sehatlah selalu. – with Chandra, Andika, and Kurnia at Taman Budaya Yogyakarta

View on Path

Hari Lebaran


Hari Lebaran

Saya masih ingat sekali lebaran tahun kemarin, Bapak sempat bercanda: “Bapak ingin meninggal tepat di hari Lebaran. Bapak suka lebaran, semua orang berkumpul. Bahagia rasanya”.

Bapak mengucapkannya tepat disaat semua anak dan cucunya berkumpul di ruang keluarga.

Saya tau sekali jika perkataan Bapak adalah sindiran buat saya. Saya adalah satu-satunya anak Bapak yg merantau jauh, selama bertahun-tahun dan hanya pulang jika lebaran tiba.

“Bapak kalo ngomong sukanya yang aneh-aneh lho,” jawab saya.

Bapak hanya tertawa.

“Jangan meninggal di hari lebaran,” kata saya, “kita ga mau-lah mengenang hari lebaran sebagai hari dimana bapak meninggal. Bisa sedih tiap lebaran datang”.

Saya masih mengingat dgn baik percakapan tsb. Percakapan setahun lalu di malam lebaran, tepat seperti malam ini, seolah-olah itu adalah percakapan kemarin sore.

Waktu itu kami menganggap perkataan Bapak sebagai angin lalu, bercanda jayus. Karena memang Bapak suka bercanda (tentang hal-hal tidak lucu) dgn kami, anak-anaknya.

Lebaran tahun kemarin, Bapak masih sehat. Sungguh. Bapak yg biasanya sakit-sakitan tak mau makan, sungguh ajaib bisa merampungkan sebulan puasa Romadhon dengan sempurna, full sebulan.

Kami pun menganggap semua baik-baik saja.

Beberapa hari kemudian, setelah saya kembali ke Jogja, Bapak kembali jatuh sakit. Keluar masuk Rumah Sakit.

Berita terlalu cepat datang. Bahkan saya tak sempat pulang. Tengah malam, saya ditelpon mengabarkan jika Bapak sudah meninggal. Padahal beberapa jam sebelumnya, saya masih bisa bicara dengan Bapak di telpon.

Waktu itu akhir Agustus, Bapak berpulang ke rumahNya. Dan seperti janjinya, Bapak tidak meninggal di hari Lebaran. Bapak memilih “pulang” di hari lain, hari yg terletak diantara Idul Fitri dan Idul Adha.

Hari dimana saya, tidak perlu mengenang Lebaran sebagai hari tersedih sepanjang hidup saya.

Selamat Lebaran, Bapak. Minal Aidin Wal Faidzin. Semoga di surga sana, ada banyak malaikat yg menemani Bapak. Memasakkan makanan kesukaan Bapak.

Di malam-malam Lebaran seperti ini, saya kangen Bapak. Biasanya Bapak terbangun tengah malam untuk menemani saya menonton tivi hingga larut sambil mengobrol.

Saya kangen menemani Bapak makan tengah malam. Menghangatkan rendang untuk Bapak dan membuat teh hangat.

Selamat Lebaran, Bapak. Baik-baiklah disana. Saya rindu.

View on Path

Penyadap Getah Karet


Barangkali pekerjaan yg terlihat mudah itu adalah menjadi penyadap getah karet. Modal pisau, kulit kayu di sayat lalu pasang mangkok, kemudian di tinggal pergi.

Tiap sore atau pagi keliling kebun mengumpulkan karet hasil sadapan.

Terlihat mudah, tapi tidak semua orang bisa melakukan. Bayangkan ada berapa ribu pohon yg mesti diawasi.

Kadang, saya kagum, ada seseorang yg bisa melakukan pekerjaan yg sama terus-terusan, hari demi hari, hingga tahun demi tahun. Tidak bosankah, pak?

Sama dengan komentar si bapak penyadap kepada saya: “memang kau tak bosan dgn pekerjaanmu?”.

“Bosan, pak”. Jika bosan lantas kenapa masih bekerja?

Karena jika tak punya pekerjaan akan jauh lebih bosan lagi.

Kita melakukan sesuatu bukan karena menyenangkan atau membosankan. Kadang, kita melakukan sesuatu, karena pekerjaan bagian dari ibadah. Bahkan terkadang, kita bekerja untuk alasan yg sangat sentimentil: agar nampak berguna, entah untuk siapa.

Selamat sore, dari saya yg pamitnya nyari kelapa muda tapi malah maen kemana-mana.

View on Path