si Kembang Purau


aku mencintai-Mu, bagai si kembang purau
yang bermekaran di halaman depan rumah ibuku.

yang berwarna kuning dalam pelukan kabut pekat
yang berganti jingga kala mentari membakar hangat.

saat sore tiba, akulah si kembang purau,
yang disulut agni semerah raga senja dalam ranumnya gairahku.

sebelum akhirnya angin menggugurkan satu per satu bunga-bunga cintaku
maka akulah si kembang purau, yang layu
meluruh dan rasuk dalam akar-akar pohon-Mu.

dan bila pada masaku, aku tetap ingin terlahir kembali
menjadi kembang-kembang purau baru,
yang akan terus menerus mencintai-Mu,
dengan cara yang (mungkin) tak Kau mengerti.

Jogja,  Februari 2011

NaLa (3)


pada malam-malam dimana hening perlahan angslup
dan di antara waktu yang meluncur gagap.
kadang aku bertanya,
benarkah kau akan tetap mencintaiku?
meski pipiku tak lagi selembut gula-gula kapas
meski kulitku keriput dan rambutku dipenuhi warna kelabu
meski tubuhku gemetar ngilu ketika mengecupmu
meski mataku mulai rabun dimakan usia
meski gairahku tak lagi membakar derak-derak ranjang kita yang melapuk
bahkan, meski aku tak bisa memberikanmu seorang pun anak!

suamiku,
benarkah kau akan tetap mencintaiku?
tetap bertahan pada rahimku yang tak lagi hangat
meresapi titik-titik hujan pada malam yang makin tua
menyembunyikanku dalam kehangatan pelukanmu
dan menjadi tua bersamaku.

suamiku, tahukah kau?
mencintaimu berarti menelan keraguanku.
pada pikiranku. pada diriku. pada aku.

mBeran, Agustus 2010.