Nasi Bebek Bu Rima


Nasi Bebek Bu Rima

Pernah malam-malam, saya diajak teman mencari makan di sekitaran Kuta. Waktu itu rencananya kami makan dari sore, tapi karena saya pulang piknik sekitaran jam 10 malam. Jadilah, jam 11 kami baru keluar dari hotel.

Mencari makanan tradisional sekitar jam 11 malam Wita ternyata ga mudah di daerah Kuta. Adanya itu-itu ajah, semua sudah pernah saya coba.

Pilihan akhirnya jatuh ke Nasi Bebek Bu Rima. Alasannya simple, teman saya yg asli Bantul ini kangen makanan Jawa 😂 Saya sih oke ajah, namanya juga diajak.

Nasi Bebek Bu Rima berlokasi di jalan Raya Kuta Tuban. Ga jauh dari Joger. Buka hingga tengah malam. Tempatnya ga terlalu besar, tapi pengunjungnya sangat ramai. Penuh sesak.

Taste Nasi Bebeknya lebih mirip ke Nasi Bebek ala Jawa Timuran. Hampir mirip dgn yg saya coba di Banyuwangi. Sambal mentah pedas dan lalapan yg cukup beragam.

Yg bikin unik, diatas Bebek Goreng di tambahkan bumbu kare. Bumbu kare-nya tidak encer, juga tidak terlalu kental.

Daging bebek yg dioleskan ke kare lalu ke sambal itulah rahasia kelezatan Nasi Bebek Bu Rima ini.

Lalapan dan sambal boleh nambah, gratis. Selain bebek, ada juga ayam, lele, burung puyuh, tahu, tempe. Tapi yg paling spesial ya Nasi Bebek-nya.

Sayangnya, makan disini ga bisa ngobrol lama-lama. Pembelinya banyak. Kalo kita duduk kelamaan, di pelototi sama pembeli berikutnya.

Nasi Bebek Bu Rima adalah pilihan yg menarik kalo Anda lapar tengah malam di Kuta. Pilihan yg pas juga, kalo teman kerjamu kangen taste Jawa dan butuh makanan Halal.

Tenang, sambelnya berlevel medium kok, setidaknya ga sepedas sambel nya Nasi Tempong Pak Indra. 😂

Kalo kalian tanya, enak mana Nasi Bebek Bu Rima dengan Nasi Bebek yg di Surabaya?

Jawaban saya simple, malam sebelumnya saya makan Bubur Hongkong di Bali dan saya putuskan ga tepat membandingkan bubur hongkong buatan lokal dgn bubur Hongkong yg pernah saya makan di Hongkong. Semua tepat pada waktunya, kak.

Kamu harus nyobain sendiri untuk tau bagaimana rasanya.

Happy Culinary!

View on Path

Advertisements

Nasi Tempong Pak Indra


Nasi Tempong Pak Indra

Saya berkali-kali datang ke Banyuwangi ga pernah makan Nasi Tempong. Giliran ke Bali malah makan Nasi Tempong 😂

Nasi Tempong adalah salah satu penyelamat saya, kalo rombongan yg saya bawa mulai bosan dengan masakan khas Bali 😂

Jujur sih, lidah kita meski bisa bertoleransi dengan menu baru. Tapi lewat 3 hari pasti kangen makanan khas asal kita.

Nah, pilihan jatuh pada Nasi Tempong yang saya anggap taste nya rada Jawa. Banyuwangi masih di Jawa, kan?

Ciri khas Nasi Tempong adalah sambal yg pedas. Saking pedasnya, rasanya kayak di tempong alias di tampar.

Sambalnya pake jeruk sambel yg menimbulkan aroma lapar. Seperti umumnya lalapan banyuwangi, lalapan nya setidaknya 4-5 macam yg rata-rata dikukus, seperti labu, bayam, terong, timun.

Lauknya pun cukup variatif, ada ikan asin, tahu, tempe, ayam, ikan, dll.

Kalo di Banyuwangi nasi tempong dijual di warung-warung biasa atau lesehan. Nasi Tempong Pak Indra di Bali dijual di rumah makan yg cukup bagus. Nasi Tempong yg saya coba berlokasi di jalan Dewi Sri, ga jauh dari kawasan Kuta.

Pesan moralnya sih satu, ternyata bawa rombongan itu memang kita yg kudu toleransi. Toleransi lidah. Di saat saya sedang semangat menunjukkan semua taste makanan khas ala Bali, eh yg diajak piknik malah minta makanan dgn taste Jawa.

Kalo sudah begitu, apalah daya adek, bang? 😚

View on Path

Rutinitas


Bangun pagi itu rutinitas. Rutinitas itu sama seperti saat kita membuka mata dan bernapas.

Bersyukurlah, jika masih bisa menikmati cahaya pagi. Sama bersyukurnya atas jantung yg berdetak di dada kita.

Dalam budaya Hindu di India dan agama Shinto di Jepang, banyak ritual yg dilakukan untuk bersyukur atas matahari pagi. Ritual yg hanya dilakukan oleh orang-orang yg bangun pagi.

Buat kita, keturunan para petani, bangun pagi artinya bersyukur pada bumi pertiwi. Atas sawah yg hijau dan gemericik air.

Bahkan para saudara kita yang nelayan, bangun pagi menatap matahari di garis cakrawala berarti menatap hari baru, harapan baru.

Bangun pagi berarti pergi ke pasar. Mencari uang buat keluarga. Berbelanja buat keluarga. Untuk hidangan yg disediakan pagi ini oleh para istri. Untuk senyum bahagia anak-anak kita.

Jadi, apakah kamu masih bersyukur bisa bangun pagi?

View on Path

Asuransi Cinta


Asuransi Cinta

Suatu siang, saya sedang duduk di bawah balai-balai. Siang itu matahari Bali sedang panas-panasnya. Tepat jam 12 siang.

Saya dan teman-teman sedang memperhatikan suasana pantai yg setiap sudutnya sedang pemotretan prewed.

Sambil menonton dari kejauhan, kami pun ngobrol.

“Salut ya, jam 12 siang gini, pada mau photo prewed. Padahal panas banget. Sungguh pengorbanan sekali,” kata saya.

“Cinta pada satu sisi memang bisa melindungi kita dari teriknya siang dan dinginnya hujan,” jawab teman.

“Itu cinta apa asuransi? Kok ada klausul melindungi?”

Kami tertawa tergelak dan melanjutkan menonton para pasangan prewed.

Kau tau, asuransi itu bukan menabung, bukan investasi. Asuransi ya asuransi. Saat digabung dgn investasi, jadi unitlink.

Seperti itu juga cinta. Cinta ya cinta. Cinta itu bukan investasi. Bahkan di satu sisi, cinta bisa membuatmu terluka, membuatmu lebih miskin. Dan tak ada asuransi untuk mengobati patah hatimu.

Asuransi itu kayak payung. Saat hujan, bukan berarti kita tidak basah. Tapi memiliki payung akan jauh lebih baik.

Sama seperti cinta. Kita akan tetap terluka. Tapi memiliki cinta akan membuat hidup kita lebih baik.

Kami pun tergelak. Tertawa bersama. Seharusnya para agen asuransi memasukkan patah hati sebagai penyakit berat.

Jadi, mau bayar premi berapa, kak, buat mengobati sakit hatimu? 😂

View on Path