Seberapa toleran lidah kita?


image

Jika kalian termasuk yg selo nyimak TL kemarin tgl 25-26 Des 2015, pasti tau ttg berita ini.

Saya sendiri, sebenarnya ga nyimak-nyimak banget, sampai salah satu follower mensyen di twitter 😂

Persoalannya sederhana, ada seorang wisatawan domestik (kita sebut saja mbak K) yg memaki-maki Yogyakarta dan kulinernya.

Yuks, kita simak, kenapa begitu?

Kalo dibaca dari statusnya di Pesbuk, mbak K berasal dari Kabupaten Tuban, sebuah Kabupaten kecil dkt Lamongan. Sedang berwisata di Yogyakarta, dan terkena macet di sepanjang jalan.

Yang ke2, mbak K marah karena kuliner di Yogyakarta, dia anggap hanya “gitu-gitu” saja.

Saat membaca nyinyiran dari teman-teman di TL yg marah atas status pesbuk mbak K tsb, saya jadi mikir, memangnya kita ga marah atas macetnya Yogyakarta di kala liburan?

Kalo saya, jujur saja, saya termasuk yg marah. Bayangkan, hampir setiap jalan di Yogyakarta macet. Terutama jalan-jalan menuju tempat wisata.

Bahkan Ringroad Utara (dari per4an Jombor hingga per4an Hyatt) yg biasanya hanya butuh 5 menit, pas malam Natal saya butuh 30 menit, buat melintasinya.

Tentu, sebagai warga lokal saya merasa ga suka atas macetnya kota Yogyakarta. Tapi apa mau dikata, itulah resiko tinggal di Kota Pariwisata.

Fyi, Yogyakarta itu kota tujuan pariwisata wisatawan domestik no.1 di Indonesia. Inget ya, bagi wisatawan domestik. Kalo wisatawan mancanegara tetaplah Bali no.1 😂 Alasannya mudah, Yogyakarta itu terkenal murah. (meski alasan ini sudah tidak sepenuhnya benar lagi).

Trus kita bisa apa? Dulu sih, kita sukanya marah-marah di TL sama Pak Walikota, kok Jogja jadi semrawut tata kotanya. Mulai dari marah-marah karena maraknya pembangunan Mall, Hotel, Apartemen, sampai tempat wisata (macam Taman Lampion dan JogjaBay) yg bikin macet ruas utama.

Apa bedanya dgn marah2nya mbak K? Mbak K pake menghina kota kita. Sedangkan kita, mengkritisi pemerintah, karena rasa cinta kita terhadap kota ini.

Solusinya gimana? Saya sebagai warga lokal sih menyarankan bagi warga Yogyakarta pas liburan panjang gini buat liburan ke Kota/ Negara lain atau milih ndekem di rumah saja. Iya. Kita kasih kesempatan buat wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara buat piknik ke Kota kita. Kalo kita kan bisa piknik kapan ajah 😄

Macet itu bagian dari resiko liburan panjang, juga resiko menjadi Kota Pariwisata. Kalo kita ga nrimo macet, nanti PAD kota kita ga nambah. Ini dilema lho. Mau mengurai kemacetan di satu sisi, dan menambah PAD di sisi lain.

Hal ke2 ya, terkait kuliner. Pertanyaannya, seberapa toleransi lidah kamu terhadap kuliner di kota lain?

Pekerjaan saya, membawa saya dan teman-teman harus mengunjungi banyak kota lain. Saat di kota lain, kadang kami dilema juga mau nyoba kuliner baru. Takutnya ga doyan. Ini bukan bicara pribadi, tapi group. Tidak semua temanmu, seberani dirimu mencoba kuliner baru. Mencoba kuliner baru itu tantangan lho.

Misal ya, saya pernah berkeliling kota-kota di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, dan kalo pulau Jawa, jangan ditanya deh. Saya sih baik-baik saja dgn semua kuliner tsb, tapi apa iya teman-teman saya juga?

Saran pertama, kalo di kota lain, dan takut ga doyan dgn kulinernya, ya makan saja yg standar. Standar dalam arti Kfc, Mcd, Pizza Hut, ayam goreng, starbucks, Nasi padang, bakso, mie ayam dan sejenisnya.

Pokoknya, kuliner yg seenak2nya ya kamu tau rasanya, dan ga seenak2nya ya rasanya gitu2 juga.

