Berburu Kepiting di Balikpapan


Apa yang Anda pikirkan jika sedang berkunjung ke Balikpapan?

Beberapa teman, menjawab “mall”! Beberapa yg lain, berpendapat “mencari akik”. Kalo kalian tanya saya, kujawab “kepiting”!

Yeah, saya menyukai Balikpapan sebagai kota yg menyajikan berbagai menu Kepiting.

Ada beberapa tempat yg sudah saya coba dan bisa dishare ke teman-teman:

1. Kepiting Soka di Ocean Resto

Kepiting Soka adalah kepiting yg sedang mounting (berganti cangkang). Orang biasa menyebutnya dengan Kepiting Cangkang Lunak.

Jadi, kalo menurut chef-nya, setiap 20 hari, kepiting melepaskan cangkang. Nah, disaat cangkang lama terlepas dan cangkang baru belum mengeras. Saat itulah kepiting dipanen.

Ocean Resto terletak di Ruko Bandar, Balikpapan. Pilihan saya jatuh di Resto ini karena dekat dengan hotel, cukup jalan kaki sudah sampai. Selain itu, di sore hari, view dari Restauran sangat indah karena terletak di area Bandar, sebagian resto terletak diatas laut. Pemandangan sunset ditepi laut bisa dinikmati sambil duduk-duduk makan Kepiting Soka.

Saya pernah mencicipi berbagai menu kepiting soka disini, dari black pepper crab, crab with salted egg, sweet sour prawn, dll.

Pokoknya semua enak!

2. Kepiting Kenari

Kenari disini merujuk pada Merk Dagang dan Jenis Kepiting. Saya pertama makan di sini bbrp tahun yang lalu atas saran dari manajer hotel tempat saya menginap.

Kemarin, saya datang lagi, makan di sini, selain karena menemani teman-teman, juga karena kangen ingin ber-rendevous.

Kepiting Kenari atau Ketam Kenari adalah Kepiting Kelapa. Disebut demikian karena kepiting-kepiting ini memakan buah kelapa. Sering ditangkap saat memanjat pohon kelapa. Kalo kamu tipe yg males mengupas kelapa, mungkin kamu bisa pelihara kepiting kenari huehehe 😂 Soalnya kepiting ini ahli ngupas kelapa dengan capitnya.

Tubuhnya lebih kurus jika dibandingkan kepiting laut, tapi dagingnya lbh gurih.

Kepiting Kenari sangat terkenal di seantero Balikpapan. Biasanya disediakan 2 jenis, kepiting jantan dan kepiting telur. Kepiting Telur lbh mahal, seporsi harganya 280rb isinya 3 kepiting. Sedangkan Kepiting Jantan hanya 220rb.

Yg paling terkenal dari Kepiting Kenari adalah Kepiting Saus Lada Hitam. Kepiting Kenari buka hingga jam 10 malam. Lokasinya tidak jauh dari Bandara.

Bahkan, sekarang di Bandara Sepinggan pun, sudah dibuka cabangnya. Bisa dibeli buat oleh-oleh jika kamu ga sempat mampir ke Resto Kepiting Kenari di Jalan Marsma R. Iswahyudi. Tapi ya itu, namanya juga di bandara, pasti lebih mahal.

3. Kepiting Dandito

Kepiting Dandito berlokasi di sebrangya Resto Kepiting Kenari, yaitu di jalan M. Iswahyudi, Gunung Bakaran, Balikpapan.

Kepiting Dandito muncul belakangan setelah Kepiting Kenari terkenal. Ini seperti partai oposisi-nya 😁

Selain lebih murah, Kepiting Dandito memiliki saus yg lbh enak. Beberapa orang lbh suka makan di sini. Dandito vs Kenari bahkan sudah jadi perdebatan sengit di dunia maya.

Dandito, juga bisa ditemukan di Bandara Sepinggan. Bahkan melayani juga pembelian online. Ga perlu jauh-jauh ke Balikpapan kalo cuma pingin Dandito, kamu cukup angkat telp, pesan, bayar dan Kepiting Dandito bisa langsung dinikmati di rumah kamu.

Kemarin, pas saya maen ke Bali, di daerah Denpasar, juga sudah buka Resto Kepiting Dandito.

Overall, semua kepiting yg pernah saya coba di Balikpapan rasanya enak-enak. Saya juga mencoba bbrp Kepiting Saus Padang yg disajikan di bbrp Rumah Makan Padang disana.

Meski, katanya Kepiting Kenari kandungan kolesterolnya sedikit karena makanan utamanya adalah kelapa. Tetap berhati-hatilah makan kepiting. Anda pasti ga mau kan kalo harga obat kolesterol Anda lbh mahal dari harga Kepitingnya? 😄

Happy Culinary!

View on Path

Tsui Wah Restaurant


Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant

Ini dia restaurant favorit saya, namanya Tsui Wah Restaurant. Restoran ini telah berdiri sejak tahun 1967. Awalnya di daerah Mongkok masih usaha kecil, kemudian restoran pertama di buka di daerah San Po Kong, lalu hingga kini berkembang menjadi 31 cabang, termasuk yang ada di Macau, Shanghai dan Wu Han.

Ada beberapa restoran Tsui Wah yang pernah saya coba, terutama Tsui Wah yang terletak di Wellington Street di daerah Central District dan yang ada di daerah Causeway Bay. Jika kalian sedang ada di The Peak, bisa juga nyobain beberapa menu makanan Tsui Wah yang ada di The Peak Tower.

Dari luar ga ada yang special dengan restoran ini. Yah seperti umumnya restoran cina yang ada di Indonesia. Tapi kalo soal taste, nah ini baru jempolan. Jempolan karena taste makanannya paling mirip dengan makanan Indonesia. Huehehe ;-)

Selain taste, porsinya jempolan, buesaaar banget! Pokoknya kudu siapin perut yang lapeeer banget buat makan disini. Nah, kalo soal range harga untuk ukuran Hongkong yang apa-apa serba mahal, Tsui Wah termasuk murah, rata-rata harganya antara HK$12 hingga HK$92. Untuk pelayanan juga lumayan cepat. Paling banyak turis bule yang makan di sini. Saran saya cuma satu kalo makan disini, jangan datang pas jaman makan. Full, rame banget. Dah kayak mau antri sembako ajah!

Yuks, kita bahas apa saja yang pernah saya cobain disini ;-)

Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant

Fish Balls & Sliced Fish Cakes with Rice Noodles in Fish Soup. Seporsi harganya HK$32. Porsinya jumbo, besaaar banget. Pokoknya mantap! Untuk memakannya, pastikan kalian benar-benar lapar. Biasanya orang Indonesia kalo makan khan ga habis, nah pertimbangkan untuk makan sepiring berdua saja kalo begitu. Khan sayang, beli mahal-mahal trus ga habis. Recommended banget, nyesel kalo belum pernah nyobain!

Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant

Jumbo Frankfurter Hot Dog. Seporsi harganya HK$28. Hot Dog-nya diletakkan diatas piring panjang karena sesuai namanya porsinya benar-benar besar. Ini bukan semacam Hot Dog yang bisa kalian langsung gigit. Harus dipilah-pilah dulu, biar cukup dimulut. Bagi penyuka makanan semacam Hot Dog, yang ini wajib coba!

Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant

Baked Seafood & Mozzarella Cheese with Fried Rice. Seporsi harganya HK$70. Ini favorit saya. Nasi, trus diatasnya dipenuhi dengan jamur, udang, kerang hijau, bawang Bombay, keju mozzarella trus dipanggang. Yummy banget trus porsinya besar banget! ;-)

Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant

Crispy Bun Served with Sweet Condensed Milk. Nah, untuk roti super enak ini, saya lupa harganya. Yah, namanya juga ditraktir, manalah saya inget-inget harganya. Huehehe.

Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant

Ada beberapa minuman yang saya cicipin seperti Milk Tea, harganya HK$17. Grass Jelly in Coconut Milk, harganya HK$24. Longan & Red Dates Tea, harganya HK$20. Barangkali yang paling special adalah Milk Tea-nya, apalagi disajikan dalam mug yang lucu dan unyu ;-)

Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant
Tsui Wah Restaurant

Tsui Wah menyediakan makanan untuk breakfast, lunch dan dinner. Di beberapa cabang bahkan buka hingga 24 jam. Restoran ini juga menyediakan jasa delivery.

Ada beberapa kekurangan dari restoran ini. Pertama, waiter dari Tsui Wah hanya beberapa yang paham bahasa Inggris, jadi agak sulit buat cari tahu apa saja kandungan makanan yang akan kita pesan. Kedua, Tsui Wah juga menjual beberapa menu yang mengandung pork, jadi ke-halal-an makanan restoran ini agak dipertanyakan.

