aku mencintai-Mu, bagai si kembang purau yang bermekaran di halaman depan rumah ibuku. yang berwarna kuning dalam pelukan kabut pekat yang berganti jingga kala mentari membakar hangat. saat sore tiba, akulah si kembang purau, yang disulut agni semerah raga senja dalam ranumnya gairahku. sebelum akhirnya angin menggugurkan satu per satu bunga-bunga cintaku maka akulah si … Continue reading »
Filed under poetry …
Hi, Stranger!
sedetik, semenit, sejam, sehari, seminggu, sebulan, setahun, sewindu. aku sedang menunggumu menoleh, dan jatuh cinta padaku. mBeran, 21 Oktober 2010.
Berlebihan
kalau kau mau, aku bisa membuatkanmu puisi tiap kali kau minta. tapi ini tak akan baik, sayang. puisi bukan obat, yang harus kau minum sehari tiga kali. lagipula, kau tak sedang sakit apapunkan? mBeran, 14 Oktober 2010.
NaLa (3)
pada malam-malam dimana hening perlahan angslup dan di antara waktu yang meluncur gagap. kadang aku bertanya, benarkah kau akan tetap mencintaiku? meski pipiku tak lagi selembut gula-gula kapas meski kulitku keriput dan rambutku dipenuhi warna kelabu meski tubuhku gemetar ngilu ketika mengecupmu meski mataku mulai rabun dimakan usia meski gairahku tak lagi membakar derak-derak ranjang … Continue reading »
NaLa (2)
dewasalah suamiku, bahwa rambutmu yang memutih adalah tanda kau dilarang selingkuh dariku! mBeran, Agustus 2010.
Maria Magdalena
airmata yang mencuci kaki Tuhan, konon membuatmu jauh lebih istimewa, daripada aku. mBeran, Agustus 2010.
NaLa
siang yang panas, bayanganmu mampir dan mengajakku keluar. “ikutlah denganku?” “kemana?” “berburu katakata!” ah rasanya lebih mengasyikkan memburumu, dan melumatmu dalam pandangan mataku. mBeran, 12 Agustus 2010.
Surat Cinta
aku menunggu surat cinta darimu. yang kau tuliskan pada setiap daun-daun yang berguguran karena rindu. aku menunggu surat cinta darimu. yang kau kirimkan lewat angin yang berdesah gelisah mendesau. aku menunggu surat cinta darimu. yang meluruh pupus dihempas musim penghujan yang cemburu. aku menunggu surat cinta darimu. yang kau janjikan padaku, dibawah sebatang angsana yang … Continue reading »
26 JULI
rintik hujan yang kupahat semalam pagi ini telah mekar menjadi bunga-bunga krisan wanginya jadi penunjuk jalan ketika subuh datang, sepanjang azan aku akan pulang di waktu yang tak kau duga menghangatkan ingatan kita yang mulai remang-remang membakar sisa-sisa sakitmu yang menumpuk di bawah jendela lalu, menyembunyikan anyir lukamu dalam pekat petang aku akan pulang ke … Continue reading »
Soulmate
pernah aku mencarimu pada lautan biru dan sebelum karang mengajarkan padaku bagaimana memecah ombak-ombak rindu pantai memilih menyembunyikanmu dalam pasang kemudian aku mencarimu pada tempat tertinggi dimana dewa-dewi nyaman bersemayam dan sebelum jejak bayanganmu kutemui ingatan tentang kita telah dikremasi dalam relung-relung candi hingga akhirnya kemarau memberitahu rahasia tentang angin yang mampu menyebrangi benua melampaui … Continue reading »
Perjamuan Dibawah Ketapang
: untuk che perjamuan kali ini, dimulai dengan ritual yang tak biasa kau dan aku, berhadapan, duduk di bawah sebatang ketapang yang daun-daunnya perlahan mulai memerah; serupa warna senja kau memesan sebungkus keheningan tapi dendam membakar dengan nyalanya yang jalang baginya kita adalah anak-anak jaman, yang mabuk terjerat getah rutinitas dan memaksa meneguk segelas rasa … Continue reading »
Insomnia
malam seperti lelaki tua yang pikun, memaksa memahat hujan dan menciptakan gemuruh yang membuatku selalu terjaga. aku hanya ingin sejenak terpejam, sayang. lihatlah, mataku meremang dalam ketidaknyamanan. tapi bayanganmu malah merobek mimpi-mimpi dengan nyaring luka yang cemburu. membangunkan setiap tidur malam dan menenggelamkanku dalam keresahan yang tak terbantahkan. mBeran, 4 Juni 2010
Barter
jika setiap puisiku dapat ditukar dengan satu pahala. maka aku tak perlu lagi memesan indulgensia, buru-buru mati dan terbang ke surga. mBeran, 3 Juni 2010
Doa
Tuhan, aku hanya ingin Kau sesekali berbohong padaku, bukan berhenti mencintaiku. Jogja, 2 Juni 2010
Akhir Mei
semalam, hujan membujukku berhenti menulis puisi untukmu. Klaten, 30 Mei 2010
Gerimis dan Sebuah Sore
“jadi, apakah kau bahagia bersamaku?”, tanyamu padaku sore itu, gerimis menawarkan harum bunga kopi dan sensasi tanah basah menyengat. yang perlahan mulai membaur memenuhi teras rumah kita entah kenapa mas, kau suka sekali mengajukan pertanyaan yang sama berkali-kali. padahal kau tahu dengan sangat. aku benci menjelaskan isi pikiranku. “ini adalah gerimis ke duapuluh dua”, gumamku … Continue reading »
Katakan padaku
Katakan padaku, apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? malamku dijejali rindu yang memaki dan, pikiranku sesak oleh namamu Katakan padaku, apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? aku mulai menghindari tatapan matamu. dan lututku tiba-tiba gemetar saat kau menyapaku Katakan padaku, apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? bahagia berada disini. disisimu. memandangmu. tanpa harus kau tahu. … Continue reading »
Rinduku
tak juga kutemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana luka yang kau tinggalkan meluluhlantakkan setiap sudut hatiku matahari merah di langit gaibku pun tak mampu membumihanguskan seluruh dendam yang menuangkan arus api ke dalam nadi-nadiku jika kau cuma kabut gelap inginku lalu, mesti dengan belati yang mana lagi ku tikam anganku akan bayangmu -Jogja, akhir … Continue reading »
Hujan
Hujan, ingatkah kau pada janjimu sore ini? menjemputku dari kantor, menggandeng tanganku berjalan di bawah tanjung-tanjung yang basah. Sesampai dirumah, memasak air hangat untuk mandiku, memijat kakiku yang lelah, membuatkan secangkir kopi panas untukku. Dan bila malam telah datang. Kau, Hujan, berjanji akan memelukku sampai aku lelap. seraya berkata, “Tenanglah, semua akan baik-baik saja!” mBeran, … Continue reading »