Memilah Biji Kopi


Memilah Biji Kopi

Jaman saya kecil, hidup saya ga jauh-jauh dari memilah kopi dari kulitnya, jemur kopi, giling kopi. Pekerjaan sehari-hari yg saking sehari-harinya sampe sebel melakukannya.

Anehnya, setelah menetap di Jogja, pekerjaan macam ini jadi trend tersendiri 😂

Nah, kalo biasanya saya terima beres, dari biji kopi udah jadi bubuk kopi. Kali ini, saya mendapat request dari bbrp teman untuk membawakan biji kopi. Yang satu minta dikirim ke Pekanbaru, yg satu di Pontianak, yg satu lagi Semarang.

Saya membeli biji kopi ini setelah sholat subuh. Kopinya masih dari petani pertama, jadi masih belum di sortir. Setelah ini baru akan di pilah. Dipilahnya juga ga satu-satu, takutnya nanti saya lumutan kalo memilah satu-satu.

Memilahnya menggunakan cara lokal, di ayak pake tampah.

Jadi inget, kemarin ada selebtuit yg bahkan ga bisa bedain, mana tampah mana saringan?

Terus sempet ditanya, “tampah itu buat ngayak beras kan, ya?”

Duh, kamu sungguh orang kota sekali, kak. Saya kasih tau ya, tampah itu multifungsi. Tampah bisa buat ngayak beras, kopi, kacang tanah. Bisa buat tempat sayur mentah sebelum dipetik, sblm dirajang. Bahkan tampah bisa dipakai buat ngangkut banyak makanan, jajanan.

Kamu tau ga, di sini beberapa bakul pecel itu jualan pake tampah, bakul pempek yg keliling itu juga pake tampah lho. Diletakkan diatas kepala.

Ibu-ibu PKK disini, suka bikin nasi tumpeng diatas tampah.

Betapa sebenarnya, tampah adalah penemuan orang Indonesia paling spektakuler.

Saya ajah jemur kopi pake tampah 😂

Semalam liat bahasan warkop di Belitung. Belitung tidak menghasilkan kopi. Kopi yg beredar disana rata-rata Kopi Lampung yg di kemas ulang.

Saya sendiri, sebenarnya lebih suka Kopi Semendo. Semendo adalah nama suku yg tinggal di kawasan perbatasan Lampung – Sumatera Selatan. Rasa Kopinya khas.

Dulu, jaman SD, saya kalo liburan sekolah menghabiskan waktu tinggal di Muara Dua. Daerah orang Semendo. Kopi dan Duren tiap pagi buat sarapan.

Lupa gimana bahasa lokalnya, tapi ga lupa piye rasanya 😂 ahihihik

Selamat Liburan, Selamat Ngopi. – with Nh Maysuri, Taufik, and Dodon

View on Path

Advertisements

Genjer-genjer


Genjer

Sudah pernah makan sayur genjer? Iya. Ini genjer seperti yg dinyanyikan dalam lagu genjer-genjer.

Waktu saya kecil, saya selalu bertanya-tanya, apa salah genjer? Sehingga tak boleh dinyanyikan. Padahal sayur genjer itu enak banget lho. Suer!

Genjer adalah gulma yg biasanya tumbuh di sawah. Karena dianggap gulma biasanya ya hanya dibabat habis, lalu dibuang.

Di beberapa wilayah, seperti Sumatera dan beberapa wilayah di Jawa, saya menjumpai genjer menjadi salah satu sayur dalam nasi pecel.

Di kampung saya, Lampung, genjer umumnya dimasak oseng pedas dgn campuran kecambah kedelai atau teri. Rasanya? Hhhmmm uenak banget 😂

Ini salah satu sayur yg jadi kekayaan kuliner kita, karena belum tentu ada di semua daerah.

Kapan-kapan saya ceritakan tentang sayur putri malu khas dayak. Iya. Putri Malu yg tumbuh liar di pinggir jalan itu, bisa disulap jadi kuliner enak lho di Kalimantan.

Happy Culinary!

View on Path

Beef Roll


Salah satu menu favorit saya:

Beef Roll

Vegetable, beef, and orange spicy sauce.

Didalam gulungan beef tsb berisi sayuran, yg saat digigit akan memberikan taste unik di mulut. Tingkat kematangan beef pas, rasa gurihnya berbaur dengan sayuran didalamnya.

Jangan lupa mencoba yg satu ini di VOC Cafe. – with VOC

View on Path

Bakso Bandeng Juwana


Bakso Bandeng

Menu rekomendasi buat kamu berbuka puasa di Jogja yg sore ini hujan rintik-rintik romantis.

Bakso Bandeng dari Bandeng Bakar Juwana

Nama tempat makannya memang gitu, Bandeng Bakar Juwana. Tapi menurutku, ada banyak varian makanan enak disini selain Bandeng Bakarnya. Ini nih salah satunya, Bakso Bandeng.

Kalo di Semarang ada Bakso Kakap yg begitu terkenal. Maka kamu harus membuat Bakso Bandeng ini terkenal jugak di seantero Jogja #eh

Rasa baksonya seperti umumnya bakso. Tapi kalo pas dikunyah gitu, kerasa kalo ada ikan bandeng yg tidak digiling halus. Aromanya sih, kayak aroma bandeng yg dibuat sop itu. Wangi wangi syedap 😂 ahihihik

Penasaran?

Cuss ke Bandeng Bakar Juwana. Lokasi di jalan Magelang km.5 No.119 Yogyakarta

Happy Culinary! – at Bandeng Bakar Juwana (BBJ)

View on Path

Sizzling Lamb Shank


Sizzling Lamb Shank

Ada suatu masa dimana saya pingin banget buka puasa yg beda. Saya ajaklah teman ke salah satu Resto Lebanon yg cukup ngetop di jalan Sabang.

Setelah melihat kondisi resto, dimana saya ga kebagian kursi, akhirnya saya mengalah pindah ke resto di sebrangnya. Salah satu resto yg menggunakan kata “American”.

Saya memesan menu ini. Menu yg saya anggap paling mendekati Timur Tengah, yaitu Lamb. Apa malah kebarat-baratan ya? 😂

Sizzling Lamb Shank. Daging domba muda, dagingnya import dari New Zealand. Dimasak selama 12 jam sehingga bumbu meresap secara sempurna dan disajikan panas dengan sizzling.

Bagaimana rasanya?
Rasanya enak. Bumbunya meresap. Tentu saja, karena saya blm pernah ke negri-negri dimana Lamb menjadi menu kuliner utama, saya ga bisa membandingkan.

Tapi jujur saja, ini adalah salah satu menu yg cukup sulit saya habiskan sendirian. Karena porsi Lamb-nya besar. Dan makan daging Lamb sebagai menu berbuka puasa ternyata bukan pilihan paling oke.

Saran saya, jika Anda datang makan ke resto ini, bawalah teman yg satu selera. Jadi, saat Anda ga habis, ada yg membantu menghabiskan. Karena sungguh mubazir itu dekat dengan syaiton yg terkutuk 👼

Bismillah. Selamat Menunggu Waktunya Berbuka 😊

View on Path