Lha apa gunanya piknik ke luar kota kalo makannya gitu2 ajah? Jawabannya mudah. Lha daripada kamu ga doyan?

Saran ke2, jangan berharap terlalu tinggi saat berkunjung ke kota lain. Sapa tau, harapanmu ga terpenuhi trus kamu kecewa.

Kenapa saya ngomong gini? Soalnya saya udah keliling ke kota-kota lain, trus sering banget nemuin temen kantor bilang, “masakan di kota ini ga enak, masih jauh lbh enak makanan di Jogja”.

Komentar temen saya sama kan dgn komentar Mbak K? Bedanya, temen saya ngomong sama saya, dan ga ditulis di social media.

Toleransi itu ga hanya melulu agama, ras, suku, toleransi terkait makanan itu penting. Toleransi itu kalo buat aku kaitannya sama tingkat pengetahuan kita memahami budaya dan sejarah di negri lain.

Dulu, pertama kali main ke Hongkong dan Macau, sungguh saya sangu cabe segar, saus, dan kecap manis. Alasannya, di Hongkong dan Macau jarang banget kecap manis, jarang banget cabe segar. Adanya cabe kering dan kecap asin, yg awalnya saya doyan, tapi setelah seminggu tinggal disana, saya bosan. Saya kangen masakan Indonesia yg diolah dari bumbu-bumbu segar.

Kedua kalinya piknik ke sana, saya mikir, jauh2 piknik ke Hongkong dan Macau kok maemnya kayak di Indonesia, rugilah. Sekali, dua kali, ketiga kali, akhirnya lama-lama lidah saya berkompromi dengan taste masakan di Hongkong dan Macau.

Begitu juga saat saya bertualang kuliner di Beijing. Lidah saya sudah berkompromi. Tapi komprominya kan butuh waktu dan keberanian :)

Ada 2 negara yg menurut saya kulinernya bisa langsung kompromi dengan lidah kita, yaitu Saigon dan Bangkok. Tapi apa iya semua lidah Indonesia cocok? Ya belum tentulah.

Kembali lagi soal mbak K, tidak bisa dipungkiri bahwa Tuban dan DIY itu kota yg meski di peta sebelahan, tapi taste kulinernya beda banget. Ini kaitannya sama sejarah dan budaya juga.

Kita ga bisa memungkiri kalo ga semua orang Jawa Timur doyan makanan ala Jogja yg manis, misal gudeg. Ini bener lho, saya pertama kali tinggal di Jogja juga ga seberapa suka gudeg.

Jadi, sebenarnya komentar dari Mbak K itu wajar, diluar misuh2in Kota Jogja lho ya. Kesalahan mbak K adalah lidahnya yg tak bisa bertoleransi dgn makanan Jogja, membuat jempolnya juga ga bisa bertoleransi dgn Kota kita.

Kejadian seperti ini sakjane bisa menimpa kota manapun.

Barangkali buat pembelajaran bagi mbak K, bahwa social media itu gunanya buat menambah teman dan mencari informasi ttg budaya di kota lain, tentang kuliner lain, sehingga ga nyasar masuk ke warung makan yg salah. Social media itu bukan hanya untuk misuh-misuhin kota orang.

Ini juga buat pembelajaran kita, bahwa kita ga perlu njelek2in Kota Tuban, ga perlu njelek2in “dasar pns” atau semacamnya. Komentar mbak K ga ada kaitannya dengan kota-nya atau dgn pekerjaannya.

Yg perlu kita tau adalah orang-orang seperti mbak K akan selalu ada di social media. Tergantung bagaimana cara kita menghadapi perbedaan :)

Nih, ada salah satu akun yg malah minta maaf.

image

Nah, Mbak K, lain kali cobalah piknik di seputar kota Anda saja, karena saya yakin semacet2nya Tuban, masih lbh macet Yogyakarta.

Info ajah ya, gara2 ini aku jadi searching kuliner di Tuban lho. Meski sudah bbrp kali ngliwati Tuban, rupanya saya kesana hanya buat beli Wingko Babad dan maen ke WBL.

Seorang seleb twitt (yg namanya lupa) pernah bilang, “kalo kamu tiap hari maem rawon, bukan berarti rendang ga enak”. Coba dulu gaes, pahami bahwa ini hanya soal kulino, soal kebiasaan lidah kamu.

So gaesss, seberapa toleransi lidah kamu?

[Culinary] Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana di Warak Sleman


Satu lagi kuliner yang wajib kalian coba jika berkunjung ke Jogja. Namanya Pondok Makan Bu Istiana (Bu Is). Menu utamanya adalah ikan sidat!

Apa itu ikan sidat? Bagi teman-teman luar Jogja, biasanya ada yang menyebut ikan sidat dengan pelus atau moa. Di Jepang, nama lain ikan sidat adalah unagi. Ikan sidat sejenis dengan belut hanya saja ukurannya lebih besar. Ikan sidat mempunyai dua habitat, yaitu di air tawar dan air laut. Konon, sidat bisa mencapai panjang 1 meter. Tentu saja, ini jarang terjadi, soalnya belum setengah meter saja sudah diburu buat jadi lauk. Huehehe ;-)

Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana di Warak
Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana di Warak

Lantas, apa spesialnya ikan sidat? Menurut orang Jepang, ikan sidat memiliki banyak khasiat, seperti misalnya meningkatkan imunitas tubuh, meningkatkan daya ingat, menurunkan kandungan lemak jahat dalam darah, menghindari penyakit aterosklerosis, dan lain-lain. Di Jepang, ikan sidat (unagi) adalah makanan termahal yang hanya disajikan untuk tamu kehormatan dan istimewa.

Terus apa hubungannya dengan Ikan Sidat di Warung Makan Bu Is di Sleman? Bu Is, awalnya hanya menjual masakan dengan menu varian ikan seperti biasa. Maklum, di sekitar desa Warak, memang terkenal sebagai kampung budidaya mina (kampung ikan). Sampai kemudian, warung Bu Is sering didatangi oleh turis asal Jepang. Turis-turis asal Jepang ini sering meminta Bu Is memasak ikan sidat untuk mereka. Tentu saja, masakan ikan sidat untuk turis Jepang taste-nya sangat berbeda dengan taste Indonesia. Orang Jepang menggunakan bumbu seminim mungkin agar khasiat ikan sidat tidak hilang. Ini berbeda dengan taste makanan Indonesia, yang umumnya menggunakan bumbu sebanyak mungkin ;-)

Kadang, Bu Is dikomplain oleh turis Jepang jika hanya menggunakan bagian daging ikan sidat, sedang bagian tubuh lainnya dibuang. Buat orang Jepang, semua bagian tubuh ikan sidat sangat bernilai tinggi. Jadi jangan sampai ada bagian yang dibuang, wajib dimasak dan dimakan semuanya. Huehehe.

Yuks, kita bahas varian masakan ikan sidat seperti apa saja di Pondok Makan Bu Istiana ;-)

Rica-Rica Sidat
Rica-Rica Sidat

Sidat Rica-Rica. Seporsi harganya 25ribu. Itu belum termasuk nasi putih lho. Porsinya seukuran dengan satu porsi Rica-Rica  Lele. Bisa kebayangkan gimana sedikitnya? ;-(

Soal taste, jangan ditanya dech. Rasanya bener-bener enak. Bu Is bener-bener ga pelit soal bumbu. Enak banget! Bikin ketagihan. Yang bikin sedih cuma porsinya yang sedikit banget!

Sidat Kukus
Sidat Kukus

Sidat Kukus atau Sidat Tim. Seporsi harganya 25ribu. Ini adalah satu-satunya varian masakan sidat yang terasa banget “rasa asli sidat”-nya. Kata Bu Is, biasanya yang suka pesen Sidat Tim adalah turis Jepang. Rasanya lebih amis dibandingkan makanan yang lain. Bumbunya hanya bawang putih dan garam. Kalo kalian penasaran dengan taste sidat ala orang Jepang, harus nyobain menu yang satu ini, Sidat Kukus!

Sidat Mangut
Sidat Mangut

Sidat Mangut. Seporsi harganya 25ribu. Dari semua menu varian sidat yang ditawarkan. Ini adalah favorit saya. Rasanya lebih enak daripada mangut lele ataupun belut! Pokoknya wajib coba. Recommended!

Pondok Makan Ikan Sidat Bu Istiana berlokasi di Jalan Pangeran Purboyo Kios Warak No.01 Sumberadi Mlati Sleman. Sekitar 500 meter ke utara dari pasar Cebongan. Buka tiap hari dari jam 11.00 WIB siang sampai malam. Tapi kadang, kalo ada tetangga yang hajatan atau kesripahan, warung makan ini tutup. Maklumlah, namanya juga di kampung, tugas social itu no.1 di atas tugas nyari duit. Huehehe. Biar ga nyasar, sebelum datang bisa telp dulu ke (0274) 7168468, sekedar tanya apakah hari tersebut rumah makan ini buka atau ga, juga boleh kok ;-)

Kalo kalian penasaran dengan bentuk ikan sidat, di belakang rumah makan ini ada kolam yang isinya ikan sidat. Ternyata pelihara ikan sidat itu termasuk susah lho. Ikan sidat harus hidup di air bersih yang mengalir terus menerus, untuk makanan pun, ikan sidat pemilih. Hanya mau makanan yang segar dan masih hidup. Pokoknya habitatnya beda jauh banget sama lele dan belut. Makanya gizinya pun paling tinggi.

Kelebihan Pondok Makan Bu Istiana. Pertama, ini satu-satunya rumah makan di Sleman yang menu andalannya adalah ikan sidat. Kedua, masakan ikan sidat yang ada di sini menurut saya pribadi, taste-nya sangat enak, pake banget!

Kekurangan Pondok Makan Bu Istiana. Pertama, harganya mahal. Tergolong mahal buat kantong mahasiswa. Kedua, porsinya sedikit. Bayangkan sudah mahal, porsinya pun sedikit. Ketiga, kalo pengunjungnya lagi rame, pelayanannya lumayan lama. Satu-satunya yang bikin spesial, Bu Is, owner dari Pondok Makan Ikan Sidat ini sendirilah yang masak, makanya masakannya bener-bener enak dan special. Yah seperti umumnya makanan enak, harus ada proses ribet dan tidak instant. Ingat, ini bukan fastfood ;-)

Overall, jika kalian liburan ke Jogja dan belum pernah nyobain menu yang satu ini. Percayalah, kalian bakal nyesel banget! Harganya memang mahal, tapi sangat recommended buat dicoba. Percayalah!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary ;-)

Tulisan Terbaru:

[Culinary] Ayam Bakar Arto Moro Yogyakarta


Satu lagi kuliner yang ber-menu utama ayam bakar yang ga boleh kalian lewatkan jika berkunjung ke Jogja. Namanya Ayam Bakar Arto Moro. Letaknya di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km.7,8 No.30A Yogyakarta. Lokasinya ada di sebrang jalan Kompleks Perumahan Taman Palagan Asri (utaranya Kapulaga Resto).

Ayam Bakar Artomoro
Ayam Bakar Artomoro

Ayam Bakar Arto Moro, sebenarnya bukan rumah makan baru. Sebelumnya berlokasi di Jalan Kaliurang Km.6,8. Nah, mulai Januari 2013 ini, Ayam Bakar Arto Moro pindah ke jalan Palagan Tentara Pelajar Km.7,8 Sleman. Kebetulan, karena tiap hari saya lewat jalan Palagan Tentara Pelajar jadi tahu banget kalo ada rumah makan yang ga payu atau pun rumah makan yang baru buka. Huehehe ;-)

Yuks, kita bahas menu apa ajah yang saya pesan di Arto Moro ;-)

Ayam Bakar Artomoro
Ayam Bakar Pedas ala Artomoro

Ayam Bakar Pedas. Seporsi harganya 13.500. Ini belum termasuk nasi putih, kudu nambah 3ribu lagi buat sepiring nasi putihnya. Nah, apa yang special dari Ayam Bakar Pedas ala Arto Moro. Ternyata Ayam Bakar Pedasnya tidak diberi sambal. Lho kok?

