Thoyibah itu seperti pohon


Tadabburan bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Dusun Sempu, Wonokerto, Turi, Sleman.

Menurut Cak Nun, kalimat Thoyibah itu laksana pohon, yg akarnya menancap dan daunnya menjulang.

Kalimat Thoyibah satu orang dengan yg lain tentu berbeda. Karena tidak terpaku pada kata itu sendiri. Maknanya lebih luas dari arti kata tsb.

Bisa saja terdengar kasar di satu telinga, karena tentu ini kalimat yg dikeluarkan dari kedekatan hati, yaitu cinta.

Dan cinta, dia tak bisa diukur dengan materi, tidak juga dgn logika manusia biasa.

Kalimat thoyibah bisa berupa apa saja, bahkan kata “asu” atau “gentho”. Kalimat thoyibah bukanlah suatu kata pura-pura yg terdengar manis di telinga tapi penuh kepura-puraan di hati.

Seperti pohon, kalimat tsb memiliki akar yg menghujam ke dada masing-masing individu. Bahasa yg hanya dimengerti oleh sepasang anak manusia melampaui akal.

Dan laksana pohon pula lah, daun yg menjulang terdengar begitu mendekatkan. Tak ada kepura-puraan disana.

Dan kau hanya perlu mendengar hatimu, tanpa perlu pusing menerjemahkan maknanya.

yang tersisa dari semalam

View on Path

Advertisements

Jamu Jun


Jamu Jun

Ini dia Jamu Jun, salah satu kuliner legendaris di Kota Semarang. Meski namanya Jamu, tapi ini bukanlah jamu seperti yg biasa kita jumpai. Jamu Jun lebih mirip bubur encer yg rasanya sedap.

Barangkali karena mengandung banyak rempah yg dipercaya menyehatkan, maka disebut Jamu.

Menurut banyak cerita, Jamu Jun bukanlah asli kuliner Semarang. Bbrp menyebutkan Pati, Demak, Jepara lah asal dari Jamu Jun, dengan nama yg berbeda. Di Demak namanya Jamu Coro (Adon-Adon Coro).

Jamu Jun dibuat dari tepung beras, tepung ketan, jahe, serai, kapulaga, pekak, kayu manis, merica, dan tambahan bubuk yg katanya terdiri dari 18 macam rempah (batanget).

Untuk menjaga rasa dan wangi rempah agar tidak berkurang selama berjualan, jamu atau bubur nya ini ditempatkan di dalam gentong kecil dari tanah liat. Gentong kecil inilah yg dinamakan Jun. Inilah awal mula penyebutan Jamu Jun.

Jamu Jun disajikan dalam mangkuk dengan keadaan hangat. Cara penyajiannya, jamu jun ditambah bubuk merica, selo (bubuk putih herbak), dan krasikan. Taburan mericanya membuat rasa Jamu Jun unik dan khas.

Jamu jun memang tepat jika disebut buburnya orang Pantura. Mengingat komposisi rempah yg begitu banyak. Di masa lalu, hanya daerah pelabuhan yg memiliki stock rempah yg begitu banyak hingga bisa mempengaruhi budaya kulinernya.

Konon, pedagang Jepara yg pertama kali berjualan Jamu Jun di Kota Semarang. Meski begitu, saat ini hanya di Kota Semarang yg masih bisa di temui Jamu Jun. Di kota Pantura lainnya (Pati, Jepara, Demak) sudah tidak ada lagi penjualnya.

Saat menikmati Jamu Jun, saya sering bercanda, jangan-jangan sakjane Portugis dan Belanda itu jauh-jauh menjelajahi setengah Bumi hanya untuk semangkuk Jamu Jun 😂

Jamu ini pula yg menyebabkan kita dijajah selama ratusan tahun. Eh salah, Maluku yg dijajah, bukan Jawa. Saat itu, kota-kota pelabuhan kita hanya pelintasan saja.

Saat ini pedagang tradisional Jamu Jun dengan gentong tanah liatnya sudah jarang ditemui. Tapi jika ingin mencoba monggo datang ke Pasar Gang Baru di daerah Semawis. Biasanya mereka berjualan di antara bakul jajanan pasar.

Happy Culinary! – at Pasar Gg Baru, Semarang

View on Path

Es Cao Gang Lombok


Es Cao Gang Lombok

Jika Anda pernah merasakan “sengsara”-nya antri di Lunpia Gang Lombok, pasti kenal yang satu ini: Es Cao.

Pernah sekali waktu, kami mengantri Lunpia dari jam 10 pagi hingga jam 2 sore. Sambil menunggu antrian, kami menikmati Es Campur di Es Cao.

Es Campurnya berkomposisi cincau hitam, pepaya, manisan mangga, kelapa muda, kolang kaling, sirup, dan es serut. Ciri khas rasanya terletak pada sirup yg digunakan, yaitu sirup jadul semacam frambose yg biasanya juga dipakai pada Es Campur di Solo.

Pemiliknya Koh Ahong biasanya duduk-duduk di warung sambil mengajak ngobrol setiap pembeli. Sambil makan kita bisa menonton Koh Ahong dan pegawainya “mengocok-ngocok” kacang tanah.

Di Es Cao ini yang terkenal adalah kolang kaling dan kacang prestonya. Kolang kalingnya dipercaya bisa menyembuhkan tulang yang keropos. Dan kacang tanahnya sangat enak karena di presto dan di “proses” dengan cara tertentu agar tetap kering.

Barangkali, jika Anda ke Semarang dan kehabisan Lunpia Gang Lombok. Anda bisa membeli kolang kaling dan kacang tanah sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah.

Happy Culinary. – at Es Cao Gang Lombok

View on Path

Soto Bangkong


Soto Bangkong

Anda penyuka Soto? Ini dia salah satu soto legendaris di Kota Semarang, yaitu Soto Bangkong. Berdiri sejak 1950, si pemilik merintis Soto Bangkong dari yg hanya pikulan sampai seperti yg sekarang.

Berkomposisi nasi, suun, taoge, suwiran ayam kampung, daun seledri, irisan tomat, taburan bawang merah dan bawang putih goreng kemudian disiram kuah ayam. Kuahnya bening kecoklatan karena ditambahi sedikit kecap.

Cara penyajian Soto Bangkong seperti Soto Kudus, yaitu menggunakan mangkok kecil tapi tinggi.

Buka dari jam 7 pagi hingga jam 10 malam. Soto Bangkong berlokasi di samping Kantor Pos Bangkong di Jalan Mataram, di sebuah per4an lampu merah yg cukup sulit parkirnya 😁

Tempatnya tidak terlalu luas tapi selalu ramai. Seperti tempat makan lain di Kota Semarang, para pembeli di sini harus buru-buru makan, setelah selesai langsung pergi. Keterbatasan tempat membuat kita tidak bisa duduk makan dan berlama-lama ngobrol.

Jika makan soto disini jangan lupa tambahan lauk pauknya, mulai dari sate kerang, perkedel, tempe, ayam atau sate telur puyuh menunggu Anda santap.

Soto Bangkong sebenarnya juga membuka cabang di tempat lain. Tapi seperti biasa, saya selalu percaya, lokasi asal (pertama) selalu yang terenak.

Karena barangkali Anda bisa belajar racikan dan tehnik. Tapi tak ada yg bisa mengalahkan taste air dan tanah. Dan itulah mengapa setiap kuliner selalu memiliki rasa yg khas di setiap kota, karena air tanah yg berbeda.

Itu pula yang menyebabkan kita berkunjung ke kota lain, rasa khas yg tak dimiliki kota kita.

Happy Culinary! – at Soto Bangkong Semarang

View on Path