Hari Buku


Membaca Buku

Beberapa hari yang lalu, saat saya ke Gereja, seorang teman bercerita: “sekarang Gereja tdk lagi menyediakan Madah Bakti, mbak. Sekarang semua orang membawa tablet/henpon selama misa”.

Membaca buku, nampaknya menjadi budaya yang kian tergerus dengan datangnya budaya internet. Lewat tablet/henpon kita bisa mengunduh bacaan apa saja, bahkan yg terkait dgn religi. Ini pun terbawa hingga ke gereja/masjid.

Saya bertanya-tanya apakah manusia jaman sekarang masih membaca buku?

Saya sendiri sangat menyukai membaca buku. Buku dalam arti sesungguhnya. Tebal, berlembar-lembar dengan bau kertas yg khas dan merepotkan. “sungguh tidak praktis,” begitu teman kerja mengomentari saya.

Sebagai seseorang yg lahir di luar Pulau Jawa, buku adalah kemewahan tersendiri. Jaman saya kecil, tidak ada Taman Bacaan, tidak ada Perpustakaan Desa. Bahkan toko buku pun sangat jarang.

Praktis, satu-satunya cara agar bisa membaca buku adalah dengan meminjam.

Saya beruntung. Meski tinggal di kampung, saya sekolah di Yayasan Katolik, sekolahan terbaik di daerah saya. Di Perpustakaan Sekolah inilah saya membaca banyak hal.

Bukan itu saja, teman-teman sekolah yg mayoritas warga peranakan adalah anak-anak kaya yg tdk pernah pelit meminjami buku.

Rumah saya yg dekat dengan kompleks Kesusteran dan Kepasturan, di perpus-perpus mereka lah saya membaca buku. Itu pun dengan catatan, buku tidak boleh dibawa pulang. Tapi disana, kami boleh membaca apa saja. Gratis.

Masa-masa SMA saya membaca Pramoedya Ananta Toer. Saat itu, buku Pram tidak dijual di pasaran. Kami mendapat pinjaman dari senior yg telah kuliah, yg mendapat bukunya pun diam-diam. Kami mengedarkan dan membicarakan nya pun diam-diam.

Saya suka masa-masa kuliah. Suka tiap hari pergi ke toko buku. Berdiri hingga lama, hingga buku tamat, tanpa membayar. Uang makan saya tidak cukup untuk membeli buku saat itu.

Menjadi mahasiswa hukum, kemampuan finansial hanya cukup untuk membeli buku kuliah standar. Kalian pasti tau lah Prof. Dikno, Prof. Hino. Itupun belinya di shopping. Iya. Masih shopping yg lama, yg sekarang menjadi Taman Pintar. Itu pun buku bajakan.

Masa-masa kuliah, saya membaca lebih banyak buku. Tidak hanya buku Hukum, tapi juga buku Sastra. Maklum, punya mbak kost yg kuliah di kampus Sastra, membuat saya punya link ke Perpustakaan FIB di saat itu.

Dulu, jaman kuliah. Petugas perpus mana yg tidak saya kenal. Dari perpus S1 hingga S2 di gedung pusat UGM, semua saya kenal. Saya jarang menyobek buku. Kalo pun ada yg benar-benar saya suka, mending saya curi bukunya 🙈

Hingga era berubah, waktu itu saya part time menjadi Tentor Sejarah untuk anak-anak SMA. Bacaan saya pun berubah, semua serba sejarah.

Honor pertama, kedua, ketiga hingga 8 tahun mengajar pun, sebagian besar saya habiskan untuk membeli buku sejarah dan sastra. Inilah kapitalisme jenis baru. Buku.

Arus pertemanan membuat saya ikut beberapa penelitian dosen dari Belanda. Waktu itu studi fokus kami pada Antropologi dan Sosiologi.

Berkat seorang teman, saya membaca lebih banyak buku-buku tentang Kebijakan Publik-Antro Budaya-Sosio, yang ternyata sangat terpakai di pekerjaan saya saat ini.

Kadang, saya suka ketawa kalo ada teman yg komentar begini: “koleksi bukumu pasti isinya kuliner dan traveling ya?”

Ahahahaha 😂 ini komentar yg lucu banget. Karena jelas, yg komentar pasti baru kenal saya kemarin sore.

Saya tidak pernah membeli buku tentang memasak. Kalopun punya, biasanya hadiah.