Jadi begini, ayam bakar ala Arto Moro adalah ayam bakar yang dimasak khusus. Awalnya ayam dan segala rempah-rempah beserta santan dimasak hingga rempah-rempah meresap dan ayam benar-benar empuk, lalu ayam dipisahkan. Rempah-rempah dimasak hingga airnya “sat” (bahasa jawa: habis). Lalu setelah rempah-rempah tersebut mengental, barulah dibumbui, mau pedas atau manis. Nah, ayam yang sudah ditiriskan baru dibakar, dan diolesi dengan bumbu tersebut. Makanya, karena bumbunya sudah pedas, maka ayam bakar pedas sudah tidak butuh lagi tambahan sambal. Unik dan ribet khan prosesnya? Saking ribetnya, semua proses ini membutuhkan waktu 5 jam lhooo ;-)

Ayam Bakar Artomoro
Ayam Bakar Manis ala Artomoro

Ayam Bakar Manis. Sama dengan Ayam Bakar Pedas, seporsi harganya 13.500. Tampilan dari Ayam Bakar Manis plek persis sama dengan Ayam Bakar Pedas, dan dimasak dengan cara yang sama, hanya saja kalo dah dicicipin, terasa banget punya taste yang beda! Boleh lho, pesen dua-duanya biar tau gimana perbedaan rasanya.

Ayam Bakar Artomoro
Sayur Asem Bandoeng

Sayur Asem Bandoeng. Seporsi harganya 3.500. Dari semua sayur asem yang pernah saya coba di daerah Jogja, sayur asem Bandoeng ala Arto Moro termasuk yang direcommended! Taste sayur asem-nya hampir menyamai taste sayur asem ala Sunda, meski jujur lidah saya selalu merasa aneh kalo disuruh merasakan sayur asem ala Jogja yang citarasa-nya selalu lebih manis dari taste aslinya yang versi Sunda. Btw, sayur asem ala Arto Moro, meski tetap terasa taste Jogja-nya, tapi rasanya jauh lebih enak daripada sayur asem di rumah makan lain di Jogja.

Ayam Bakar Artomoro
Tahu Goreng Bandoeng

Tahu Goreng Bandoeng. Seporsi 4.500. Awalnya saya pesan Tempe Goreng Garit, karena habis, maka pesanan akhirnya saya alihkan ke Tahu Goreng Bandoeng. Lumayanlah, buat cemal-cemil dan pengobat rasa pedassss!

Ayam Bakar Artomoro
Kopi Klotok

Kopi Klotok. Segelas harganya 5ribu. Apa sih Kopi Klotok? Kopi Klotok adalah kopi yang dimasak langsung dalam panci hingga airnya mendidih, jadi bukan diseduh. Cara memasak kopi seperti ini sangat familiar di daerah Cepu dan sekitarnya di Jawa Tengah. Dulu, sekitar tahun 2006, pas saya penelitian di daerah Pati, setiap ngopi di warung kopi, pasti disajikan dengan cara seperti ini. Kopi jenis robusta paling pas jika dimasak dengan cara ini, aromanya yang kuat seperti memanggil-manggil untuk segera menyeruput. Huehehe ;-) Ini adalah menu yang tidak boleh dilewatkan begitu saja!

Kelebihan Arto Moro. Selain rasa ayam bakar yang unik, menurut info yang saya terima, Pete Bakar Bandoeng ala Arto Moro adalah menu yang paling larisss. Sayangnya, saya ga begitu suka pete bakar, jadi saya ga tau seberapa nikmat rasanya. Tapi, boleh lho kalian mencobanya dan memberikan testimony di blog ini. Huehehe ;-)

Kekurangan Arto Moro. Menurut saya pribadi, harga makanan di Arto Moro lumayan mahal untuk kantong mahasiswa. Barangkali juga karena rasa ayam-nya yang terlalu nikmat, porsi nasinya terhitung sedikit buat perut saya ;-(

Overall, menurut saya, Ayam Bakar Arto Moro Yogyakarta masuk dalam list rumah makan yang harus kalian coba jika berkunjung ke Yogyakarta. Meski saya sendiri bukan penggemar ayam, tapi khusus Ayam Bakar Arto Moro, saya rela deh makan tiap hari di sini. Maknyuzzz banget!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary!

Tulisan Terbaru:

[Culinary] d’Gejrot bukan Tahu Gejrot


Ini adalah salah satu kuliner yang lokasinya ga jauh dari kost saya. Namanya d’Gejrot. Lokasinya ada di jalan Kaliurang Km.5 Gang Megatruh Blok E No.1 Tawangsari Caturtunggal Depok Sleman.

d'gejrot
d’gejrot

Pertama tahu ya dari temen-temen kost yang sering makan di sana. Aneh ajah waktu denger temen kost nyebut kata “kemek” dan dilafalkan seperti membaca kata”kesemek”. Apa iya, ada makanan yang di-emek-emek sebelum kita makan? Ihhh serem banget ya?

Seinget saya, sekitar tahun 2003-an, kakak tingkat sering melafalkan kata “kemek-kemek”. Cara membacanya seperti menyebut kata “besek”. Kata “kemek-kemek” artinya makan-makan. Misal, ada temen yang ulang taun atau wisuda, biasanya kita akan bilang, “ayo kemek-kemek!”

d'gejrot
d’gejrot

Menurut perkiraan saya, owner dari d’Gejrot pasti seangkatan dengan senior saya di kampus, makanya bahasa “gawul”-nya pun sama (sejaman gitu deh). Kalo ditanya asal muasal kata “kemek-kemek”, saya juga ga ngerti darimana asalnya, apakah dari daerah tertentu. Saya juga tidak tahu. Dulu, ga sempet nanya sama senior ;-P

Beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya diajak temen kost, buat kemek-kemek di d’Gejrot. Tempatnya lesehan dan cukup ramai. Kebanyakan sih mahasiswa sekitaran kost.

Ada dua menu yang kami coba ;-)

d'gejrot
menu JURAGAN ala d’gejrot

Juragan. Ini pesanan saya. Namanya JURAGAN, isinya daging ayam, sambel gejrot, nanas dan mentimun. Saya pilih yang AJE, artinya ga pake nasi uduk. Ada juga yang namanya GILE, artinya pake nasi uduk. Tulisan uduk-nya pun cukup nyeleneh, ditulis KUDU yang kalo dibaca balik artinya ya UDUK. Seporsi JURAGAN AJE harganya 8ribu.

d'gejrot
Telor Tempe Tahu Gejrot

Telor Tempe Tahu Gejrot. Nah, yang ini pesanannya Chandra. Rasanya sih lebih mirip dengan Telor Tempe Tahu yang dipenyet dengan cabe ijo. Enak kok. Murah meriah, meski saya lupa berapa harga pesanan Chandra ;-)

Sebenarnya ada lagi sih nama-nama yang aneh semisal MPOK AYE, PAK ERTE, CANG JUKI, CING UTE, KONG APE. Harganya macam-macam. Tapi, hampir seluruhnya tidak mahal. Terjangkau oleh kantong mahasiswa, karena segmen pasar d’Gejrot memang mahasiswa.

Yang bikin saya ketawa pas masuk, slogan d’Gejrot, yaitu “Kami ini Slow Food bukan Fast Food. Kalo Galau nunggu harap maklum. Semangat menunggu Kemek-ers!”. Huahaha.

Selain itu, ada beberapa hal yang juga menarik perhatian. Semisal: d’Gejrot buka tiap hari dari jam 11.59 am – till end. Khusus Jumat buka jam 12.59 am – till end. Sabtu gratis es teh buat couple. Jumat untuk pembelian 4 porsi Kemek Goceng, dapet tambahan gratis 1. Setiap ada yang ultah gratis Kemek Goceng. Senin Kamis gratis Kemek Goceng buat yang puasa sunnah dari jam 6-7 malam.

Kalo dah makan berkali-kali disini, notanya kudu disimpen. Soalnya kalo dah punya 5 nota atau lebih bisa ditukarkan gratis menu tertentu. Hihihi. Malah kayak naik bus malam ya ;-)

d'gejrot
d’gejrot

Hampir semua barang di d’Gejrot di tempeli sticker “d’Gejrot Kemek”, sampe gelasnya pun juga tertulis d’Gejrot. Buku menu-nya pun tergolong unik, karena di tempel pada kotak plastic bening kosong yang biasanya digunakan buat kotak sumbangan. Mungkin ada hubungannya dengan program pemberian donasi d’Gejrot dari 10% keuntungan.

Yang paling utama buat pecinta penyetan, di d’Gejrot bisa request jumlah cabe yang diinginkan, asal ga lebih dari 10 cabe. Sambelnya langsung diulek pada cobek, yang ditulis “coek” pada menu d’Gejrot. Sayangnya, jumlah cobeknya sangat terbatas. Jadi, kalo makan disana, lebih sering disajikan diatas piring bamboo yang dialasi kertas minyak.

Overall, bisa diikatakan d’Gejrot benar-benar harga mahasiswa sekali. Tapi soal rasa, cocoklah buat pecinta cabe. Monggo dicoba ;-)

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary!