Tapi jika yang kalian tuju adalah makanan enak, murah dan porsi besar di Hongkong, maka Tsui Wah Restaurant adalah pilihan terbaik!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary ;-)

[Culinary] Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana di Warak Sleman


Satu lagi kuliner yang wajib kalian coba jika berkunjung ke Jogja. Namanya Pondok Makan Bu Istiana (Bu Is). Menu utamanya adalah ikan sidat!

Apa itu ikan sidat? Bagi teman-teman luar Jogja, biasanya ada yang menyebut ikan sidat dengan pelus atau moa. Di Jepang, nama lain ikan sidat adalah unagi. Ikan sidat sejenis dengan belut hanya saja ukurannya lebih besar. Ikan sidat mempunyai dua habitat, yaitu di air tawar dan air laut. Konon, sidat bisa mencapai panjang 1 meter. Tentu saja, ini jarang terjadi, soalnya belum setengah meter saja sudah diburu buat jadi lauk. Huehehe ;-)

Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana di Warak
Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana di Warak

Lantas, apa spesialnya ikan sidat? Menurut orang Jepang, ikan sidat memiliki banyak khasiat, seperti misalnya meningkatkan imunitas tubuh, meningkatkan daya ingat, menurunkan kandungan lemak jahat dalam darah, menghindari penyakit aterosklerosis, dan lain-lain. Di Jepang, ikan sidat (unagi) adalah makanan termahal yang hanya disajikan untuk tamu kehormatan dan istimewa.

Terus apa hubungannya dengan Ikan Sidat di Warung Makan Bu Is di Sleman? Bu Is, awalnya hanya menjual masakan dengan menu varian ikan seperti biasa. Maklum, di sekitar desa Warak, memang terkenal sebagai kampung budidaya mina (kampung ikan). Sampai kemudian, warung Bu Is sering didatangi oleh turis asal Jepang. Turis-turis asal Jepang ini sering meminta Bu Is memasak ikan sidat untuk mereka. Tentu saja, masakan ikan sidat untuk turis Jepang taste-nya sangat berbeda dengan taste Indonesia. Orang Jepang menggunakan bumbu seminim mungkin agar khasiat ikan sidat tidak hilang. Ini berbeda dengan taste makanan Indonesia, yang umumnya menggunakan bumbu sebanyak mungkin ;-)

Kadang, Bu Is dikomplain oleh turis Jepang jika hanya menggunakan bagian daging ikan sidat, sedang bagian tubuh lainnya dibuang. Buat orang Jepang, semua bagian tubuh ikan sidat sangat bernilai tinggi. Jadi jangan sampai ada bagian yang dibuang, wajib dimasak dan dimakan semuanya. Huehehe.

Yuks, kita bahas varian masakan ikan sidat seperti apa saja di Pondok Makan Bu Istiana ;-)

Rica-Rica Sidat
Rica-Rica Sidat

Sidat Rica-Rica. Seporsi harganya 25ribu. Itu belum termasuk nasi putih lho. Porsinya seukuran dengan satu porsi Rica-Rica  Lele. Bisa kebayangkan gimana sedikitnya? ;-(

Soal taste, jangan ditanya dech. Rasanya bener-bener enak. Bu Is bener-bener ga pelit soal bumbu. Enak banget! Bikin ketagihan. Yang bikin sedih cuma porsinya yang sedikit banget!

Sidat Kukus
Sidat Kukus

Sidat Kukus atau Sidat Tim. Seporsi harganya 25ribu. Ini adalah satu-satunya varian masakan sidat yang terasa banget “rasa asli sidat”-nya. Kata Bu Is, biasanya yang suka pesen Sidat Tim adalah turis Jepang. Rasanya lebih amis dibandingkan makanan yang lain. Bumbunya hanya bawang putih dan garam. Kalo kalian penasaran dengan taste sidat ala orang Jepang, harus nyobain menu yang satu ini, Sidat Kukus!

Sidat Mangut
Sidat Mangut

Sidat Mangut. Seporsi harganya 25ribu. Dari semua menu varian sidat yang ditawarkan. Ini adalah favorit saya. Rasanya lebih enak daripada mangut lele ataupun belut! Pokoknya wajib coba. Recommended!

Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana berlokasi di Jalan Pangeran Purboyo Kios Warak No.01 Sumberadi Mlati Sleman. Sekitar 500 meter ke utara dari pasar Cebongan. Buka tiap hari dari jam 11.00 WIB siang sampai malam. Tapi kadang, kalo ada tetangga yang hajatan atau kesripahan, warung makan ini tutup. Maklumlah, namanya juga di kampung, tugas social itu no.1 di atas tugas nyari duit. Huehehe. Biar ga nyasar, sebelum datang bisa telp dulu ke (0274) 7168468, sekedar tanya apakah hari tersebut rumah makan ini buka atau ga, juga boleh kok ;-)

Kalo kalian penasaran dengan bentuk ikan sidat, di belakang rumah makan ini ada kolam yang isinya ikan sidat. Ternyata pelihara ikan sidat itu termasuk susah lho. Ikan sidat harus hidup di air bersih yang mengalir terus menerus, untuk makanan pun, ikan sidat pemilih. Hanya mau makanan yang segar dan masih hidup. Pokoknya habitatnya beda jauh banget sama lele dan belut. Makanya gizinya pun paling tinggi.

Kelebihan Pondok Makan Bu Istiana. Pertama, ini satu-satunya rumah makan di Sleman yang menu andalannya adalah ikan sidat. Kedua, masakan ikan sidat yang ada di sini menurut saya pribadi, taste-nya sangat enak, pake banget!

Kekurangan Pondok Makan Bu Istiana. Pertama, harganya mahal. Tergolong mahal buat kantong mahasiswa. Kedua, porsinya sedikit. Bayangkan sudah mahal, porsinya pun sedikit. Ketiga, kalo pengunjungnya lagi rame, pelayanannya lumayan lama. Satu-satunya yang bikin spesial, Bu Is, owner dari Pondok Makan Ikan Sidat ini sendirilah yang masak, makanya masakannya bener-bener enak dan special. Yah seperti umumnya makanan enak, harus ada proses ribet dan tidak instant. Ingat, ini bukan fastfood ;-)

Overall, jika kalian liburan ke Jogja dan belum pernah nyobain menu yang satu ini. Percayalah, kalian bakal nyesel banget! Harganya memang mahal, tapi sangat recommended buat dicoba. Percayalah!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary ;-)

Tulisan Terbaru:

[Culinary] Ayam Bakar Arto Moro Yogyakarta


Satu lagi kuliner yang ber-menu utama ayam bakar yang ga boleh kalian lewatkan jika berkunjung ke Jogja. Namanya Ayam Bakar Arto Moro. Letaknya di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km.7,8 No.30A Yogyakarta. Lokasinya ada di sebrang jalan Kompleks Perumahan Taman Palagan Asri (utaranya Kapulaga Resto).

Ayam Bakar Artomoro
Ayam Bakar Artomoro

Ayam Bakar Arto Moro, sebenarnya bukan rumah makan baru. Sebelumnya berlokasi di Jalan Kaliurang Km.6,8. Nah, mulai Januari 2013 ini, Ayam Bakar Arto Moro pindah ke jalan Palagan Tentara Pelajar Km.7,8 Sleman. Kebetulan, karena tiap hari saya lewat jalan Palagan Tentara Pelajar jadi tahu banget kalo ada rumah makan yang ga payu atau pun rumah makan yang baru buka. Huehehe ;-)

Yuks, kita bahas menu apa ajah yang saya pesan di Arto Moro ;-)

Ayam Bakar Artomoro
Ayam Bakar Pedas ala Artomoro

Ayam Bakar Pedas. Seporsi harganya 13.500. Ini belum termasuk nasi putih, kudu nambah 3ribu lagi buat sepiring nasi putihnya. Nah, apa yang special dari Ayam Bakar Pedas ala Arto Moro. Ternyata Ayam Bakar Pedasnya tidak diberi sambal. Lho kok?

Jadi begini, ayam bakar ala Arto Moro adalah ayam bakar yang dimasak khusus. Awalnya ayam dan segala rempah-rempah beserta santan dimasak hingga rempah-rempah meresap dan ayam benar-benar empuk, lalu ayam dipisahkan. Rempah-rempah dimasak hingga airnya “sat” (bahasa jawa: habis). Lalu setelah rempah-rempah tersebut mengental, barulah dibumbui, mau pedas atau manis. Nah, ayam yang sudah ditiriskan baru dibakar, dan diolesi dengan bumbu tersebut. Makanya, karena bumbunya sudah pedas, maka ayam bakar pedas sudah tidak butuh lagi tambahan sambal. Unik dan ribet khan prosesnya? Saking ribetnya, semua proses ini membutuhkan waktu 5 jam lhooo ;-)

Ayam Bakar Artomoro
Ayam Bakar Manis ala Artomoro

Ayam Bakar Manis. Sama dengan Ayam Bakar Pedas, seporsi harganya 13.500. Tampilan dari Ayam Bakar Manis plek persis sama dengan Ayam Bakar Pedas, dan dimasak dengan cara yang sama, hanya saja kalo dah dicicipin, terasa banget punya taste yang beda! Boleh lho, pesen dua-duanya biar tau gimana perbedaan rasanya.

Ayam Bakar Artomoro
Sayur Asem Bandoeng

Sayur Asem Bandoeng. Seporsi harganya 3.500. Dari semua sayur asem yang pernah saya coba di daerah Jogja, sayur asem Bandoeng ala Arto Moro termasuk yang direcommended! Taste sayur asem-nya hampir menyamai taste sayur asem ala Sunda, meski jujur lidah saya selalu merasa aneh kalo disuruh merasakan sayur asem ala Jogja yang citarasa-nya selalu lebih manis dari taste aslinya yang versi Sunda. Btw, sayur asem ala Arto Moro, meski tetap terasa taste Jogja-nya, tapi rasanya jauh lebih enak daripada sayur asem di rumah makan lain di Jogja.

Ayam Bakar Artomoro
Tahu Goreng Bandoeng

Tahu Goreng Bandoeng. Seporsi 4.500. Awalnya saya pesan Tempe Goreng Garit, karena habis, maka pesanan akhirnya saya alihkan ke Tahu Goreng Bandoeng. Lumayanlah, buat cemal-cemil dan pengobat rasa pedassss!

Ayam Bakar Artomoro
Kopi Klotok

Kopi Klotok. Segelas harganya 5ribu. Apa sih Kopi Klotok? Kopi Klotok adalah kopi yang dimasak langsung dalam panci hingga airnya mendidih, jadi bukan diseduh. Cara memasak kopi seperti ini sangat familiar di daerah Cepu dan sekitarnya di Jawa Tengah. Dulu, sekitar tahun 2006, pas saya penelitian di daerah Pati, setiap ngopi di warung kopi, pasti disajikan dengan cara seperti ini. Kopi jenis robusta paling pas jika dimasak dengan cara ini, aromanya yang kuat seperti memanggil-manggil untuk segera menyeruput. Huehehe ;-) Ini adalah menu yang tidak boleh dilewatkan begitu saja!

Kelebihan Arto Moro. Selain rasa ayam bakar yang unik, menurut info yang saya terima, Pete Bakar Bandoeng ala Arto Moro adalah menu yang paling larisss. Sayangnya, saya ga begitu suka pete bakar, jadi saya ga tau seberapa nikmat rasanya. Tapi, boleh lho kalian mencobanya dan memberikan testimony di blog ini. Huehehe ;-)

Kekurangan Arto Moro. Menurut saya pribadi, harga makanan di Arto Moro lumayan mahal untuk kantong mahasiswa. Barangkali juga karena rasa ayam-nya yang terlalu nikmat, porsi nasinya terhitung sedikit buat perut saya ;-(

Overall, menurut saya, Ayam Bakar Arto Moro Yogyakarta masuk dalam list rumah makan yang harus kalian coba jika berkunjung ke Yogyakarta. Meski saya sendiri bukan penggemar ayam, tapi khusus Ayam Bakar Arto Moro, saya rela deh makan tiap hari di sini. Maknyuzzz banget!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary!

Tulisan Terbaru:

[Culinary] d’Gejrot bukan Tahu Gejrot


Ini adalah salah satu kuliner yang lokasinya ga jauh dari kost saya. Namanya d’Gejrot. Lokasinya ada di jalan Kaliurang Km.5 Gang Megatruh Blok E No.1 Tawangsari Caturtunggal Depok Sleman.

d'gejrot
d’gejrot

Pertama tahu ya dari temen-temen kost yang sering makan di sana. Aneh ajah waktu denger temen kost nyebut kata “kemek” dan dilafalkan seperti membaca kata”kesemek”. Apa iya, ada makanan yang di-emek-emek sebelum kita makan? Ihhh serem banget ya?

Seinget saya, sekitar tahun 2003-an, kakak tingkat sering melafalkan kata “kemek-kemek”. Cara membacanya seperti menyebut kata “besek”. Kata “kemek-kemek” artinya makan-makan. Misal, ada temen yang ulang taun atau wisuda, biasanya kita akan bilang, “ayo kemek-kemek!”

d'gejrot
d’gejrot

Menurut perkiraan saya, owner dari d’Gejrot pasti seangkatan dengan senior saya di kampus, makanya bahasa “gawul”-nya pun sama (sejaman gitu deh). Kalo ditanya asal muasal kata “kemek-kemek”, saya juga ga ngerti darimana asalnya, apakah dari daerah tertentu. Saya juga tidak tahu. Dulu, ga sempet nanya sama senior ;-P

Beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya diajak temen kost, buat kemek-kemek di d’Gejrot. Tempatnya lesehan dan cukup ramai. Kebanyakan sih mahasiswa sekitaran kost.

Ada dua menu yang kami coba ;-)

d'gejrot
menu JURAGAN ala d’gejrot

Juragan. Ini pesanan saya. Namanya JURAGAN, isinya daging ayam, sambel gejrot, nanas dan mentimun. Saya pilih yang AJE, artinya ga pake nasi uduk. Ada juga yang namanya GILE, artinya pake nasi uduk. Tulisan uduk-nya pun cukup nyeleneh, ditulis KUDU yang kalo dibaca balik artinya ya UDUK. Seporsi JURAGAN AJE harganya 8ribu.

d'gejrot
Telor Tempe Tahu Gejrot

Telor Tempe Tahu Gejrot. Nah, yang ini pesanannya Chandra. Rasanya sih lebih mirip dengan Telor Tempe Tahu yang dipenyet dengan cabe ijo. Enak kok. Murah meriah, meski saya lupa berapa harga pesanan Chandra ;-)

Sebenarnya ada lagi sih nama-nama yang aneh semisal MPOK AYE, PAK ERTE, CANG JUKI, CING UTE, KONG APE. Harganya macam-macam. Tapi, hampir seluruhnya tidak mahal. Terjangkau oleh kantong mahasiswa, karena segmen pasar d’Gejrot memang mahasiswa.

Yang bikin saya ketawa pas masuk, slogan d’Gejrot, yaitu “Kami ini Slow Food bukan Fast Food. Kalo Galau nunggu harap maklum. Semangat menunggu Kemek-ers!”. Huahaha.

Selain itu, ada beberapa hal yang juga menarik perhatian. Semisal: d’Gejrot buka tiap hari dari jam 11.59 am – till end. Khusus Jumat buka jam 12.59 am – till end. Sabtu gratis es teh buat couple. Jumat untuk pembelian 4 porsi Kemek Goceng, dapet tambahan gratis 1. Setiap ada yang ultah gratis Kemek Goceng. Senin Kamis gratis Kemek Goceng buat yang puasa sunnah dari jam 6-7 malam.

Kalo dah makan berkali-kali disini, notanya kudu disimpen. Soalnya kalo dah punya 5 nota atau lebih bisa ditukarkan gratis menu tertentu. Hihihi. Malah kayak naik bus malam ya ;-)

d'gejrot
d’gejrot

Hampir semua barang di d’Gejrot di tempeli sticker “d’Gejrot Kemek”, sampe gelasnya pun juga tertulis d’Gejrot. Buku menu-nya pun tergolong unik, karena di tempel pada kotak plastic bening kosong yang biasanya digunakan buat kotak sumbangan. Mungkin ada hubungannya dengan program pemberian donasi d’Gejrot dari 10% keuntungan.

Yang paling utama buat pecinta penyetan, di d’Gejrot bisa request jumlah cabe yang diinginkan, asal ga lebih dari 10 cabe. Sambelnya langsung diulek pada cobek, yang ditulis “coek” pada menu d’Gejrot. Sayangnya, jumlah cobeknya sangat terbatas. Jadi, kalo makan disana, lebih sering disajikan diatas piring bamboo yang dialasi kertas minyak.

Overall, bisa diikatakan d’Gejrot benar-benar harga mahasiswa sekali. Tapi soal rasa, cocoklah buat pecinta cabe. Monggo dicoba ;-)

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary!

Tulisan Terbaru: