Sate Lilit Merta Sari


Sate Lilit di Lesehan Merta Sari Klungkung

Satu lagi kuliner, yang meski jauh, kami bela-belain buat dicoba, yaitu sate lilit tuna.

Yang ini bukan sembarang sate lilit, ini sate lilit di Lesehan Merta Sari, Desa Pesinggahan, dekat Gowa Lawah, Kabupaten Klungkung, Bali.

Semua lauk disini terbuat dari tuna, mulai dari sate lilit tuna, sate bakar tuna, pepes tuna, sop ikan tuna, tambahan lainnya sayur, kacang dan sambal matah.

Saya suka sambal matah disini, rasanya berbeda dari semua sambal matah yg pernah saya coba. Sate ikan bakarnya rasanya kayak sate ayam, empuk dgn potongan yg cukup tebal. Paling spesial adalah sup ikan kuah kuning dgn bumbu genep. Rasanya sangat khas Bali.

Disini unik, meski disebut lesehan, tapi tidak duduk dibawah seperti lesehan ala Jawa. Lesehan di sini adalah duduk di Balai-Balai.

Buka dari pagi hingga sore. Meski ramai dan cukup jauh dari Denpasar, tempat ini worth it dikunjungi dan masuk sebagai kuliner wajib jika sedang trip ke Bali.

Berminat mencoba?

Happy Culinary 😘

View on Path

[Trip] Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul


Beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk mengantar teman-teman kantor berwisata ke Goa Pindul dan Air Terjun Sri Gethuk di Gunungkidul. Tema acaranya sich jalan-jalan keluarga. Sengaja saya pilihkan Goa Pindul dan Air Terjun Sri Gethuk, karena selain jarak tempuhnya yang tidak jauh dari Kota Jogja, kedua tempat tersebut merupakan wisata “alam dan air”, sehingga akan disukai oleh anak-anak, baik anak laki-laki dan anak perempuan.

Goa Pindul
suasana di Goa Pindul Karangmojo Gunungkidul

Rute sengaja saya pilihkan lewat daerah Pathuk. Pertama kami menuju ke Goa Pindul di desa Karangmojo. Setelah cukup bersenang-senang merunut aliran sungai di dalam goa pindul, kami pun menuju ke selatan, ke Kecamatan Playen.

Kami menuju Air Terjun Sri Gethuk di desa Bleberan. Bleberan berasal dari bahasa Jawa yang berarti air yang berlimpah, tumpah ruah. Ini bisa di mengerti, karena pada musim kemarau terkering pun, dimana semua sumber mata air di daerah lain telah kering, di desa Bleberan sumber air tetap berlimpah.

Sumber air tersebut salah satunya yang menjadi aliran sungai yang membentuk Air Terjun Sri Gethuk. Air dari Sri Gethuk ini lah yang digunakan untuk pengairan pertanian di desa tersebut. Jadi bisa dibilang aliran air di Sri Gethuk memiliki kuantitas yang cukup besar.

Setelah sekian lama tidak dolan ke Air Terjun Sri Gethuk, ternyata tempat ini mengalami banyak perubahan. Lebih ramai, pasti! Tapi saya juga melihat banyak perluasan jalan baru untuk memfasilitasi tempat wisata ini. Yang paling berbeda adalah sekarang dibuat satu jalan yang memutar untuk menuju Air Terjun Sri Gethuk.

Jadi ada satu pintu retribusi yang kudu kita lewati, kemudian mengikuti jalannya kita akan sampai di Goa Rancang Kencana, dari tempat tersebut kalo kita ikuti lagi jalannya, barulah sampai di Air Terjun Sri Gethuk. Bingung juga pas kemaren datang, kok jadi muter-muter gitu. Ternyata ini memang disengaja. Dulu, orang langsung ajah datang ke Air Terjun Sri Gethuk dan “lupa” mampir ke Goa Rancang. Jalan memutar ini dibuat “sengaja” agar kita mau mampir juga ke Goa Rancang Kencono.

Berhubung di area Goa Rancang sepi, kami pun menggelar tikar disana, ritual makan siang pun dimulai 😉 Para ibu mengeluarkan stok makanan dan minuman. Anak-anak dan para bapak berkumpul menunggu pembagian jatah makan siang. Wah ada lele, sambal udang, sambel terong, tempe goreng, dan lain-lain, pokoknya dijamin maknyuzzz 😉

Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
makan siang di atas Goa Rancang
Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
makan siang di atas Goa Rancang

Setelah makan siang, kami pun menuju ke bawah, ke dalam Goa Rancang. Nama yang tertulis di retribusi wisata adalah Goa Rancang Kencana. Rancang berasal dari kata merancang. Konon warga sekitar yakin jika goa ini digunakan para prajurit mataram untuk merancang strategi. Kata kencana berarti segala sesuatu yang mulia, bisa emas (keduniawian) juga bisa hal-hal yang dianggap mulia secara spiritual.