Saya punya beberapa buku tentang traveling. Itupun buku tentang Cambodia. Saya membelinya karena waktu itu traveling sendirian dan saya butuh “teman” dari buku.

Dulu, saya menyukai bukunya Trinity ttg traveling. Tapi sekarang tidak lagi. Menurut saya, kebanyakan membaca buku traveling malah membuat saya kepingin dolan terus 🙈 Tapi saya menyimpan banyak peta.

Jadi, buku apa yg paling banyak saya punya? Setelah saya obrak-abrik lagi, ternyata buku tentang finansial lah yg paling banyak saya koleksi.

Mulai dari pembahasan mengenai manajemen finansial, investasi, dan paling banyak trading. Entah itu trading saham ataupun trading reksadana.

Apakah saya masih membaca buku? Jawabannya iya.

Saya masih suka pergi traveling ke kota lain sambil membaca buku sepanjang perjalanan. Saya masih suka keleleran ndlosor di Changi sambil baca buku.

Saya masih ke pantai — paling sering ya pantai-pantai di Bali — sambil membaca buku. Saya masih suka duduk di pojokan cafe atau diam di sofa kost seharian hanya membaca buku sampai habis tandas.

Buat saya, buku adalah kemewahan tersendiri.

Jadi, selamat hari buku teman-teman. Terimakasih pernah meminjami saya banyak buku. I love U so much 😘

View on Path

Advertisements

[Review] Kubah


Kubah
Kubah

Judul: Kubah
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2005
Hlm: 189
ISBN: 979-605-176-1

Cerita ini bermula di sebuah desa bernama Pegaten. Tersebutlah kisah tentang lelaki bernama Karman. Muda, pintar, gagah, hidup bahagia bersama istrinya Marni, dan bayi mereka, Tini. Semua baik-baik saja dan hidup bahagia di desa itu. Hingga suatu saat, keadaan begitu menggemparkan. Karman ditangkap Tentara Nasional Indonesia. Dituduh menjadi anggota partai komunis terlarang, dan tanpa pengadilan yang jelas Karman yang pada saat ditangkap masih berumur 30 tahun dibuang ke pulau Buru.

Intrik muncul saat bertahun-tahun kemudian, saat Karman telah bebas dari penjara dan tak tahu mesti kemana, selain pulang ke desanya, Pegaten. Istrinya sendiri telah menikah lagi, dan memiliki 2 anak yang lain dari suaminya yang sekarang, Parta. Buku ini mengharu biru, karena Tohari mengisahkan pada kita bagaimana kehidupan ex tapol setelah mereka bebas dari penjara. Ternyata penderitaan terbesar bukan pada saat mereka hidup di penjara, tapi pada saat mereka kehilangan orang-orang yang mereka cintai di masa lalu. Pemahaman kita tentang kondisi psikologis mereka, mempengaruhi cara kita menerima mereka untuk hidup sebagai bagian dari masyarakat.

Buku ini pernah mendapat Penghargaan Yayasan Buku Utama 1981, dan sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Jepang.

–Selamat Membaca–

Tulisan Terbaru:


[Review] Selingkuh itu Indah


Selingkuh Itu Indah
Selingkuh Itu Indah

Judul: Selingkuh itu Indah
Penulis: Agus Noor
Penerbit: Galang Press
Tahun: 2003
Hlm: 229
ISBN: 979-9341-21-3

Buku yang saya pinjam dari perpustakaan Kota Jogja ini merupakan kumpulan dari 16 cerita pendek: Pulang, Kupu-kupu Kuning Kemilau, Iris-Istri Paling Setia di Dunia, Boneka, Selingkuh itu Indah, Episode, Kau Tahu Betapa Aku Mencintaimu Kekasihku, Kaki yang Jelita, Angin Terjepit Bebatuan, Anaura, Necturno, Perkawinan, Dongeng Hitam Buat Kekasih, Sahabat, Solitude, dan Teror.

Cerpen Selingkuh itu Indah bercerita tentang sepasang sahabat Agus dan Hendro. Agus terpukau dengan kehidupan Hendro yang sudah punya istri cantik tapi tetap bisa berselingkuh. Dengan banyak cara, Hendro mencuci otak Agus untuk percaya bahwa selingkuh itu memang indah, dan bumbu perkawinan yang bahagia. Hingga akhirnya Agus-pun punya kebiasaan baru, menghabiskan malam dengan wanita yang selalu berbeda. Cerita diakhiri dengan Weye, teman kantor Agus yang memberitahu bahwa sebenarnya istri Agus-lah yang jadi selingkuhan Hendro, sahabatnya sendiri.

Hampir semua ceritanya punya tema yang sama, cinta dan pengkhianatan. Agus Noor mengajak kita melihat perselingkuhan dengan cara yang lain. Dia membuat kita menjadi pelaku dan sekaligus korban dari perselingkuhan. Barangkali selingkuh memang serumit dan sesederhana itu. Entahlah.

–Selamat Membaca–

Tulisan Terbaru:

[Review] Di Kaki Bukit Cibalak


Di Kaki Bukit Cibalak
Di Kaki Bukit Cibalak

Judul: Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2005
Hlm: 170
ISBN: 979-605-054-4

Buku ini bersetting di sebuah desa bernama Tanggir di tahun 1970-an. Tokoh utamanya adalah Pambudi, berusia 24 tahun, bekerja sebagai pengurus lumbung koperasi Desa Tanggir. Buku ini bercerita tentang intrik-intrik kekuasaan yang terjadi di desa Tanggir. Tentang Pambudi yang jujur, tapi kalah oleh keadaan. Tentang Pak Dirga, Lurah yang menghalalkan segala macam cara untuk melestarikan kekuasaannya. Tentang Poyo, rekan kerja Pambudi, yang rela melakukan apa saja Asal Bapak Senang.

Konflik bermula saat Pambudi menyampaikan pendapatnya atas kekurangsenangannya dengan kebijakan Pak Lurah menghabiskan banyak dana pada saat pelantikkan hingga harus membobol kas darurat desa. Pendapat ini juga yang kemudian bergulir menjadi bola panas. Pambudi dipecat dengan alasan menggelapkan kas desa.

Cerita berlanjut dengan tersingkirnya Pambudi dari desanya dan merantau ke Yogya. Di Yogya, Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan belajar sambil bekerja di sebuah toko. Melalui surat kabar, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap Kepala Desa yang telah menyingkirkannya, dan berhasil! Akan tetapi, Pambudi mesti berbesar hati kehilangan Sanis, gadis yang dicintainya.

Ahmad Tohari seperti biasanya, menyuguhkan cerita tentang sebuah desa dengan caranya yang khas. Dengan menyelipkan beberapa filsafat Jawa dalam cerita sehari-hari, Tohari mengajak kita kembali mengkritisi sesuatu yang telah ada sebelum kita, tapi terabaikan.

“ Wani ngalah luhur wekasane. Berani mengalah luhur akhirnya. Ingat, hanya Arjuna yang kecil yang dapat mengalahkan Nirwatakawaca yang raksasa, hanya si kecil Daud yang bisa mengalahkan Goliath. Toh Don Quichote tidak berhasil menumbangkan sebuah kincir angin meskipun memakai baju besi dan pedang jenawi. Lalu, camkanlah, I have not begun to fight yet”. (hal.116-117).

–Selamat Membaca–

Tulisan Terbaru:

[Review] Orang-Orang Proyek


Orang-Orang Proyek
Orang-Orang Proyek

Judul: Orang-Orang Proyek
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2007
Hlm: 220
ISBN: 909-22-2581-1

Buku ini bersetting Sungai Cibawor, dengan tokoh utama Kabul, seorang insiyur muda. Kabul menjadi kepala proyek pembangunan jembatan yang akan menghubungkan sebuah desa. Konfliknya sederhana tapi ada dalam keseharian kita, yaitu pada saat rasa idealisme kita bertentangan dengan kenyataan sehari-hari.

Kabul, sang insinyur, diminta untuk melakukan beberapa “permainan” dalam me-mark up biaya pembangunan jembatan. “Permainan” dalam proyek ini menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya akan menjadi korban. Konflik dalam buku ini, tentu saja mengingatkan kita pada banyaknya kecelakaan karena bangunan yang sebenarnya tak layak pakai, mengingatkan kita pada Jembatan Kukar, dan lain sebagainya.

Terlepas dari apakah tokoh Kabul itu nyata atau hanya tokoh rekaan. Bagi anda yang pernah membacanya, tentu akan merasa bahwa kisah-kisah yang ditulis oleh Tohari memang benar-benar ada. Mungkin itu saya, mungkin juga itu anda. Rasanya buku ini memang ditulis untuk menyindir rasa idealisme kita, orang-orang yang terlibat dalam dunia birokrasi. Begitu mengena, dan begitu nyata.

–Selamat Membaca–

Tulisan Terbaru: