Pasar Kangen Jogja


Pada akhirnya, setiap pertemuan selalu berujung perpisahan. Berawal dari teman kost, teman kuliah, teman ngopi, teman kulineran, teman piknik hingga teman-nya teman.

Perjalanan hidup membawa kita menempuh takdir yg berbeda.

Barangkali, kita salah satu yg beruntung, beda kota tapi tetap bisa jumpa. Tidakkah itu sebuah kemewahan yg tidak dimiliki orang lain?

Beberapa orang diluar sana, tinggal satu kota tapi tak pernah jumpa. Kita sebaliknya.

Jadi, marilah berdoa agar rejeki mengalir seperti sungai. Entah rejeki buat siapa, salah satu dari kita. Doakan saja, selalu ada rejeki untuk bertemu.

Entah aku yg ke kotamu, kamu yg ke kotaku atau bahkan pada satu titik, kita berjanji bertemu di sebuah kota, di belahan negara yang lain.

Sampai jumpa lagi teman-teman. Kuharap dunia tak terlalu besar untuk membuat jarak diantara kita. Sehat-sehatlah selalu. – with Chandra, Andika, and Kurnia at Taman Budaya Yogyakarta

View on Path

Hari Lebaran


Hari Lebaran

Saya masih ingat sekali lebaran tahun kemarin, Bapak sempat bercanda: “Bapak ingin meninggal tepat di hari Lebaran. Bapak suka lebaran, semua orang berkumpul. Bahagia rasanya”.

Bapak mengucapkannya tepat disaat semua anak dan cucunya berkumpul di ruang keluarga.

Saya tau sekali jika perkataan Bapak adalah sindiran buat saya. Saya adalah satu-satunya anak Bapak yg merantau jauh, selama bertahun-tahun dan hanya pulang jika lebaran tiba.

“Bapak kalo ngomong sukanya yang aneh-aneh lho,” jawab saya.

Bapak hanya tertawa.

“Jangan meninggal di hari lebaran,” kata saya, “kita ga mau-lah mengenang hari lebaran sebagai hari dimana bapak meninggal. Bisa sedih tiap lebaran datang”.

Saya masih mengingat dgn baik percakapan tsb. Percakapan setahun lalu di malam lebaran, tepat seperti malam ini, seolah-olah itu adalah percakapan kemarin sore.

Waktu itu kami menganggap perkataan Bapak sebagai angin lalu, bercanda jayus. Karena memang Bapak suka bercanda (tentang hal-hal tidak lucu) dgn kami, anak-anaknya.

Lebaran tahun kemarin, Bapak masih sehat. Sungguh. Bapak yg biasanya sakit-sakitan tak mau makan, sungguh ajaib bisa merampungkan sebulan puasa Romadhon dengan sempurna, full sebulan.

Kami pun menganggap semua baik-baik saja.

Beberapa hari kemudian, setelah saya kembali ke Jogja, Bapak kembali jatuh sakit. Keluar masuk Rumah Sakit.

Berita terlalu cepat datang. Bahkan saya tak sempat pulang. Tengah malam, saya ditelpon mengabarkan jika Bapak sudah meninggal. Padahal beberapa jam sebelumnya, saya masih bisa bicara dengan Bapak di telpon.

Waktu itu akhir Agustus, Bapak berpulang ke rumahNya. Dan seperti janjinya, Bapak tidak meninggal di hari Lebaran. Bapak memilih “pulang” di hari lain, hari yg terletak diantara Idul Fitri dan Idul Adha.

Hari dimana saya, tidak perlu mengenang Lebaran sebagai hari tersedih sepanjang hidup saya.

Selamat Lebaran, Bapak. Minal Aidin Wal Faidzin. Semoga di surga sana, ada banyak malaikat yg menemani Bapak. Memasakkan makanan kesukaan Bapak.

Di malam-malam Lebaran seperti ini, saya kangen Bapak. Biasanya Bapak terbangun tengah malam untuk menemani saya menonton tivi hingga larut sambil mengobrol.

Saya kangen menemani Bapak makan tengah malam. Menghangatkan rendang untuk Bapak dan membuat teh hangat.

Selamat Lebaran, Bapak. Baik-baiklah disana. Saya rindu.

View on Path

Penyadap Getah Karet


Barangkali pekerjaan yg terlihat mudah itu adalah menjadi penyadap getah karet. Modal pisau, kulit kayu di sayat lalu pasang mangkok, kemudian di tinggal pergi.

Tiap sore atau pagi keliling kebun mengumpulkan karet hasil sadapan.

Terlihat mudah, tapi tidak semua orang bisa melakukan. Bayangkan ada berapa ribu pohon yg mesti diawasi.

Kadang, saya kagum, ada seseorang yg bisa melakukan pekerjaan yg sama terus-terusan, hari demi hari, hingga tahun demi tahun. Tidak bosankah, pak?

Sama dengan komentar si bapak penyadap kepada saya: “memang kau tak bosan dgn pekerjaanmu?”.

“Bosan, pak”. Jika bosan lantas kenapa masih bekerja?

Karena jika tak punya pekerjaan akan jauh lebih bosan lagi.

Kita melakukan sesuatu bukan karena menyenangkan atau membosankan. Kadang, kita melakukan sesuatu, karena pekerjaan bagian dari ibadah. Bahkan terkadang, kita bekerja untuk alasan yg sangat sentimentil: agar nampak berguna, entah untuk siapa.

Selamat sore, dari saya yg pamitnya nyari kelapa muda tapi malah maen kemana-mana.

View on Path

Memilah Biji Kopi


Memilah Biji Kopi

Jaman saya kecil, hidup saya ga jauh-jauh dari memilah kopi dari kulitnya, jemur kopi, giling kopi. Pekerjaan sehari-hari yg saking sehari-harinya sampe sebel melakukannya.

Anehnya, setelah menetap di Jogja, pekerjaan macam ini jadi trend tersendiri 😂

Nah, kalo biasanya saya terima beres, dari biji kopi udah jadi bubuk kopi. Kali ini, saya mendapat request dari bbrp teman untuk membawakan biji kopi. Yang satu minta dikirim ke Pekanbaru, yg satu di Pontianak, yg satu lagi Semarang.

Saya membeli biji kopi ini setelah sholat subuh. Kopinya masih dari petani pertama, jadi masih belum di sortir. Setelah ini baru akan di pilah. Dipilahnya juga ga satu-satu, takutnya nanti saya lumutan kalo memilah satu-satu.

Memilahnya menggunakan cara lokal, di ayak pake tampah.

Jadi inget, kemarin ada selebtuit yg bahkan ga bisa bedain, mana tampah mana saringan?

Terus sempet ditanya, “tampah itu buat ngayak beras kan, ya?”

Duh, kamu sungguh orang kota sekali, kak. Saya kasih tau ya, tampah itu multifungsi. Tampah bisa buat ngayak beras, kopi, kacang tanah. Bisa buat tempat sayur mentah sebelum dipetik, sblm dirajang. Bahkan tampah bisa dipakai buat ngangkut banyak makanan, jajanan.

Kamu tau ga, di sini beberapa bakul pecel itu jualan pake tampah, bakul pempek yg keliling itu juga pake tampah lho. Diletakkan diatas kepala.

Ibu-ibu PKK disini, suka bikin nasi tumpeng diatas tampah.

Betapa sebenarnya, tampah adalah penemuan orang Indonesia paling spektakuler.

Saya ajah jemur kopi pake tampah 😂

Semalam liat bahasan warkop di Belitung. Belitung tidak menghasilkan kopi. Kopi yg beredar disana rata-rata Kopi Lampung yg di kemas ulang.

Saya sendiri, sebenarnya lebih suka Kopi Semendo. Semendo adalah nama suku yg tinggal di kawasan perbatasan Lampung – Sumatera Selatan. Rasa Kopinya khas.

Dulu, jaman SD, saya kalo liburan sekolah menghabiskan waktu tinggal di Muara Dua. Daerah orang Semendo. Kopi dan Duren tiap pagi buat sarapan.

Lupa gimana bahasa lokalnya, tapi ga lupa piye rasanya 😂 ahihihik

Selamat Liburan, Selamat Ngopi. – with Nh Maysuri, Taufik, and Dodon

View on Path

Selamat Pagi, Jalanan Sepi


Selamat pagi, jalanan sepi.

Jam segini masih sepi, bukan karena ini jalanan kampung, tapi menjelang lebaran, orang sedang sibuk bikin kue di rumah.

Ini adalah jalan menuju ke pasar. Pada hari biasa (di luar bulan Romadhan) jalanan ini rame sejak subuh.

Berkali-kali diperbaiki, jalanan depan rumah selalu rusak, truk dan mobil-mobil besar penyebabnya.

Bangunan tinggi di depan adalah asrama Kesusteran, samping nya adalah Gereja Katolik. Loncengnya akan berdentang di jam 6 pagi, jam 12 siang, dan jam 6 sore. Waktu saya kecil, siklus hidup saya berdasarkan lonceng gereja.

Lonceng Gereja jadi alarm gratis buat kami yg tinggal di sekitar gereja. Jika lonceng gereja berdentang di pagi hari dan saya masih di tempat tidur, artinya saya bakal terlambat masuk sekolah. Saat lonceng berdentang di jam 6 sore, itulah saat saya masuk kandang. Waktu bermain sudah habis.

Saat-saat tertentu, misal detik-detik proklamasi, lonceng gereja kembali berdentang. Di hari lain, saat salah satu suster atau romo meninggal, lonceng juga kembali berdentang.

Hampir sebagian besar dari warga kampung disini, menghabiskan masa kecil dengan bermain di taman Gereja, kompleks kesusteran, kompleks kepasturan, panti asuhan. Sekolah yg satu kompleks mulai dari SD-SMP-SMA.

Di depan rumah adalah RSUD Pringsewu. Rujukan hampir semua orang di kawasan selatan Lampung. Sebagian besar tanah yg digunakan jadi Rumah Sakit sebenarnya adalah tanah milik Kesusteran. Demikian juga tanah yg digunakan untuk rumah dinas para dokter.

Dulu, ada lapangan besar milik Kesusteran di depan Rumah Sakit. Di lapangan tsblah, kami warga kampung pertama kali melihat helikopter. Mulai dari helikopter milik Gereja hingga milik para pejabat. Saya ingat, dulu Romo-Romo dari luar negeri (terbanyak dari Belanda) diturunkan dari helikopter bersama barang-barang dari para dermawan luar negeri.

Pun pejabat militer, datang dari Jakarta dgn helikopter di lapangan tsb. Hari ini lapangan tsb sudah tidak ada, berganti Gereja baru yg jauh lbh besar dari gereja lama di depan rumah.

Aih, betapa lamanya saya pergi dari rumah. – at Pasar Pringsewu

View on Path