Untuk memasuki Goa Rancang Kencana, ada sebuah anak tangga yang menurun. Di ujung anak tangga sudah berdiri warga local yang bersedia jadi guide jika kalian menginginkan, tentunya dengan bayaran “seikhlasnya”.

Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah pohon tinggi besar yang ada di dekat tangga memasuki goa. Tentu saya mengenali pohon ini. Dulu, sebelum saya mengunjungi Air Terjun Sri Gethuk beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah menunjukkan hasil jepretannya tentang Goa Rancang. Pohon ini sangat ikonik dengan Goa Rancang Kencana. Melihat pohon ini, saya hanya bisa berkata pada diri sendiri, “saya berada di tempat yang benar”. Seperti dalam photo milik teman saya itu 😉

Jadi begini penjelasan dari guide kami. Pohon tersebut adalah pohon Klumpit yang sudah berumur 2 abad. Goa ini pun adalah goa yang sering dipakai untuk bersemedi. Warga sekitar percaya jika Pangeran Diponegoro dan pasukannya pernah menggunakan goa tersebut. Ada juga yang percaya bahwa pasukan Mataram pernah menempati goa tersebut.

Tidak ada bukti sejarah yang memperkuat kisah ini. Yang saya tahu, di kecamatan sebelah yaitu Kecamatan Paliyan, memang ada makam salah satu pendiri Mataram, yaitu Ki Ageng Giring. Yang terkait dengan kisah Perang Gerilya paling terkenal pun hanya  petilasan dari route gerilya milik Jenderal Besar Soedirman dan pasukannya. Jadi entahlah 😉 *dongeng vs sejarah*

Di dekat pohon Klumpit raksasa tersebut, ada semacam panggung tanah yang lebih tinggi daripada ruangan di goa. Uniknya Goa Rancang adalah tanah di dasar goa bertekstur datar sehingga seperti sebuah ruangan yang luas. Goa Rancang Kencono dibagi menjadi 3 ruangan utama.

Di ruangan pertama, kita bisa menyaksikan ruangan yang luas dan diterangi sinar matahari. Di ruangan ini hanya ada stalaktit yang tua dan telah lama mati. Stalaktit ini mati bisa karena factor alam dan factor manusia. Pertumbuhan stalaktit memang butuh waktu bertahun-tahun, dan tangan jahil manusia yang “iseng” menyentuh ujung stalaktit terkadang menjadi salah satu factor yang mematikan pertumbuhan stalaktit tersebut.

Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
stalaktit di Goa Rancang Kencono
Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
stalaktit di Goa Rancang Kencono
Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
stalaktit diGoa Rancang Kencono

Ruangan yang kedua, memang terlihat lebih sempit, akan tetapi setelah kami mencoba masuk, ternyata bisa memuat beberapa orang. Di ruangan ini dipercaya banyak orang yang melakukan semedi ataupun ritual tertentu. Ini bisa dilihat dari beberapa sajen yang kami temukan 😉

Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
salah satu pintu Goa Rancang

Menuju ruangan ketiga, jalan masuknya semakin kecil. Untungnya saya bawa beberapa anak kecil yang bisa saya suruh masuk duluan ke dalam. Hihihi. Ga nyangka ternyata di dalam ruangan tersebut ada ruang yang cukup besar. Tidak ada yang special di dalam ruang ketiga ini, hanya ada sebuah tulisan di tembok goa berupa “Prasetya Bhinnekaku” dan corat coret tangan jahil.

Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
Prasetya Bhinnekaku

Berhubung ruangannya pengap dan di isi oleh kami ber15 orang, alhasil saya buru-buru keluar dari ruangan ke3 tersebut. Takut pingsan gara-gara kekurangan oksigen 😉

Yang menarik, memang cerita guide kami tentang pahatan berbentuk kunci pada dinding goa. Bentuk pahatannya sih kasar, artinya bisa dikerjakan oleh siapapun. Awalnya kami berpikir, wah kok ada yang iseng ngerusak dinding goa nich. Ternyata guide kami malah bercerita kalo pahatan tersebut adalah letak kunci gaib yang konon dipercaya merupakan kunci dari sebuah pintu yang menghubungkan antara Goa Rancang Kencono dengan Gunung Merapi. Benar atau tidak kisah ini, saya tetep harus bilang: Wooow!

Keluar dari Goa Rancang Kencono, di dekat pohon Klumpit raksasa, terdapat goa lain yang jika ditelusuri, kata guide kami, ujung goa tersebut adalah Air Terjun Sri Gethuk. Sayangnya, kami hanya bisa berjalan beberapa meter saja di dalam goa. Lubang goa tertutup reruntuhan batu akibat gempa beberapa tahun yang lalu.

Goa Rancang Kencono Playen Gunungkidul
Goa menuju Air Terjun Sri Gethuk

Setelah puas mblusukkan di dalam Goa Rancang Kencana, perjalanan pun kami lanjutkan ke tempat wisata selanjutnya, yaitu Air Terjun Sri Gethuk. Yuuuks ikut kita berbasah ria 😉

menuju Air Terjun Sri Gethuk Playen Gunungkidul
menuju Air Terjun Sri Gethuk Playen Gunungkidul

Selamat Berpetualang!

Tulisan Terbaru:

[Trip] Goa Ngingrong Wonosari Gunungkidul


Pulang dari menyusuri pantai di Gunungkidul, kami menemukan tempat wisata baru, namanya Goa Ngingrong. Letaknya di tepi jalan raya Wonosari ke Tepus. Awalnya ga ngerti juga itu tempat apa. Yang nampak sekilas adalah sebuah lembah besar diantara hutan jati.

Dulu pertama kali lihat “lubang” ini, kami hanya mendengar sepintas lalu jika didasar lembah tersebut terdapat goa bernama Goa Winong. Setelah itu, kami hanya sibuk berfoto-foto tanpa bertanya lebih lanjut.

Beberapa hari yang lalu, dalam rangka mengantarkan teman-teman kantor menelusuri pantai selatan, kebetulan saya berhenti lagi di lokasi ini. Kali ini info yang saya dapat lebih akurat dari salah satu penduduk. Jadi, nama goa ini adalah Goa Ngingrong, bukan Goa Winong.

Lembah Karst Mulo Wonosari Gunungkidul
Lembah Karst Mulo Wonosari Gunungkidul

Lembah besar ini adalah lembah karst Mulo. Lembah ini sangat terkenal sebagai tempat pacaran muda mudi dari daerah sekitar. Nah di dasar lembah ini, terdapat sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan warga sekitar di musim kemarau. Saya pun ditunjukkan dengan jelas letak Goa Ngingrong. Kebetulan waktu itu, di dasar lembah, ada petani yang sedang keluar masuk goa, jadi bisa terlihat dari jarak jauh, dimana letak Goa Ngingrong.

Dari tempat kami berpijak ke dasar lembah kira-kira berjarak 70 meter. Ga jelas juga kenapa namanya Goa Ngingrong, yang pasti goa ini ada dua, di sebelah barat dan di sebelah timur. Goa di sebelah barat adalah goa yang kami lihat di dasar lembah, jika di susuri maka goa ini akan berujung pada goa yang ada di utara jalan raya.

Goa yang satu lagi adalah goa di sebelah timur. Konon di dalam goa inilah terdapat sungai bawah tanah lengkap dengan air terjunnya. Wow khan? Goa inilah yang berujung pada sumber air yang ada di ujung goa. Kami pun ditunjukkan jalan baru yang sengaja dibangun warga untuk menuju ke ujung goa. Jalan baru tersebut terbuat dari batu gamping yang terlihat sekali masih putih. Dari jalan baru ini, jika disusuri akan berujung pada sumber air yang cukup besar. Sumber mata air ini umum disebut luweng dandang oleh warga sekitar.

Pake ilmu kira-kira, saya dan teman-teman mulai berpikir, wah goa nya ga terlalu panjang. Kira-kira kita berani ga ya mblusukkan ke dalam goa?

Bapak yang bercerita pada kami, menjawab gurauan kami dengan serius. Ada baiknya menggunakan peralatan yang aman jika hendak menelusuri goa. Goa Ngingrong memiliki medan yang lumayan berat buat pemula. Sore itu, kami memang tidak jadi mblusukkan ke dalam goa. Kapan-kapan saja. Pulang dari Gunungkidul, saya pun mencari info tentang Goa Ngingrong, dan inilah yang saya dapat:

Tiga dekade silam, sekelompok penjelajah goa dari British Cave Researh Assosiation (BCRA) menjadi manusia pertama yang menerangi lorong Goa Ngingrong. Tim yang dipimpin oleh Sir McDonald ini dipandu oleh Sudiyono (alm), seorang staff Proyek Penyediaan Air Baku (PPAB) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kala itu, Departemen Pekerjaan Umum RI bekerjasama dengan Kerajaan Inggris untuk memetakan sistem hidrologi di wilayah cekungan Yogyakarta, khususnya wilayah Gunungkidul yang selalu dilanda krisis air setiap musim kemarau. Penjelahan goa tersebut melahirkan dua buah buku tebal berisi laporan tentang kondisi hidrologi Gunungkidul yang seluruhnya berupa sistem sungai bawah tanah. 

(Sumber: http://speleoside.wordpress.com) klik link ini untuk membaca lebih lanjut.

Saya tidak berani memasang foto dari blog tersebut. Tapi saya harap, setelah selesai membaca tulisan ini, kalian segera meng-klik link tersebut. Entah bagaimana dengan kalian, tapi saya pribadi terpesona melihat foto-foto di dalam Goa Ngingrong tersebut. Benar-benar tempat yang sangat indah. Saya berdoa, setelah tulisan ini diposting, mas pemilik blog-nya akan mengajak saya jalan-jalan menelusuri goa tersebut. I hope, huahaha 😉

Lembah Karst Mulo Wonosari Gunungkidul
Lembah Karst Mulo Wonosari Gunungkidul

Selamat Berpetualang!