Tulisan Terbaru:

[Culinary] Kuliner Jambi di Yogyakarta


Nah, ini satu lagi kuliner baru di Yogyakarta. Sesungguhnya nama resmi rumah makan ini adalah Angsa Duo. Hanya saja karena di papan nama tertulis Kuliner Jambi, maka umumnya orang lebih familier dengan menyebut Kuliner Jambi saja.

Kuliner Jambi
Kuliner Jambi

Kuliner Jambi terletak di jalan Monjali, tidak jauh dari pertigaan lampu merah jembatan baru pogung. Tepatnya di sebrang jalan Yamaha Motor Jalan Monjali. Kuliner Jambi buka sejak jam 10.00 WIB sampai maghrib, dari senin sampai dengan sabtu. Tapi jika seluruh makanan sudah habis, ya tutup sebelumnya. Saking larisnya, sebelum maghrib-pun biasanya sudah tutup.

Di rumah makan ini ada dua menu andalan yaitu Mie Celor dan Nasi Minyak. Penasaran khan? Yuks kita bahas kedua menu tersebut.

Kuliner Jambi
Nasi Minyak

Nasi Minyak. Seporsi harganya 8ribu. Nasi Minyak bukan nasi goreng, juga bukan nasi gurih (nasi uduk). Nasi Minyak adalah nasi yang dikukus dengan minyak samin, saus tomat, dan beberapa rempah. Taste-nya sangat terasa minyak samin. Konon, kabarnya ini nasi yang sangat sehat karena masaknya cukup dikukus, dan menggunakan minyak samin yang berkhasiat melancarkan kerja syaraf otak. Kata orang Sumatera, minyak yang bikin pinter, semacam itulah ;-)

Nasi Minyak disajikan dengan sambal nanas, ayam, telor, emping, dan taburan bawang goreng. Di negri asalnya, yaitu di Jambi, Nasi Minyak disajikan dengan lauk daging kambing, rasanya lebih Jozz!

Kuliner Jambi
Mie Celor

Mie Celor. Seporsi harganya 7ribu. Yang bikin special adalah kuah dari mie celor dibuat dari kaldu udang dan santan. Kebayang ga gimana gurihnya? Mie Celor disajikan dengan taburan tauge mentah, bawang goreng dan tambahan telor. Porsinya lumayan besar dan cocok dimakan pas musim hujan kayak gini ;-)

Kuliner Jambi
Kopi Jambi

Kopi Jambi. Sebenarnya ini adalah kopi bubuk dengan merk AAA. Salah satu merk kopi bubuk yang lumayan top di Jambi. Segelas harganya 4ribu. Komposisinya mantaph!

Soto Spesial. Seporsi harganya 5ribu. Saya sendiri belum pernah mencoba menu yang satu ini karena setiap saya ke sana, soto-nya selalu habis. Menurut perkiraan saya, rasa Soto ala Kuliner Jambi lebih mirip dengan Soto Betawi, mengingat kuah soto menggunakan santan sehingga terasa gurih.

Teh Telor. Segelas harganya 5ribu. Jujur, meski saya penggila STMJ, tapi saya belom pernah nyobain Teh Telor. Kapan-kapan deh saya bikin reportasenya. Ahik ahik ;-)

Kelebihan dari Kuliner Jambi. Pertama, pemilik dan koki-nya benar-benar orang Jambi asli. Jadi masakannya, taste-nya Jambi, bukan Jogja. Kedua, harganya sesuai dengan kantong mahasiswa. Jadi, recommended buat mahasiswa! Atau kalo kalian mau pesen Nasi Minyak dan Mie Celor buat acara khusus di rumah, bisa lho kontak pemilik Kuliner Jambi yaitu Mas Adin dengan nomor hape 082137390096.

Kekurangan dari Kuliner Jambi, saking larisnya lebih sering tutup jika datang diatas jam 05.00 WIB sore. Ada baiknya, kalo kalian bener-bener pengen nyoba, ya datang saja pas makan siang.

Overall, saya suka makan di Kuliner Jambi. Harganya murah, porsinya besar, taste-nya bener-bener Jambi. Apalagi lokasinya ga jauh dari rumah. Cocok banget jadi salah satu alternative makanan favorit!

This slideshow requires JavaScript.

Happy Culinary!

Tulisan Terbaru: