Bubur Yoyong


Sarapan Bubur

Awalnya, tadi pagi saya hendak sarapan bubur sambal tumpang di sekitar kantor. Berhubung habis, saya pun melipir ke sekitar per4an Pingit.

Tepat disamping utara RM. Sintawang saya menemukan @buburyoyong.

Pilihan saya jatuh pada bubur dgn telur setengah matang dan potongan cakwe. Mengingatkan saya pada bubur di Laota-Bali dan sarapan bubur nasi di Hongkong.

Secara garis besar memiliki garis merah kekerabatan, meski sudah disesuaikan dengan “taste lokal”.

So far, recommended dicoba jika sedang piknik ke Yogya.

Happy Culinary! – at Bubur Yoyong

View on Path

Advertisements

Kopi Jo Fermentasi


Saya yakin, Anda sudah pernah ke Pasar Kangen Jogja. Pasti sudah pernah nyobain Kopi Jo.

Pasar Kangen Jogja di tahun 2016 kali ini adalah pasar kangen ke-9. Betapa cepat waktu berlalu ya?

9 tahun yg lalu, pertama saya kenal Pak Jo, peracik kopi ber-rum ini. Saya ingat, Chandra waktu itu masih mahasiswa hingga kini dia telah bekerja.

Pernah juga kami membeli kopi Jo di jalan Damai, sebuah warung kopi yg pernah beliau buka. Yg tak lama kemudian pun, kukut 😂

Sebenarnya, saya hanya jumpa Kopi Jo di event-event saja. Barangkali karena begitu, saya selalu kangen dengan kopi racikan beliau.

Saya orang yg sangat penasaran dgn kopi apa yg beliau pakai, berapa banyak, mencari dimana. Kemudian tehnya beli dimana? Huahaha 😂 saya orang yg banyak tanya ya

Kopi yg kali ini saya posting adalah Kopi Fermentasi. Fermentasi? Hah. Kok bisa? 😂 penasaran kan?

Kopi ini tidak dijual ke semua orang. Hanya tertentu dan hanya jika Anda bertanya.

Kopi ini hasil fermentasi 3,5 bulan. Rasanya asam semriwing. Mampir dan cobalah.

#PasarKangenJogja – with Chandra and Andika at Taman Budaya Yogyakarta

View on Path

Hari Lebaran


Hari Lebaran

Saya masih ingat sekali lebaran tahun kemarin, Bapak sempat bercanda: “Bapak ingin meninggal tepat di hari Lebaran. Bapak suka lebaran, semua orang berkumpul. Bahagia rasanya”.

Bapak mengucapkannya tepat disaat semua anak dan cucunya berkumpul di ruang keluarga.

Saya tau sekali jika perkataan Bapak adalah sindiran buat saya. Saya adalah satu-satunya anak Bapak yg merantau jauh, selama bertahun-tahun dan hanya pulang jika lebaran tiba.

“Bapak kalo ngomong sukanya yang aneh-aneh lho,” jawab saya.

Bapak hanya tertawa.

“Jangan meninggal di hari lebaran,” kata saya, “kita ga mau-lah mengenang hari lebaran sebagai hari dimana bapak meninggal. Bisa sedih tiap lebaran datang”.

Saya masih mengingat dgn baik percakapan tsb. Percakapan setahun lalu di malam lebaran, tepat seperti malam ini, seolah-olah itu adalah percakapan kemarin sore.

Waktu itu kami menganggap perkataan Bapak sebagai angin lalu, bercanda jayus. Karena memang Bapak suka bercanda (tentang hal-hal tidak lucu) dgn kami, anak-anaknya.

Lebaran tahun kemarin, Bapak masih sehat. Sungguh. Bapak yg biasanya sakit-sakitan tak mau makan, sungguh ajaib bisa merampungkan sebulan puasa Romadhon dengan sempurna, full sebulan.

Kami pun menganggap semua baik-baik saja.

Beberapa hari kemudian, setelah saya kembali ke Jogja, Bapak kembali jatuh sakit. Keluar masuk Rumah Sakit.

Berita terlalu cepat datang. Bahkan saya tak sempat pulang. Tengah malam, saya ditelpon mengabarkan jika Bapak sudah meninggal. Padahal beberapa jam sebelumnya, saya masih bisa bicara dengan Bapak di telpon.

Waktu itu akhir Agustus, Bapak berpulang ke rumahNya. Dan seperti janjinya, Bapak tidak meninggal di hari Lebaran. Bapak memilih “pulang” di hari lain, hari yg terletak diantara Idul Fitri dan Idul Adha.

Hari dimana saya, tidak perlu mengenang Lebaran sebagai hari tersedih sepanjang hidup saya.

Selamat Lebaran, Bapak. Minal Aidin Wal Faidzin. Semoga di surga sana, ada banyak malaikat yg menemani Bapak. Memasakkan makanan kesukaan Bapak.

Di malam-malam Lebaran seperti ini, saya kangen Bapak. Biasanya Bapak terbangun tengah malam untuk menemani saya menonton tivi hingga larut sambil mengobrol.

Saya kangen menemani Bapak makan tengah malam. Menghangatkan rendang untuk Bapak dan membuat teh hangat.

Selamat Lebaran, Bapak. Baik-baiklah disana. Saya rindu.

View on Path

Beef Roll


Salah satu menu favorit saya:

Beef Roll

Vegetable, beef, and orange spicy sauce.

Didalam gulungan beef tsb berisi sayuran, yg saat digigit akan memberikan taste unik di mulut. Tingkat kematangan beef pas, rasa gurihnya berbaur dengan sayuran didalamnya.

Jangan lupa mencoba yg satu ini di VOC Cafe. – with VOC

View on Path

Bakso Bandeng Juwana


Bakso Bandeng

Menu rekomendasi buat kamu berbuka puasa di Jogja yg sore ini hujan rintik-rintik romantis.

Bakso Bandeng dari Bandeng Bakar Juwana

Nama tempat makannya memang gitu, Bandeng Bakar Juwana. Tapi menurutku, ada banyak varian makanan enak disini selain Bandeng Bakarnya. Ini nih salah satunya, Bakso Bandeng.

Kalo di Semarang ada Bakso Kakap yg begitu terkenal. Maka kamu harus membuat Bakso Bandeng ini terkenal jugak di seantero Jogja #eh

Rasa baksonya seperti umumnya bakso. Tapi kalo pas dikunyah gitu, kerasa kalo ada ikan bandeng yg tidak digiling halus. Aromanya sih, kayak aroma bandeng yg dibuat sop itu. Wangi wangi syedap 😂 ahihihik

Penasaran?

Cuss ke Bandeng Bakar Juwana. Lokasi di jalan Magelang km.5 No.119 Yogyakarta

Happy Culinary! – at Bandeng Bakar Juwana (BBJ)

View on Path