Tulisan Terbaru:

[Tour] Goa Petruk


Setelah mblusukkan ke Waduk Mrica Banjarnegara, perjalanan kami lanjutkan menuju Kebumen. Daerah Kebumen selain terkenal dengan pantai Ayah, juga terkenal dengan wisata goa, goa-goa di daerah ini masih satu rantai dengan goa karst yang ada di Gunungkidul dan Pacitan, jadi jangan ngaku pencinta alam kalo belum pernah mblusukkan ke Goa Petruk 😉

Hal pertama yang kudu dicari adalah gapura Selamat Datang di kompleks wisata Pantai Logending-Goa Petruk-Goa Jatijajar.

Dulu pas jaman SMA, saya sudah pernah mblusukkan di Goa Jatijajar, ke pantai Logending (Ayah) pun sudah pernah, nah yang belum pernah cuma mblusukkan ke dalam Goa Petruk. Semangaaattt!

plang wisata Goa Petruk
plang wisata Goa Petruk

Dari gapura kami lurus masuk perkampungan, lalu belok kanan, dari situ nanti kita ambil arah ke pegunungan batu karst. Di beberapa tempat ada penunjuk arah kecil menuju Goa Petruk, atau jika kalian tersesat bisa bertanya pada warga lokal yang umumnya ramah dan baik hati 😉

Goa Petruk masuk wilayah administratif dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Goa ini terletak sekitar 4,5 km dari Goa Jatijajar yang lebih dulu terkenal sebagai kawasan wisata.

Setelah membayar biaya retribusi, kami diperbolehkan menitipkan tas dan barang berharga di kantor petugas. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan petugas, kami pun minta ditemani seorang guide untuk mblusukkan ke dalam goa.

Sempet tanya sama petugas yang berjaga, kenapa namanya Goa Petruk, konon dulu ada batu yang bentuknya kayak hidung petruk di dalam goa. Makanya namanya Goa Petruk, tapi itu dulu. Sekarang batu itu sudah tidak ada lagi, gitu kata petugasnya. Sedih ya? Kata mbah gugel, ulah Belanda menambang phosfat menyebabkan hidung petruk yang jadi logo dari goa ini putus dan sekarang udah ga ada lagi ;-( Selain itu, mbah gugle bilang Doktor Koo, seorang pakar goa dari luar negeri menyebut Goa Petruk sebagai goa terindah di seantero Nusantara. Bangga khan?

Mengawali acara mblusukkan ini kami harus menaiki tangga sejauh 250 meter untuk menuju mulut Goa Petruk. Huft lagi-lagi saya mesti naek tangga!

Di kiri tangga ada sebuah air terjun dan sendang yang airnya adeeem 😉 Air sendang ini berasal dari sungai yang ada di dalam goa, rupanya lokasi air terjun ini jadi tempat muda mudi pacaran 😉

air terjun di kompleks wisata Goa Petruk
air terjun di kompleks wisata Goa Petruk

Setelah menaiki beberapa anak tangga, sampailah kami di mulut Goa Petruk. Di situ kami sudah di tunggu oleh Pak Sukar, guide yang akan menemani kami mblusukkan di dalam goa 😉

Oleh Pak Sukar, kami di pinjami sandal, karena katanya mblusukkan di dalam Goa seharusnya dengan sepatu khusus, bukan nyeker kayak kami 😉 *nyengir*

Selain itu karena goa begitu panjang dan tak ada lampu, maka Pak Sukar menyiapkan kami sebuah petromaks! *nyengir lebih lebar* seumur hidup saya, baru ini saya mblusukkan ke dalam goa pake petromaks.

Trus jangan lupa pake celana pendek ya 😉 mblusukkan di dalam Goa Petruk kudu siap basaaahhh!

Info dari Pak Sukar, panjang Goa Petruk sekitar 750 meter, sampai titik tertentu mblusukkan di dalam goa ini kami kudu merangkak, dan ujung dari goa menuju ke pantai Ayah. Wuiiih keren!

Ohiya, goa ini masih alami banget lho. Umumnya yang datang kemari adalah pecinta alam, soalnya butuh keberanian buat mblusukkan ke dalam Goa Petruk 😉 *pamer* Rugi kan, udah jauh-jauh datang cuma clingak clinguk di mulut goa? Kata guide kami, pemda udah berinisiatif membangun Goa Petruk jadi kayak Goa Gong dan Goa Tabuhan di Pacitan, tapi di demo oleh pecinta alam, wah saya setuju banget nich! Jangan sampe Goa Petruk bernasib sama dengan goa-goa di Pacitan yang jadi korban komersialisasi itu!

Goa Petruk ini sebetulnya terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama atau di lantai I yaitu goa di ruang awal yang dekat dengan mulut goa. Di bagian ini, terdapat ruang besar yang atapnya dipenuhi kelelawar yang berterbangan ke sana kemari dan tanah yang kita injak benyek penuh dengan kotoran kelelawar dengan bau yang ga sedap. Huft *susah nafas*

Masuk lebih dalam, kami melihat ada banyak stalagtit keren yang mengingatkan saya pada beberapa goa karst di Gunungkidul.

stalagtit ini terus mengalirkan air yang dipercaya membuat awet muda
stalagtit ini terus mengalirkan air yang dipercaya membuat awet muda

Ciri khas goa di Indonesia, ada banyak sendang yang air nya dipercaya bikin awet muda dan enteng jodoh 😉 *ngakak*

Nah di bagian pertama mblusukkan ke dalam goa ini, kami melihat ada dua pagar yang kata bapak guide, baru dipasang oleh pemda tapi sudah di protes para pecinta alam 😉 ya iyalah, pagarnya bikin acara mblusukkan ke dalam goa jadi ga keren!

Bagian kedua atau di lantai II dari goa ini dinamakan Goa Semar. Dinamakan Goa Semar, karena terdapat batu sangat besar yang bentuknya persis mirip dengan Ki Lurah Semar dalam tokoh Punakawan.

Di dalam Goa Semar, kami ditunjukkan oleh guide, stalagtit dan stalagmit yang bentuknya sangat banyak dan sangat aneh. Mulai dari Batu Semar, Batu Berdasi, Batu Gajah, Batu mbah Jenggot, Batu Otak, Batu Kura-Kura, Batu Harimau Kumbang, ada juga batu yang mirip tempat tidur, batu yang mirip lumbung padi, batu yang mirip kuburan, batu yang mirip buaya, yang paling bikin saya degh-degh-an batu yang mirip pocong ;-(

Batu mbah Jenggot
Batu mbah Jenggot

Sayangnya saya ga bisa mengabadikan semua batuan yang ada di dalam goa. Susah ambil foto di dalam goa. Kalo pake blitz jadi terlalu terang, kalo ga pake blitz malah gambarnya ga keliatan. Uap air yang terbawa udara kadang membuat lensa kamera jadi basah. Belum lagi jalan yang sempit dan basah, kudu membuat saya hati-hati berpijak agar tidak tergelincir. Wah bisa benjut!

Kekurangannya lagi, kami cuma punya satu petromaks buat ber-12 orang yang berjalan di dalam goa. Kalo guide ada di depan, kami yang dibelakang terseok-seok mengikuti dalam gelap gulita ;-(

Sekitar mblusukkan 350 m kami bertemu dengan sebuah sendang, yang katanya bikin awet muda (lagi)? Wah wah, kalo tiap sendang bikin awet muda, keluar dari goa, kami bisa jadi bayi 😉

Ada aksi gila dari Pak Nardi yang pengen awet muda, untuk membuktikan khasiat air sendang, dia nyebur ke dalam goa. Huaha!

mandi air sendang di dalam Goa Semar
mandi air sendang di dalam Goa Semar

Selain itu, kami juga ditunjukkan sebuah stalagtit dan stalagmit yang konon diabadikan di salah satu serial perangko. Sayangnya saya ga pernah liat gambar perangko tersebut, jadi tidak bisa mengambil gambar dengan gaya yang ada di dalam perangko ;-( adakah dari kalian yang punya perangko bergambar Goa Petruk?

stalagtit dan stalagmit yang pernah diabadikan dalam perangko
stalagtit dan stalagmit yang pernah diabadikan dalam perangko

Batuan yang paling ujung di dalam Goa Semar, ternyata yang paling terkenal dan yang jadi salah satu alasan bapak-bapak anggota team touring Sambang Alam pengen mblusukkan ke tempat ini, yaitu Batu Payudara atau biasa juga disebut batu susu.

Acara mblusukkan kami akhiri paling jauh sampai ke Batu Payudara saja, setelah itu kami kembali ke mulut goa, yah kira-kira mblusukkan 350 meter. Sempet ketemu dengan beberapa pecinta alam yang berniat mblusukkan sampai ujung goa, yaitu menuju ke pantai Ayah sambil merangkak.

This slideshow requires JavaScript.

Kesimpulannya, mblusukkan ke Goa Petruk menyenangkan. Jika kalian sempat, mblusukan lah kesana. Kalo belom pernah mblusukkan, coba saja kayak kami, nyewa guide. Jangan takut, orang kayak Pak Sukar itu sudah 25 tahun jadi guide di Goa Petruk. Ditanggung aman!

Pak Sukar, guide kami
Pak Sukar, guide kami

Sedihnya, sampai sekarang Pak Sukar masih honorer, belum diangkat jadi PNS, dari pak Sukar juga kami baru tau kalo UMR Kebumen itu ga terlalu besar ;-(

Pulang dari mblusukkan di Goa Petruk, acara kami akhiri dengan makan bebek goreng yang yummy crispy 😉

maem bebek goreng
maem bebek goreng

Tak lupa, dalam perjalanan pulang, kami pun menyempatkan diri menikmati langit sore di Pantai Ayah. Perjalanan yang tak terlupakan 😉

Happy Travelling!

*ini adalah dokumentasi acara Touring Team Sambang Alam ke Banjarnegara-Kebumen pada tanggal 27-28 Januari 2012 yang lalu 😉

–The End–

Tulisan Terbaru:

[Trip] Goa Pindul


Setelah mblusukan ke Wisata Alam Air Terjun Sri Gethuk, perjalanan kami lanjutkan ke Wisata Alam Goa Pindul. Dari desa Bleberan kami mengambil arah Wonosari. Jika dari arah selatan, ikuti saja jalanan beraspal ke utara hingga mencapai pertigaan kantor Kelurahan Gading, lalu pilih jalan ke utara lagi hingga sampai di Bunderan Siyono. Di sekitar bunderan Siyono, kami mampir dulu untuk makan siang di salah satu Rumah Makan Padang.

Setelah perut kenyang, perjalanan kami lanjutkan ke arah utara, ke arah desa Bejiharjo. Jika kalian bingung, maka ini arahnya:

Jika dari Yogyakarta, rute normal: lewat jalan Yogya Wonosari-Bukit Bintang-Bunderan Siyono belok kiri-Perempatan Grogol belok kiri-masuk Desa Bejiharjo.

Kalo mau lewat rute wisata: lewat jalan Yogya Wonosari-Bukit Bintang-Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran-Desa Wisata Bobung-Sambipitu-Rest Area Bunder-Bunderan Siyono belok kiri-Perempatan Grogol belok kiri-trus masuk Desa Bejiharjo.

Sebenarnya dari Jogja arah ke Goa Pindul ini sangat mudah, cukup temukan bunderan Siyono lalu belok kiri, lurusss saja! sampai temukan perempatan dengan lampu merah dan plang hijau besar penunjuk jalan ke arah Desa Bejiharjo, belok kiri ikuti jalan. Di sepanjang jalan, banyak kok penunjuk jalan menuju Goa Pindul. Jika tidak yakin, ya tanya saja ke rumah penduduk ato warung, hampir semua warga desa sudah tau kalo kita tersesat disana, pasti sedang menuju Goa Pindul.

Jangan kaget, di sepanjang jalan, banyak anak muda yang mau mengantarkan kita untuk menuju ke Goa Pindul secara gratis 😉 tapi setelah saya tanya-tanya dan ngobrol ngalor ngidul ke beberapa petugas yang bekerja di desa Wirawisata Goa Pindul, ternyata para petugas inilah yang memberi tips ke anak-anak muda tersebut.

Menurut para petugas, mereka “memilih” untuk memberikan tips secara langsung ke anak-anak muda tersebut, daripada anak-anak muda tersebut yang meminta kepada kita (para pengunjung) dengan harga yang tidak normal. Ini dilakukan demi menjaga citra Wisata Alam Goa Pindul. Salut!

Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul

Nah, kalo kalian bener-bener ngerasa bingung untuk mencapai Goa Pindul, ada baiknya membaca website wirawisata Goa Pindul dulu, ato meng-kontak mas Budi Hardiyanto di 085328143888 atau 081804396631 (pin BB: 2a3e5020). Pas kemaren saya nulis status di twitter mau jalan-jalan ke Goa Pindul, langsung dapat retwitt dari twitter wirawisata.

Wisata Alam Goa Pindul
kesibukan di Sekretariat Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul
kesibukan di Sekretariat Wisata Alam Goa Pindul

Usut punya usut, ternyata yang jadi admin di twitter itu namanya mas Daryono. Orangnya kurus tinggi dan ramah banget. Mas Daryono kemana-mana bawa kamera dan topi ala duta SO7, kayaknya dia emang satu-satunya fotografer disana. Bahkan kami sempet ngobrol tentang pariwisata di Gunungkidul sampai hampir maghrib.

Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul

Dari mas Daryono, kami jadi tau kalo ternyata para pengunjung Goa Pindul dari luar kota bisa kok minta dijemput di alun-alun Wonosari, nanti bakalan dijemput dengan bus khusus milik wirawisata, gratis!

Kenapa namanya Wirawisata? ternyata pengelola Desa Wirawisata itu adalah pemuda Karangtaruna dari dusun Gelaran II desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo. Jadi, ini usaha bersama warga dusun sekaligus meng-padatkarya-kan warga buat bekerja halal sambil menjaga alam dan nama baik Desa Wisata Goa Pindul. Keren kan? Ohiya, jangan takut, para petugasnya itu udah terlatih kok, dan yang penting karena mereka itu warga lokal yang lahir dan besar disana, yah bisa juga dijuluki sebagai yang mbaurekso Goa Pindul. huehe!

Berhubung jaman PKM saya pernah (juga) tinggal di Karangmojo, jadi sedikit banyak ngerti juga tentang beberapa kisah disana. Goa Pindul ini termasuk sebagai tempat wisata baru dari Kecamatan Karangmojo, baru 4 bulan di populerkan sebagai tempat wisata untuk umum. Dulu kalo mblusukan dalam goa ga bakal dipungut biaya retribusi, beda dengan sekarang. Objeknya sendiri adalah penelusuran goa sepanjang 300 meter dengan menggunakan alat pelampung ban.

Pengelola menyediakan peralatan serta pemandu untuk penelusuran goa. Untuk paket standar “penelusuran Goa Pindul”, tarif yang diberikan 25ribu rupiah dengan fasilitas berupa pemandu, peralatan (baju pelampung, ban, dan sepatu) serta segelas wedang jahe panas. Selain itu pengelola juga menyediakan paket tambahan bagi wisatawan yang menginginkan paket outbond ataupun homestay berupa rumah khas penduduk dengan dinding bambu, pemancingan dan rumah makan.

Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul

Memerlukan waktu sekitar 45 menit untuk melakukan penelusuran goa ini. Pengunjung akan dibagi dalam beberapa kelompok, setelah dipasangkan beberapa peralatan safety, pengunjung akan dibriefing dulu oleh para pemandu. Kebetulan kemaren pada saat kami melakukan penelusuran Goa Pindul, kelompok kami mendapatkan pemandu Mbah Bardi dan Mbah Piyar. Orangnya lucu dan ramah. Sepanjang perjalanan jadi penuh gelak tawa 😉 udah gitu cukup sabar dengan kami yang banyak mau dan suka heboh sendiri!

Wisata Alam Goa Pindul
Mbah Bardi dan Mbah Piyar pemandu kami

Bagi kalian yang takut dengan penelusuran goa, tenang kok semua aman kalo pake baju pelampung meski kita ga bisa berenang tetap akan mengapung, dengan catatan baju pelampung terpasang kuat di badan. Ohiya, semua barang-barang berharga ada baiknya disimpan didalam tas, dan diletakkan di tempat penitipan barang dengan biaya 1000 rupiah.

Wisata Alam Goa Pindul
tempat penitipan barang-barang berharga

Kalo mau bawa kamera, boleh-boleh ajah tapi dari awal udah dikasih tau kalo ada resiko jatuh ke dalam air pas di dalam goa, maka barang harus diikhlaskan hilang, karena ga ada yang bakal mengambil ke dalam goa dengan kedalaman air antara 8 hingga 13meter.

Gimana kalo kamera basah? kami dibagikan plastik kresek bening untuk membungkus kamera guna meminimalisir kamera basah akibat terciprat air. Jadi begitulah, dengan baju pelampung berwarna mencolok, sepatu karet berwarna putih, ban pelampung, kamera terbungkus plastik, aktivitas susur goa pun dimulai!

Wisata Alam Goa Pindul
briefing oleh pemandu sebelum penelusuran goa dimulai
Wisata Alam Goa Pindul
sebelum penelusuran Goa Pindul dimulai

Mengikuti penelusuran Goa Pindul, masuk ke dalam mulut goa kita memasuki zona pertama, yaitu zona terang. Di zona ini kita masih bisa menyaksikan keindahan dalam goa dengan jelas yaitu stalagtit, kelelawar dan ornamen batu. Perjalanan ke mulut goa dengan lebar sungai sekitar 5 meter dengan kedalaman hampir 8 meter, jadi makin seru dan menantang.

http://wirawisata.blogspot.com/2012/01/cave-tubing-pindul.html
pintu masuk Goa Pindul (foto milik wirawisata Goa Pindul)
Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul

Usai zona pertama, kita masuk ke zona kedua yaitu zona remang, kondisi cahaya yang semakin berkurang membawa kita menuju pertengahan Goa Pindul. Di zona remang sudah terdapat fenomena yang beda dengan zona sebelumnya, yaitu jenis kelelawarnya dan stalagtit yang berbeda.

Nanti kita bakal ditunjukkan sebuah lubang di atap Goa Pindul, yang ternyata merupakan lantai dari rumah yang di jadikan sebagai Sekretariat Wisata Alam Goa Pindul. Jadi letak Sekretariat Wisata Alam Goa Pindul itu tepat diatas Goa Pindul.

Kalo cerita dari mbah Bardi –pemandu kami– kelelawar itu kalo lagi pipis dalam posisi badan terbalik, jadi kaki diatas dan kepala dibawah. Nah lho? pertanyaannya: “kalo gitu pas pipis, semua badannya jadi basah karena air kencing dunks?”. Huaha. Kita jadi ger-gerrr-an didalam goa.

Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul

Selain pemandangan kelelawar yang bergelantungan, kita juga bisa ngeliat atap Goa Pindul yang kayak lukisan. Jadi inget pelajaran tentang abris sous roche, manusia-manusia purba yang hidup di goa dengan lukisan merah di dinding 😉 cihuuuyyy petualangan di dalam goa jadi semakin asyik!

Nah, penelusuran dilanjutkan ke zona ketiga yaitu zona gelap abadi, dimana memang sudah tidak ada terlihat cahaya lagi. Hanya mata dari kelelawar dan suara khas di dalam goa serta gemericik air yang terdengar. Pada saat kita di dalam zona gelap abadi, oleh mbah Bardi dan mbah Piyar –pemandu kita– senter di helm kepala dimatikan. Untuk sesaat kita mengheningkan cipta, berdoa sambil mensyukuri anugerah Tuhan. Nice banget yaks 😉

Info tambahan ya? Di dalam goa, ada sebuah stalagtit jantan, konon barang siapa mengelus-elus akan jadi perkasa 😉 ini buat cowok. Ada juga stalagtit puting masih aktif, katanya kalau minum tetesannya akan menjadi subur bagi wanita dan efek airnya pun juga menambah cantik ;). Ada juga stalagtit dan stalagmit yang menyatu, menjadi yang terbesar ke-4 di dunia. Butuh 5 orang untuk melingkarinya, konon celahnya hanya cukup dilewati satu orang saja.

Keindahan semakin bikin wow, pas kita ditunjukkan batu kristal yang masih hidup. Haduwh keren banget! Kata pemandu kami, soalnya diatasnya ada tanaman (yang aku lupa namanya) nah tetesan air dari akar tanaman tersebut meresap kedalam tanah yang berbatu karst, sehingga menghasilkan keajaiban alam kayak gitu. Trus saya sempet nanya, “kalo dijual mahal ga mbah?”. Jawabannya “mahal dunks, tapi itu kan dilindungi mbak. Ada kok petugas dari pemda yang selalu meninjau!”.

Di beberapa lokasi, juga ada beberapa stalagtit yang bentuknya mirip banget sama tirai, makanya namanya batuan “tirai”, batuan ini merupakan stalagtit yang tersusun dari tetesan air di dinding goa.

for your information, stalagtit ataupun stalagmit yang airnya masih menetes ada baiknya jangan disentuh meskipun diperbolehkan oleh pemandunya. Kata temen-temen yang kuliah di jurusan geografi dan pencinta alam, sentuhan tersebut akan mematikan pertumbuhan stalagtit ataupun stalagmit.

Sebelum keluar dari goa, kita akan melihat cahaya dari goa njomplang (goa terbalik). Goa Njomplang yang dimaksud sebenarnya adalah sebuah lubang besar dilangit-langit Goa Pindul. Kalo dilihat dari permukaan tanah,  sebenarnya itu luweng yang biasanya terdapat pada jenis tanah ber-karst.

http://wirawisata.blogspot.com/2012/01/cave-tubing-pindul.html
Goa Njomplang (foto milik Wirawisata Goa Pindul)

Setelah basah kuyup kedinginan. Akhirnya kita keluar dari sisi lain mulut goa dan pemandangan luar pun terlihat. Sayangnya, selama mengikuti penelusuran Goa Pindul, tangan kami harus berpegangan erat agar tak terlepas, alhasil susah buat motret didalam goa, ndilalahnya bisa motret, eh karena kebungkus plastik, hasil jepretan jadi ga okeh plus saya lupa setting kamera untuk night mode. Jadi bener-bener ga punya dokumentasi tentang langit-langit goa. Tapi kalo kalian mau, lain kali jika kalian ikut penelusuran Goa Pindul lebih baik menyewa jasa fotografer saja sebesar 85ribu rupiah.

http://wirawisata.blogspot.com/2012/01/cave-tubing-pindul.html
pintu keluar Goa Pindul (foto milik Wirawisata Goa Pindul)
Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul
Wisata Alam Goa Pindul

Masih dengan pakaian basah kuyup, kita menunggu mobil yang akan menjemput kita untuk kembali ke Sekretariat Wisata Alam Goa Pindul. Sambil menunggu mobil jemputan, mbah Bardi dan mbah Piyar –pemandu kita– bercerita tentang legenda Goa Pindul.

Masyarakat sekitar percaya, kalo Goa Pindul berasal dari legenda Nogogini yang mencari putranya. Si Nogogini (yang namanya juga ular naga panjangnya) menerobos tanah, makanya di Gunungkidul banyak goa-goa didalam tanah. Cerita ini mengingatkan saya dengan legenda terbentuknya Bledug Kuwu.

Nah mata air dari Goa Pindul mereka percaya sebagai air mata dari Nogogini yang tak menemukan anaknya. Nama “pindul” sendiri berasal dari kata “pipi nyundul” 😉 huehe unik ya legendanya?

Wisata Alam Goa Pindul
mobil yang mengantar kami kembali ke Sekretariat Wisata Alam Goa Pindul

Oleh mobil jemputan kami diantarkan sampai ke Sekretariat Wisata Alam Goa Pindul. Setelah mandi dan berganti baju bersih, kami diberikan segelas wedang jahe panas ;). Oleh mas Daryono, kami malah sempet diajak cerita tentang wayang beber yang khas Karangmojo, eh kalian tau ga? di Kecamatan Karangmojong, kalo pas acara bersih desa terkenal dengan upacara Cingcing Guling lho. Upacara ini terkait dengan cerita asal usul orang Gunungkidul yang percaya kalo mereka adalah keturunan Majapahit. Untuk cerita yang ini, dibahas kapan-kapan saja ya. Sore itu, berhubung kami sudah kelelahan jalan-jalan seharian, kami pun segera pulang kembali ke Jogja. Sampai jumpa di jalan-jalan selanjutnya 😉

–Selamat Jalan Jalan–

Tulisan Terbaru: